News
·
18 Maret 2021 13:37

Teriak Benci Asing tapi Ketagihan Impor

Konten ini diproduksi oleh Jusman Dalle
Teriak Benci Asing tapi Ketagihan Impor (249819)
Freepik
Oleh : Jusman Dalle
***
Malam teriak benci produk asing, pagi sarapan beras impor. Itulah ilustrasi yang paling tepat untuk menggambarkan ambivalensi sikap pemerintah. Terutama dalam isu-isu ekonomi dan perdagangan. Baru kemarin Presiden Joko Widodo melantunkan kumandang “cintai produk lokal dan benci produk asing”. Masih hangat-hangat tahi ayam kampanye itu. Eh, tiba-tiba mencuat rencana impor beras.
ADVERTISEMENT
Republik terperanjat. Rencana impor satu juta ton beras datang dari meja kerja Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, dan Menteri Perdagangan M. Luthfi. Pihak yang sama, juga menyuplai informasi kepada Presiden sehingga terlontar kampanye “benci produk asing”.
Rencana impor beras kontan menjawab keraguan publik. Ketika Presiden Jokowi mengajak “benci produk asing” masyarakat memang merespons dengan nada skeptis. Menduga jika ajakan yang tampak heroik itu cuma sebatas gimik. Kecurigaan tersebut akhirnya terbukti.
Alih-alih benci, menahan diri dan memprioritaskan petani lokal saja bahkan tidak mampu. Maka wajar bila kampanye benci produk asing dinilai cuma basa-basi. Lips service.
Rencana impor beras, menyeret kembali ingatan publik ke titik kemarahan pelaku UMKM terhadap aksi pedagang asing yang mendominasi ecommerce di pasar lokal. Kemarahan itu kini meluas. Kemarahan yang merambah kepada para petani di kampung-kampung.
ADVERTISEMENT
Impor beras, mengkhianati kerja keras petani di desa-desa. Implikasi lainnya, para pelaku ekonomi dalam rantai ekosistem perberasan bakal terkena pukulan telak dengan banjirnya beras impor.
Persoalan impor beras ini akan terus bergulir. Membesar, dan menjadi atensi di seantero negeri agraris. Apalagi panen raya petani lokal sudah di depan mata.
Ekonom senior Faisal Basri menyebut aroma tajam perburuan rente menyengat kuat dari balik agenda impor beras. Direktur Utama Bulog, Budi Waseso menyatakan, Bulog belum tentu mengamini rencana yang dirancang oleh Menkoperekonomian dan Mendag tersebut.
Impor beras bukan cuma merefleksikan inkonsistensi terhadap seruan benci produk asing. Namun juga membuktikan bila banjir produk asing adalah kontribusi pemerintah. Frasa ekonomi gotong royong, ekonomi berdikari dan kedaulatan ekonomi yang selama ini seolah menghipnotis kesadaran publik, cuma isapan jempol.
ADVERTISEMENT
Salah Arah
Arah yang melenceng juga terjadi dalam agenda pembangunan ekonomi digital. Sektor ekonomi yang menjadi trend, bahkan diadopsi sebagai mainstream ekonomi masyarakat global. OECD menyebut digitalisasi adalah satu dari 10 megatrend yang dipicu oleh Covid-19.
Indikasi salah arah pembangunan ekonomi digital terlihat dari banjir produk asing. Persis seperti impor beras dan aneka jenis pangan yang saban tahun dilakukan oleh pemerintah. Keresahan soal dominasi asing tidak mengada-ada. Produk asing kadung menguasai pasar daring, ecommerce. Kamar Dagang dan Industri (KADIN) menyebut, cuma 7% produk lokal yang listing di ecommerce.
Jika digali lebih dalam, muncul pertanyaannya, mengapa terjadi dominasi produk asing dan situasi menjadi sulit dikendalikan? Pertama, seperti disebutkan di atas, ini adalah kontribusi pemerintah. Kegenitan membuka kran impor jadi gerbang utama. Kebijakan impor bukan diteken oleh pedagang di Glodok atau pengecer di Pasar Senen. Tapi oleh Menteri terkait. Maka sejak awal, ajakan “benci produk asing” dari pemerintah diduga sebagai bentuk cuci tangan.
ADVERTISEMENT
Kedua, di luar persoalan kebijakan importasi, banjir produk asing juga dipicu oleh faktor dinamika ekonomi internal. Indonesia memasuki momentum konsumsi. Terdongkrak oleh pendapatan perkapita. Tahun 2020 yang lalu, Indonesia bahkan dinobatkan oleh Bank Dunia sebagai upper middle income country. Negara berpendapatan menengah atas dengan pendapatan perkapita Rp58 juta pertahun.
Predikat itu adalah lampu hijau. Magnet bagi para investor. Di luar isu pemerataan yang masih jauh panggang dari api, kenaikan pendapatan perkapita adalah indikator jika ekonomi Indonesia tumbuh. Bertabur potensi untuk digali. Terutama di sektor konsumsi.
Sayangnya, kenaikan pendapatan perkapita masyarakat Indonesia tidak diimbangi dengan kemampuan produksi dalam negeri. Industri manufaktur bahkan memasuki masa-masa suram. Kontribusi manufaktur terhadap PDB melorot. Dari 28,83% pada tahun 2003, kini tersisa sekitar 19%.
ADVERTISEMENT
Konsekuensinya, ledakan permintaan harus disuplai impor. Aneka jenis produk, dari pangan, mainan anak, busana harian hingga printilan perkantoran dipasok dari China. Di pasar daring maupun di pasar tradisional.
Ketiga, transmisi digitalisasi mengakselerasi penetrasi asing di pasar dalam negeri. Sudah sejak lama Indonesia diincar. Pendekatan diplomasi antar negara (diplomacy approach) ditempuh untuk menikmati pasar terbesar di ASEAN ini. Termasuk melalui jalur investasi.
Lusinan perusahaan berbasis teknologi informasi mengguyurkan modal jumbo. Menancapkan eksistensi. Berselancar di pasar digital yang tumbuh secara akseleratif. Ekonomi digital Indonesia tahun 2020 tercatat senilai Rp 630 triliun. Tapi kue jumbo itu, cuma numpang lewat di dompet pelaku ekonomi lokal.
Dominasi produk asing di ecommerce menimbulkan implikasi berantai. Ekosistem UMKM dan sektor ril paling kena getahnya. Tidak hanya merugikan mereka yang mencoba peruntungan di platform-platform digital. UMKM yang bahkan tak memahami bagaimana cara kerja ekonomi berbasis aplikasi itu, ikut terpapar. Terancam tereliminasi dari rumah sendiri.
ADVERTISEMENT
Maka sorotan terhadap impor beras, semestinya jadi momentum menata kembali tata niaga Indonesia. Bukan cuma di sektor perberasan, dan pangan. Tapi di seluruh sektor perdagangan yang terindikasi kuat disetir oleh kepentingan rente.
Persis seperti perburuan rente yang juga terjadi di ecommerce. Bila ditelusuri, ternyata ada keluarga dekat pejabat penting di republik ini yang jadi komisaris di platform digital asing. Platform yang jadi surga bagi arus impor, yang mengancam UMKM lokal.