Konten dari Pengguna

3 Contoh Cerita Inspiratif Penuh Makna

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi contoh cerita inspiratif. Foto: unsplash.com.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi contoh cerita inspiratif. Foto: unsplash.com.

Daftar isi

Ada berbagai contoh cerita inspiratif dengan berbagai tema yang dapat dibaca di berbagai buku. Cerita inspiratif adalah teks narasi yang membuat pembaca menjadi lebih terinspirasi dan termotivasi untuk melakukan hal yang bersifat positif

Cerita inspiratif juga bertujuan untuk menumbuhkan rasa simpati dan empati seseorang. Cerita inspiratif berbeda dengan cerpen. Teks ini bersifat fakta dan terjadi dalam dunia nyata, sedangkan teks cerpen, lebih bersifat imajinatif.

Agar lebih jelas, simak berbagai contoh cerita inspiratif di bawah ini dengan berbagai pesan moral yang dapat dipetik. Artikel ini juga akan mengungkap struktur teks cerita inspiratif yang menjadi ciri khas dari teks tersebut.

Contoh Cerita Inspiratif

Ilustrasi contoh cerita inspiratif. Foto: unsplash.com.

Berikut tiga contoh cerita inspiratif yang dikutip dari buku 21 Cerita Inspiratif Dunia Mengajar oleh Yu Write ID dan buku Pasti Bisa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTS Kelas IX oleh Tim Ganesha Operation dengan berbagai pesan moral yang positif.

1. Mengeja Alifbata Berkawan Kursi Roda

Takdir semesta diselimuti teka-teki. Benak kita pun diliputi tanya yang entah kepada siapa harus mencari jawabnya. Tak ada yang tahu persis jatah takdir manusia, semua menjadi rahasia. Kita hanya bisa terus melangkah, menyambut dengan suka cita, meski tak akan mudah.

Aku, wanita lulusan S1 yang berambisi bisa mendapat pekerjaan yang layak, harus menelan pil pahit. Nyatanya, ijazah Strata 1 masih tersimpan rapi tanpa pernah sekalipun dibungkus map lamaran pekerjaan. Semesta mendidikku menjadi wanita yang mau tak mau harus siap menerima apapun itu.

Saat ini aku sedang menikmati episode kehidupan bersama anak-anak kampung. Sehari-hari aku dikelilingi anak-anak usia SD dan SMP. Mereka belajar mengaji, mengeja huruf hijaiyah dan dimulai setelah zuhur. Di kelasku setiap harinya ada tiga puluh anak yang akan mengantri untuk mengaji.

Dikelilingi anak-anak usia yang jauh di bawahku, menuntutku untuk lihai berganti peran. Ya, terkadang aku harus menjadi teman karib mereka. Lain waktu aku berperan menjadi ibu bagi mereka yang harus berbagi perhatian dan kasih sayang secara merata.

Dipenghujung tahun dua ribu empat belas, usia pernikahan kami memasuki tahun kelima. Aku mulai merasakan kejenuhan dan kesepian. Bagaimana tidak, selama itu, aku hanya berkutat di kamar. Berbeda dengan wanita bersuami pada umumnya, yang bisa bebas berkreasi di dapur maupun berkarya di luar, segala keperluanku, suamilah yang menyiapkan.

Suatu hari, aku mengutarakan keinginanku untuk ikut mengajar santri TPQ. Kebetulan suami yang meng-handle kegiatan mengaji.

“Mas.. aku kok jenuh ya, seharian di kamar terus,” paparku. “Terus, emang mau ngapain?” tanyanya.

“Boleh, ndak, aku ikut ngajar anak-anak,” aku merajuk.

“Boleh saja sih. Tapi nanti kamu malah kecapekan,” timpalnya cemas.

“Ndak, mas aku malah senang bisa belajar bersama mereka. Daripada di kamar terus, bosan, Mas.”

“Yaudah, mulai besok beberapa anak tak suruh ngaji kesini.” Ujarnya.

“Jangan jadi beban ngajarnya. Anggap aja itu hiburan.” Imbuhnya.

“Siap, Baginda.” Jawabku antusias. Kangmas hanya tersenyum.

Jujur, sebenarnya aku bingung, besok mau diisi materi apa. Metode Yanbu’a yang digunakan belum aku kuasai. Ah, bismilah ajalah, sambil menyelam, sambil minum air.

“Anak-anak, mulai hari ini, kita akan belajar bersama di sini. Sebelum dimulai kita akan berkenalan dulu,” Aku mencoba menetralistir rasa grogi. Padahal anaknya cuma dua, lho. Ya, harap maklum aku tipe orang yang tak pandai berbicara.

“Kamu namanya siapa?” tanyaku pada awak yang perawakannya imut.

“ Yunifa Azizah, Bu.”jawabnya malu-malu.

“ Kalau kamu?” tanyaku pada anak sebelahnya.

“ Mayada Wafiq Azizah, Bu”, timpalnya tersenyum.

“ Kamu jago sholawatan dong,” godaku sambil tertawa. Mereka pun ikut tertawa.

“Oiya, ada yang tahu namaku, ndak?” aku masih ber-aku-aku. Antara malu dan kaku mau meng-ibu-kan sendiri. Mereka terlihat bisik-bisik, saling jawil. Mungkin mereka tahu namaku, tapi malu mau jawab.

“Nama Bu guru, Bu Aan, kan?” jawab Yunifa tersenyum malu-malu.

“Yup, betul sekali,” jawabku sambil mengacungkan jempol.

Hmm, rasanya gimana gitu. Masih asing saja, saat ada yang memanggilku dengan sebutan Bu Guru atau memanggil namaku diawali kata “Ibu”. Mungkin karena aku belum punya anak. Jadi kayak merasa sudah emak-emak kalau ada yang memanggil ibu. Tapi lambat laun jadi terbiasa.

Sekarang tahun keenam, aku dikelilingi anak-anak. Meski mereka tak lahair dari rahimku, tetapi kehadiran mereka seperti oase di tengah padang sahara yang gersang. Sejuk, menenangkan.

Meski aku tak bisa leluasa untuk bergerak, tetapi sepertinya anak-anak santri terlihat enjoy saja. Ya, aktifitasku dibantu kursi roda. Semenjak virus TBC Tulang menyerang tulang belakangku, saraf kakiku pun terkena imbasnya.

Selain sebagai santri, mereka adalah malaikat-malaikat kecil yang Allah kirimkan untuk mengisi kehampaan hidupku. Sejatinya, merekalah guru yang mengajariku untuk mengolah emosi agar lebih terkontrol. Merekalah yang menuntutku untuk lebih peduli dan bersabar melihat tingkah laku mereka yang beraneka macam.

Selain belajar membaca alquran sesuai kaidah ilmu tajwid dan makhorijul huruf, mereka juga menghafalkan surat-surat Juz’amma, doa sehari-hari, bacaan sholat, ilmu tauhid, materi Tajwid dan ilmu Ghorib. Anak-anak terlihat sangat antusias mengikuti proses kegiatan belajar mengaji.

Lelah, letih, penat, dan sakit yang kurasa, tak sebanding dengan kenikmatan esok di alam keabadian. Harapanku, semoga di antara mereka ada yang akan menarikku ke surga-Nya kelak. Amin, yaraobbal alamin

Baca Juga: Tujuan Teks Cerita Inspiratif dalam Bahasa Indonesia dan Strukturnya

2. Perjuangan Seorang Pemulung

Di sebuah kota besar yang padat, hidup seorang pemulung bernama Ali. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Ali sudah bersiap-siap untuk mengembara di antara tumpukan sampah. Meskipun hidupnya tidak mudah, Ali selalu tersenyum dan memiliki semangat yang tak pernah pudar.

Ali adalah anak yatim piatu yang kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil. Kehidupan keras di jalanan menjadi pilihan terakhir baginya. Namun, Ali tidak pernah menyerah pada takdirnya. Dia percaya bahwa ada sinar harapan di ujung kegelapan.

Setiap hari, Ali mengumpulkan barang-barang yang masih layak di tumpukan sampah. Dengan teliti, dia memilah-milahnya untuk dijual kembali. Meskipun pendapatannya tipis, Ali selalu bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Baginya, setiap uang yang dia dapatkan adalah sebuah anugerah.

Suatu hari, Ali bertemu dengan seorang wanita tua yang kesepian di jalanan. Wanita itu duduk di samping tumpukan sampah, hanya dengan secarik kain yang melindungi tubuhnya dari dinginnya malam. Tanpa ragu, Ali memberikan sebagian kecil dari hasil penjualan barang-barangnya kepada wanita itu. Senyum bahagia wanita itu menjadi hadiah terindah baginya.

Kisah Ali menjadi inspirasi bagi banyak orang di sekitarnya. Meskipun hidupnya penuh dengan keterbatasan, Ali tetap memilih untuk bersyukur dan berbagi dengan sesama. Setiap langkah kecilnya memberikan bukti bahwa kebaikan dan ketabahan selalu membuahkan hasil, bahkan di tengah kerasnya hidup.

3. Anak-Anak dalam Kereta

Suatu hari, seorang bapak bersama empat orang anak kecil naik kereta ekonomi dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Semarang. Di dalam kereta, anak-anak itu sangat ribut. Canda dan tawa mewarnai keceriaan mereka. Bapak itu sepertinya tidak peduli dengan penumpang yang terganggu.

Seorang ibu memberanikan diri untuk menegur. “Pak, apakah mereka anak-anak Bapak?”

Tanpa menjawab, Bapak itu pelan-pelan mengangkat kepala, melihat ke arah ibu yang menegurnya, dan bertanya, “Ada apa, Bu?”

“ Itu, Pak. Mereka berisik dan mengganggu penumpang yang lain, tolong disuruh diam, Pak. Sebagai orang tua, harusnya Bapak bisa menjaga anak-anaknya,” jawab ibu tersebut.

“Oh, maaf, Bu, saya tidak bisa.”

“Mengapa tidak bisa?”

“ Saya tak tega.”

“ Mengapa tidak tega?”

“Tiga hari yang lalu, mereka baru saja kehilangan kedua orangtuanya akibat kecelakaan pesawat. Sejak kecelakaan itu, mereka tak pernah berhenti menangis."

"Baru kali ini, saya melihat mereka tertawa bahagia. Saya tidak tega menghentikan tawa mereka. Jika ibu tega, silakan Ibu yang menghentikan tawa mereka agar tak mengganggu penumpang yang lain.” Jawab Bapak itu mengakhiri percakapan.

Ibu itu kembali ke tempat duduknya dan terdiam sambil meneteskan air mata. Kini, marahnya berubah menjadi sayang. Bencinya berubah menjadi simpati. Ia sangat senang melihat anak yatim piatu tersebut tertawa lepas.

Struktur Teks Cerita Inspiratif

Ilustrasi struktur teks cerita inspiratif. Foto: unsplash.com.

Setelah menyimak contoh cerita inspiratif di atas, pelajari pula struktur teks cerita tersebut. Mengutip buku Bestie Book Bahasa Indonesia SMP/MTS kelas VII, VIII, & IX oleh The King Eduka, struktur teks cerita inspiratif secara umum meliputi:

1. Orientasi

Orientasi adalah bagian dari cerita inspiratif yang berisi pengenalan berbagai tokoh cerita dan latar belakang.

2. Rangkaian Peristiwa

Rangkaian peristiwa adalah bagian yang berisi awal terjadinya sebuah peristiwa hingga sampai pada puncak masalahnya.

3. Komplikasi

Komplikasi adalah bagian konflik dari peristiwa yang dialami tokoh utama. Wujudnya dapat berupa konflik atau pertentangan dengan tokoh lainnya.

4. Resolusi

Resolusi adalah bagian yang berisi penyelesaian masalah oleh tokoh utama dengan berbagai cara.

5. Koda

Koda adalah bagian yang berisi penutup dari cerita tersebut. Koda dapat berupa kesimpulan atau pesan moral berdasarkan kisah yang diangkat.

(IPT)