Konten dari Pengguna

150 Kata-Kata Pepatah Jaman Dulu Lengkap dengan Artinya

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 10 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kata-Kata Pepatah Jaman Dulu. Foto: Unsplash/Brett Jordan
zoom-in-whitePerbesar
Kata-Kata Pepatah Jaman Dulu. Foto: Unsplash/Brett Jordan

Indonesia dikenal sebagai bangsa yang kaya akan budaya, salah satunya berupa pepatah. Kata-kata pepatah jaman dulu tidak hanya digunakan sebagai nasihat, tetapi juga sebagai cerminan cara berpikir, etika, dan kebijaksanaan masyarakat terdahulu.

Mengutip dari website repositori.kemdikbud.go.id, pepatah atau peribahasa dapat diumpamakan suatu hiasan atau bunga dalam kata-kata. Pepatah ini mengandung nilai-nilai luhur, nasihat bijak, dan kearifan lokal yang diwariskan oleh leluhur kita.

Daftar isi

Arti dari Kata-Kata Pepatah Jaman Dulu

Kata-Kata Pepatah Jaman Dulu. Foto: Unsplash/Brett Jordan

Berikut adalah kumpulan kata-kata pepatah jaman dulu lengkap dengan arti.

  1. Air beriak tanda tak dalam – Orang yang banyak bicara biasanya kurang ilmunya.

  2. Air tenang menghanyutkan – Orang pendiam sering kali memiliki kemampuan luar biasa.

  3. Air susu dibalas air tuba – Kebaikan dibalas dengan kejahatan.

  4. Ada udang di balik batu – Ada maksud tersembunyi di balik suatu perbuatan.

  5. Bagai musuh dalam selimut – Orang yang berpura-pura baik tetapi sebenarnya berkhianat.

  6. Bagai pungguk merindukan bulan – Mengharapkan sesuatu yang mustahil tercapai.

  7. Bagai kacang lupa kulitnya – Lupa akan asal-usul atau jasa orang lain.

  8. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing – Suka dan duka ditanggung bersama.

  9. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh – Persatuan membawa kekuatan, perpecahan membawa kehancuran.

  10. Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung – Menyesuaikan diri dengan adat dan kebiasaan setempat.

  11. Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang – Orang meninggal dikenang karena jasa atau perbuatannya.

  12. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari – Perilaku buruk pemimpin akan ditiru oleh bawahannya.

  13. Habis manis sepah dibuang – Setelah tidak berguna lagi, seseorang ditinggalkan.

  14. Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama – Perbuatan seseorang akan dikenang setelah ia tiada.

  15. Kecil-kecil cabe rawit – Meskipun kecil, tetapi berani atau berkemampuan besar.

  16. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya – Setiap daerah memiliki adat dan kebiasaan yang berbeda.

  17. Lebih baik mencegah daripada mengobati – Pencegahan lebih baik daripada harus memperbaiki setelah terjadi masalah.

  18. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih – Nasib buruk atau baik tidak dapat dihindari atau dipaksakan.

  19. Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri – Mengungkapkan aib orang lain, tetapi diri sendiri terkena dampaknya.

  20. Nasi sudah menjadi bubur – Sesuatu yang sudah terjadi tidak bisa diubah kembali.

  21. Pucuk dicinta ulam pun tiba – Mendapatkan sesuatu yang diharapkan secara tak terduga.

  22. Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya – Kerajinan membawa kepandaian, dan hemat membawa kekayaan.

  23. Sambil menyelam minum air – Melakukan dua pekerjaan sekaligus.

  24. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui – Sekali melakukan pekerjaan, beberapa tujuan tercapai.

  25. Sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu jatuh juga – Sehebat-hebatnya seseorang, pasti pernah melakukan kesalahan.

  26. Tak ada gading yang tak retak – Tidak ada sesuatu yang sempurna.

  27. Tak kenal maka tak sayang – Jika tidak mengenal, maka tidak akan timbul rasa sayang.

  28. Tong kosong nyaring bunyinya – Orang yang banyak bicara biasanya kurang ilmunya.

  29. Ujung-ujungnya kembali ke pangkal jalan – Akhirnya kembali ke awal atau asal mula.

  30. Walau seribu kali jatuh, tetap bangkit kembali – Tidak mudah menyerah meskipun sering gagal.

  31. Yang dikejar tak dapat, yang dikandung berceceran – Menginginkan sesuatu yang sulit dicapai, tetapi kehilangan yang sudah dimiliki.

  32. Ada asap, ada api – Setiap kejadian pasti ada penyebabnya.

  33. Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga – Sifat orang tua akan menurun kepada anaknya.

  34. Bagai duri dalam daging – Sesuatu yang selalu mengganggu atau menyakitkan.

  35. Bagai telur di ujung tanduk – Keadaan yang sangat berbahaya.

  36. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian – Harus berusaha keras terlebih dahulu sebelum menikmati hasil.

  37. Diam-diam menghanyutkan – Orang yang tampaknya tenang, tetapi berbahaya.

  38. Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak – Kesalahan sendiri tidak terlihat, tetapi kesalahan orang lain yang kecil terlihat jelas.

  39. Harap-harap cemas – Mengharapkan sesuatu dengan perasaan cemas.

  40. Ibarat kata, tak ada rotan, akar pun jadi – Jika tidak ada yang baik, yang kurang baik pun bisa digunakan.

  41. Jauh di mata, dekat di hati – Meskipun berjauhan, tetap saling menyayangi.

  42. Kacang lupa akan kulitnya – Lupa akan asal-usul atau jasa orang lain.

  43. Lidah tak bertulang – Mudah mengucapkan sesuatu tanpa dipikirkan.

  44. Mulutmu harimaumu – Perkataan yang keluar dari mulut bisa mencelakakan diri sendiri.

  45. Nila setitik, rusak susu sebelanga – Kesalahan kecil bisa merusak keseluruhan.

  46. Orang sabar disayang Tuhan – Kesabaran akan membawa kebaikan.

  47. Padi semakin berisi, semakin merunduk – Semakin berilmu, semakin rendah hati.

  48. Rambut sama hitam, hati berbeda-beda – Setiap orang memiliki pendapat atau perasaan yang berbeda.

  49. Sedia payung sebelum hujan – Bersiap-siap sebelum menghadapi kesulitan.

  50. Tak ada rotan, akar pun jadi – Jika tidak ada yang baik, yang kurang baik pun bisa digunakan.

  51. Ada uang abang disayang, tak ada uang abang melayang – Kasih sayang yang tergantung pada harta.

  52. Bagai air di daun talas – Orang yang tidak memiliki pendirian tetap.

  53. Bagai anak ayam kehilangan induk – Kebingungan karena kehilangan pemimpin atau penuntun.

  54. Bagai aur dengan tebing – Saling membantu dan mendukung satu sama lain.

  55. Bagai api dengan asap – Hubungan yang sangat erat dan tak terpisahkan.

  56. Bagai makan buah simalakama – Situasi serba salah; pilihan yang sama-sama sulit.

  57. Bergantung pada akar lapuk – Mengandalkan sesuatu yang tidak dapat diandalkan.

  58. Besar pasak daripada tiang – Pengeluaran lebih besar daripada pendapatan.

  59. Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi – Belajar setengah-setengah tidak akan menghasilkan apa-apa.

  60. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian – Berusaha keras terlebih dahulu sebelum menikmati hasil.

  61. Cacing menjadi ular naga – Orang yang semula miskin berubah menjadi kaya.

  62. Dikasih hati minta jantung – Orang yang tidak tahu terima kasih dan selalu meminta lebih.

  63. Dunia tak selebar daun kelor – Dunia itu luas, banyak kesempatan di luar sana.

  64. Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak – Kesalahan sendiri tidak terlihat, tetapi kesalahan orang lain yang kecil terlihat jelas.

  65. Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama – Perbuatan seseorang akan dikenang setelah ia tiada.

  66. Ibarat kata, tak ada rotan, akar pun jadi – Jika tidak ada yang baik, yang kurang baik pun bisa digunakan.

  67. Jauh di mata, dekat di hati – Meskipun berjauhan, tetap saling menyayangi.

  68. Kacang lupa akan kulitnya – Lupa akan asal-usul atau jasa orang lain.

  69. Lidah tak bertulang – Mudah mengucapkan sesuatu tanpa dipikirkan.

  70. Mulutmu harimaumu – Perkataan yang keluar dari mulut bisa mencelakakan diri sendiri.

  71. Nila setitik, rusak susu sebelanga – Kesalahan kecil bisa merusak keseluruhan.

  72. Orang sabar disayang Tuhan – Kesabaran akan membawa kebaikan.

  73. Padi semakin berisi, semakin merunduk – Semakin berilmu, semakin rendah hati.

  74. Rambut sama hitam, hati berbeda-beda – Setiap orang memiliki pendapat atau perasaan yang berbeda.

  75. Sedia payung sebelum hujan – Bersiap-siap sebelum menghadapi kesulitan.

  76. Tak ada rotan, akar pun jadi – Jika tidak ada yang baik, yang kurang baik pun bisa digunakan.

  77. Ujung-ujungnya kembali ke pangkal jalan – Akhirnya kembali ke awal atau asal mula.

  78. Walau seribu kali jatuh, tetap bangkit kembali – Tidak mudah menyerah meskipun sering gagal.

  79. Yang dikejar tak dapat, yang dikandung berceceran – Menginginkan sesuatu yang sulit dicapai, tetapi kehilangan yang sudah dimiliki.

  80. Ada asap, ada api – Setiap kejadian pasti ada penyebabnya.

  81. Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga – Sifat orang tua akan menurun kepada anaknya.

  82. Bagai duri dalam daging – Sesuatu yang selalu mengganggu atau menyakitkan.

  83. Bagai telur di ujung tanduk – Keadaan yang sangat berbahaya.

  84. Diam-diam menghanyutkan – Orang yang tampaknya tenang, tetapi berbahaya.

  85. Harap-harap cemas – Mengharapkan sesuatu dengan perasaan cemas.

  86. Jauh di mata, dekat di hati – Meskipun berjauhan, tetap saling menyayangi.

  87. Kacang lupa akan kulitnya – Lupa akan asal-usul atau jasa orang lain.

  88. Lidah tak bertulang – Mudah mengucapkan sesuatu tanpa dipikirkan.

  89. Mulutmu harimaumu – Perkataan yang keluar dari mulut bisa mencelakakan diri sendiri.

  90. Nila setitik, rusak susu sebelanga – Kesalahan kecil bisa merusak keseluruhan.

  91. Orang sabar disayang Tuhan – Kesabaran akan membawa kebaikan.

  92. Padi semakin berisi, semakin merunduk – Semakin berilmu, semakin rendah hati.

  93. Rambut sama hitam, hati berbeda-beda – Setiap orang memiliki pendapat atau perasaan yang berbeda.

  94. Sedia payung sebelum hujan – Bersiap-siap sebelum menghadapi kesulitan.

  95. Tak ada rotan, akar pun jadi – Jika tidak ada yang baik, yang kurang baik pun bisa digunakan.

  96. Ujung-ujungnya kembali ke pangkal jalan – Akhirnya kembali ke awal atau asal mula.

  97. Walau seribu kali jatuh, tetap bangkit kembali – Tidak mudah menyerah meskipun sering gagal.

  98. Yang dikejar tak dapat, yang dikandung berceceran – Menginginkan sesuatu yang sulit dicapai, tetapi kehilangan yang sudah dimiliki.

  99. Ada asap, ada api – Setiap kejadian pasti ada penyebabnya.

  100. Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga – Sifat orang tua akan menurun kepada anaknya.

  101. Air beriak tanda tak dalam – Orang yang banyak bicara biasanya kurang ilmu.

  102. Ada gula ada semut – Di mana ada kesenangan, di situ banyak orang berkumpul.

  103. Seperti katak dalam tempurung – Pandangan yang sempit karena tidak tahu dunia luar.

  104. Lempar batu sembunyi tangan – Berbuat salah lalu tidak mau mengakuinya.

  105. Tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan – Sesuatu yang tetap bertahan meski diuji waktu.

  106. Bagaikan langit dan bumi – Sangat berbeda jauh.

  107. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui – Sekali berbuat, dua tiga hasil diperoleh.

  108. Air tenang menghanyutkan – Orang pendiam bisa menyimpan kekuatan besar.

  109. Asam di gunung, garam di laut, bertemu dalam belanga – Jodoh pasti akan bertemu meskipun berjauhan.

  110. Tak ada gading yang tak retak – Tak ada orang yang sempurna.

  111. Bagai pinang dibelah dua – Dua orang yang sangat mirip.

  112. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh – Persatuan membawa kekuatan.

  113. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga – Karena satu kesalahan kecil, semuanya rusak.

  114. Mendapat durian runtuh – Mendapat untung besar tanpa usaha.

  115. Tong kosong nyaring bunyinya – Orang bodoh biasanya banyak bicara.

  116. Setali tiga uang – Sama saja, tidak ada bedanya.

  117. Tertutup sudah jalan ke gunung – Tidak ada harapan lagi.

  118. Sudah jatuh tertimpa tangga – Sudah mendapat musibah, ditimpa musibah lagi.

  119. Ibarat menegakkan benang basah – Melakukan hal yang sia-sia.

  120. Laksana api dalam sekam – Bahaya tersembunyi.

  121. Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri – Menyindir orang lain, tapi malah menyindir diri sendiri.

  122. Kecil-kecil cabai rawit – Tubuh kecil tapi berani atau hebat.

  123. Bagai tikus jatuh ke lumbung padi – Orang yang tidak berhak menikmati keuntungan besar.

  124. Menjilat ludah sendiri – Mencabut kembali kata-kata sendiri.

  125. Banyak jalan ke Roma – Banyak cara untuk mencapai tujuan.

  126. Sambil menyelam minum air – Melakukan dua pekerjaan sekaligus dengan hasil baik.

  127. Menarik rambut dalam tepung – Bertindak hati-hati agar tidak merusak dua hal sekaligus.

  128. Bunga bukan sekuntum, kumbang bukan seekor – Masih banyak pilihan.

  129. Ada udang di balik batu – Ada maksud tersembunyi di balik tindakan baik.

  130. Bagai kerakap tumbuh di batu – Hidup dalam keadaan yang sangat sulit.

  131. Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung – Harus mengikuti adat istiadat tempat tinggal.

  132. Besar kepala – Sombong dan suka meremehkan orang lain.

  133. Bak cendawan tumbuh di musim hujan – Banyak sekali dalam waktu singkat.

  134. Tak tahu diuntung – Tidak tahu berterima kasih.

  135. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing – Suka duka dijalani bersama.

  136. Lain ladang lain belalang – Tiap daerah memiliki adat dan kebiasaan berbeda.

  137. Bagai pelita dalam kelam – Menjadi penuntun di saat sulit.

  138. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi – Setara dalam kedudukan.

  139. Air susu dibalas dengan air tuba – Kebaikan dibalas dengan kejahatan.

  140. Mendengar guruh di langit, air tempayan ditumpahkan – Meninggalkan yang sudah pasti demi hal yang belum tentu.

  141. Serigala berbulu domba – Orang jahat yang pura-pura baik.

  142. Habis manis sepah dibuang – Setelah tidak berguna, ditinggalkan.

  143. Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit – Kumpulkan sedikit demi sedikit, hasil akan besar.

  144. Mati satu tumbuh seribu – Walaupun satu hilang, banyak yang menggantikannya.

  145. Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak – Kesalahan kecil orang lain terlihat, kesalahan besar sendiri tidak terlihat.

  146. Sambil berlayar sambil memerhatikan ombak – Berbuat sesuatu dengan tetap waspada.

  147. Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi – Orang tua yang makin semangat atau tidak sadar usia.

  148. Pukul anak, sindir menantu – Menegur seseorang secara tidak langsung.

  149. Diberi hati, minta jantung – Sudah diberi, masih minta lebih.

  150. Bagai abu di atas tanggul – Hidup dalam keadaan tak menentu.

Di tengah perkembangan yang serba cepat, kata-kata pepatah jaman dulu ini tetap relevan untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan karena mengajarkan tentang kebijaksanaan serta pentingnya menjunjung tinggi moral dan etika. (Dista)

Baca Juga: 105 Kata-Kata Bijak Bahasa Inggris dan Artinya yang Sarat Makna