103 Contoh Peribahasa Indonesia dan Artinya yang Penuh Makna

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peribahasa adalah bagian dari kekayaan Bahasa Indonesia yang berisi nasihat, petuah, atau gambaran kehidupan. Contoh peribahasa Indonesia dan artinya yang penuh makna dapat memberikan inspirasi serta pelajaran berharga dalam kehidupan sehari-hari.
Peribahasa indonesia tidak hanya berfungsi sebagai ungkapan yang indah, tetapi juga sebagai cerminan dari pengalaman hidup dan kebijaksanaan leluhur.
Contoh Peribahasa Indonesia dan Artinya
Berikut adalah contoh peribahasa Indonesia dan artinya dikutip dari buku Kumpulan Lengkap Peribahasa Indonesia oleh Gamal Komandoko.
Ada aku dipandang hadap, tiada aku pandang belakang; terlihat taat (patuh) dan berbakti, namun sesungguhnya tidak.
Ada angin ada pohonnya; segala sesuatu itu pasti ada asal-mulanya.
Ada bangkai ada hering; jika ada perempuan nakal (lacur), akan banyak lelaki yang datang kepadanya.
Ada batang, cendawan tumbuh; di mana kita berada, maka di sana pula rezeki kita.
Ada beras, taruh dalam padi; rahasia (aib) hendaklah disimpan rapat-rapat (baik-baik).
Ada biduk serempu pula; tidak pernah merasa puas hati karena terus menginginkan sesuatu yang lain.
Ada gula ada semut; di mana terdapat kesenangan, ke sana-lah biasanya orang banyak akan berdatangan (berkumpul).
Ada hujan ada panas, ada hari boleh balas; senantiasa masih ada kesempatan untuk membalas dendam.\
Ada nyawa ada ikan; meskipun masih hidup, namun sudah dalam kondisi yang hampir mati.
Ada nyawa ada rezeki; jika masih ada nyawa (hidup), tentu masih sanggup untuk berusaha guna mendapatkan rezeki.
Ada rotan ada duri; jika ada kesenangan tentu ada pula kesusahan.
Ada rupa ada harga; mutu suatu barang ditentukan oleh harganya.
Ada sampan hendak berenang; sengaja melakukan suatu tindakan yang hanya akan membuat susah payah dirinya saja.
Ada sirih hendak makan sepah; walaupun ada yang baik, namun malah menghendaki (menginginkan) sesuatu yang kurang baik dibandingkan yang telah ada tersebut.
1Ada uang ada barang; siapa yang sanggup membayar banyak akan mendapatkan barang (sesuatu) yang lebih baik.
Ada ubi, ada talas; kebaikan dibalas dengan kebaikan dan kejahatan dibalas dengan kejahatan pula.
Ada udang di balik batu; mempunyai tujuan (maksud) yang tersembunyi.
Adakah buaya menolak bangkai; jika kesempatan memung-kinkan, orang jahat pasti akan melakukan kejahatannya.
Adakah dari telaga yang jernih mengalir air yang keruh; orang yang baik biasanya akan mengeluarkan ucapan (perkataan) yang baik-baik juga.
Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah; suatu perbuatan, tindakan serta pekerjaan hendaknya senantiasa memperhatikan adat istiadat serta agama.
Adat diisi, janji dilabuh adat istiadat harus dijalankan; persetujuan (janji) harus ditepati.
Bagai ayam lebih penggunting; seseorang yang sudah tidak dihitung lagi dalam perkumpulan karena telah jatuh miskin atau kedapatan budi.
Bagai balam dengan ketitir; dua orang yang selalu bertengkar (berselisih) dengan saling membanggakan diri mereka masing-masing.
Bagai batu jatuh ke lubuk; hilang, lenyap dan tidak terdengar kabar beritanya lagi.
Bagai beliung dengan asahan; persahabatan (pertemanan) yang sangat erat.
Bagai belut diregang; perawakan tubuh seseorang yang tinggi lagi sangat kurus.
Bagai belut kena ranjau; orang yang licin dan cerdik dapat juga tertipu.
Bagai beruk kena ipuh; menggeliat-geliat akibat merasakan suatu kesakitan yang sangat.
Bagai betung bulat tak bersegi,pipit jantan tak bersarang, selalu pergi mengembara.
Bagai bujang baru berkeris, bagai gadis baru bersubang,
Bgai si buta baru melihat; orang yang mendadak jadi sombong karena mendapat kekayaan atau karena pangkat jabatannya.
Bagai bulan kesiangan; wajahnya terlihat pucat pasi dan tubuhnya nampak lesu.
Bagai bulan dengan matahari; dua hal yang sebanding.
Bagai bunga ditimpa panas; wanita cantik menjadi pucat wajahnya karena ditimpa kesedihan (kesusahan)
Bagai buntal kembung; sudah bodoh, sombong lagi sifatnya.
Bagai bunyi cempedak jatuh; menimbulkan bunyi seperti bunyi jatuhnya sesuatu yang berat.
Bagai dawat dengan kertas; pasangan serasi yang tidak bisa dipisahkan satu dan lainnya.
Bagai dulang dengan tudung saji; pasangan yang cocok sekali.
Bagai duri dalam daging; selalu ingat perasaan yang kurang menyenangkan hatinya.
Bagai dientak alu luncung; orang kuat (pintar) dikalahkan oleh orang lemah (bodoh).
Bagai kucing lepas senja; sangat sulit didapatkan (dicari).
Bagai kucing mengintai panggung; gelisah menunggu (mengharapkan) keuntungan yang belum pasti.
Bagai kuku dengan daging; pasangan yang tidak dapat dipisahkan (diceraikan).
Bagai kuku dengan isi; karib sekali, tidak pernah berpisah.
Bagai kundur di atas dulang; tidak tetap pendiriannya. Selalu berubah-ubah pendiriannya.
Bagai langau di ekor gajah; selalu menurut kepada seseorang tanpa pernah membantah.
Bagai lukah tak penuh air; merasa tidak kenyang-kenyang hingga maunya ingin makan saja.
Bagai makan didaun pisang, habis makan piring dibuang; seseorang yang merasa bersedih hati mengingat jasanya telah diabaikan orang.
Bagai manik putus talinya; air mata yang jatuh bercucuran sebab mendengar berita yang menyedihkannya.
Bagai melihat asam; sangat berhasrat (menginginkan).
Bagai melulusi baju sempit; merasa gembira karena terbebas dari kesukaran (kesusahan).
Bakar tidak berbau; mempunyai maksud (niat) jahat yang tersembunyi.
Bala lalu dibawa singgah; sengaja mencari sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri.
Balam lupa kepada jerat, tetapi jerat tak lupa kepada ba-lam; seseorang yang selalu diintai bahaya, namun ia tidak menyadarinya.
Baling-baling di atas bukit; pendirian yang tidak tetap, sering berubah-ubah.
Bangau-bangau, minta aku leher; badak-badak, minta aku daging; iri hati melihat kekayaan serta kelebihan orang lain.
Bangkai gajah, bolehkah ditutup dengan niru; kejahatan yang besar tidak dapat disembunyikan dengan mudah.
Banyak habis sedikit sedang; cukup atau tidaknya tergantung dari cara pengaturan seseorang.
Banyak makan asam garam; mempunyai pengetahuan (pengalaman) yang banyak.
Banyak orang banyak ragamnya; setiap orang mempunyai pikiran (pendapat)nya masing-masing.
Batupun empuk, jangankan hati manusia; berkata itu lebih baik yang lemah-lembut.
Bau busuk tidak berbangkai; mendapat fitnah (celaan) yang tidak benar.
Baunya setahun perjalanan; berbau sangat busuk. Bayang-bayang disangka tubuh; mengharapkan sesuatu yang belum tentu.
Bayang-bayang sepanjang badan; tepat sesuai keadaannya. Bayang-bayang tidak sepanjang badan; melakukan sesuatu di atas (di luar) kemampuan yang sesungguhnya.
Beban berat senggulung; seseorang yang mempunyai tanggungan yang berat sekali.
Beban berat senggulung batu; mengerjakan tugas (pekerjaan) yang berat dan sulit, namun kurang peralatan dan dukungan.
Bebat erat-erat, membuhul mati-mati; pembuatan aturan (perjanjian) dengan sempurna.
Belah dada lihatlah hati; untuk menguatkan kebenaran yang telah diucapkan.
Cerdik terkedik, bingung terjual; sebaik-baik nasib adalah yang pertengahan, karena kepintaran kadang menyebabkan kesusahan dan kebodohan menyebabkan mudah ditipu.
Cinta buta; ketika dilanda (dimabuk) cinta, maka tak lagi menggunakan akal pertimbangan.
Cinta harta api membara; cinta yang hanya berlandaskan karena harta kekayaan.
Condong ditumpil, lemah diaduk; seseorang yang sedang kesulitan mendapatkan pertolongan.
Condong yang akan menimpa; suatu perbuatan yang hanya akan mendatangkan kecelakaan (kerugian) semata.
Condong yang akan menongkat, rebah yang akan menegakkan; pemimpin (atasan) yang biasanya akan membantu kesulitan bawahannya.
Cukur jerangan, ada lagi di ubun-ubun; orang yang masih sangat muda dan belum berpengalaman.
Cupak sepanjang betung, adat sepanjang jalan; melakukan perbuatan (pekerjaan) sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku.
Diberi betis hendak paha, diberi bahu hendak kepala; diberi sedikit (kecil) namun menginginkan yang lebih banyak (besar).
Diberi kepala hendak bahu; diberi sedikit (kecil) namun menginginkan yang lebih banyak (besar).
Diberi kuku hendak mencengkam; baru diberi kekuasaan sedikit namun sudah hendak berlaku semena-mena.
Diberi kuku hendak mencengkeram; baru diberi kekuasaan sedikit namun sudah hendak berlaku semena-mena.
Diberi sejengkal hendak sehasta, diberi sehasta hendak sedepa; diberi sedikit (kecil) namun menginginkan yang lebih banyak (besar).
Dibuat karena Allah, menjadi murka Allah; meskipun di-niatkan baik, namun orang menyangkanya itu tidak baik.
Dibujuk ia menangis, ditendang ia tertawa; sesudah dimarahi (ditegur keras), barulah ia dapat melakukan sesuatu dengan baik.
Dicoba-coba menanam mumbang, kalau tumbuh sunting negeri; mencoba terus mengerjakan suatu pekerjaan (perbuatan), barangkali kelak ada hasilnya.
Dicubit paha, seluruh badan terasa sakit; merasakan malu (sakit) jika salah seorang keluarga menderita.
Didengar ada, dipakai tidak; tidak mendengarkan (memperdulikan) nasehat (saran) seseorang.
Dientak alu luncung; dikalahkan oleh orang yang lebih bodoh.
Enak sama dimakan, pahit sama dimuntahkan; laba dan rugi dirasakan bersama-sama.
Enak, kata kukuran; sakit kata kelapa; senang dan baik bagi orang yang memerintah, namun tidak bagi yang diperintah.
Enak lauk dikunyah-kunyah, enak kata diperkatakan; sesuatu di dalam hati hendaklah dirundingkan kembali agar jelas maksudnya.
Enau memanjat sigai; perempuan (wanita) yang mendatangi (mencari) lelaki (pria).
Enau sebatang dua sigainya; pekerjaan yang diatur oleh dua orang yang mempunyai wewenang dan kekuasaan yang sama, maka hasil akhirnya tidak akan baik.
Enggan berdayung hanyut serantau, malu bertanya sesat di jalan; malas dalam berusaha (bekerja), akan mendapat kesulitan besar (celaka) di kemudian hari.
Enggan lalu, atal jatuh anak raja mati ditimpanya; orang lain yang melakukan kesalahan, namun kita yang mendapat kesusahan.
Enggan seribu daya, mau sepatah kata; seseorang yang tidak suka pada sesuatu biasanya akan punya banyak alasan.
Enggang lalu, atal jatuh, anak raja mati ditimpanya; orang lain yang melakukan kejahatan, namun kita yang disangkanya hingga kita menderita karenanya.
97. Engkau belum mencapai pengayuh, aku telah sampai ke seberang; sejak awal kita telah mengetahui apa yang dimaksudkan.
Harimau memperlihatkan kuku; orang besar memperlihatkan kebesaran kekuasaannya.
Harimau mengaum takkan menangkap; orang yang mengancam biasanya tidak akan memukul.
Harimau menunjukkan belangnya; orang besar yang memperlihatkan kebesaran kekuasaannya.
Harimau menyembunyikan kuku; orang pemberani yang menyembunyikan keberaniannya. Harimau putung kena penjara, pelanduk kecil menolakkan; orang kecil ada kalanya dapat menolong orang besar.
Harum menghilangkan bau; keburukan tidak nampak karena tertutup kebaikan.
Hati bagai baling-baling; pendirian yang tidak tetap, sering berubah-ubah.
Contoh peribahasa Indonesia dan artinya dapat menambah wawasan dan menjadi pengingat akan pentingnya nilai-nilai kebaikan, kesabaran, dan kebijaksanaan dalam setiap langkah yang kita ambil. (ATK)
Baca juga: 14 Contoh Peribahasa Jawa tentang Menghargai Orang Lain beserta Maknanya
