3 Macam Pengangguran Berdasarkan Lama Waktu Kerja

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena pengangguran bukanlah hal yang asing bagi setiap negara di dunia. Pengangguran dibagi menjadi beberapa macam, termasuk pengangguran berdasarkan lama waktu kerja. Seperti apa bentuknya? Simak ulasan berikut ini.
Pengangguran adalah suatu keadaan seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaan, tetapi mereka belum dapat memperoleh pekerjaan tersebut.
Pengangguran di sebuah negara dapat terlihat dari tingkat pengangguran. Tingkat pengangguran merupakan perbandingan antara jumlah penganggur dan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam bentuk persentase.
Jika peningkatan kerja di suatu negara tidak diimbangi dengan peningkatan daya serap lapangan kerja, tingkat pengangguran di negara tersebut akan tinggi.
Sebaliknya, jika peningkatan jumlah angkatan kerja diimbangi dengan peningkatan daya serap lapangan kerja, tingkat pengangguran akan rendah.
M Amir Taslim dalam buku Database Pengangguran Berpendidikan Tinggi di Sulawesi Tenggara (2019: 24) memaparkan, penyebab terjadinya pengangguran adalah sebagai berikut:
Menurunnya permintaan tenaga kerja
Ketidakmampuan pekerja mencari pekerjaan
Kurangnya informasi tentang lowongan pekerjaan
Adanya kelemahan dalam pasar tenaga kerja
Tingginya tingkat kemajuan teknologi dan informasi
Mengutip buku Ekonomi untuk SMA dan MA Kelas XI karya Drs. Alam, S, MM (2006: 09), berikut macam pengangguran menurut lama waktu kerja.
1. Pengangguran Terbuka
Jenis pengangguran yang menggambarkan situasi setiap orang yang sama sekali tidak bekerja dan berusaha mencari pekerjaan. Pengangguran terbuka bisa disebabkan oleh lapangan kerja yang tidak tersedia, ketidakcocokkan antara kesempatan kerja dan latar belakang pendidikan, dan tidak mau bekerja.
Untuk menghitung berapa besar tingkat pengangguran terbuka, dapat dilakukan dengan rumus berikut:
Tingkat Pengangguran Terbuka = Jumlah Pengangguran Terbuka / Angkatan Kerja x 100%
2. Setengah Menganggur
Jenis pengangguran yang menggambarkan situasi setiap orang yang bekerja, tapi tenaganya kurang termanfaatkan, yang diukur dari curahan jam kerja, produktivitas kerja, dan penghasilan yang diperoleh.
Misalnya, orang yang bekerja sebagai tenaga lepas (freelance). Ia tidak memiliki kepastian untuk mengerjakan pekerjaan di waktu tertentu. Untuk menghitung berapa besar tingkat setengah menganggur, dapat digunakan rumus:
Tingkat Setengah Menganggur = Bekerja kurang 35 jam per minggu / Angkatan yang bekerja x 100%
3. Pengangguran Terselubung
Pengangguran ini terjadi karena tenaga kerja tidak bekerja secara optimal. Kondisi ini disebabkan oleh adanya ketidaksesuaian antara pekerjaan dengan bakat dan kemampuan tenaga kerja.
Dampak ketidakcocokan akan berpengaruh pada produktivitas kerja dan penghasilan yang rendah. Misalnya, seorang lulusan keperawatan bekerja sebagai sekretaris sebuah perusahaan.
Ia tidak bisa menjalankan fungsi kesekretariatan dengan baik, sehingga menghambat proses kerja yang ada.
Pengangguran terselubung juga dapat terjadi karena terlalu banyaknya tenaga kerja yang dipakai, untuk mengerjakan suatu pekerjaan melebihi batas optimalnya.
Misalnya, sebuah perusahaan memperkerjakan 10 karyawan untuk menangani pemasaran. Padahal, hanya dengan mempekerjakan 7 karyawan, tugas tersebut dapat tertangani dengan baik. Pada contoh ini, berarti ada 3 karyawan yang dapat dikatakan sebagai pengangguran terselubung.
Dampak Negatif Pengangguran
Menurut buku Pasti Bisa Ekonomi untuk SMA terbitan Tim Ganesha Operation (2018: 46), Jika terus dibiarkan, pengangguran bisa menimbulkan dampak negatif, di antaranya yaitu:
Kegiatan konsumsi berkurang, karena barang yang diperlukan oleh konsumen tidak terpenuhi oleh produsen. Ketidakmampuan produsen memproduksi suatu barang akan menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan masyarakat.
Kegiatan produksi terhambat, karena menurunnya jumlah dan kualitas output yang dihasilkan, sehingga dapat menurunkan pendapatan nasional dan pendapatan per kapita. Jika pendapatan per kapita turun, tingkat kesejahteraan masyarakat juga ikut menurun.
Kegiatan distribusi kurang lancar, karena rendahnya jumlah dan kualitas output yang dihasilkan oleh suatu perusahaan, sehingga barang tersebut tidak laku di pasaran, baik dalam negeri maupun luar negeri. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi menjadi rendah.
(VIO)
