Konten dari Pengguna

Ketimpangan dan Kehendak Berbagi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jumansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Ilustrasi sendiri
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi sendiri

Waktu sangat menentukan dalam hidup manusia. Jika tidak ada waktu, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk hidup. Itulah kira-kira pesan yang ingin disampaikan film "In Time" yang diproduksi tahun 2011. Meskipun sudah lama, menonton ulang film ini seakan mengingatkan kita tentang bagaimana ketimpangan terjadi dan apa peran yang dapat kita mainkan untuk menguranginya.

Dalam film "In Time", waktu sama dengan hidup itu sendiri. Orang-orang yang kehabisan waktu, akan kehilangan hidupnya. Setiap hari orang bekerja untuk mengejar dan mendapatkan waktu. Waktu adalah pengganti uang. Untuk makan dan sekadar minum kopi, pertukarannya dengan menggunakan waktu yang dimiliki. Di lengan setiap orang terdapat semacam "chip" yang memperlihatkan sisa waktu yang dimiliki dan dapat digunakan sebagai alat tukar. Tidak ada uang, yang ada hanya waktu.

Orang kaya adalah orang yang memiliki banyak persediaan waktu. Sementara orang miskin adalah orang yang hanya memiliki sedikit persediaan waktu. Orang miskin harus berjuang dari hari ke hari untuk menghindari kematian karena kehabisan waktu. Orang miskin juga ditandai dengan gerakan yang cepat karena takut kehabisan waktu. Berbeda diametral dengan kondisi orang kaya. Orang kaya bergerak lambat dan santai. Mereka tidak perlu terburu-buru karena persediaan waktu yang mereka miliki lebih dari cukup untuk hidup lebih lama.

Ketimpangan Waktu

Ketimpangan diceritakan melalui adanya perbedaan wilayah waktu bagi orang kaya dan miskin. Orang-orang kaya berada di suatu wilayah yang disebut New Greenwich. Untuk menempuh daerah tersebut, waktu yang dihabiskan cukup banyak. Secara hitung-hitungan, tidak mungkin ada seorang miskin yang dapat menjangkau wilayah tersebut. New Greenwich adalah semacam impian bagi orang-orang miskin.

Saat orang miskin harus berjuang setiap hari untuk mengisi waktu hidupnya, para orang kaya di Greenwich bisa bersantai karena memiliki waktu sampai puluhan, ratusan, ribuan bahkan jutaan tahun. Bahkan ada yang sudah hidup beratus tahun karena memiliki surplus waktu yang sangat banyak. Suatu ironi yang ingin dibagikan oleh film "in time" adalah ketimpangan memang benar-benar terlihat nyata.

Lalu dalam film itu juga muncul gagasan akan pentingnya sharing waktu dari orang kaya kepada orang miskin. Surplus waktu dari para orang kaya didistribusikan kepada orang miskin yang berkekurangan waktu. Sharing ini tidak akan merugikan orang kaya sedikitpun, tetapi bisa membantu orang miskin untuk hidup lebih lama.

Waktu (hidup/materi) pada dasarnya lebih dari cukup untuk dibagi ke seluruh orang. Tetapi seperti kata Gandhi, dunia ini tidak cukup untuk satu orang yang serakah. Dunia dipenuhi oleh orang-orang serakah yang mengatur sistem.

Sistem yang diatur ini bisa membunuh orang miskin lebih cepat. Misalnya dengan menaikkan harga-harga secara sepihak atau menaikkan suku bunga pinjaman waktu agar dapat bertahan hidup. Orang miskin bekerja keras untuk hidup, tidak berdaya melawan sistem. Mereka dimiskinkan oleh sistem. Dibunuh pelan-pelan oleh sistem.

Kehendak Berbagi

Ada banyak cara mengurangi ketimpangan. Salah satunya melalui inisiatif sukarela berbagai kepada yang tidak berpunya. Inisiatif ini jauh lebih bijaksana daripada harus dipaksa oleh pendekatan struktural dalam pendistribusian kekayaan.

Kearifan berbagi sebenarnya dianjurkan oleh banyak sekali khazanah keilmuan, baik yang menggunakan pendekatan religius, budaya maupun sains. Namun izinkan kami mencuplik secara bebas nasihat Master Sufi, mahaguru Kung Fu Panda: Semakin banyak memberi, semakin banyak menerima. Semakin banyak meminta, semakin banyak kehilangan.

Kemauan berbagi ini dalam sejarahnya ada yang diinstutisionalkan dalam bentuk regulasi negara, adapula yang menempuh jalur kultural. Kemauan berbagi ini bisa menjadi budaya yang baik, sekaligus tidak menimbulkan konflik. Apabila menggunakan jalur struktural negara, biasanya menggunakan paksaan atas nama hukum. Namun jika ditempuh melalui jalur budaya, biasanya lebih damai dan menyebar dengan baik.

Dalam film In time, jalur yang digunakan adalah jalur struktural. Seperti film pahlawan pada umumnya, si pahlawan akan memaksa atau mencuri dari si kaya kemudian membagikannya kepada si miskin. Langkah ini seharusnya tidak perlu jika yang berpunya memiliki kesadaran sendiri untuk terus menerus berbagi. Mungkin tidak perlu lagi harus pemerintah yang menaikkan pajak, karena yang berpunya (the have) telah punya kesadaran sendiri untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Bisa jadi, keberadaan mereka malah menjadi keuntungan tersendiri bagi masyarakat yang tidak berpunya.

Dunia sudah terlalu rumit dengan berbagai aturan, sudah saatnya setiap orang menyadari bahwa ketimpangan adalah musuh bersama. Musuh yang barangkali kita ciptakan sendiri, dan kemudian dengan kesadaran penuh coba kita kurangi. Masih belum terlambat melakukan upaya-upaya individual dalam mengurangi ketimpangan.

Penulis: Jumansyah (Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Al-Azhar Indonesia)