22 Contoh Pantun 2 Bait dalam Berbagai Tema yang Menarik

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Contoh pantun 2 bait dalam berbagai tema bisa jadi bahan belajar yang menarik, terutama saat belajar pantun. Apalagi pantun memiliki berbagai jenis, sehingga penting untuk mengetahui setiap contohnya.
Pantun merupakan salah satu karya sastra yang dipelajari di tingkat sekolah. Biasanya materi ini dijumpai oleh para pelajar saat duduk di bangku sekolah, baik di tingkat SD, SMP, hingga SMA/SMK. Pantun dipelajari pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Sebagai salah satu materi yang diajarkan di sekolah, maka penting untuk memahami berbagai hal tentang pantun. Mulai dari pengertian, ciri-ciri, jenis, hingga contoh dari pantun.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Pengertian Pantun
Pantun adalah puisi melayu lama asli Indonesia, sebagaimana dikutip dari buku Sastra Indonesia Lengkap, Tim Sastra Cemerlang, (2018:33). Pantun tidak hanya menjadi sebuah karya sastra, tetapi juga memiliki rima dan irama yang indah serta makna yang penting.
Awalnya pantun merupakan karya sastra Indonesia lama yang diungkapkan secara lisan. Namun, seiring berkembangnya zaman, kini pantun juga mulai diungkapkan secara tertulis.
Pantun jadi salah satu karya sastra yang dapat menghibur sekaligus mendidik maupun menegur.
Melalui pantun seseorang dapat mengungkapkan perasaan dan pikiran, terlebih ungkapan tersebut disusun sedemikian rupa, sehingga menjadi kalimat yang menarik untuk didengar maupun dibaca.
Ciri-Ciri Pantun
Sebuah karya sastra dapat disebut pantun apabila memenuhi ciri-ciri dari pantun. Berdasarkan informasi dari buku Sastra Indonesia Lengkap, Tim Sastra Cemerlang, (2018:34), berikut adalah ciri-ciri dari sebuah pantun.
Pantun memiliki bait, yang di setiap bait pantun disusun oleh baris-baris.
Satu bait pantun terdiri dari 4 baris.
Setiap baris pantun terdiri dari 8 hingga 12 suku kata.
Setiap baris pantun terdiri dari 4 hingga 6 kata.
Setiap bait pantun terdiri dari sampiran dan isi. Baris pertama dan kedua adalah sampiran, sementara baris ketiga dan keempat merupakan isi.
Pantun berakhiran a-b-a-b atau a-a-a-a.
Dengan mengetahui ciri-ciri di atas, maka dapat membedakan pantun dengan jenis puisi lama yang lain. Sebab, sebuah karya sastra dapat disebut pantun apabila memiliki ciri-ciri seperti yang telah disebutkan di atas.
Jenis Pantun
Terdapat beberapa jenis pantun yang terbagi sesuai tujuan dari pantun tersebut. Dikutip dari buku Mengenal Lebih Dekat, Sri Khairani Lubis, dkk., (2020:33), ada beberapa jenis pantun apabila disesuaikan dengan kelompok usia, yakni sebagai berikut.
Pantun anak-anak
Pantun remaja
Pantun orang tua
Sementara, jika pantun dibagi berdasarkan isinya, maka akan ada beberapa jenis lainnya. Adapun jenis lain dari pantun sesuai isinya adalah sebagai berikut, sesuai informasi dari buku Mengenal Lebih Dekat, Sri Khairani Lubis, dkk., (2020:35).
Pantun sukacita
Pantun dukacita
Pantun cinta
Pantun jenaka
Pantun agama
Pantun nasihat
Pantun adat istiadat
Pantun nasib
Pantun peribahasa
Pantun perkenalan
Pantun persahabatan
Pantun kiasan
22 Contoh Pantun 2 Bait dengan Tema yang Beragam untuk Dipelajari
Salah satu jenis pantun yang dipelajari adalah pantun 2 bait. Berbeda dengan pantun 1 bait, pantun 2 bait terdiri dari 2 bait yang saling berkesinambungan. Agar lebih paham, berikut adalah contoh pantun 2 bait dalam berbagai tema yang bisa dipelajari.
Buah ara batang dibantun
Mari dibantun dengan parang
Hai saudara dengarlah pantun
Pantun tidak mengata orang
Mari dibantun dengan parang
Berangan besar di dalam padi
Pantun tidak mengata orang
Jangan curiga di dalam hati
Sedang terbang burung gagak
Jatuh melayang seleranya
Meski ilmu setinggi tegak
Tidak sembahyang apa gunanya
Sudah lulus jadi alumni
Ke cempedak jalan ke panti
Meninggalkan sembahyang jadi berani
Seperti badan takkan mati
Banyaklah masa antara masa
Tidak seelok mereka bersuka
Meninggalkan sembahyang jadi biasa
Tidak takut api neraka?
Asam kandis ada yang kabur
Ketiga asam siriang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang
Ada ikan di rawa-rawa
Kutangkap menggunakan jaring
Di pojok aku menahan tawa
Sebab ada gigi palsu jatuh ke piring
Kodok loncat di rawa-rawa
Di sebelahnya ada badak
Perutku sakit karena tertawa
Sebab ada kucing duduk berbedak
Punya teman namanya Ratih
Ratih punya teman namanya Genu
Dirimu memang putih
Tetapi putih karena panu
Temanku bernama Genu
Hobinya mengikat tali
Tidak apa putih karena panu
Daripada hitam seperti kuali
Rasanya enak itu jus alpukat
Meski tidak seenak selai kacang
Jangan tatap aku terlalu dekat
Sebab dadaku berdebar kencang
Tampak indah batu permata
Warnanya tampak belang-belang
Oh inilah rasanya jatuh cinta
Hatiku terasa riang seakan sedih menghilang
Burung belibis di jalan landai
Buah remai dalam peti
Tuan Raffles orang yang pandai
Tahu sungguh mengambil hati
Buah remai dalam peti
Lezat pula cita rasanya
Tahu sungguh mengambil hati
Serta dengan budi bahasanya
Teman dari Korea namanya Heejin
Kalau dari Jepang namanya Hakuna
Belajarlah kamu dengan rajin
Agar nanti bisa berguna
Jalan-jalan ke Blitar
Paling enak sambil beli sukun
Jika dirimu ingin pintar
Maka belajarlah dengan tekun
Mentari muncul saat fajar
Indah sekali pemandangannya
Jangan lupakan untuk belajar
Agar bisa sukses nantinya
Baca buku cari ilmu
Bukunya berbahasa
Mari hormati orang tuamu
Karena mereka telah berjasa
Minyak ikan dioleskan kawat
Ikannya besar karena disulap
Banyaklah makan supaya kuat
Agar besar nanti jadi pembalap
Duku hilang dimakan pesulap
Makannya naik di atas ayunan
Aku memang seorang pembalap
Tapi ogah jika naik mobil mainan
Di puncak ada tanah datar
Mendaki dengan rasa teguh
Jika ingin menjadi pintar
Maka belajarlah dengan sungguh-sungguh
Di pantai ada batu cadas
Melihatnya membuatku bahagia
Jika murid tumbuh dengan cerdas
Guru pun ikut berbahagia
Ke pasar beli sukun
Pulangnya membeli gelas
Mari belajar dengan tekun
Agar tidak tertinggal kelas
Ada jalan sangat landai
Jalannya juga berliku
Jika ingin diri menjadi pandai
Rajin-rajinlah membaca buku
Dalam diri aku berbatin
Ketika melihat benda-benda bersejarah
Bumi gersang bencana rutin
Sebab pohon telah habis dijarah
Makan sambal rasanya pedas
Gelar tikar duduk di atas tanah
Hutan rusak berganti cadas
Air kering satwa pun punah
Minum jus buah di rumah Pak Lek
Rumah Pak Lek ada di Surabaya
Eh kamu yang sudah jelek
Janganlah kebanyakan gaya
Si baju biru matanya melek
Si baju kuning kena cuka
Biarlah muka saya jelek
Yang penting banyak yang suka
Minum teh di atas genteng
Tidak lupa pakai bedak
Eh kamu jangan sok ganteng
Muka mu kayak ketombe landak
Enak rasanya buah cempedak
Buahnya jatuh jadi penyet
Biarlah mirip ketombe landak
Daripada mirip ingus monyet
Anak ayam turun dengan teguh
Mati satu tinggal sembilan
Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh
Supaya engkau tidak ketinggalan
Anak ayam turun sembilan
Di tengah jalan ada yang putus
Ilmu boleh sedikit ketinggalan
Tapi jangan sampai putus
Bermain mata sambil berdiri
Bermain cinta tanpa perasaan
Tapi kamu tak mau introspeksi diri
Karena kamu tak punya perasaan
Bermain cinta tanpa perasaan
Bermain api harus hati-hati
Karena kamu tak punya perasaan
Makanya kamu banyak mempermainkan hati
Hari Minggu pergi ke Cianjur
Di Cianjur bertemu dengan Mumu
Jika aku boleh berkata jujur
Rasanya aku masih sayang padamu
Di Cianjur bertemu dengan Mumu
Saat bertemu Mumu sudah tak kukuh
Diriku masih sayang padamu
Tapi mengapa kamu malah selingkuh
Saat bertemu Mumu sudah tak kukuh
Lalu aku memilih pergi jalan jalan ke Maluku
Tetapi mengapa dirimu selingkuh
Selingkuhnya dengan teman baikku
Diriku pergi jalan jalan ke Maluku
Setibanya di Maluku bertemu Sintia
Dengan teman baikku
Kamu katakan akan setia
Naik kereta api di dalam gerbong
Bangkunya panas berbau sangit
Jadi orang janganlah sombong
Masih ada langit di atas langit
Naik kereta api di dalam gerbong
Dalam gerbong bangkunya terasa aman
Jadi orang janganlah sombong
Kalau sombong tidak punya teman
Putri cantik akan menikah
Menikahnya dengan bahagia
Di pagi hari penuh berkah
Mari bekerja dengan bahagia
Putri menikah dengan bahagia
Banyak yang datang dengan sukacita
Jika hidup sudah bahagia
Jangan lupa bersyukur dengan Sang Pencipta
Sakit gigi juga sakit kaki
Melihat burung-burung tekukur
Setiap hari banyak rezeki
Jangan lupa untuk bersyukur
Melihat burung-burung tekukur
Burungnya terbang jauh dan berjaga
Karena semakin bersyukur
Hidup terasa semakin berharga
Baca juga: 5 Contoh Proposal Skripsi Pendidikan dengan Berbagai Tema
Itu dia berbagai contoh pantun 2 bait dengan beragam tema yang bisa dipelajari. Informasi lainnya seputar pantun juga penting untuk dipahami, agar dapat mengerti materi satu ini dengan lebih baik. (PRI)
