Pencarian populer

3 Film Dokumenter tentang Perang Timur Tengah

Salah satu cuplikan dalam "The Last Men in Aleppo" (Foto: http://oscar.go.com)

Kecamuk perang di Timur Tengah memang tak hanya apa yang kita lihat dari pemberitaan media. Lebih dari pada itu, konflik yang berkepanjangan tersebut ialah nafas yang tiap detik menjadi bagian hidup para penduduknya.

Hujan rudal membombardir kota-kota sesering pergantian siang dan malam. Gedung-gedung sekolah dan rumah sakit rata dengan tanah. Lain waktu, mobil ambulans yang membawa pasien ditembak tentara.

Selintas begitu lah gambaran hidup di sebuah negara yang berkonflik. Tiga film dokumenter di bawah ini akan membawakan momen-momen serupa dengan lebih dekat dan nyata.

1. 5 Broken Cameras (2012)

Lima kamera amatir milik Emad Burnat merekam lima tahun protes berdarah di desa tempat tinggalnya, Bil'in, di Tepi Barat, Palestina. Kamera yang awalnya hanya merekam keseharian keluarganya itu berubah menjadi arsip sejarah pencaplokan wilayah oleh pemukim liar Yahudi, yang hingga kini masih terus berlangsung.

Film peraih nominasi Oscar ini memvisualkan apa yang sebetulnya sudah sering kita baca di headline pemberitaan media, namun lebih dari pada itu, 5 Broken Cameras mengungkap sebagian besar yang luput. Meskipun sering kita dengar, namun tetap kebiadaban agresi militer Israel dalam film ini akan menyayat hati.

Tak sampai di situ, ada satu momen ketika bara api membakar pohon-pohon zaitun milik warga, dan tentu, pembakaran itu sengaja dilakukan pemukim liar Israel. Namun episenter film berpusat pada satu hal: pembuatan tembok pemisah oleh Israel yang tak hanya memisahkan penduduk Palestina dari tanah airnya sendiri, tapi juga dari rasa merdeka.

2. Last Men in Aleppo (2017)

Sebuah kronik tentang organisasi relawan di Suriah, Syria Civil Defence, atau yang lebih dikenal dengan sebutan "The White Helmets". Secara singkat, mereka lah yang siap merespons setiap panggilan darurat di tengah kecamuk perang yang diciptakan tirani Bashar Al-Assad. Wilayah operasi mereka meliputi daerah-daerah yang dikuasai mujahidin pemberontak.

Momen-momen yang terekam dalam film ini menjadi gambaran nyata ketika sebuah negara dengan mudahnya menerabas aturan HAM. Serbuan misil dan bombardir senjata kimia yang selalu dibantah Assad, namun yang kita saksikan lewat film ini justru sebaliknya.

3. Salam Neighbor (2015)

Ketika film dibuat tiga tahun lalu, UNHCR melaporkan pengungsi Suriah yang meninggalkan negerinya telah mencapai lebih dari 4 juta orang. Mereka melarikan diri ke negara-negara tetangga, di antaranya Turki, Lebanon, Arab Saudi, Irak, dan Yordania.

Film ini membawa kita ke Kamp Za'atari di Yordania. Pembuat film mengikuti beberapa sosok pengungsi melakukan keseharian yang baru di mana mereka jauh dari rumah, jauh dari teror bom dan desing peluru, namun dekat dengan trauma.

Kengerian yang terasa jelas masih sangat menghantui, nampak saat opening film, seorang pengungsi melangkahi daerah perbatasan lantas berkata ke kamera: "When you cross this imaginary line, you become a refugee." Garis imajiner yang dengan nyata jadi saksi bagi orang-orang yang terusir dari tanah kelahirannya.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: