Konten dari Pengguna

15 Cara Menghindari Sifat Takabur Menurut Ajaran Islam

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi cara menghindari sifat takabur. Foto: Unsplash/Debby Hudson
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi cara menghindari sifat takabur. Foto: Unsplash/Debby Hudson

Cara menghindari sifat takabur penting untuk dipelajari dalam Islam, agar manusia dapat terhindar dari salah satu sifat buruk yang dapat merugikan diri maupun orang lain. Segala sifat buruk sejatinya dibenci oleh makhluk, agama, terutama oleh Allah Swt.

Takabur lebih sering dikenal dengan sifat sombong. Dalam agama Islam, perilaku ini tercatat sudah terjadi sejak kewujudan manusia pertama, yaitu Nabi Adam a.s., di mana iblis enggan sujud kepadanya yang dianggap rendah, meski itu perintah Allah Swt.

Sifat tersebut sering hinggap pada diri manusia, utamanya siapa saja yang telah diberikan nikmat dan kelebihan yang tidak ada pada orang lain. Adanya imbas buruk sosial maupun agama dari sifat ini, mengharuskan manusia untuk menghindarinya.

Daftar isi

Cara Menghindari Sifat Takabur

Sebagai bentuk usaha agar terhindar dari sifat buruk adalah dengan memahami pengertian, ciri-ciri, dan kiat untuk menghindarinya. Berikut penjelasan mengenai takabur beserta cara menghindari sifat takabur menurut ajaran Islam:

1. Pengertian Takabur

Takabur dalam bahasa Arab berasal dari kata kaburayakburu - kibran wa kubran wa kubarata, yang kemudian menjadi kibrun (كِبْرٌ) dan kibriyaai (كِبْرِيَاءِ). Kata kibriyaai (كِبْرِيَاءِ) tersebut sama maknanya dengan kata adzamah (عَظَمَةٌ).

Dalam Kamus Idris Al-Marbawi, ketiga kata tersebut secara istilah memiliki makna sombong, besar hati, serta takabur. Adapun maksud dari kata الكِبْرُ, yaitu sifat yang ada di dalam hati, yang menjadikan seseorang merasa lebih tinggi dari orang lain.

Sifat sombong ini tidak berhenti sampai tahap angkuh dalam hati (nafs), tetapi dapat berlanjut pada tahap takabur perbuatan. Perbuatan tersebut berupa perlakuan yang menjadi wujud apa yang dikehendaki angkuhnya hati seseorang.

Pengertian lain dari sombong (الكِبْر) adalah pandangan hamba kepada dirinya sendiri sebagai orang mulia dan pandangannya kepada orang lain berupa penghinaan (Syeikh Muhammad Nawawi Al-Bantani) sejatinya karena lupa diri itu siapa (Buya Hamka).

2. Ciri-Ciri Orang dengan Sifat Takabur

Pada dasarnya, karakter manusia terbentuk oleh banyak faktor, seperti faktor lingkungan dan lain sebagainya, yang kemudian akan mempengaruhi isi hati. Perilaku manusia yang akan mencerminkan isi hati tersebut, sebagaimana kutipan berikut:

مَا اسْتُودِعَ فِي غَيْبِ السَّرَابِرِ ظَهَرَ فِي شَهَادَةِ الظَّوَاهِرِ

Dalam bahasa Indonesia berarti, “Apa yang tersimpan di kedalaman batin akan tampak pada penampilan lahir.” (Syekh Ibnu Athaillah al-Iskandari). Adapun beberapa ciri manusia yang memiliki sifat takabur menurut ajaran Islam, yaitu:

Menurut Syeikh Abdul Ṣomad Al-Falimbani (Sirus Salikin dan Hidayah al-Salikin):

  • Akan marah jika ditegur oleh orang lain dan justru orang itulah yang suka menegur akan orang lain;

  • Apabila berbicara suatu masalah, berhujjah (memberi alasan) atau bertukar pikiran dengan seseorang yang lain, orang-orang itu tidak mau dikalahkan;

  • Apabila perkataan, pandangan dan pendapatnya disanggah, orang itu akan marah;

  • Suka memerintah untuk melakukan sesuatu, tetapi jika diminta untuk melakukan sesuatu, orang itu tidak suka atau ingkar, serta apabila diajarkan sesuatu maka orang tersebut tidak menyukainya;

  • Seseorang yang meninggikan (memposisikan) kedudukannya dan mengutamakan kedudukannya dari orang banyak;

  • Suka mendahulukan dirinya dalam pekerjaan atau perbuatan daripada orang lain;

  • Seseorang yang akan melihat orang lain dengan penglihatan menghinakan;

  • Orang tersebut akan marah jika tidak diberi salam kepadanya;

  • Jika mengajar, pengajarannya tidak bersikap lemah lembut terhadap pelajarnya, justru orang tersebut suka menghina.

Menurut Imam al-Ghazali (Ihya’ ‘Ulumuddin):

  • Benci jika hujjahnya ditolak dan tidak mau mengikuti atau menerima perkataan, pendapat atau pandangan orang lain, walaupun perkataan atau pendapat orang lain itu benar daripada pendapatnya;

  • Orang tersebut menjauhkan diri dari kealpaan dalam memenuhi segala kebutuhan dan membanggakan diri;

  • Akan mendahulukan dirinya pada jalan yang sempit dan meninggikan (melebih atau mengutamakan) diri pada suatu majelis atau acara, serta orang tersebut akan menunggu supaya orang lain memulai salam dan bersalaman kepadanya;

  • Seseorang yang akan memandang orang lain berhak untuk bangun berdiri, membungkuk di hadapannya;

  • Akan marah jika orang lain tidak membesarkan, memuliakan, menghormatinya, juga akan marah jika orang tersebut tidak menunaikan keinginan atau hajatnya;

  • Jika mengajar, pengajarannya tidak bersikap lemah lembut, justru orang tersebut suka memaki, membentak, menyebut-nyebut kebaikannya kepada pelajarnya dan menjadikan pelajarnya pelayan atau yang mengikuti segala permintaannya.

3. Cara untuk Menghindari Sifat Takabur

Cara agar terhindar dari sifat takabur adalah dengan menanamkan sifat yang merupakan kebalikannya, yaitu tawadhu (rendah hati). Tawadhu merupakan sifat yang dimuliakan Allah Swt., sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ berikut:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا : حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ وَهُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنِ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوِ إِلَّا عِرًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

Yahya bin Ayub, Qutaibah, dan Ibnu Hujr menyampaikan kepada kami dari Ismail bin Ja’far, dari al-Ala’, dari ayahnya, dari Abu Hurairah bahawa Rasulullahbersabda,”Sedekah tidak akan mengurangi harta (sedikitpun). Tidaklah seseorang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya; dan tidaklah seseorang merendahkan hatinya karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Tirmizi)

Simak cara-cara yang dapat ditempuh agar bisa menjadi orang yang tawadhu, sekaligus sebagai cara menghindari sifat takabur, berikut ini (Takabur Menurut Al-Quran Pada Surah Al-A‘Raf Ayat 146 oleh Muhamad Muzzammil Bin Abd Razak):

  • Meningkatkan keimanan serta ketakwaan, dengan senantiasa rajin beribadah. Orang yang beriman serta bertakwa akan memahami cara agar terhindar dari perbuatan buruk, termasuk takabur;

  • Mensyukuri segala nikmat Allah Swt. Dengan memiliki rasa syukur di dalam diri, manusia secara naluri akan dapat mengurangi keinginan untuk bersikap takabur, karena memahami bahwa segalanya berasal dari Allah Swt;

  • Menyadari bahwa hidup ini hanya sementara sifatnya. Orang yang takabur cenderung melupakan kenyataan tersebut, sehingga terlena dalam perbuatan dosa dan lupa menyiapkan bekal untuk menuju akhirat;

  • Bersikap ramah dan empati. Cobalah untuk memperlakukan orang lain dengan cara yang sama seperti yang diri inginkan dari orang lain, karena orang yang takabur biasanya sangat senang merendahkan orang lain;

  • Dengarkan pandangan dan pendapat orang lain dengan terbuka dan hargai kontribusi orang lain, karena sejatinya orang yang takabur cenderung mementingkan diri sendiri di atas segalanya dan tidak mau menerima pendapat yang lain;

  • Tunduk kepada kebenaran dan patuh kepadanya, sekalipun kebenaran itu didapat dari anak kecil bahkan sekalipun seseorang itu mendengar kebenaran dari orang yang paling tidak tahu arah kiblat shalatnya (orang yang bodoh);

  • Mengontrol emosi diri agar tidak mudah merasa kesal atau merasa dirinya hilang kemuliaan. Ingatlah bahwa kemuliaan dalam pandangan Allah Swt. tidak dilihat dari seberapa kuat pengaruh seseorang, tapi karena ketakwaannya;

  • Berikan apa yang menjadi hak orang lain sesuai dengan kenyataannya, yang artinya bukan mendahulukan orang lain dengan memberikan hak diri sendiri, karena hal tersebut akan menjerumuskan manusia pada sifat buruk yaitu rendah diri;

  • Berdirilah dan tampakkan wajah yang ceria kepada orang awam saat berbicara. Perilaku ini dapat melatih manusia agar terhindar dari takabur, karena orang angkuh akan meninggikan dagunya dan enggan tersenyum;

  • Bersikaplah lemah lembut pada saat bertanya. Kembali pada poin perlakukan orang lain sebagaimana diri ingin diperlakukan, maka praktik ini akan melatih seseorang agar terhindar dari sifat buruk;

  • Berusaha amanah, dengan menghadiri undangan dan berusaha memenuhi kehendak orang lain. Sifat ini berkebalikan dengan ciri sifat takabur, yaitu merendahkan orang lain, mementingkan diri sendiri, serta tidak menghargai orang;

  • Hendaklah orang tersebut merendahkan dirinya kepada orang alim karena menyadari kejahilan diri sendiri dibandingkan dengan orang alim tersebut;

  • Jika melihat orang yang alim tersebut merupakan seseorang yang fasik, maka katakanlah pada diri sendiri yaitu "Mudah-mudahan orang fasik tersebut memiliki sifat yang baik di dalam hatinya karena yang di dalam hatinyalah yang akan menghapuskan maksiat yang zahir";

  • Akui kekurangan dan kesalahan diri, karena takabur sering muncul karena seseorang merasa terlalu percaya diri dan meremehkan orang lain;

  • Jagalah keseimbangan antara rasa percaya diri dan rendah hati. Rasa percaya diri yang baik dapat membantu seseorang untuk mencapai tujuan dan meraih kesuksesan, sementara sifat rendah hati dapat membantu dalam menjaga hubungan yang harmonis dengan orang lain.

Demikian penjelasan mengenai apa itu takabur, ciri-cirinya, beserta cara menghindari sifat takabur yang dapat pembaca pahami. Pelajari lebih lanjut dan praktikkan materi terkait agar terhindar dari sifat buruk yang dapat merugikan.

Baca juga: Arti Takabur dalam Islam dan Ciri-Cirinya yang Harus Dihindari