188 Contoh Majas Perbandingan dari Berbagai Jenis

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 10 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Menemukan contoh majas perbandingan pada suatu karya sastra tak cukup sulit. Setiap penulis mencantumkan berbagai kalimat majas tersebut pada narasi untuk menciptakan kesan imajinatif pada karya sastra yang dibuat.
Majas perbandingan adalah bahasa kias yang digunakan untuk menyatakan perbandingan pada dua hal yang berbeda atau sama untuk menciptakan makna tertentu.
Berdasarkan penggolongannya, contoh majas perbandingan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis. Apa saja majas tersebut? Simaklah artikel ini sampai selesai untuk mengetahui jenis dan contoh masing-masing majas tersebut.
Contoh Majas Perbandingan Berdasarkan Jenis Majas
Mengutip buku Pintar Majas, Pantun, dan Puisi oleh Ulin Nuha Masruchin, majas perbandingan dibagi menjadi 18 jenis dengan proses pengungkapan yang berbeda pada suatu karya sastra. Berikut ini contoh majas perbandingan berdasarkan jenis klasifikasi majas.
Majas Asosiasi atau Perumpamaan
Majas asosiasi adalah gaya bahasa yang membandingkan antara dua hal yang sebenarnya sangat berbeda, tetapi sengaja dianggap sama. Ciri-ciri majas asosiasi selalu dibubuhi kata bagai, bagaikan, seumpama, bak, seperti, dan laksana.
Dikutip dari buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dan Pembentukan Istilah terbitan Bhuana Ilmu Populer, berikut daftar contoh majas asosiasi:
Wataknya keras seperti batu
Pendiriannya kuat bagaikan batu karang
Menggapai mimpinya itu bagaikan punuk rindukan bulan
Wajah si kembar Lina Lani memang seperti pinang dibelah dua
Mukanya putih bersih seperti susu.
Wajahnya berseri-seri bagikan bulan purnama.
Semangatnya keras bagaikan baja.
Tatapan matanya laksana panah menghujam hatiku
Wajahnya mirip bagai pinang dibelah dua
Rambutnya bak mayang yang terurai
Dia mewarisi sifat seperti seekor singa
Badannya seperti samson.
Mereka sellau saja bertengkar seperti anjing dan kucing.
Pendiriannya selalu berubah-ubah bagai air di daun talas.
Majas Metafora
Majas metafora adalah gaya bahasa yang mengekspresikan ungkapan secara langsung berupa perbandingan analogis. Frasa yang digunakan bukan makna sebenarnya melainkan sebagai perbandingan.
Berikut contoh majas perbandingan metafora yang dapat dipelajari.
Lionel Messi menjadi mesin pencetak gol klub Barcelona
Subarjo adalah seorang tangan kananku
Jonathan adalah bintang kelas dunia
Si kutu buku itu jarang sekali keluar rumah
Raja siang keluar dari ufuk timur
Perpustakaan adalah gudang ilmu.
Winda memang kembang desa di kampung ini, wajar banyak pemuda yang ingin memperistrinya.
Singa memang kuat, sehingga pantas dijuluki raja hutan.
Kau bagaikan bulan yang tidur lelap di pangkuanku.
Sampah masyarakat itu akhirnya berhasil ditangkap oleh polisi.
Majas Personifikasi
Majas personifikasi adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menggambarkan sebuah benda mati dengan sifat dan karakter manusia. Contohnya yaitu:
Pensil itu menari-nari di atas meja.
Angin berbisik lembut menyampaikan salamku padanya.
Gelas itu saling berdendang satu dengan lainnya
Badai mengamuk dan merobohkan banyak rumah penduduk.
Ombak berkejar-kejaran ke tepi Pantai.
Kereta api tua itu meraung-raung di tengah kesunyian malam.
Langit ikut menangis dengan beberapa bencana yang melanda Indonesia beberapa waktu ini.
Ombak berlarian semakin menambah eksotisnya Pantai Lovina
Pikirannya pasti melayang ke mana-mana karena banyak masalah beberapa waktu belakangan.
Semak belukar tersebut beramai-ramai berkumpul di halaman rumah kami.
Tampak layangan melambai-melambai dengan bebasnya di langit yang biru.
Majas Simbolik
Majas simbolik adalah gaya bahasa yang menggambarkan sesuatu dengan menggunakan binatang, benda, dan tumbuh-tumbuhan sebagai simbol atau lambang. Berikut contoh kalimatnya:
Rumah itu hangus dilalap si jago merah (Api).
Aku tak suka berteman dengan bunglon (tidak berpendirian).
Bulan ini KPK berhasul meringkus banyak tikus kantor (koruptor).
Lintah darat (rentenir) bukan solusi tepat untuk masalah keuangan.
Ia selalu mencari kambing hitam (korban) ketika ada masalah.
Dia itu gadis kepala batu (keras kepala).
Sebutan buaya darat (main perempuan) yang menempel pada Andi membuatnya sudah mendekati hati perempuan idamannya.
Semakin kaya saja pengusaha bangunan itu, seluruh pegawainya bertenaga kuda besi (kuat).
Pertikaian itu tidak kunjung selesai juga walaupun sudah di bawa ke meja hijau (pengadilan)
Ratih dijuluki sebagai kembang desa (gadis paling cantik) di kampung Sarinaga karena banyak pemuda yang tergila-gila padanya.
Majas Metonimia
Majas metonimia adalah gaya bahasa yang menyebutkan ciri dan merek dari sebuah benda untuk menggantikan benda tersebut. Atribut dan merek dagang yang digunakan tergantung penulis atau penuturnya.
Ia terbang bersama Garuda (Pesawat) menuju Surabaya.
Pak Toni berangkat ke kantor dengan Bata (Sepatu).
Ayah menikmati Kapal Api (kopi) setiap pagi hari.
Setelah makan, Juni minum satu galas Aqua (Air).
Ia sering kemana-mana mengendarai Supra (motor).
Pak guru menegurnya setelah kepergok menghisap Djarum (rokok).
Setiap menonton televisi tidak lupa ia siapkan dua kelinci (jajanan kacang) favoritnya.
Majas Depersonifikasi
Majas depersonifikasi adalah gaya bahasa yang mengungkapkan benda hidup memiliki karakteristik benda mati atau tidak bernyawa. Contohnya:
Andai engkau jadi buku, aku akan jadi penanya.
Jika kau diam membatu, aku akan tinggalkan kau sendiri di jalan ini.
Dikau sebagai langit, ku kan menjadi bumi
Biarkan ku jadi patung untuk masalah ini.
Kika kamu api ku akan jadi tungkunya.
Aku bukanlah tanah yang bisa kamu injak seenaknya.
Majas Eponim
Majas eponim adalah gaya bahasa yang menjadikan nama orang sebagai tempat. Umumnya digunakan pada tempat-tempat umum seperti nama bandara, nama masjid, nama jembatan, nama gedung, dan sebagainya.
Gelora ‘Bung Karno’.
Bandara Sultan Mahmud Baddarudin II Palembang
Bandara Ngurah Rai
Bandara Adi Sucipto
Jalan A Yani Semarang
Gedung Fatmawati.
Majas Sinekdok
Majas ini adalah gaya bahasa yang menyebutkan sebagian untuk menggantikan benda secara keseluruhan atau sebaliknya. Jenis majas ini dibagi menjadi dua jenis, yakni Pras Pratoto dan Totem Pro Parte.
Pras Pro toto adalah gaya bahasa yang menyebutkan sebagian benda untuk keseluruhan. Contohnya
Hingga detik ini ia belum kelihatan batang hidungnya.
Per kepala mendapat Rp300.000.
Dia sudah tak punya urat malu.
Satu ekor ayam di pasar Kliwon harganya Rp50.000.
Ku anggap tulangnya lemah menghadapiku
Dia sudah lupa weton lahirnya mungkin.
Totem Pro Parte adalah jenis majas sinekdok yang menyebutkan keseluruhan benda, tapi untuk sebagian. Berikut contohnya:
Dalam pertandingan final bulu tangkis RT 03 melawan RT 07.
Indonesia akan memilih putra terbaiknya untuk mengisi RI 1 dan RI2
Polri berhasil meringkun kawanan begal yang sering beraksi di daerah lampung Utara.
TNI sudah melumpuhkan kawanan teroris
Semua tubuhnya bengkak karena jatuh dari tnagga.
Warga Beran Lor mementaskan musik angklung.
Brimob telah menghentikan demonstrasi.
Majas Simile
Majas simile adalah bahasa kias yang digunakan untuk mengungkapkan perbandingan eksplisit dengan kata penghubung seperti bagaikan, umpama, ibarat, bak, dan bagai.
Simile hampir sama seperti majas asosiasi, tapi berbeda dengan personifikasi. Majas ini tidak membandingkan dua hal yang berbeda melainkan bertujuan untuk menyandingkan sesuatu hal lain yang memiliki persamaan. Berikut contohnya:
Tubuhnya seperti tiang yang tinggi menjulang.
Wajahnya bercahaya bagaikan rembulan yang selalu menerangi kegelapan malam.
Dia pemberani bak seekor singa yang tidak pernah gentar dengan musuh sekuat apa pun.
Kerjanya seperti mesin yang tidak pernah berhenti.
Wataknya seeprti batu yang sangat sulit untuk dilunakkan.
Mentalnya tangguh bagaikan baja, membuatnya semakin idealis.
Bak seperti belut saja kelakuannya, gesit ke mana-mana.
Kedekatan mereka bagaikan sepasang kekasih yang tengah berbahagia.
Kehadiran sosok ibu dalam sebuah keluarga seperti cahaya bulan yang menerangi gelapnya malam.
Dua kakak beradik itu bagai air dan minyak bertengkar saja kerjanya.
Kau umpama air aku bagaikan minyaknya.
Bagaikan Qais dan Laila yang dimabuk cinta, kau mau berkoban apa saja.
Perkataannya bak sembilu menyayat hati.
Gadis cantik itu bagaikan Melati yang baru mekar.
Majas Alegori
Majas alegori adalah gaya bahasa yang menyatakan perihal dengan menggunakan kiasan. Biasanya majas ini mengandung simbol yang bermakna moral.
Gaya bahasa ini banyak digunakan di karya sastra novel dan cerpen sebagai bentuk penjelasan. Berikut contohnya.
Dunia ibarat tumbuhan hijau yang menyihir setiap mata yang memandang. Indah dan begitu menakjubkan. Namun, lambat laun ia akan menguning, kering dan pada akhirnya musnah.
Menjalani kehidupan rumah tangga sama halnya seperti kita mengarungi lautan dengan sebuah bahtera. Terkadang akan dibawa menyaksikan keindahan samudra yang menakjubkan. Tak jarang kuatnya ombak mengombang-ambingkan tubuh pelakunya.
Merawat seorang anak itu ibarat memelihara sebuah pohon. Ketika memberinya dengan pupuk yang baik, maka pertumbuhannya juga akan baik sehingga berbuah manis.
Seorang guru adalah nahkoda bagi murid-muridnya. Ketika sang nahkoda menjalankan kapal di jalur yang tepat, maka kemudi pun akan tenang-tenang saja.
Menjaga nama baik ibarat merawat kertas putih, sedikit saja ada titik di sana pasti ketara.
Memang cantik rupa si Aisyah, bagikan mawar pesonanya menyihir kumbang-kumbang lelaki di sekitarnya.
Ibarat alat dapur, perlakuan otak seperti pisau semakin sering diasah semakin ia akan tajam.
Iman adalah kemudi dalam mengarungi zaman. Suami sebagai nahkoda, Istri sebagai juru mudinya.
Perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing, yang kadang sulit ditebak kedalamananya, yang rela menerima segala sampah, dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut.
Mencari seseorang yang berkepribadian jujur kini bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami.
Menuntut ilmu di waktu kecil bagaikan mengukir aksara di atas batu.
Majas Sinestesia
Majas Sinestesia adalah gaya bahasa yang menghubungkan satu indra dengan indra lainnya. Berikut contoh kalimatnya:
Rian tersenyum kecut ketika mendengar dirinya tidak lulus ujian. (Kecut: asam untuk indra pengecap)
Obrolan dosenku tak telalu pedas di telinga. (Pedas untuk indra pengecap tetapi digunakan untuk indra pendengaran)
Dengan telaten, ibu mengendus setiap mangga dalam keranjang dan memilih yang berbau manis. (bau: indra penciuman, manis: indra pengecapan)
Betapa sedap memandang gadis cantik yang selesai bersolek. (Sedap untuk penciuman tapi digunakan untuk penglihatan)
Rasanya pahit sekali melihat wajahnya. (Pahit untuk indra pengecap tetapi digunakan untuk indra penglihatan).
Majas Disfemisme
Majas ini digunakan untuk mengungkapkan pernyataan tabu atau dirasa kurang pantas. Contohnya:
Bolehkan saya meminta izin untuk kencing sebentar?
Pantas! Dari kejauhan sudah tercium bau ketiakmu!
Sebagai seorang pendidik, kamu harus memberi contoh yang baik.
Majas Eufimisme
Majas ini digunkaan untuk mengganti kata yang kurang panatas dan kasa dengan kata yang sepadan dan lebih baik untuk didengar dan dibaca.
Oknum perwira polisi itu diberhentikan dengan tidak hormat karena kasus narkobat.
Tunanetra itu berjalan beriringan.
Maaf, ibu ini pendengarannya sudah berkurang.
Pemerintah sedang memberantas tunasusila.
Pramusaji yang baru itu sangat murah senyum.
Tunawicara itu sangat baik hati terhadapku.
Majas Aptronim
Majasi adalah pengungkapan gaya bahasa yang digunakan untuk memberi nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang. Contohnya:
Karena ibunya penjual Soto, ia sering dipanggil Anak Sotoy
Peno kambing adalah teman yang kesehariannya sebagai belantik kambing.
Dirga Becak adalah saudara saya di sanggar teater yang sekarang menjadi tukang becak di samping pertigaan pasar.
Majas Alusio
Majas alusio adalah gaya bahasa untuk mengungkapkan sesuatu yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal. Contohnya:
Apakah peristiwa Semanggi bisa terjadi lagi di sini?
Kau tahu siapa pemimpin Orba kan?
Majas Fabel
Majas adalah gaya bahasa yang berisi cerita singkat yang mengilustrasikan tumbuh-tumbuhan dan binatang yang berlaku sebagai manusia. Contohnya:
Cerita Kancil dan Buaya
Semut-semut itu saling bekerja sama untuk membawa pulang makanan besar itu.
Kucing itu berpikir keras, bagaimana cara terbaik untuk menyantap tikus di depannya.
Si Siput dan Si Kancil.
Majas Antropomorfisme
Majas ini adalah jenis majas perbandingan yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia. Contohnya:
Lidah-lidah lonceng memukul sunyi.
Setelah tiba di kaki gunung ia beristirahat di mulut Sungai.
Ku diamkan pada bingkai kekacauan.
Setelah sampai di kepala gunung, ku raih tikar menebar sahdu.
Sementara hati kesunyian telah menghampirinya.
Malam tafakur menanti fajar.
Majas Parabel
Majas ini adalah gaya bahasa yang mengandung ungkapan atau nilai yang disamarkan dalam cerita. Biasanya digunakan untuk judul cerita legenda, mitologi, dan lain-lain.
Cerita Adam dan Hawa
Dongeng “Si Maling Kundang”
Roro Jonggrang
Baru Klinthing
(IPT)
