Peran Budaya Patriarki dalam Melahirkan Sosok Fatherless

Mahasiswi Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Elsa Ramadani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena fatherless kini semakin sering diperbincangkan, terutama dalam diskusi tentang kesehatan mental dan dinamika keluarga. Ayah tidak lagi dipahami hanya sebagai sosok yang benar-benar tidak ada tetapi juga sebagai figur yang hadir secara fisik namun terasa jauh secara emosional. Di tengah kondisi ini, budaya patriarki yang masih cukup kental di Indonesia turut membentuk peran ayah diposisikan dalam keluarga.
Budaya Patriarki yang Diwariskan Secara Turun-Temurun
Dalam banyak keluarga di Indonesia, patriarki bukanlah aturan yang disepakati secara sadar. Ayah dipandang sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah utama, sementara urusan rumah dan anak dilekatkan pada ibu. Pola ini berjalan begitu lama hingga terasa wajar dan jarang dipertanyakan.
Anak-anak tumbuh dengan contoh yang sama dari generasi ke generasi. Ayah yang sibuk bekerja dan ibu yang selalu hadir dalam keseharian. Dari situ terbentuk pemahaman tentang siapa yang bertanggung jawab atas apa di dalam keluarga, dan cara pandang itu terus dibawa ketika mereka berkeluarga sendiri. Pola seperti ini terkadang membuat kehadiran ayah terasa begitu jauh, bukan karena sosoknya yang pergi, tapi karena jarak emosional yang terbentuk sejak lama. Inilah yang kemudian sering muncul dalam kehidupan sehari-hari sebagai fatherless.
Fenomena Fatherless di Indonesia
Pada tahun 2017 lalu, Khofifah Parawansa yang saat itu menjabat Menteri Sosial, menyebut bahwa Indonesia berada di peringkat ketiga dalam fenomena fatherless secara global. Fatherless tidak selalu berarti ayah pergi atau bercerai, banyak anak tumbuh dengan ayah yang ada di rumah, tetapi jarang benar‑benar hadir dalam kehidupan mereka. Obrolan sehari‑hari yang minim, momen dekat jarang terjadi, dan kehadiran emosional terasa jauh. Kondisi ini menunjukkan bahwa fatherless bisa muncul meski ayah ada di rumah.
Anak-anak sering merasakan jarak emosional tanpa konflik atau perpisahan yang nyata. Kehadiran ayah yang hanya secara fisik tapi jarang terlibat membuat anak merasa kurang dekat dan hubungan keluarga jadi terasa renggang.
Dampak terhadap Dinamika Keluarga
Ketika sosok ayah hadir secara fisik tapi jarang terlibat secara emosional, dampaknya yang dirasakan tidak hanya pada anak, tetapi juga ke seluruh keluarga. Anak-anak bisa merasa kesepian, sulit untuk mengungkapkan perasaan, hingga terkadang canggung untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Ibu pun sering memikul sebagian besar tanggung jawab pengasuhan sendirian, sehingga beban sehari-hari menjadi lebih berat.
Pola komunikasi dalam keluarga juga ikut terganggu. Keputusan penting biasanya jatuh pada satu pihak, sementara ruang untuk diskusi dan berbagi perasaan menjadi minim. Semua ini tidak muncul begitu saja, tapi tumbuh dari cara lama memaknai peran ayah dalam keluarga. Budaya patriarki yang menekankan ayah sebagai pencari nafkah dan pemegang kendali membuat jarak emosional itu terlihat wajar.
Selama cara lama memaknai peran ayah terus dipertahankan, jarak emosional dalam keluarga akan tetap ada dan kemungkinan besar diwariskan ke generasi berikutnya. Membicarakan dan menyadari pola ini merupakan langkah awal untuk membangun hubungan keluarga yang lebih hangat dan seimbang.
