Karena Tak Ada Rumah Sakit Di Pulau-Pulau Itu

Solo Explorer, Filmmaker & Freelance Documentary Photographer based in Makassar, Indonesia.
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Jumadil Awal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi itu tampak dingin, saya bersama dua orang teman, Tamir dan Lukas akan beranjak ke Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan untuk bertemu dengan Tim PSPB (Perahu Sehat Pulau Bahagia) Puskesmas Sabutung yang sebelumnya kami telah janjian via Whatsapp. Malam harinya, saya berencana menginap dirumah Tamir yang berada di Kabupaten Maros untuk mengurangi estimasi waktu yang kami butuhkan saat berangkat. Dalam perjalanan yang tidak jauh dari rumah tempatku menginap, saya bertemu dengan Lukas yang asik duduk di teras minimarket Kariango, Kabupaten Maros.
Suasana di Kariango pagi itu tampak tenang, beberapa kendaraan lalu-lalang di depan minimarket. Saya dan Tamir yang juga singgah di minimarket itu duduk di teras setelah memesan kopi, “sudah ada lokasi pelabuhannya?”, tanyaku “sudah ada, tunggu saya share di wa peta lokasinya”, balas Tamir. Sambil menikmati kopi, kami bertiga membicarakan hal-hal apa saja yang akan dilakukan saat berada di lokasi tujuan. Setelah informasi yang kami butuhkan sudah lengkap, kami pun berangkat bersama-sama ke Kabupaten Pangkep. Di sepanjang perjalanan tidak ada yang menarik, kami bertiga berangkat mengguna motor yang sesekali saling mendahului, dan sesering mungkin saya memerika rute di maps tempat kami akan menunggu tim Puskesmas Sabutung tiba.
Setelah melalui rute berdasarkan arah peta di ponsel, kami tiba pukul 07:19 pagi di Pelabuhan Laut Maccini Baji, Kabupaten Pangkep, lalu mencari tempat parkir. Kemudian Saya, Tamir dan Lukas berjalan ke arah dermaga tempat dimana kapal-kapal penumpang terparkir. Setelah menunggu, Kepala Puskesmas yang bernama Harmawati tiba dan menyapa kami, “sudah lama?”, “kurang lebih 10 menit Bu” balas Tamir, “kalau begitu kita ke warung dulu ngopi, sambil kita tunggu kapal yang kami pesan datang”, sambungnya. Sambil berjalan menuju warung kecil tempat biasa pemilik kapal dan pengunjung beristirahat, Ibu Harmawati menceritakan kalau program ini terdapat kurang lebih 15 orang tenaga kesehatan yang terlibat temasuk Dokter, Bidan, dan Apoteker.
Tibanya kami dalam warung itu, Kepala Puskemas yang cukup ramah ini pun melanjutkan ceritanya, “sebenarnya program Perahu Sehat Pulau Bahagia sudah berjalan sejak tahun 2018 yang lalu, termasuk waktu covid-19 juga kami tetap turun. Jadi, program ini sebenarnya diberikan secara percuma atau gratis kepada masyarakat melalui bantuan dari pihak kepala desa setempat dan kerjasama dari berbagai pihak termasuk dari kepolisian”, lanjutnya. “Apalagi waktu kami pulang dari pulau yang cukup jauh dari sini, ada kejadian dimana kami semua hampir tenggelam karena itu kapal yang kami tumpangi dapat badai, angin kencang waktu itu dan kapal kami di hantam ombak tinggi. Syukurnya kami semua selamat waktu itu”, kenangnya.
Pagi hari yang suasana langitnya cukup cerah itu membuat persiapan kami jadi terasa lebih baik, tidak ada perasaan khawatir akan cuaca buruk karena memang bulan ini bukan termasuk musim hujan. Tidak berselang lama, kami yang sejak tadi mengobrol banyak hal tentang kegiatan Puskesmas akhirnya melihat satu kapal penumpang berkapasitas 20 orang tiba, kami akhirnya bergegas mengambil tas peralatan dokumentasi kami dan membawanya ke kapal. Di sepanjang perjalanan hanya ada suara mesin perahu dan pemandangan pulau-pulau yang begitu dekat satu sama lain. Saya yang duduk di atas kapal bersama beberapa orang dari Puskesmas hanya memandangi lanskap laut yang begitu biru. Saya lupa berapa lama saya duduk, tapi perjalanan kami dari dermaga menuju Pulau Kulambing tidak sampai satu jam.
Pulau Kulambing sendiri adalah salah satu pulau kecil berpenghuni yang ada di Desa Mattiro Uleng, Kabupaten Pangkep, dan termasuk berada di gugusan Kepulauan Spermonde. Pulau yang memiliki luas wilayah 116.913, 6292290 m2 ini merupakan bagian dari Kawasan Konservasi Perairan Daerah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Di pulau ini juga terdapat tiga sekolah yaitu, SMAN 25 Pangkep, SMPN 9, dan SD Negeri 6 Pulau Kulambing.
Tibanya kami di dermaga Pulau, satu persatu tim PSPB turun dengan perlahan. Tidak jauh dari situ, pengeras suara dari masjid bergema, terdengar suara pria mengabarkan kedatangan kami. Tiga orang dari tim PSPB pun turun paling terakhir sambil membawa box yang berisi obat-obatan dan keperluan kesehatan yang akan mereka gunakan. Setelah semuanya turun, saya dan dua teman lainnya kemudian mengeluarkan kamera untuk mendokumentasikan tim PSPB selama berkegiatan nantinya.
Di sepanjang perjalan menuju rumah Kepala Desa Pulau Kulambing, Lukman Jurumiah, tampak rumah-rumah panggung khas masyarakat Bugis-Makassar berdiri, dibawahnya terparkir beberapa kendaraan sepeda listrik, beberapa lainnya hanya terlihat pakaian yang baru di jemur pagi itu. Disini, saya cukup jarang melihat sepeda motor, hanya ada sepeda listrik yang digunakan warga untuk bepergian dari sisi pulau ke sisi lainnya. Tibanya kami dirumah kepala desa, tenda berwarna biru sudah terpasang di pekarangan rumah panggung, dibawahnya tersusun rapi kursi plastik yang nantinya digunakan warga Pulau Kulambing untuk mengantri.
Tim Puskesmas Sabutung pun bergegas mempersiapkan peralatan mereka, sebagian lainnya sibuk mengawal warga lansia yang telah tiba lebih dulu. Dengan arahan Ibu Harmawati selaku Kepala Puskesmas, tim PSPB kemudian berbaris, mendengarkan arahan, lalu bubar dan mulai melakukan tugas masing-masing. Pagi itu tidak hanya lansia yang hadir, ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak sekolah menengah ke atas hingga sekolah dasar pun datang satu persatu. Dimulai dari para lansia, mereka mengantri mendaftarkan diri mereka menggunakan BPJS Kesehatan dan KTP. Keluhan penyakit merekapun cukup beragam, ada yang sakit gigi, susah tidur, dan juga maag. Pemeriksaan pun dimulai dari mengukur tinggi badan, berat badan, pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan darah, hingga pemeriksaan gigi dan telinga. Setelah mengantri dan mendapatkan pemeriksaan, para lansia kemudian di arahkan ke sisi kiri lokasi pemeriksaan untuk mendapatkan obat terkait penyakit yang mereka derita.
Hingga pemeriksaan lansia dan ibu hamil pun selesai, kini anak-anak sekolah yang mendapatkan giliran. Untuk anak sekolah dasar, pemeriksaan umumnya dimulai dari pengecekan gigi dan telinga, dan informasi tentang pola makan sehat dan pentingnya menyikat gigi pagi dan malam secara rutin tak luput terdengar dari pengeras suara. Sedangkan untuk anak-anak SMP dan SMA, mereka juga mendapatkan pemeriksaan yang sama, seperti pemeriksaan gigi dan telinga. Dari proses pemeriksaan yang cukup panjang itu, matahari mulai berada di atas kepala kami yang menandakan waktu untuk beristirahat sudah tiba.
Disela-sela waktu beristirahat, Saya dan Tamir di ajak oleh Kepala Puskesmas ke lokasi Pustu (Puskesmas Bantu) yang berada di sisi barat Pulau untuk melihat ibu-ibu hamil yang sedang mendapatkan arahan oleh bidan setempat. Tidak hanya arahan tentang pentingnya memilih makanan yang penting untuk dikonsumsi ibu hamil, hal-hal seperti tidak boleh mengangkat barang-barang berat dan perlunya untuk menghindari stres juga tidak luput dari peringatan bidan yang bertugas di Pustu itu. Setelah berada di Pustu, saya dan Tamir pun bergegas kembali ke rumah Kepala Desa untuk beristirahat. Siang itu semua tenaga kesehatan berkumpul dirumah, kami di ajak makan siang di kediaman Kepala Desa. Makan siang saat itu cukup istimewa buat kami, karena menu yang disediakan adalah hasil laut tangkapan nelayan Pulau Kulambing, mulai dari udang goreng, tumis cumi, Ikan bakar, hingga sayur paria. Bukan hal yang mengherankan, karena Kabupaten Pangkep punya beragam komoditas unggulan yang salah satunya adalah ikan bandeng, udang rumput laut, dan gurita. Selain itu, Pangkep juga dikenal sebagai daerah penghasil landak laut (bulu babi) yang memiliki potensi pasar ekspor.
Setelah makan siang yang sangat memuaskan itu, Ibu Harmawati kemudian mengajak kami dan beberapa tim termasuk dokter ke salah satu rumah yang tidak jauh dari rumah kepala desa. Di rumah itu terdapat seorang anak berusia 23 tahun yang mengidap gangguan syaraf otak sedang terbaring diatas tempat tidur di ruang tamunya. Dalam ruangan itu, suasana cukup hening. Kami hanya menyaksikan bagaimana senyum ibu dari anak itu yang tak pernah berubah selama kedatangan kami. Setelah ibu Harmawati mengobrol banyak hal dengan orang tua dan telah melihat kondisi anak itu, tim PSPB yang di pimpin Kepala Puskesmas itu pun meminta pamit dengan sesekali menyentuh ujung matanya dengan jari.
Di sepanjang perjalanan pulang menuju rumah Kepala Desa, terlihat kapal-kapal besar yang terparkir rapi, kapal-kapal besar itu di gunakan warga Pulau Kulambing untuk mencari ikan selama berhari-hari diluar pulau. Umumnya penduduk pulau yang berada disini adalah nelayan, beberapa lainnya memilih menjadi petani rumput laut, lainnya lagi memilih untuk mencari kehidupan yang mengharuskan mereka berada berhari-hari di atas kapal untuk mendapatkan hasil laut yang melimpah.
Tibanya dirumah Pak Lukman, terlihat beberapa tenaga kesehatan sedang merapikan peralatan mereka, beberapa lainnya juga baru tiba setelah berkeliling mengunjungi rumah-rumah lansia yang tidak bisa hadir ke lokasi pemeriksaan kesehatan karena kondisi fisik mereka yang sudah tidak mampu lagi untuk berjalan. Setelah semua tim PSPB berkumpul dan kegiatan pemeriksaan kesehatan ini selesai, kami pun pamit ke pemilik rumah.
Di sepanjang perjalanan pulang menuju dermaga, kami ditemani pak Lukman. Setelah melewati proses pemeriksaan kesehatan yang di dapatkan oleh warga Pulau Kulambing, hingga menyaksikan bagaimana mereka yang tinggal cukup jauh dari sarana kesehatan yang layak, hari itu memperlihatkan bahwa jangkauan layanan kesehatan tidak boleh berhenti di batas daratan. Di tengah keterbatasan akses dan kondisi geografis yang menantang, semangat para tenaga medis untuk membawa layanan hingga ke pelosok pulau menjadi bukti nyata bahwa kesehatan adalah hak semua orang.
