Konten dari Pengguna

Harga BBM Tak Naik per 1 Oktober 2026: Kelegaan yang Harus Dibayar Siapa?

Maulana Ahmad Sani

Maulana Ahmad Sani

mahasiswa Unpam

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maulana Ahmad Sani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi harga BBM tak naik per 1 Oktober 2026, Pertalite Rp10.000 dan Pertamax Rp15.950. Sumber: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi harga BBM tak naik per 1 Oktober 2026, Pertalite Rp10.000 dan Pertamax Rp15.950. Sumber: Pixabay

Kabar harga BBM tak naik pada 1 Oktober 2026 menjadi kelegaan bagi banyak pengguna kendaraan. Pertamina Patra Niaga memastikan harga BBM subsidi maupun nonsubsidi masih sama seperti September. Di Jakarta, Pertamax dibanderol Rp15.950 per liter, Pertalite Rp10.000, dan Biosolar Rp6.800. Pertamina juga menegaskan harga BBM subsidi tidak akan berubah hingga akhir 2026.

Menurut saya, keputusan ini patut disambut baik, terutama di tengah tekanan harga pangan dan nilai tukar. Namun, pertanyaan yang lebih jujur adalah: sampai kapan harga ini bisa ditahan, dan siapa yang menanggung selisihnya jika biaya terus naik?

Mengapa harga BBM tak naik padahal ada proyeksi kenaikan

Sejumlah pengamat memproyeksikan harga BBM nonsubsidi berpotensi naik 5 sampai 11 persen berdasarkan pergerakan MOPS (Mean of Platts Singapore), yaitu acuan harga produk minyak di Asia. Pertamina memilih menahan penyesuaian, dengan alasan mempertimbangkan berbagai faktor dan kondisi masyarakat, serta demi menjaga daya beli.

Perlu diingat, harga nonsubsidi sebenarnya sudah naik pada September. Pertamax Turbo naik dari Rp18.300 menjadi Rp19.600, Pertamax Green 95 dari Rp16.600 menjadi Rp19.150, Dexlite dari Rp19.700 menjadi Rp23.700, dan Pertamina Dex dari Rp21.150 menjadi Rp25.200. Di SPBU swasta, Shell V-Power Diesel naik dari Rp21.910 menjadi Rp25.420 per liter. Artinya, yang ditahan bulan ini adalah penyesuaian lanjutan, bukan harga yang sepenuhnya murah.

Untung dan rugi saat harga BBM tak naik

Dari sisi masyarakat, keuntungannya jelas. Biaya transportasi dan logistik tidak ikut naik, sehingga tekanan terhadap harga barang dan inflasi bisa lebih terkendali. Bagi pekerja harian, pengemudi online, dan pelaku usaha kecil, harga BBM yang stabil sangat memengaruhi perhitungan biaya harian.

Dari sisi pengelola, harga yang ditahan ketika biaya perolehan naik berpotensi menggerus margin. Ini pendapat saya dan bukan data resmi: selisih seperti itu biasanya akan ditanggung pihak lain, entah oleh perusahaan, oleh kompensasi pemerintah, atau akhirnya oleh konsumen melalui penyesuaian yang lebih besar di kemudian hari. Karena itu, harga BBM tak naik hari ini tidak otomatis berarti tidak naik selamanya.

Yang perlu dijaga

Beberapa hal yang menurut saya penting:

Transparansi formula harga. Publik berhak tahu bagaimana harga ditetapkan dan kapan penyesuaian dilakukan.

Penyesuaian bertahap dan terukur, bukan lonjakan sekaligus yang mengejutkan masyarakat.

Ketepatan sasaran subsidi, supaya yang menikmati benar-benar yang membutuhkan.

Efisiensi konsumsi energi, misalnya penguatan transportasi publik dan kendaraan hemat energi.

Bagi konsumen, langkah praktisnya sederhana: pantau harga resmi di situs dan aplikasi penyedia, serta ingat bahwa harga bisa berbeda antardaerah karena perbedaan pajak bahan bakar kendaraan bermotor.

Penutup

Harga BBM tak naik adalah kabar baik untuk dompet, tetapi sebaiknya tidak membuat kita lengah. Stabilitas harga yang berkelanjutan tidak lahir dari menahan angka di papan SPBU saja, melainkan dari tata kelola energi yang transparan dan efisien. Pertanyaannya bukan hanya apakah harga naik bulan ini, tetapi seberapa siap kita bila biaya energi terus menekan.