Uang Panai’: Bukan Harga Wanita, Tapi Simbol Kehormatan

Saya alumnus Pendidikan Jasmani Universitas Megarezky serta alumnus Magister Pendidikan Jasmani dan Olahraga Universitas Negeri Makassar
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Jumansi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh Jumansi, S. Pd.,M.Pd
Di tengah pergeseran nilai dan cara pandang modern terhadap pernikahan, tradisi uang panai’ dalam adat Makassar dan Bugis kerap menjadi sorotan. Tak sedikit yang menganggapnya sebagai bentuk “jual beli perempuan”, bahkan tidak jarang menjadi bahan candaan di media sosial. Namun benarkah demikian?
Pandangan tersebut sejatinya keliru jika ditinjau dari akar budaya masyarakat Makassar. Dalam adat kami, uang panai’ bukanlah harga perempuan, melainkan bentuk penghormatan yang dalam kepada perempuan dan keluarganya. Ia adalah simbol nilai dan tanggung jawab, bukan transaksi.
Bukan Transaksi, Tapi Tanggung Jawab
Uang panai’ biasanya diberikan oleh pihak laki-laki sebagai bentuk keseriusan untuk mempersunting perempuan. Tradisi ini bukan untuk mengkomersialkan cinta, melainkan untuk menegaskan kesiapan pria menjadi suami dan pemimpin rumah tangga. Artinya, seorang laki-laki dituntut bukan hanya untuk jatuh cinta, tapi juga mampu bertanggung jawab secara lahir dan batin.
Memang Harus Dikritisi, Tapi Jangan Dikesampingkan
Saya tidak menutup mata: dalam praktiknya, uang panai’ kadang memang disalahgunakan. Ada keluarga yang menetapkan nilai panai’ terlalu tinggi atas dasar gengsi atau persaingan. Ini bukan hanya melenceng dari nilai adat, tapi juga bisa menghalangi niat baik dua insan untuk membangun keluarga.
Oleh karena itu, yang perlu dikritisi bukan tradisinya, tetapi cara kita memahami dan menerapkannya. Tradisi akan tetap bernilai jika dijalani dengan kearifan, bukan kebanggaan semu.
Mari Kita Takar Ulang Nilainya
Sudah saatnya kita mereposisi uang panai’ sebagai bentuk penghargaan yang fleksibel dan bermakna. Bukan pada besaran nominalnya, tapi pada niat dan kesungguhan yang menyertainya.
Kepada keluarga perempuan: bijaklah dalam menetapkan panai’. Jadikan ini sebagai sarana menilai keseriusan, bukan menguji kekayaan. Kepada para pria: jangan jadikan panai’ sebagai alasan menyerah. Tunjukkan bahwa kamu datang bukan hanya membawa cinta, tapi juga hormat dan tanggung jawab.
Uang panai’ bukan alat tukar, bukan harga, dan bukan beban. Ia adalah bagian dari narasi luhur budaya kita tentang cinta, kehormatan, dan komitmen.
Maka jangan permalukan warisan leluhur dengan menjadikannya olok-olok. Pahami esensinya, jalani dengan bijak, dan biarkan ia menjadi jembatan antara dua keluarga, bukan tembok penghalang.
