Bagaimana Kerja Otak Menyebabkan Kita Sering Lupa?

Seorang mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surakarta yang sedang mempelajari ilmu Psikologi
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Naylafa'izza Tayanda Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Disusun oleh:
Naylafa’izza Tayanda Putri_F100250021_Psikologi
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pendahuluan
Meski sering dianggap sebagai kelemahan, lupa sebenarnya merupakan bagian alami dari cara kerja otak manusia. Setiap orang pasti pernah mengalaminya, baik dalam bentuk lupa nama atau wajah seseorang, lupa meletakkan barang, atau bahkan lupa rencana yang baru saja dibuat. Secara ilmiah, lupa bukan tanda kelemahan otak, namun lupa merupakan hasil dari proses biologis dan psikologis yang rumit, di mana otak melakukan penyaringan dan pengorganisasian informasi untuk menjaga efisiensi sistem dalam memori.
Sistem memori manusia tidak dirancang untuk mengingat semua hal secara permanen, melainkan untuk menyeleksi informasi yang relevan dan membuang yang dianggap kurang relevan. Dengan demikian, lupa memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan sistem memori, memungkinkan otak fokus pada hal-hal yang lebih bernilai dan signifikan dalam kehidupan sehari-hari.
Pembahasan
Lupa merupakan hilangnya kemampuan untuk menyebut atau memproduksi kembali apa-apa yang telah dipelajari (Khadijah, 2011). Namun, Gulo (1982) dan Reber (1998) mendefinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau di alami. Sedangkan hilang ingatan adalah hilangnya kemampuan untuk mengingat atau menimbulkan kembali yang disebabkan oleh hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa lupa merupakan ketidakmampuan untuk mengingat kembali hal-hal tertentu yang pernah di alaminya.
Menurut Pudjono (2008) lupa dapat dijelaskan melalui tiga teori utama yang berfokus pada proses biologis dan psikologis memori. Ketiga teori tersebut menjelaskan penyebab lupa melalui perspektif yang berbeda. Teori pemudaran (decay theory) menekankan bahwa setiap pengalaman meninggalkan jejak tertentu dalam sistem saraf otak. Seiring waktu, jejak ini dapat melemah apabila tidak pernah diaktifkan kembali melalui proses pengingatan atau penggunaan informasi. Teori ini menegaskan bahwa aktivitas mengulang dan menggunakan kembali informasi berperan penting dalam mempertahankan ketahanan memori.
Berbeda dengan itu, teori interferensi (interference theory) menyoroti bahwa proses lupa terjadi karena adanya gangguan antar-ingatan. Saat seseorang memperoleh informasi baru yang serupa dengan informasi lama, maka informasi baru tersebut dapat menutupi atau mengacaukan ingatan lama. Sebaliknya, informasi lama yang sudah tersimpan juga dapat menghambat pembentukan memori baru. Teori ini menekankan bahwa semakin banyak informasi yang mirip disimpan dalam otak, semakin besar pula kemungkinan munculnya gangguan dalam proses mengingat.
Sementara itu, teori kelupaan karena ketergantungan pada tanda (cue-dependent theory) menjelaskan bahwa lupa tidak selalu berarti hilangnya informasi dari memori, melainkan karena tidak adanya isyarat yang tepat untuk memunculkan kembali ingatan tersebut. Dalam pandangan ini, memori sebenarnya masih tersimpan di dalam otak, namun seseorang tidak mampu mengaksesnya karena kekurangan tanda yang dapat memicu proses pengingatan. Hal ini menunjukkan bahwa proses mengingat sangat bergantung pada keberadaan petunjuk yang sesuai untuk mengaktifkan kembali jejak memori yang tersimpan.
(Lahey, 2006) menambahkan bahwa terdapat dua teori lain yang dapat menjelaskan mengapa seseorang mengalami lupa, yaitu reconstruction (schema) theory dan motivated forgetting. Teori rekonstruksi menyatakan bahwa informasi yang tersimpan dalam memori tidak selalu dapat diingat kembali dalam bentuk yang sama saat diperoleh. Lupa bukan hanya disebabkan oleh hilangnya informasi, melainkan juga karena ingatan tersebut mengalami perubahan atau disortasi ketika dipanggil kembali.
Adapun motivated forgetting menyatakan bahwa lupa dapat terjadi karena individu secara sadar maupun tidak sadar berusaha menyingkirkan ingatan yang menimbulkan ketidaknyamanan emosional. Dalam beberapa kasus, seseorang yang mengalami peristiwa traumatis atau menyakitkan akan mencoba menekan memori tersebut agar tidak muncul kembali, sehingga informasi itu menjadi sulit diingat. Hal ini menunjukkan bahwa teori ini menekankan bahwa proses lupa dapat berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri yang melindungi individu dari tekanan psikologis yang berlebihan.
Selain memahami penyebab lupa, diperlukan juga mengetahui upaya untuk mengurangi lupa, terutama dalam konteks pembelajaran. Terdapat beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk mengurangi lupa dalam proses belajar, yang secara langsung bertujuan memperkuat daya ingat dan meningkatkan efektivitas pembelajaran. Salah satu strategi yang penting adalah overlearning, yaitu belajar melebihi tingkat penguasaan dasar agar informasi lebih kuat tersimpan dalam memori. Dengan metode ini, kita tidak hanya memahami materi secara dasar, tetapi juga mampu mengingatnya lebih lama (Barlow, 2014).
Strategi berikutnya adalah menambah durasi atau frekuensi belajar (extra study time) yang memungkinkan otak memproses dan mengkonsolidasikan materi lebih efektif, sehingga memperkecil kemungkinan lupa (Reber, 2013). Selain itu, penggunaan mnemonic device, seperti akronim, rima (rhyme), atau asosiasi visual, mempermudah pengingatan informasi dengan menghubungkan materi baru pada pengetahuan yang telah ada, sekaligus membantu pengorganisasian informasi (Anderson, 2010). Penerapan ketiga strategi ini secara konsisten dapat meningkatkan kemampuan mengingat dan mendukung pencapaian hasil yang optimal.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kemampuan mengingat sangat bergantung pada mekanisme otak dalam menyimpan, mengolah, dan mengonsolidasikan informasi. Strategi seperti overlearning, extra study time, dan mnemonic device terbukti mampu memperkuat memori dan meminimalkan resiko lupa. Penerapan strategi-strategi tersebut memungkinkan informasi tetap tersimpan lebih lama dalam memori jangka panjang, sehingga individu dapat mengingat materi dengan lebih optimal. Pemahaman tentang mekanisme memori serta penerapan teknik penguatan ingatan menjadi faktor penting dalam menjaga retensi informasi.
Referensi
Pudjono, M. (2008). Teori-Teori Kelupaan. Buletin Psikologi, 16(2), 89-93. https://jurnal.ugm.ac.id/buletinpsikologi/article/view/7376/5743
Sandi, A., & Neviyarni. (2021). Ingatan II: Pengorganisasian, Lupa dan Model-Model Ingatan. Edukatif, 3(1), 115-123. https://doi.org/10.31004/edukatif.v3i1.191
Arloats, R. K., & Mustika, R. (2019). Lupa, dalam Perspektif Psikologi Belajar dan Islam. PSYCHE, 1(1). https://journal.uml.ac.id/TIT/article/view/72
Istiqamah & Ichsan. Masalah Lupa, Kejenuhan dan Kesulitan Siswa Serta Mengatasinya dalam Pembelajaran di MI/SD. Limas PGMI, 1(2), 103-111. https://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/limaspgmi/article/view/7671
Ali, M., Syah, M., & Arifin, B. S. (2024). Mengatasi Lupa dan Jenuh dalam Belajar. Al-Afkar, 7(4), 1869-1878. https://doi.org/10.31943/afkarjournal.v7i4.1187
