250 Nama Anak Laki-Laki Jawa dan Tradisi Menyambut Bayi

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menemukan nama anak laki-laki Jawa yang tepat untuk sang buah hati menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi orang tua. Alasannya, banyak masyarakat yang menggunakan nama yang asal nge-tren tanpa memperhatikan tujuan dari pemberian nama tersebut.
Oleh karena itu, artikel ini akan mengungkap ratusan rangkaian nama anak laki-laki Jawa yang bisa jadi referensi. Simaklah artikel ini sampai selesai untuk mengetahui daftar namanya.
Daftar Nama Anak Laki-Laki Jawa
Hadiah terbaik yang pertama kali diberikan oleh orang tua pada anak adalah nama yang indah. Salah satu cara membuat nama bayi laki-laki adalah menggunakan berbagai kata bahasa Jawa yang memiliki arti baik.
Menyadur buku Manunggaling Islam Jawa karya Rojikin, dalam perkembangannya nama anak laki-laki jawa saat ini sudah memiliki kecenderungan memadukan kosa kata Jawa dengan bahasa Arab atau diambil dari nama-nama dalam Al Quran.
Banyak dijumpai nama anak laki-laki Jawa yang diawali dengan kata Muhammad, Ahmad, Ali, Abdullah, Abdurahman, yang dipadukan dengan nama-nama Jawa seperti Sudiyono, Hadiyono, Agus, dan masih banyak lagi.
Fenomena tersebut mencerminkan adanya multikulturalisme antara bahasa Jawa dan bahasa Arab sebagai perkembangan agama Islam di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Dihimpun dari buku Rangkaian Nama Bayi Dunia Indah dan Bermakna karya Neyla Ulhaq Salsabila Nadhifah dan berbagai sumber lainnya, berikut daftar rangkaian nama anak laki-laki Jawa yang bisa jadi inspirasi.
Agung Laksono
Amir Raharaja
Arif Putra
Asim Arianto
Alan Budi Kusuma
Ashawani Putra Salim
Azka Fathi Raharja
Azri Cakra Riziq
Alanza Putra
Ahmad Putera
Arlo Budiarjo
Adi Pratama
Aditya Kusumo
Aydin Putra
Alroy Abimanyu
Alvin Acatya
Agung Zabran
Adipati Bara
Anggar Adiwijaya
Adwaya Hestamma Jagadita
Argani Cakara Genendra
Araka Bhadrika Wahyatama
Awan Pradita Jayantaka
Aksa Gandhi Cakrawala
Bagas Putra
Bakti Guapo
Bagas Mukhlis Abdi
Bagus Nur Huda
Bakti Insan Naufal
Basiran Nashiruddin Efendi
Bayu Ihsan Nadhif
Budiantana Estiawan Agra Nazhmi
Bintang Nur Falah
Budiarno Cakrabirawa
Baladewa Arjuna
Basurata Yuda
Basukiharja Yuda
Baswara Catra
Cahyadi Bunyanuddin
Cahyadi Insan Nafi
Cahayana Hernando Pratama
Cahyono Abdu Salam
Cakra Adi Syaputra
Cakra Wangsa Aksara
Cakra Husni Junaidi
Canadee Adi Rajata
Canda Mata Purwaka
Candra Aditya Nazhmi
Cadra Wiguna
Candrarupa Evan Fadhilah
Catur Adi Candra
Catur Putra Syafiq
Chesta Adi Syaputra
Cipta Agra Dzaki
Ciptadi Hasan Prawira
Cipto Mangun Kusumo
Cipto Nazhif Khalish
Cipto Rafi Fauzan
Darius Atlanta Andika
Darmanto Santoso Nugroho
Daryono Jauhari Mulyono
Davin Aretha Pengestu
Denis Sandi Kurnia
Denis Syafi’i Prasetya
Dora Antony Arianto
Dzaka Pandu Raharja
Dzaki Arjuna Wiguna
Dzaki Eka Putra
Dzihni Kaindra Budiantana
Danurajata Jawata
Daryono Darius
Denis King Prasetya
Dzaka Pandu
Edi Cahyono Charro
Edi Pratama Wijaya
Edwin Ardi Raharja
Efendi Ghazali
Efensi Pratama Putra
Eka Abi Prabowo
Eko Putra Ramadhan
Eric Arianto Ardana
Estiawan Rafi’ Syarif
Evan Fadhilah Hardiyanto
Fahmi Budiantana Prawira
Faishal Atmaja Wiguna
Faris Ardiyanta Lysander
Farrel Emeraldy Hutama
Fathin Cahyana Adi
Fauzi Bowo
Galang Faiz Fadhilah
Galang Farhan Insani
Galih Permana Putra
Gary Raksa Pratiwi
Gilang Ramadhan
Gunawan Edi Prabowo
Guntur Agra Wisesa
Guntur Ghazali
Guntur Radi Perkasa
Guruh Soekarno Putra
Gardajita Harjita
Guruh Dhiyaul Hq
Guntur Alma Abdillah
Galang Hasanain
Hadyan Zachary
Himawan Danurdar
Hadyan Zachary Fariuz
Hardi Fernanda
Haris Budianta
Hariadi Candra Kusuma
Hartanto Iryad
Hermanto Octavianus
Hendry Giyanto
Hafiz Mahardika
Hariardi Ma’ruf
Hardiayanta Kazhim
Iqbal Wicaksana
Imam Bardiyanta
Indrasta Jagadita
Idam Nailul Huda
Ilyas Hardiyanto
Indra Kevin Ramadhan
Imba Lakeswara
Ihatra Laksana Mardhi
Indurasmi Jamanika
Ismawan Lawan
Janitra Pradya
Jumanta Kawiswara
Jambari Gunawan
Jaka Jatmika
Jaya Indra Zakiyah
Jumadi Rasyad
Jumari Cahya Muzhaffar
Jaki Indraswanta
Kanaka Robih Rizqullah
Kaindra Hermanto
Kaindra Hartanto
Kawanda Indraswanta
Kurnia Sandi
Kurnia Sandi Ardiyanta
Lokepa Bayanaka
Lasmaa Kaindra
Linggar Mahardika
Lingga Mahardika
Lintang Madaharsa
Majdi Wahyuddin
Marwan Wiratama
Mardi Prabaswara
Maryadi Muhammad
Mahadi Nailur Raja
Nabil Budiharja
Nadi Fauzan Kamil
Nana Ardiyanata
Nadif Adicandra
Nazar Indrawanta
Nico Danendra
Naryarya Respati
Nataya prama Samabra
Nismara Pacima
Nitijana Padmana
Nayaka Sahasika
Ogya Piratan Pradana
Ostha Fuadi Mutala’li
Opal Arkananta Fatih
Panca Budiantana
Padantya Wangkawa
Paramudyra Rajendra
Perbawa Ugraha
Pirata Raynar Ulung
Pandya Andika Daryanta
PangestU Wiryawan
Panggih Sajana
Panggah Priyono
Panji Raksa Haryadi
Pardi Gardapati
Parman Besarianta
Parman Misabahuddin
Patra Rakha Fauzan
Praba Majdi Husni
Prada Zainal Arifin
Ridho Ayakta Prayoga
Rifqi Nugraha
Rasendriya Karasa
Rafandra Naradipta
Resmawan Akhilendra
Randhika Danurdara Narayana
Radeva Aksara Sadha
Rajendra Sagara Nirankara
Raksa Magani Jayantaka
Rhandra Mahija Garvi
Raden Lakedwara Mahadarsa
Rahandika Ismayana Sidharta
Radin Arkana
Radinka Bayanaka
Ragi Chaanakya
Rajawa Fusena
Raksaka Kayana
Rajendra Hastanta
Sigit Ardis Admaja
Surya Bustanul Arifin
Suwardi Indurasmi
Satrio Prabowo Wicaksono
Surya Aditya Putra
Sakti Arjuna Mahendra
Satya Bayu Pratama
Satria Dharma Nugraha
Surya Widya Pramana
Seno Aji Putra Mahardika
Satrio Baskara Adiguna
Surya Cahaya Pratama
Sakti Wirawan Prakasa
Surya Adi Kusuma
Satrio Galih Pranata
Sakti Bima Anugerah
Seno Aji Dirgantara
Satrio Aditya
Sakti Prabu
Surya Bagaskara
Taya Harjiman
Tirta Fatih Fathoni
Taufan Ramiz Harmani
Tyas Uziel Kaindra
Teja Kusuma Huntara
Tomo Prasetyo Wijaya
Tony Delvin Javana
Udo Indra Zaki
Uistean Fico Bayanaka
Uja Jaka Marwan
Umar Wira Hadi Kusuma
Utama Kusuma Atmaja
Utara Satya Purana
Uta Hastungkara
Utama Putra Rafif
Upendra Shahan
Urnakara Darda
Unggul Wahyudi
Ulung Tusta Suyasa
Ugra Talib Surajaya
Ugraha Jiwatrisna
Uli Bayuputra
Unggul Saidini
Urusula Raditya
Utama Rajendriyaa
Ujang Sampurna
Victor Hartanto
Vadin Yadi Prayitna
Valerril Yogi Aristo
Valin Ega Saputra
Vanda Emerardy Hutama
Veda Victorio Elvio
Virga Cakra Kencana
Baca Juga: 90 Nama Bayi Laki-Laki yang Lahir di Bulan Ramadan 2 Kata
Tradisi Menyambut Kelahiran Bayi di Jawa
Kelahiran seorang anak merupakan kebahagiaan yang tak terkira bagi pasangan yang memang sangat mengharapkan kehadiran buah hati. Untuk menyambut kelahiran bayi, masyarakat Jawa memiliki beberapa tradisi yang masih dilakukan hingga turun temurun.
Berbagai upacara dan tradisi tersebut dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas anugerah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa berupa momongan.
Tradisi ini dilangsungkan sebagai salah satu bentuk doa agar si jabang bayi dan keluarga diberi kesehatan, keselamatan, kesejahteraan oleh Yang Maha Kuasa.
Menyadur jurnal Tradisi Jawa Dalam Menyambut Kelahiran Bayi di Desa Harapan Jaya Kecamatan Pangkalan Kuras Kabupaten Pelalawan oleh Listyani Widyaningrum, berikut beberapa tradisi masyarakat Jawa yang masih dilakukan sampai sekarang.
1. Mengubur Ari-Ari
Ari-ari secara medis merupakan sebuah organ yang berfungsi untuk menyalurkan berbagai nutrisi dan oksigen dari ibu ke janin di dalam Rahim. Bagi orang Jawa, ari-ari memiliki jasa yang cukup besar sebagai teman bayi saat dalam kandungan.
Meski fungsi utama ari-ari berakhir ketika bayi lahir, organ ini akan tetap dirawat dan dikubur sedemikian rupa agar tak dimakan binatang atau membusuk di tempat sampah.
Upacara mendhem ari-ari ini biasanya dilakukan oleh sang ayah dan dikubur berada di dekat pintu utama rumah. Tempat ari-ari tersebut diberikan penerangan berupa lampu minyak selama 35 hari atau dalam istilah Jawa disebut dengan selapan.
2. Brokohan
Brokohan merupakan salah satu upacara tradisi Jawa untuk menyambut kelahiran bayi yang dilaksanakan sehari setelah bayi lahir. Kata brokohan artinya memohon berkah dan keselamatan aats kelahiran bayi.
Acara ini biasanya dilangsungkan dengan tetangga dekat dan sanak saudara yang berdatangan dan turut bahagia atas kelancaran proses persalinan. Selain itu, tak sedikit para tetangga yang membawa berbagai macam oleh-oleh berupa perlengkapan bayi dan makanan untuk keluarga yang melahirkan.
3. Sepasaran
Sepasaran menjadi salah satu upacara adat Jawa yang dilakukan setelah lima hari sejak kelahiran bayi. Dalam acara ini, pihak keluarga mengundang tetangga sekitar beserta keluarga besar untuk mendoakan bayi yang telah dilahirkan.
Biasanya acara ini dilakukan lengkap dengan acara kenduri seperti punya hajat. Adapun inti dari acara sepasaran tersebut ialah upacara selametan sekaligus mengumumkan nama bayi yang telah lahir.
4. Puputan
Puputan dilakukan ketika tali pusar yang menempel pada perut bayi sudah putus. Pelaksanaan upacara ini biasanya berupa kenduri memojon pada Tuhan Yang Maha Esa agar si anak yang telah puput puser selalu diberkahi, diberi keselamatan dan kesehatan.
5. Aqiqah
Alkulturasi budaya Jawa-Islam sangat terlihat dalam upacara aqiqahan. Upacara yang dilakukan setelah tujuh hari kelahiran bayi ini biasanya dilaksanakan dengan penyembelihan hewan kurban berupa domba atau kambing.
Apabila melahirkan anak laki-laki, maka pihak keluarga akan menyembelih dua ekor kambing. Jika anak perempuan, keluarga akan menyembelih satu ekor kambing.
6. Selapanan
Selapanan dilakukan 35 hari setelah kelahiran bayi. Upacara ini dilangsungkan dengan rangkaian acara bancakan weton, pemotongan rambut bayi hingga gundul, dan pemotongan kuku yang bertujuan menjaga kesehatan kulit bayi.
Sementara bancakan selapanan dimaksudkan sebagai rasa syukur atas kelahiran bayi, sekaligus sebuah doa agar kedepannya anak tersebut selalu diberi kesehatan, cepat besar, dan berbagai doa kebaikan lainnya.
(IPT)
