6 Tipe Pembeli di E-commerce: Banyak Nanya Justru Batal Beli, Betul?

Segala informasi soal bisnis, mulai rumor pasar hingga kabar terbaru dunia bisnis.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu hal terpenting dalam pemasaran bisnis online adalah bagaimana cara memahami konsumen. Setiap pembeli punya motivasi dan preferensi berbeda ketika memilih produk. Tentunya hal ini sangat mempengaruhi penjualan di toko online kamu.
Belakangan topik ini ramai diperbincangkan di media sosial Twitter karena cuitan dari akun @aulley milik Aulia Rahmani. Diketahui, ia merupakan seorang UX Designer yang baru pertama kali mencoba berjualan di salah satu E-commerce.
“Jadi udah 2 mingguan ini aku jualan di Shopee, jual santai aja bareng temen. Ternyata ada beberapa user psychology yang bisa dipelajari,” tulis Aulia mengawali ulasan panjang di akunnya.
Dari pemaparannya tentang user psychology, ia menerangkan beberapa perilaku pembeli online yang sering ditemui. Hal tersebut memungkinkan penjual untuk merancang strategi penjualan yang lebih efektif.
1. Pembeli yang minat bacanya rendah
Tak bisa dipungkiri, selalu ada pembeli yang kurang minat membaca kolom deskripsi produk. Padahal seller (penjual) sudah mencantumkan dengan lengkap dan jelas produk jualannya. Menurut Aulia, pembeli lebih sering melihat gambar produk saja.
"Kalau dari situ ada yang gak jelas, mereka bakal ngechat. Makanya, lebih baik visualisasikan description (produk) di image," katanya.
2. Pembeli yang terhipnotis harga
Sudah jadi rahasia umum, pembeli lebih senang dengan harga yang angkanya lebih rendah meski berbeda Rp 500 atau bahkan Rp 1 perak. Tak heran beberapa toko seringkali memasang harga seperti Rp 99.000, Rp 299.000, dan lainnya.
Bagi pembeli, angka depan dan jumlah nol yang mengikuti merupakan hal penting menyangkut mahal atau murah suatu produk. Sehingga ini dapat menjadi bahan pertimbangan penjual terkait pencantuman harga.
3. Pembeli terpikat pada dua kata pertama judul produk
Pemberian judul punya peran penting, tak hanya dalam konteks jualan online saja. Orang lebih tertarik ketika melihat 2 kata di awal judul saja. Begitupun dengan berjualan, nama produk harus menggunakan kata yang menarik perhatian pembeli.
4. Pembeli yang lebih tertarik pada produk limited (stok terbatas)
Dari pengalaman Aulia, produk langka atau barang limited yang jadi rebutan pembeli lebih cepat lakunya. Menurutnya, setiap pembeli ketika memilih produk mengandalkan emosi mereka.
"Jadi kalau punya product & pengen cepet laku harus pinter2 bikin strategi supaya produknya ada unsur kelangkaan & yang dapat jadi bangga bisa beli," saran Aulia.
5. Pembeli yang banyak bertanya namun batal beli
Penjual harus memahami perbedaan pembeli yang ingin cepat bayar dan masih ragu bahkan belum memiliki motivasi untuk membeli.
Pembeli memiliki motivasi untuk beli jika dibarengi dengan ability atau kemampuan misalnya waktu, uang, atau kemampuan fisik & mental saat membeli.
"Sebenarnya pengen banget beli (motivasi tinggi) tapi terganjal di ability. Makanya sebagai penjual kalo bisa nawarin opsi-opsi pembayaran atau produk yang sesuai dengan ability buyer.
Tentunya penjual perlu meyakini mereka yang masih ragu untuk melakukan aksi, dalam hal ini membeli atau check out produk. Berdasarkan pengamatannya, pembeli yang sering bertanya justru kebanyakan batal membeli karena kemampuan (ability) nya kurang.
6. Pembeli yang butuh diyakinkan
Jika belum ada respon dari pembeli, penjual dapat melakukan strategi. Tak harus diskon, misalnya dengan memberi tahu bahwa produk ready & kasih info jika produk terbatas.
“Chat lagi, apakah masih minat dg produknya, kasih tau kalau udah restock. Kalau produknya sudah ribuan & pembelinya udah jutaan, prompt ini bs automated. Misalnya dr chatbot / notifikasi,” katanya.
Bagi Aulia, meski terlihat hanya jualan online, ada banyak hal yang dapat dipelajari seller untuk mengoptimasi penjualan mereka.
