Konsepsi Matematika Sebagai Aktivitas Manusia

Peneliti dibidang Pendidikan UMSurabaya
Konten dari Pengguna
2 Januari 2022 19:57
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Junaidi Fery Efendi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: https://unsplash.com/
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://unsplash.com/
ADVERTISEMENT
Matematika adalah fenomena budaya, seperangkat ide dan koneksi yang dapat digunakan untuk memahami dunia. Matematika adalah aspek fundamental dari budaya manusia dan memiliki peran dalam membentuk kebiasaan yang ada dalam masyarakat. Banyak hal yang memiliki kaitan dengan kebiasaan yang dilakukan oleh manusia.
ADVERTISEMENT
Salah satu pengaruh tentang konsepsi pendidikan matematika adalah filsafat humanistik matematika. Filsafat humanistik bekerja dari asumsi sederhana bahwa matematika adalah aktivitas manusia dalam kehidupan nyata. Memanfaatkan segala aktivitas manusia sebagai sumber belajar matematika merupakan langkah tepat, karena semakin memperkaya khasanah keilmuan matematika.
Matematika dan Aktivitas Manusia
Kesalahan yang banyak terjadi di kalangan pendidik maupun peserta didik menganggap ilmu matematika merupakan ilmu yang sudah jadi dan hanya bisa dihafal serta diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, namun merupakan sesuatu yang berubah dan tumbuh dalam waktu kewaktu melalui dari proses kerja dari apa yang diketahui dengan apa yang tidak diketahui.
Matematika yang sering dianggap hanya kumpulan ilmu pengetahuan, secara tidak sadar akan menghambat kreativitas siswa dalam memahami matematika. Sebagai contoh sering kali tenaga pendidik menyampaikan kepada peserta didik bahwa setelah angka 2 adalah angka 3. Namun sejatinya apabila ditarik ke dalam bentuk bilangan rasional maka setelah angka 2 akan banyak hal yang akan diperdebatkan oleh peserta didik.
ADVERTISEMENT
Memberikan pemahaman kepada peserta didik bahwa matematika merupakan aktivitas manusia akan memberikan rangsangan kepada peserta didik untuk menemukan berbagai konsep matematika dalam aktivitas yang dilakukan. Tenaga pendidik pun akan semakin mudah menyampaikan materi tanpa harus menekankan kepada peserta didik dengan menerima materi saja bahkan menghafal materi akan semakin mengukuhkan ilmu matematika sebagai ilmu yang kaku dan sangat susah dipahami.
Persinggungan antara aktivitas manusia dengan matematika mengajarkan kepada peserta didik tentang new knowledge pada matematika. Bahwa matematika tidak keras bahkan mudah dipahami dan memberikan persepsi yang berbeda kepada peserta didik. Pemahaman yang diperoleh peserta didik akan jauh lebih bermakna dibandingkan hanya sekadar mendapatkan dari tenaga pendidik apalagi hanya sekadar menghafal.
Matematika Sebagai Warisan Budaya
ADVERTISEMENT
Persinggungan antara aktivitas manusia dengan matematika salah satunya adalah integrasi budaya. Bahkan integrasi antara budaya dengan matematika perlu diapresiasi dan dikembangkan pemahaman karena di dalamnya tidak hanya sekadar ilmu pengetahuan namun ada aspek penanaman karakter bagi peserta didik berdasarkan budaya masing-masing.
Memaknai matematika sebagai warisan budaya dan menerapkan hal tersebut dalam proses pembelajaran secara langsung akan memberikan dampak terhadap peserta didik untuk semakin mengenal budaya masing-masing, bahkan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam budaya tersebut.
Mengajarkan peserta didik untuk kreatif menggali pemahaman matematika dalam budaya, akan melatih sedari dini kepada peserta didik berpikir secara sains. Belajar menggali segala sesuatu yang dikaitkan dengan ilmu pengetahuan yang dipelajari.
Matematika dan Nilai Budaya
Matematika memainkan peran dalam struktur masyarakat dan sebagai bagian dari budaya tentu akan dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya. Contoh dalam hal pembuatan rumah adat, dalam prosesnya tidak hanya sekadar akan membangun rumah, namun ada proses pengukuran yang dilakukan oleh nenek moyang kita. Bahkan dalam prosesnya tidak hanya sekadar mengukur namun ada makna dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
ADVERTISEMENT
Kebiasaan orang Indonesia dalam proses pembuatan rumah dilakukan secara bersama-sama dengan para saudara atau dengan para tetangga terdekat. Tentu dalam proses tersebut ada kegiatan gotong royong dalam proses membangun rumah adat.
Hal-hal seperti ini perlu disampaikan dalam proses pembelajaran, tidak hanya terfokus pada ranah kognitifnya saja bagi peserta didik namun bisa menanamkan sisi efektif terhadap peserta didik.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020