Konten dari Pengguna

2 Contoh Khotbah Kristen Singkat untuk Pemuda, Kembangkan Potensi Diri

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi khotbah Kristen. Foto: Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi khotbah Kristen. Foto: Pixabay.

2 contoh khotbah Kristen singkat untuk pemuda ini bisa menjadi renungan untuk mengembangkan potensi diri. Ibadah Minggu tidak lengkap tanpa adanya khotbah. Khotbah merupakan sarana untuk memberitakan firman Tuhan kepada jemaat, termasuk para pemuda.

Mengutip buku Khotbah untuk Pendidikan Warga Jemaat oleh Hengky Wijaya, khotbah adalah penyampaian pesan Tuhan kepada jemaat berdasarkan firman-firman-Nya yang ada dalam Alkitab.

Saat ibadah Minggu, khotbah menjadi pelayanan penting bagi umat Kristen. Tak hanya sebagai layanan rohani, khotbah juga bertujuan untuk mengajak jemaat untuk mengabarkan Injil setelah mereka mengalami pertobatan dan hidup dalam ajaran Tuhan.

Jadi, khotbah perlu disusun sebaik mungkin. Adapun khotbah yang baik adalah yang isinya memuat firman-firman Tuhan dalam Alkitab beserta penafsiran. Berikut adalah contoh khotbah Kristen singkat padat dan jelas.

2 Contoh Khotbah Kristen Singkat untuk Pemuda

Ilustrasi khotbah Kristen. Foto: Unsplash.

Berikut ini adalah tema khotbah untuk anak muda atau pemuda sebagaimana dikutip dari laman Kementerian Agama:

1. Berdamai dengan Diri Sendiri

Tema: Berdamai dengan Diri Sendiri

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9)

Bapak, Ibu, Saudara yang kekasih di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Apakah syarat untuk berdamai dengan diri sendiri? Syaratnya adalah harus berani mengaku dosa di hadapan Tuhan.

Lalu apa yang dikatakan berdamai dengan diri sendiri itu? Berdamai dengan diri sendiri adalah orang yang mampu menjaga tingkat kedamaian dan kesejahteraan di dalam hidupnya tanpa dipengaruhi oleh keadaan apapun, baik di dalam maupun di luar kehidupannya.

Bapak, Ibu dan Saudara. Ada beberapa prinsip mengalami damai sejahtera. Pertama, di mana ada kekudusan dan kebenaran, di situlah ada damai sejahtera (Yesaya 57:51). Kedua, damai sejahtera hanya ada di dalam diri Tuhan Yesus Kristus (Efesus 2:14). Dan ketiga, damai sejahtera tidak akan pernah terjadi jikalau hal baik dan hal jahat tetap bersatu.

Bapak, Ibu dan Saudara. Mengapa orang sulit berdamai dengan diri sendiri? Hari ini, mari kita belajar, mengapa orang sulit berdamai dengan diri sendiri. Pertama, karena masih keras kepala. Dalam Kejadian 4:6-7 dijelaskan: “Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya."

Alasan pertama mengapa kita sulit berdamai dengan diri sendiri adalah karena keras kepala atau tegar tengkuk. Orang yang keras kepala, tidak mau menurut nasihat manusia. Penyebab keras kepala adalah selalu menutupi kekurangannya dan selalu menutupi kesalahannya. Akibatnya adalah orang yang memiliki sikap keras kepala itu sulit diajak berdiskusi, sulit diajak ngomong baik-baik dan sulit memiliki teman atau sahabat.

Padahal, seorang pembawa damai itu adalah orang yang selalu setia kepada Firman Tuhan dan menjadikan Firman itu sebagai landasan hidup walau banyak yang harus dihadapi dalam tantangan. Pembawa damai adalah orang yang berani menghadapi semua persoalan dan kesulitan yang ada tanpa berniat untuk menghindar apalagi lari dari kenyataan yang dihadapi.

Pembawa damai adalah mereka yang berani mengambil keputusan dalam situasi sulit apapun agar tidak terjerat dalam lingkaran kesulitan yang berlarut-larut. Saudara, kalau damai itu definisinya seperti itu sementara pembawa damai belum berdamai dengan diri sendiri, mana mungkin akan terjadi kedamaian?

Alasan kedua mengapa orang sulit berdamai dengan dirinya sendiri adalah karena masih hidup dalam kesombongan dan keangkuhan. Dalam Yesaya 2:11 dijelaskan, “Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya Tuhan sajalah yang Maha Tinggi pada hari itu.”

Orang sombong hanya menghargai dirinya sendiri dan secara berlebihan, orang sombong maunya dianggap hebat dari yang lain, orang sombong suka merendahkan orang lain dan tidak mau menghargai orang lain.

Padahal, pembawa damai itu berarti hanya berniat untuk selalu berbuat kebaikan bagi sesamanya. Pembawa damai itu berarti orang yang rela berkorban menahan diri walaupun harus menderita dan yang penting tidak terjadi keributan atau kekacauan. Pembawa damai selalu mengutamakan kepentingan orang lain ketimbang kepentingan diri sendiri. Kalau damai itu definisinya atau artinya begitu sementara yang membawa damai belum mengalami damai pribadi, yaitu masih ada suatu kesombongan, mana mungkin damai itu akan terjadi.

Alasan ketiga mengapa orang sulit berdamai dengan diri sendiri, karena masih hidup dalam kemunafikan. Dalam 1 Yohanes 4:20 dijelaskan, “Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.”

Orang munafik selalu mengatakan yang tidak sesuai dengan apa yang dilakukannya. Orang munafik selalu ingin terlihat baik, sementara dia itu tidak baik. Orang munafik adalah orang yang bermuka dua.

Padahal, pembawa damai itu ibarat pertemuan orang yang saling berjabat tangan atau salaman, hingga ada keinginan untuk merasakan damai. Tidak ada kesombongan, kebohongan, benci, dan gosip di setiap percakapan dalam pertemuan tersebut. Bahkan, percakapan yang terjadi hanya menyenangkan hati tanpa ada unsur ketidakbaikan.

Pembawa damai adalah orang yang selalu proaktif untuk melakukan yang baik, selalu menyelesaikan setiap masalah dan persoalan yang ada. Pembawa damai adalah orang yang tidak pernah kecil hati pada saat orang lain tidak menghargai apa yang ia lakukan, meski dia telah melakukannya dengan penuh pengorbanan dan perjuangan keras. Kalau pengertian damai yang seperti itu sementara pembawa damai masih munafik, apakah akan terjadi damai? Tidak mungkin.

Bapak, Ibu dan Saudaraku. Oleh sebab itu, agar dapat berdamai dengan diri sendiri, maka kita harus berhenti hidup dari keras kepala, berhenti hidup dari kesombongan dan keangkuhan, berhenti hidup dari kemunafikan.

Bapak, Ibu dan Saudara. Keberadaan orang percaya seharusnya selalu membawa damai bagi semua orang. Sebab, membawa damai berarti mengekspresikan kasih Allah. Bukan sebaliknya, kita justru menjadi batu sandungan dan membuat orang lain kecewa dan sakit hati.

Bukti bahwa kita sudah menjalankan tugas perdamaian adalah ketika hidup kita sudah menjadi kesaksian bagi banyak orang. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”

Oleh karena itu, libatkan selalu Allah dalam langkah kehidupan kita, maka sebutan anak-anak Allah akan menjadi predikat dalam kehidupan kita. Kalau kita disebut anak-anak Allah, maka kita adalah ahli waris di dalam kerajaan Sorga.

Oleh sebab itu, marilah kita terus-menerus mengoreksi diri kita, membereskan hidup kita, senantiasa bertobat secara sungguh-sungguh, tetap memelihara iman kepada Tuhan Yesus dan hubungan kasih dengan sesama, supaya hubungan kita dengan Tuhan semakin akrab, semakin karib sehingga Tuhan sayang kepada kita. Amin.

Khotbah Kristen singkat untuk pemuda. Foto: Unsplash/Priscilla Du Preez 🇨🇦

2. Menjadi Alat yang Mulia

Tema: Menjadi Alat yang Mulia

Dalam nas 2 Timotius 2:14-26 Paulus menasihatkan kepada Timotius bahwa dia tidak mengnginkan hanya sekadar alat, atau bejana dalam tangan Tuhan, melainkan supaya menjadi bejana yang mulia. Paulus mengemukakan bahwa untuk menjadi bejana yang mulia, ada kriteria tertentu yang harus dipenuhi:

Layak dalam pandangan Allah (ayat 15).

Apa arti kata "layak" di sini? Kata ini berarti menguji dan membuktikan. Dalam bentuk kata benda berarti: ujian atau uji coba. Paulus menganjurkan supaya Timotius memperhadapkan dirinya layak di hadapan Tuhan.

Menurut hemat Paulus, seorang yang layak di hadapan Tuhan adalah seorang yang telah lulus ujian dan menunjukkan dirinya sejati, asli dan murni di hadapan Tuhan. Dan orang yang sudah lulus ujian ini akan menjadi seorang pelayan yang

tidak dapat dipermalukan atau sebagai seorang pelayan yang tidak ada alasan untuk dipermalukan.

Selanjutnya, untuk layak dihadapan Tuhan adalah seorang yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran. Ungkapan ini sebenarnya berkembang dari kata orthotamine artinya membagi sama rata, memotong secara tepat. Paulus meminjam istilah ini dengan maksud supaya Timotius mampu memberitakan Firman Tuhan secara tepat dalam hal analisis, tafsir dan penerapannya.

lI. Berguna dalam tangan Allah (ayat 21)

Selain kehidupan kita layak di hadapan Tuhan (ayat 15), namun juga harus berguna di hadapan Tuhan (ayat 21). Untuk berguna dipakai Allah, ada beberapan hal yang perlu diperhatikan yaitu:

1) suci dalam kehidupan (ay. 21-24). Paulus menekankan beberapa hal dalam kekudusan yaitu menjauhkan diri dari nafsu orang muda, keinginan yang tak terkendali, menghindarkan diri dari soal-soal yang dicari-cari melakukan hal-hal yang bodoh. Sebaiknya kita mengejar keadilan dan buah-buah Roh;

2) terampil dalam pelayanan (lay. 24). Paulus berkata bahwa seorang hamba Tuhan harus cakap mengajar dan terampil untuk membimbing orang kepada kesadaran dan pertobatan (ay. 25-26).59.

Itulah contoh khotbah Kristen singkat untuk pemuda agar bisa mengembangkan potensi dirinya.

(GLW)