Hadapi Risiko Banjir, K3L Brilliant 3.0 UI Perkuat Kesiapsiagaan Warga Jatirasa
Tulisan dari K3L Brilliant UI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tim K3L Brilliant 3.0 Universitas Indonesia telah melaksanakan rangkaian kegiatan bersama masyarakat RW 12, Kelurahan Jatirasa, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, pada 19–27 September 2026. Mengusung tajuk “Penguatan Implementasi K3L untuk Meningkatkan Peran Masyarakat dalam Mitigasi Banjir di Kelurahan Jatirasa”, kegiatan ini memadukan edukasi keselamatan dan mitigasi bencana dengan penguatan kesehatan lingkungan serta pengelolaan limbah rumah tangga.
K3L Brilliant merupakan program pemberdayaan masyarakat Universitas Indonesia yang mengintegrasikan aspek keselamatan, kesehatan kerja, dan lingkungan melalui edukasi, pelatihan, serta kegiatan partisipatif. Pada edisi ketiga ini, program yang didanai oleh Direktorat Pengabdian dan Inovasi Sosial Universitas Indonesia (DPIS UI) dilaksanakan di Kelurahan Jatirasa, Kota Bekasi dengan fokus pada penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko banjir dan menjaga lingkungan.
Jatirasa adalah salah satu wilayah di Kecamatan Jatiasih yang masih menghadapi risiko banjir berulang. Berdasarkan wawancara awal tim pengusul dengan pihak Kelurahan Jatirasa pada 12 Mei 2026, sekitar 10 RW di wilayah tersebut dilaporkan terdampak banjir. RW 12 Perumahan Villa Jatirasa menjadi salah satu wilayah yang memiliki kondisi cukup parah karena berada di dataran rendah, dekat dengan aliran sungai, serta memiliki tanggul yang mengalami keretakan.
Risiko tersebut tidak hanya berkaitan dengan kondisi alam dan infrastruktur. Tingginya curah hujan, luapan sungai, banjir kiriman dari wilayah hulu, serta kondisi drainase yang kurang optimal akibat penumpukan sampah turut menjadi faktor yang perlu perhatian lebih. Laporan BPBD Kota Bekasi pada Maret 2026 mencatat ketinggian banjir hingga 1,9 meter di sejumlah titik wilayah Jatiasih.
Bagi warga, ancaman tersebut lebih dari persoalan genangan air saja. Ketika hujan deras terjadi di wilayah hulu, warga harus bersiap menghadapi kemungkinan debit air yang terus meningkat, sembari menyelamatkan diri dan mengamankan barang-barang di rumah.
“Yang paling membuat khawatir pas banjir itu debit air semakin naik dan kita bisa terjebak. Kita harus memindahkan kendaraan ke tempat yang lebih tinggi dan menaikkan barang-barang rumah ke lantai dua. Itu cukup menguras tenaga dan pikiran,” ungkap salah satu warga RW 12.
Kekhawatiran warga juga berlanjut setelah air surut. Penumpukan sampah pascabanjir dapat berlangsung hingga sekitar satu minggu dan dikhawatirkan menimbulkan masalah kesehatan serta menjadi tempat berlindung ular dan hewan lainnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesiapsiagaan banjir tidak hanya diperlukan saat keadaan darurat, tetapi juga mencakup upaya menjaga lingkungan sebelum dan setelah banjir.
Melalui K3L Brilliant 3.0, aspek keselamatan dan kesehatan lingkungan tersebut dipadukan dalam kegiatan edukatif dan partisipatif. Masyarakat mendapatkan edukasi mengenai mitigasi banjir, keselamatan, dan pengelolaan lingkungan, disertai penguatan keterampilan Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) bersama Direktorat Kesejahteraan Kampus Universitas Indonesia (DKK UI). Masyarakat juga dilibatkan dalam diskusi dan praktik pengelolaan limbah rumah tangga melalui pembuatan eco-enzyme.
Ketua Tim Pengusul K3L Brilliant 3.0 UI menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas dan kemandirian masyarakat secara berkelanjutan. “K3L Brilliant 3.0 bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat melalui penyuluhan mitigasi bencana, pengelolaan sampah, dan sanitasi lingkungan, serta mendorong kolaborasi dengan instansi terkait dan komunitas lokal demi menghadirkan solusi yang berkelanjutan,” terangnya.
Selain edukasi dan pelatihan, program ini menghadirkan intervensi fisik di lingkungan masyarakat melalui pemasangan rambu jalur evakuasi, penanda daerah rawan banjir, dan larangan membuang sampah. Selama rangkaian kegiatan, program melibatkan 57 peserta dari masyarakat RW 12 dengan total 93 kehadiran partisipan secara keseluruhan. Tim bersama warga juga memasang enam rambu, terdiri atas dua rambu larangan membuang sampah sembarangan, dua rambu batas kecepatan maksimal 20 km/jam, dan dua rambu jalur evakuasi. Masyarakat bersama tim turut mempraktikkan pengelolaan limbah rumah tangga melalui pembuatan lima eco-enzyme.
Antusiasme tinggi dirasakan oleh peserta kegiatan. “Acaranya seru. Alhamdulillah, saya dapat ilmu baru. Semoga apa yang kita dapatkan bisa dipraktikkan dan bermanfaat, serta eco-enzyme yang kita buat bisa berhasil,” tutur salah satu peserta usai kegiatan.
Program K3L Brilliant 3.0 merupakan bagian dari keberlanjutan rangkaian pemberdayaan masyarakat yang sebelumnya dilaksanakan melalui K3L Brilliant 1.0 di Desa Wisata Pulau Kelapa dan K3L Brilliant 2.0 di Kelurahan Sukaresmi. Melalui rangkaian tersebut, K3L Brilliant terus mengembangkan pendekatan kolaboratif yang menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam menghadapi persoalan keselamatan, kesehatan, dan lingkungan di wilayahnya. Perjalanan dan kegiatan K3L Brilliant selanjutnya dapat diikuti melalui akun Instagram @k3l_brilliant.
Ketua RW 12 Jatirasa mengapresiasi kehangatan dan keakraban para mahasiswa UI selama berbaur dengan warga. “Mahasiswa-mahasiswa ini seperti sudah kenal dengan warga sejak lama. Alhamdulillah, semoga ke depan silaturahmi ini terus terjaga. Di sini adik-adik mahasiswa juga belajar bersama masyarakat. Semoga sehat dan sukses selalu untuk tim UI,” tutupnya.

