Konten dari Pengguna

3 Teori Pertumbuhan Ekonomi Neoklasik

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi neoklasik. Sumber: Pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi neoklasik. Sumber: Pixabay.com

Para ahli mengemukakan teori pertumbuhan ekonomi neoklasik secara berbeda-beda. Secara garis besar, teori pertumbuhan ekonomi merupakan teori yang membahas tentang pertumbuhan ekonomi dari suatu negara.

Umumnya terdapat dua sudut teori pertumbuhan ekonomi. Dalam buku Ekonomi 2 Kelas XI IPS SMA dan MA yang ditulis Chumidatus Sa’diyah dan Dadang Argo P., sudut pertama membahas pertumbuhan ekonomi yang ditinjau dari tahap-tahap tertentu (secara historis), yaitu teori pertumbuhan ekonomi historis.

Kemudian, sudut kedua membahas pertumbuhan ekonomi yang didasarkan pada penyebab-penyebabnya (secara analitis), antara lain teori pertumbuhan ekonomi klasik dan teori pertumbuhan ekonomi neoklasik.

3 Teori Pertumbuhan Ekonomi Neoklasik

Terdapat tiga tokoh populer yang mengemukakan teori neoklasik. Menyadur dari Modul Ekonomi Kelas XI yang disusun Sri Nur Mulyati, berikut di antaranya.

1. Teori Joseph Schumpeter

Schumpeter berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi suatu negara terjadi jika pengusaha mengadakan inovasi dan mampu menciptakan kombinasi baru atas investasinya atau produksinya.

Mengutip buku yang ditulis oleh Chumidatus Sa’diyah dan Dadang Argo P., inovasi dalam hal ini memiliki pengaruh sebagai berikut:

  • Diperkenalkannya teknologi baru.

  • Menimbulkan keuntungan yang lebih tinggi.

  • Menciptakan imitasi inovasi, yaitu peniruan teknologi baru oleh pengusaha-pengusaha lain yang dapat meningkatkan hasil produksi.

Ilustrasi teori pertumbuhan ekonomi neoklasik. Foto: Pixabay

2. Teori Robert M. Solow

Teori ini mengemukakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan rangkaian kegiatan yang bersumber pada manusia, akumulasi modal, pemakaian teknologi modern, dan hasil.

Berdasarkan buku yang ditulis oleh Chumidatus Sa’diyah dan Dadang Argo P., hal yang tergolong sebagai modal tersebut, yaitu bahan baku, mesin, peralatan, komputer, bangunan, dan uang.

Dalam memproduksi output, faktor modal dan tenaga kerja dapat dikombinasikan dalam berbagai model kombinasi. Hingga pada akhirnya bisa dituliskan dalam rumus sebagai berikut:

Q = f (C.L)

Keterangan:

  • Q = Jumlah output yang dihasilkan

  • f = Fungsi

  • C = Capital (modal sebagai input)

  • L = Labour (tenaga kerja, sebagai input)

Rumus tersebut menyatakan bahwa output (Q) merupakan fungsi dari modal (C) dan tenaga kerja (L). Hal ini berarti tinggi rendahnya output tergantung pada cara menggabungkan modal dan tenaga kerja.

3. Teori Harrord dan Domar

Teori ini melihat bahwa modal mesti dipakai secara efektif, sebab peranan pembentukan modal berpengaruh besar pada pertumbuhan ekonomi. Teori ini juga membahas mengenai pendapatan nasional dan kesempatan kerja.

Mengutip kembali buku yang ditulis oleh Chumidatus Sa’diyah dan Dadang Argo P., menurut Harrord dan Domar, jika pembentukan modal telah dilakukan pada suatu masa, di masa berikutnya perekonomian akan mampu membuat produk dalam jumlah lebih besar.

Keinginan masyarakat dalam pembentukan modal ditentukan oleh permintaan agregat dari masyarakat dan oleh Marginal Efficiency of Capital (MEC), yaitu perbandingan antara pertambahan modal terhadap pertambahan output.

(AMP)