Konten dari Pengguna

3 Ceramah Maulid Nabi Muhammad SAW Singkat

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 18 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi 3 ceramah maulid Nabi Muhammad SAW. Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi 3 ceramah maulid Nabi Muhammad SAW. Foto: Unsplash.

Peringatan maulid nabi di sekolah dapat diisi dengan berbagai kegiatan yang bisa meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah, salah satunya lomba ceramah. Ceramah maulid Nabi Muhammad SAW dapat menjadi inspirasi bagi umat Muslim.

Maulid Nabi Muhammad dirayakan setiap 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriyah. Momen kelahiran Nabi Muhammad ini diperingati sebagai wujud kecintaan umat Islam kepada beliau.

Karenanya, penting untuk menyampaikan ceramah-ceramah dengan tema Nabi Muhammad tentang kisah hidup, perjuangan dalam berdakwah, hingga akhlaknya yang patut dijadikan teladan.

3 Ceramah Maulid Nabi Muhammad SAW

Ilustrasi 3 ceramah maulid Nabi Muhamad SAW. Foto: Unsplash.

Mengutip buku Ayo Mahir Berceramah yang ditulis Indah Kumara Putri dan Uswatun Hasanah, ceramah adalah kegiatan penyampaian pesan yang bertujuan untuk memberikan informasi atau menyiarkan ajaran-ajaran agama.

Tema ceramah dapat diambil dari suatu peristiwa, hari raya, atau tentang kehidupan sehari-hari selama masih relevan dengan nilai-nilai agama. Salah satu tema ceramah tahunan yang kerap dibawakan di masjid-masjid adalah maulid nabi.

Dirangkum dari laman NU Online, berikut contoh 3 ceramah Nabi Muhammad SAW yang dapat dijadikan referensi.

Teks Ceramah 1

Judul: Mengapa Kita Dianjurkan Merayakan Maulid Nabi?

oleh Ustad Nur Rohman

Bismilahirrahmanirrahim, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin wa bihi nasta’in wa ‘ala umurid dunya wad din. Wa shatu wa salam ‘alla sayyidina wa maulana Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pertama-tama Marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, Karna atas rahmat dan Karunia-Nya lah, Kita semua masih diberi Kelancaran dan kesempatan sehingga kita bisa bersilaturahmi di acara yang di muliakan oleh Allah SWT walaupun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu acara memperingati Hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Kemudian shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Hari ini kita telah berada di bulan Rabi’ul Awal. Bulan maulid Nabi. Bulan kelahiran Nabi. Pada bulan Rabi’ul Awal, dari tahun ke tahun, sejak pertama kali perayaan maulid ini dilakukan pada awal abad ketujuh hijriah, umat Islam di berbagai belahan dunia merayakannya dengan penuh kegembiraan dan suka cita. Namun di tahun ini, bisa jadi perayaan maulid di berbagai negara tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya mengingat musim pandemi yang belum kunjung usai.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kenapa kita merayakan maulid?

Karena kelahiran Nabi Muhammad ke muka bumi ini adalah nikmat dan rahmat teragung yang Allah anugerahkan kepada kita. Perayaan maulid adalah bentuk syukur kita kepada Allah atas nikmat yang sangat agung ini. Dengan sebab beliau, kita mengenal Allah, satu-satunya Tuhan yang berhak dan wajib disembah. Tuhan Pencipta segala sesuatu. Tuhan yang tidak menyerupai segala sesuatu. Tuhan yang tidak membutuhkan kepada segala sesuatu. Dengan sebab beliau, kita mengenal Islam, satu-satunya agama yang benar. Satu-satunya agama yang diridhai Allah. Agama yang dibawa dan diajarkan oleh seluruh nabi dan rasul.

Perayaan maulid adalah bentuk kecintaan kita kepada insan yang paling mulia dan makhluk yang paling utama, Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Melalui perayaan maulid kita diingatkan untuk terus mencintai Baginda Nabi. Melalui perayaan maulid, kita tanamkan pada diri umat Islam kecintaan kepada Nabi mereka, Nabi agung Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi yang cintanya kepada umat melebihi cinta mereka kepadanya.

Salah satu bukti cinta baginda kepada umatnya adalah sabda beliau:

لِكُلّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِيْ شَفَاعَةً لِأُمَّتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Maknanya: “Setiap nabi memiliki kesempatan berdoa yang dikabulkan, maka semua nabi meminta segera dengan doanya, dan aku simpan doaku sebagai syafaat untuk umatku di hari kiamat” (HR Muslim).

Pada hari kiamat kelak, dikatakan kepada Baginda:

يَا مُحَمَّدُ سَلْ تُعْطَ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ

Maknanya: “Wahai Muhammad, mintalah maka engkau akan diberi, berilah syafaat maka syafaatmu akan diterima”

Baginda menjawab:

أَيْ رَبِّ أُمَّتِيْ أُمَّتِيْ (رَوَاهُ النَّسَائِيُّ)

Maknanya: “Wahai Tuhanku, umatku umatku” (HR an-Nasa’i)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Perayaan maulid di bulan Rabi’ul Awal mengingatkan kita akan keagungan Baginda, keutamaannya, akhlaknya, perjuangannya, gambaran ketampanan dan keindahan jasad mulianya. Ketika dilantunkan puji-pujian kepadanya dan jamaah maulid mulai menyebut-nyebut namanya, biasanya kita akan terbawa suasana haru. Dalam hati kita berucap, “Andai saja aku mendapat kemuliaan bertemu dengan Baginda, meskipun dalam mimpi.”

Seorang mukmin sejati pasti merindukan baginda Nabi. Seorang mukmin sejati pasti-lah sangat ingin bertemu dengan baginda walaupun sekejap pandangan mata dalam mimpi.

Sahabat Bilal al-Habasyi radliyallahu ‘anhu pernah memperoleh kemuliaan itu. Bilal pernah memperoleh kemuliaan bertemu dan melihat langsung baginda. Suatu ketika, ia melihat dalam mimpi wajah baginda yang memancarkan cahaya. Begitu terbangun, rasa rindu yang membuncah dan gelora cinta yang menyala-nyala memandunya untuk memacu hewan tunggangannya melewati gurun-gurun pasir yang tandus. Ia percepat perjalanannya di malam dan pagi hari, agar dapat segera sampai ke Madinah. Sesampainya di Madinah, ia lantas berdiri di dekat peraduan baginda, di dekat makamnya. Air mata pun mengalir deras dari kedua matanya. Ia tumpahkan air mata agar dapat meringankan kerinduan yang bergejolak di hati. Akan tetapi mana mungkin itu terjadi. Bilal-lah yang sebelum meninggal, melontarkan perkataan:

غَدًا نَلْقَى الْأَحِبَّةْ مُحَمَّدًا وَصَحْبَهْ

“Besok di akhirat aku akan menemui orang-orang yang aku kasihi, yaitu Muhammad dan para sahabatnya.”

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kenapa kita merayakan maulid?. Karena kita ingin bersyukur kepada Allah atas kelahiran Nabi kita.

Nabi Muhammad bahkan yang mengajarkan kepada kita untuk mensyukuri hari kelahirannya. Ketika ditanya tentang puasa sunnah hari Senin, beliau menjawab:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ وَأُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبَيْهَقِيُّ فِي الدَّلَائِلِ)

Maknanya: “Itu adalah hari di mana aku dilahirkan dan diturunkan wahyu pertama kepadaku” (HR Ahmad dan al-Baihaqi dalam Dala’il an-Nubuwwah)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Perayaan maulid adalah bentuk pengamalan terhadap hadits:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ)

Maknanya: “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian, hingga aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia” (HR al-Bukhari)

Peringatan maulid adalah salah satu sarana untuk menanamkan dan menebarkan cinta terhadap Rasulullah shallallau ‘alaihi wa sallam kepada lintas generasi, agar mereka terpaut hati dengannya. Bahkan peringatan maulid termasuk salah satu amal yang paling utama karena menuntun kita menuju cinta yang mulia ini. Yaitu cinta kepada insan pilihan yang telah datang menyelamatkan umat manusia dari kesesatan, kezaliman, kejahiliahan, kemusyrikan dan kekufuran. Baginda Nabi bersabda:

أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِيْ الَّذِيْ يَمْحُوْ اللهُ بِيَ الْكُفْرَ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِيْ يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِيْ وَأَنَا الْعَاقِبُ الَّذِيْ لَيْسَ بَعْدَهُ أَحَدٌ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Maknanya: “Aku adalah Muhammad dan aku adalah Ahmad. Aku adalah al-Mahi (sang penghapus) yang denganku Allah menghapus kekufuran. Aku adalah al-Hasyir yang orang-orang akan dikumpulkan di padang mahsyar di belakangku. Dan aku adalah al-‘Aqib yang tidak ada seorang pun yang diangkat menjadi nabi setelahku” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Melalui peringatan maulid, kita belajar, mengajarkan dan saling mengingatkan bahwa Rasulullah adalah manusia yang paling mulia. Beliau-lah yang mengajarkan dan mengingatkan kita akan kemuliaan dirinya dalam sabdanya:

إِنَّ اللهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيْلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِيْ هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِيْ مِنْ بَنِيْ هَاشِمٍ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Maknanya: “Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Isma’il, dan memilih Quraisy dari keturunan Kinanah dan memilih dari Quraisy Bani Hasyim dan memilihku dari Bani Hasyim” (HR Muslim).

Dengan mengetahui ketinggian derajat dan kemuliaannya, insyaallah cinta dan pengagungan kita kepadanya semakin menguat dan mendalam. Cinta inilah yang akan mendorong kita untuk menjalankan perintahnya dan mengikuti ajaran-ajarannya.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dalam peringatan maulid, kita belajar dan mengajarkan tentang ciri-ciri fisik mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barang siapa yang melihatnya dalam mimpi, sungguh ia akan melihatnya dalam keadaan jaga sebagaimana sabda Baginda:

مَنْ رَءََانِيْ فِيْ الْمَنَامِ فَسَيَرَانِيْ فِيْ الْيَقَظَةِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Maknanya: “Barang siapa melihatku dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan jaga” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Dalam peringatan maulid ada pembacaan sirah nabawiyyah (sejarah hidup Nabi). Disebutkan bahwa Nabi tumbuh dalam keadaan yatim. Maka keyatiman seseorang jangan sampai menghalanginya untuk berakhlak dengan akhlak-akhlak Nabi dan beradab dengan adab-adabnya.

Dalam pembacaan terhadap sejarah hidup Nabi, kita belajar kejujuran dari aktivitas dagangnya. Betapa beliau adalah orang yang sangat jujur dalam berniaga sehingga keberkahan begitu tampak pada hartanya.

Dalam pembacaan terhadap sejarah hidup beliau, para dai belajar berbagai metode dakwah dari baginda. Beliau memulai dakwah sendirian, menyeru dan mengajak kepada Islam hingga agama yang mulia ini menyebar ke seluruh penjuru jazirah Arab. Estafet dakwah sepeninggal beliau dilanjutkan oleh para sahabatnya. Hingga Islam menyebar ke berbagai belahan dunia.

Dalam pembacaan terhadap sejarah hidupnya, terdapat pelajaran bagi umat untuk berakhlak dengan akhlak yang mulia. Nabi bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ (رَوَاهُ الْبَزَّارُ وَالْبَيْهَقِيُّ)

Maknanya: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia” (HR al-Bazzar dan al-Baihaqi)

Dalam rangkaian acara peringatan maulid Nabi, banyak sekali perbuatan baik yang dianjurkan oleh syariat, seperti pembacaan ayat al-Qur’an, sedekah makanan, doa bersama dan menjadi ajang silaturahim serta mengokohkan simpul-simpul tali persaudaraan antar sesama umat Islam. Dan tentu saja menjadi sebuah kegiatan untuk memperbanyak bacaan shalawat sebagaimana difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (الأحزاب: 56)

Maknanya: “Bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya” (QS. Al-Ahzab: 56)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Demikian ceramah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua. Amin.

Teks Ceramah 2

Judul: Memasuki Bulan Maulid, Mari Tiru Akhlak Nabi SAW

oleh Ustad Amien Nurhakim

Bismilahirrahmanirrahim, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin wa bihi nasta’in wa ‘ala umurid dunya wad din. Wa shatu wa salam ‘alla sayyidina wa maulana Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pertama-tama Marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, Karna atas rahmat dan Karunia-Nya lah, Kita semua masih diberi Kelancaran dan kesempatan sehingga kita bisa bersilaturahmi di acara yang di muliakan oleh Allah SWT walaupun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu acara memperingati Hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Kemudian shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Para jamaah yang dirahmati Allah.

Memasuki bulan lahirnya teladan kita semua, baginda besar Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, marilah kita perbanyak membaca selawat. Semoga dengan banyaknya selawat kita kepada baginda Nabi, akan menyelamatkan kita di hari pembalasan nanti, dengan adanya syafaat dari Nabi. Bergembiralah kita semua akan datangnya bulan ini. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah syair:

تَرَحَّبْنَا بِقُدُوْمِ الشَّهْرِ الْبَدِيْع. مَرْحَبًا فَمَرْحَبًا يَا شَهْرَ الرَّبِيْع

“Kita ucapkan “selamat!” dan bersuka cita atas datangnya bulan yang indah. Selamat datang... Selamat datang... bulan Rabi’ul awwal!.

Jamaah sekalian.. Di bulan maulid ini akan kita temukan banyak peringatan maulid yang digelar di tengah masyarakat. Selain untuk membaca selawat kepada Nabi, momen ini juga kita gunakan untuk membaca perjalanan hidup beliau yang dihimpun oleh para penulis kitab-kitab maulid, dan tentunya yang paling penting sekali adalah menjadi momen bagi kita untuk mengetahui bagaimana akhlak beliau kemudian mengikutinya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Kita tidak mungkin mampu menceritakan bagaimana akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara keseluruhan. Akhlak beliau begitu mulia, di tiap hembusan nafasnya selalu tercermin keindahan perangai dan teladan yang menjadi contoh bagi umatnya, bahkan bagi seluruh manusia di muka bumi ini. Meski kita tidak dapat menggambarkan keseluruhan akhlak Nabi yang mulia, akan tetapi tentunya kita dapat mengetahui akhlak dan perangai beliau yang baik dari Al-Quranul karim, hadis-hadis Nabi, dan juga kitab-kitab tentang maulid Nabi.

Dalam Al-Quran surah al-Taubah ayat 128 disebutkan tentang bagaimana sifat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”

Pada ayat yang tadi khatib bacakan, terlihat betapa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang sangat menyayangi kita sebagai umatnya. Dalam tafsir al-Mishbah disebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang manusia sama seperti kita, namun Nabi merasa sedih dengan penderitaan yang kita rasakan. Nabi ingin umatnya hidup dalam kemudahan dengan adanya petunjuk dari Allah subhanahu wa ta’ala, dan sudah barang pasti beliau sangat mengasihi dan menyayangi orang-orang yang beriman.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Kasih sayang beliau sangat terasa bagi orang-orang di sekelilingnya, salah satunya adalah sebagaimana yang diceritakan oleh sahabat Anas radhiyallallahu ‘anhu:

خَدَمْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَشْرَ سِنِينَ وَاللَّهِ مَا قَالَ لِى أُفًّا. قَطُّ وَلاَ قَالَ لِى لِشَىْءٍ لِمَ فَعَلْتَ كَذَا وَهَلاَّ فَعَلْتَ كَذَا.

Artinya: “Anas bin Malik radhiyallallahu ‘anhu berkata: “Aku membantu Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun, demi Allah tidak pernah beliau mengatakan: “Duh” (tanda kecewa terhadap Anas), dan tidak pernah mengatakan kepadaku: “Kenapa engkau kerjakan seperti ini atau mengapa tidak kau kerjakan seperti ini saja...”(Hadits riwayat Imam Muslim)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Kita juga dapat meneladani akhlak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang tertera dalam kitab-kitab maulid Nabi. Salah satunya kitab maulid yang sering kita baca adalah maulid al-Barjanzi karya Syekh Ja'far al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim. Beliau menyebut di dalam kitab al-Barjanzi:

وَأَنَّهُ الْحَبِيْبُ الَّذِي حَسُنَتْ طِبَاعُهُ وَسَجَيَاهُ

Artinya “SungguhNabiadalah kekasih Allah yang bagus watak dan budi pekertinya.”

Syekh Ja'far al-Barzanji menyebutkan beliau adalah sosok yang tidak membeda-bedakan manusia, semuanya beliau ayomi.

وَيُحِبُّ الْفٌقَرَاءَ وَالْمَسَاكِيْنَ وَيَجْلِسُ مَعَهُمْ وَيَعُوْدُ مَرْضَاهُمْ وَيُشَيِّعُ جَنَائِزَهُمْ وَلَا يَحْقِرُ فَقِيْرًا

Artinya “Beliau mencintai orang fakir dan miskin, suka duduk bersama mereka, menjenguk orang-orang yang sakit diantara mereka, mengantar jenazah mereka, dan tidak mencemoohkan orang yang fakir.

وَيَتَألّفُ أَهْلَ الشَّرَفِ وَيُكْرِمُ أَهْلَ الْفَضْلِ وَيَمْزَحُ وَلَا يَقُوْلُ إِلاَّ حَقًّا

Artinya “Beliau menyukai orang yang mulia dan menghormati orang yang memiliki keutamaan, juga bersenda gurau dengan sahabat-sahabatnya. Beliau tidak pernah bersabda melainkan yang benar sebuah kebenaran”.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Marilah bersama-sama kita peringat bulan maulid ini dengan sekhidmat mungkin. Kita resapi sirah dan perjalanan hidup sang teladan bagi umat manusia. Kita tiru akhlak-akhlaknya. Kita jalankan pesan-pesannya. Kita hidupkan sunnah-sunnahnya. Semoga dengan mengikuti jejak langkah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita kelak akan mendapatkan syafa'atul ‘uzma di hari kiamat. Amiin.

Teks Ceramah 3

Judul: Meneladani Perjuangan Nabi Muhammad

Oleh Saifulah

Bismilahirrahmanirrahim, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin wa bihi nasta’in wa ‘ala umurid dunya wad din. Wa shatu wa salam ‘alla sayyidina wa maulana Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, Karna atas rahmat dan Karunia-Nya lah, Kita semua masih diberi Kelancaran dan kesempatan sehingga kita bisa bersilaturahmi di acara yang di muliakan oleh Allah SWT walaupun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu acara memperingati Hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Kemudian shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jamaah Rahimakulullah

Hari ini, Jumat (08/10/2021) ternyata kita masih diberikan umur panjang dan memasuki bulan Rabiul Awal 1443 H atau bulan Maulid. Dan setiap tanggal 12 Rabiul Awal kita memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau yang sering disebut Maulid Nabi. Peringatan Maulid Nabi memang tidak diperintahkan secara khusus, baik oleh Al-Qur’an maupun hadits.

Peringatan ini baru diadakan untuk pertama kali ratusan tahun setelah Nabi Muhammad SAW wafat, yakni pada abad ke-7 hijriah di wilayah Irak sekarang atas perintah Raja Irbil bernama Muzhaffaruddin al-Kaukabri. Meski tidak ada perintah yang tegas, peringatan Maulid Nabi juga tidak ada larangan yang jelas. Sesuatu yang tidak ada perintah sekaligus tidak ada larangan boleh dilakukan. Hal ini dalam hukum Islam disebut mubah. Sesuatu yang mubah akan mendapatkan pahala apabila ada niat dan tujuan yang baik (ibadah), dilakukan dengan cara yang baik dan terbukti menghasilkan sesuatu yang baik.

Hadirin yang Berbahagia

Nabi Muhammad SAW lahir dan dibesarkan dalam keluarga sederhana. Dari usia dini sudah yatim piatu. Ayahnya wafat ketika Nabi masih dalam kandungan. Usia enam tahun, ibundanya wafat. Lalu disusul sang kakek juga wafat. Dan akhirnya diasuh paman, Abu Thalib.

Abu Thalib sendiri bukan orang kaya, padahal putranya banyak. Keadaan inilah yang menjadikan Muhammad kecil harus bekerja keras sejak belia untuk mencari nafkah. Muhammad pernah menjadi penggembala kambing. Juga kerap membantu pamannya berjualan di Syam. Yang terakhir ketika sudah dewasa bekerja sebagai buruh atau karyawan pada seorang janda bernama Khadijah. Pekerjaannya adalah menjalankan perdagangan di perusahaan janda tersebut. Dari hubungan seperti itulah kemudian menikah dengan Khadijah yang tak lain adalah majikannya sendiri.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Kehidupan Nabi Muhammad sebagaimana uraian tersebut, dapat kita temukan rekamannya dalam Surat Adh-Dhuha. Dalam ayat ke-3, Allah SWT berfirman:

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ

Artinya: Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.

Allah sekali-kali tidak bermaksud meninggalkan Nabi Muhammad di waktu kecilnya. Tidak pula Allah bermaksud menelantarkan hidup sehingga harus bekerja keras mencari nafkah meskipun masih kanak-kanak. Juga, Allah SWT tidak bermaksud membencinya sehingga ketika masih dalam kandungan saja, sang ayah Abdullah sudah dipanggil menghadap-Nya. Ketika usianya baru enam tahun dan masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu, Aminah pun wafat. Belum hilang kesedihannya karena ditinggal ibunda, kakeknya pun menyusul wafat dua tahun kemudian. Sempurnalah sudah kesedihan dan penderitaan Muhammad sebagai seorang yatim piatu dengan meninggalnya ayah, ibu dan kakek untuk berpisah selama-lamanya.

Dari semua penderitaan itu, tidak ada maksud Allah SWT menelantarkan, tetapi justru sedang mempersiapkan Muhammad menjadi seorang pemimpin besar kelak di kemudian hari. Seorang pemimpin harus peka terhadap kesulitan-kesulitan yang dipimpinnya dan dapat memberikan solusi dari kesulitan-kesulitan itu. Kepekaan seperti itu sulit dimiliki oleh para pemimpin yang tidak pernah mengalaminya sendiri kesulitan-kesulitan seperti itu. Dengan kata lain, Allah sesungguhnya menggembleng jiwa dan sikap mental Muhammad untuk menghadapi berbagai macam kesulitan dan tantangan berkaitan tugas kelak menjadi seorang nabi. Apalagi disiapkan dan ditetapkan oleh Allah SWT menjadi nabi terakhir hingga akhir zaman.

Jamaah Rahimakumullah

Dalam ayat berikutnya, yakni ayat ke-4, Allah berfirman:

وللاخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَى

Artinya: Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).

Dalam hidup ini yang terpenting adalah apa yang terjadi di akhir dan bukan di permulaan. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Maka bisa dimengerti Nabi Muhammad hidup dalam kesulitan di masa kecilnya karena semua kesulitan tersebut bermanfaat membentuk karakter menjadi seorang yang tangguh lahir dan batin, jiwa dan raga.

Ketangguhan seperti itu memang sangat diperlukan kelak ketika Nabi Muhammad berdakwah menyampaikan wahyu dan kebenaran dari Allah SWT kepada seluruh umat manusia. Kita semua tahu bahwa dalam berdakwah Nabi Muhammad SAW menghadapi banyak hambatan, gangguan dan bahkan ancaman pembunuhan dari berbagai pihak, terutama dari kelompok yang dipimpin Abu Jahal dan kawan-kawan. Tetapi semua hambatan, gangguan dan ancaman itu dapat dilalui dengan baik karena Nabi Muhammad SAW sudah terlatih menghadapi kesulitan-kesulitan sejak kecil.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Buah dari penderitaan, kesulitan, dan perjuangan yang tanpa kenal menyerah memang luar biasa, yakni dalam waktu singkat yang hanya memakan waktu 23 tahun saja, Nabi Muhammad telah berhasil memiliki pengikut yang cukup banyak. Yakni berhasil mengubah masyarakat yang semula penyembah berhala menjadi beriman tauhid, yakni hanya menyembah kepada Allah SWT semata. Masyarakat telah berubah dari masyarakat yang semula menerapkan hukum rimba di mana yang dominan dan kuat akan selalu menjadi pemenang, menjadi masyarakat yang berdasarkan keadilan tanpa memandang latar belakang suku maupun status sosial. Di dalam Islam memang semua manusia pada dasarnya sama karena mereka semua berasal dari asal usul yang sama, yakni Nabi Adam AS. Satu-satunya yang membedakan mereka hanyalah ketakwaan masing-masing kepada Allah SWT.

Jamaah Rahimakumullah

Ayat kelima dari Surat Adh-Dhuha menyebutkan:

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى

Artinya: Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.

Allah SWT telah berjanji bahwa semua penderitaan, kesulitan dan susah payah Nabi Muhammad SAW dari waktu kecil hingga diangkat menjadi seorang nabi akan dibalas oleh Allah dengan keberhasilan yang cemerlang sebagaimana telah diuraikan. Atas keberhasilan itu Nabi Muhammad SAW bersyukur kepada Allah SWT. Berterima kasih tidak hanya atas keberhasilan dakwah, tetapi juga atas perlindungan Allah SWT sehingga meskipun seorang yatim piatu dapat meraih pertolongan untuk mendukung keberhasilan dakwah tersebut.

Perlindungan ini sebagaimana dimaksud dalam ayat keenam sebagai berikut:

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ

Artinya: Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?.

Jamaah yang Berbahagia

Selanjutnya, ayat ketujuh dari Surat Adh-Dhuha menyebutkan:

وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ

Artinya: Dan Dia (Allah) mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.

Sudah banyak diceritakan bagaimana kebingungan Nabi Muhammad ketika akan memasuki masa kenabiannya sehingga menyepi di Gua Hira’ untuk mencari jawaban dari apa yang sebenarnya sedang terjadi pada waktu itu. Di Gua Hira’ itulah Muhammad mendapatkan wahyu pertama kali yang diterimanya melalui malaikat Jibril AS.

Ayat ketujuh itu diikuti dengan ayat kedelapan yang menyatakan:

وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ

Artinya: Dan Dia (Allah) mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.

Pada akhirnya keadaan ekonomi Nabi Muhammad mengalami perubahan dari kekurangan menjadi kecukupan. Abu Muhammad al-Husayn bin Mas'ud al-Baghawi dalam kitab tafsirnya berjudul Tafsir Al-Baghawi, halaman 456, jilid 8, menjelaskan bahwa Allah menjadikan kaya Nabi Muhammad SAW salah satunya dengan harta Khadijah. Artinya keadaan ekonomi Nabi Muhammad membaik setelah bekerja di perusahaan Khadijah dan kemudian meminta Muhammad menjadi suaminya.

Dengan harta kekayaan itulah Nabi Muhammad SAW dapat membiayai dakwahnya karena Khadijah memang menyediakan dan merelakan harta kekayaannya digunakan suaminya untuk berjuang di jalan Allah. Khadijah adalah orang kedua setelah Nabi yang memeluk Islam sekaligus merupakan perempuan pertama yang masuk Islam. Maka bisa dimengerti Nabi Muhammad SAW sangat mencintai dan menghargai Khadijah yang telah berjasa besar dalam mendampingi dan mengembangkan dakwahnya. Dengan kata lain, keberhasilan dakwah Islam tidak lepas dari peran penting seorang perempuan kaya raya. Perempuan itu bernama Khadijah RA, istri pertama dan utama.

(GLW)