Konten dari Pengguna

4 Contoh Cerita Rakyat Pendek dari Berbagai Daerah di Indonesia

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 8 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Contoh cerita rakyat pendek, foto hanya ilustrasi: Unsplash/Annie Spratt
zoom-in-whitePerbesar
Contoh cerita rakyat pendek, foto hanya ilustrasi: Unsplash/Annie Spratt

Contoh cerita rakyat pendek bisa jadi bahan bacaan menarik untuk dibaca saat waktu luang. Apalagi ada banyak cerita rakyat dari berbagai daerah di Indonesia yang menghadirkan kisah seru untuk diketahui.

Dikutip dari buku Social Communication Studies (Jilid 1) Cerita Rakyat Batu Bara, Dr. Dailami, M.I.Kom., dkk., (2024:14), kekayaan budaya di Indonesia membuat cerita rakyat menyebar dengan cepat, bahkan setiap daerah memiliki ceritanya masing-masing. Kisahnya pun beragam dan menarik untuk diketahui.

Daftar isi

4 Contoh Cerita Rakyat Pendek yang Menarik untuk Dibaca

Contoh cerita rakyat pendek, foto hanya ilustrasi: Unsplash/Bhautik Patel

Dari banyaknya cerita rakyat yang ada di tanah air, ada beberapa kisah populer dan menarik untuk diketahui. Bagi yang tertarik dengan cerita rakyat tersebut, inilah contoh cerita rakyat pendek dari berbagai daerah di Indonesia yang menarik untuk dibaca.

1. Kisah Cinta Baridin dan Suratminah (Jawa Barat)

Dikutip dari situs cirebonkota.go.id.

Dahulu di Cirebon telah hidup seorang bujang lapuk bernama Baridin, parasnya jelek, juga dekil. Baridin anak seorang janda tua yang miskin namanya Mbok Wangsih.

Setelah kematian ayahnya, Baridin menjadi tulang punggung mencari sesuap nasi untuk dirinya dan Ibunya. Bukan tentang parasnya yang jelek maupun kemiskinan Baridin yang menjadi gempar rakyat Cirebon di zamannya, melainkan kisah cintanya yang berakhir dengan kematian.

Dikisahkan Baridin mencintai seorang gadis anak semata wayang seorang duda kaya di Cirebon, gadis itu bernama Suratminah. Gadis cantik dan kaya mana yang mau diperistri oleh bujang lapuk, miskin jelek lagi dekil? Begitulah gambaran keogahan Suratminah untuk diperisitri oleh Baridin.

Setelah Baridin terpikat pada Suratminah, Baridin memaksa ibunya untuk melamar gadis idamannya. Ibunya menolak karena baginya tidak mungkin seorang kaya raya menerima lamarannya.

Namun demikian Baridin terus mendesak supaya ibunya mau melamarkan gadis pujaannya. Bahkan Baridin mengancam akan bunuh diri jika sampai ibunya tidak mau menuruti kehendaknya.

Berdasar paksaan dan takut kehilangan anak satu-satunya, Mbok Wangsih pun memberanikan diri untuk melamar Suratminah. Sesampainya di rumah Suratminah, Mbok Wangsih diperlakukan tidak manusiawi, dihina, dicerca, dipukul, hingga diusir oleh Suratminah dan ayahnya.

Mendengar perlakukan kasar Suratminah pada Ibunya, Baridin marah besar, sekaligus merasa bersalah pada ibunya. Hinaan itulah yang membuat Baridin kehilangan akal sehatnya, ia seperti gila padahal tidak gila. Sedang di sisi lain ia tetap masih mencintai Suratminah.

Atas dorongan sakit hati dan rasa ingin menaklukan gadis pujaannya, Baridin kemudian mengambil jalan setan. Ia melakukan guna-guna, berpuasa 40 hari 40 malam tanpa makan, guna-guna tersebut diniatkan agar Suratminah tergila-gila padanya.

Guna-guna penakluk wanita di Cirebon disebut Kemat (pelet) adapun kemat yang Baridin amalkan adalah “Ajian Kemat Jaran Goyang”. Setelah 40 hari 40 malam, benar saja Suratminah mendadak tergila-gila pada Baridin, bujang lapuk yang dulu pernah ia dan keluarganya hina.

Suratminah bahkan berteriak-teriak, menangis dan memohon kepada bapaknya agar dinikahkan dengan Baridin. Suratminah menjadi gila. Mang Dam ayah Suratminah pun tidak menginginkan hal-hal buruk terjadi pada anaknya, oleh karena itu Mang Dam kemudian menuruti kehendak anaknya.

Mang Dam kemudian mengajak Suratminah untuk menemui Baridin dengan niat mengawinkannya. Namun sayang, nasi sudah menjadi bubur. Maka ketika Mang Dam menemui Baridin, ternyata Baridin sudah menjadi mayat.

Kematian Baridin disebabkan rasa sakit hati yang mendalam ditambah rasa lapar karena selama 40 hari 40 malam ia tidak makan walau sesuap. Sementara Suratminah setelah kematian Baridin menjadi orang gila yang dalam mulutnya hanya keluar kata-kata “Baridin, Baridin dan Baridin”.

Selanjutnya tidak beberapa lama kemudian Suratminah pun meninggal dunia. Sementara itu, Mbok Wangsih hari-harinya diliputi kesedihan karena kehilangan anak yang menafkahinya.

Demikian juga dengan Mang Dam hari-harinya diliputi dengan penyesalan dan kehilangan. Hingga pada akhirnya orang tua Baridin dan Suratminah juga meninggal dengan perasaan duka yang mendalam.

2. Tombak si Bagas Marhusor (Aceh)

Dikutip dari buku Rangkuman 100 Cerita Rakyat Indonesia: Dari Sabang Sampai Merauke, Irwan Rouf & Shenia Ananda, (2017:14).

Alkisah, di sebuah dusun terpencil di daerah Nanggroe Aceh Darussalam, hiduplah seorang janda bersama seorang anak laki-lakinya yang mahir bermain suling, bernama Banta Berensyah. Keduanya hidup sangat miskin.

Suatu hari, Banta Berensyah mendengar kabar dari seorang warga bahwa ada seorang raja yang mengadakan sayembara. Raja itu mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Putri Terus Mata.

Putri tersebut akan menerima lamaran bagi siapa saja yang sanggup mencarikannya pakaian yang terbuat dari emas dan suasa (campuran emas dan tembaga). Banta memutuskan untuk mengadu peruntungannya.

Dengan restu ibunya, ia pergi hanya berbekalkan sehelai daun talas dan suling miliknya. Dengan menumpang kapal pamannya, Banta Berensyah pun berlayar ke negeri lain dengan menggunakan sehelai daun talas, yang ternyata mampu menahan tubuhnya.

Setelah berhari-hari terombang-ambing di lautan, Banta Berensyah tiba di sebuah pulau yang mayoritas penduduknya adalah tukang tenun. Di sebuah rumah ia mendapati kain emas dan suasa yang sedang dicarinya.

Banta meminta kepada tuan rumah untuk memberikan kain tersebut kepadanya dan akan ia bayar dengan keahliannya memainkan suling. Dalam perjalanan ke rumah, kain emas dan suasa yang ia bawa dirampas pamannya yang sangat licik bernama Jakub.

Dengan susah payah, Banta mendatangi istana raja tetapi sampai di sana, pesta pernikahan putri dan Jakub telah berlangsung. Banta tidak dapat berbuat apa-apa. la tidak mempunyai bukti untuk menunjukkan kepada raja bahwa kain emas dan suasa yang dipersembahkan Jakub itu adalah miliknya.

Tiba-tiba muncul seekor burung elang di atas keramaian pesta sambil bersuara, "Klik.. klik... klik... kain emas dan suasa itu milik Banta Berensyah!". Akhirnya, raja dan Putri Terus Mata sadar bahwa Jakub adalah orang serakah yang telah merampas milik orang Iain.

Jakub yang tidak bisa menahan malu dan takut mendapat hukuman, langsung meloncat melalui jendela. Namun, saat akan meloncat, kakinya tersandung sehingga ia jatuh ke tanah dan tewas.

3. Legenda Panglima Angin (Bangka Belitung)

Dikutip dari buku Rangkuman 100 Cerita Rakyat Indonesia: Dari Sabang Sampai Merauke, Irwan Rouf & Shenia Ananda, (2017:35).

Di daerah Mentok, Bangka Barat, ada seorang laki-laki bernama Abang Daud. la selalu membuat keonaran di kampungnya. Suatu hari, ia ingin berguru pada seorang pendekar silat yang bernama Apek Long Guan.

Keinginannya tersebut diterima oleh sang guru dengan syarat ia harus merubah perilakunya. Sejak itu, Abang Daud menjadi murid Pek Long Guan. la dapat memahami dan menguasai jurus-jurus yang diajarkan kepadanya dengan sempurna.

Setelah menguasai semua ilmu yang diberikan oleh gurunya, ia pun mohon diri untuk merantau ke tanah Tanah Melayu (Palembang, Sumatera Selatan). Esoknya, Abang Daud berlayar ke Tanah Melayu dengan menumpang kapal milik Haji Ali dari Mentok.

Mereka pun tiba di Tanah Melayu bersamaan waktu maghrib. Saat itu terdengarlah suara ayam jantan berkokok tiga kali berturut-turut. Tanpa disadarinya, Abang Daud menjawab kokokan ayam tersebut.

Pada saat itu, seorang mata-mata Raja Palembang mengetahui hal tersebut. Maka ia segera dibawa menghadap sang panglima. Disana ia diadili dan dinyatakan telah melanggar adat Melayu dengan menjawab kokokan ayam yang berbunyi tidak pada waktunya.

Sebagai hukuman, ia dijadwalkan untuk bertarung melawan panglima Tanah Melayu. Selama awal pertarungan, panglima tersebut lebih banyak menyerang. Ketika sang panglima mulai kelelahan, Abang Daud berbalik menyerang dan seketika sang panglima jatuh terkapar tak sadarkan diri.

Raja pun segera mengangkat Abang Daud menjadi Panglima Tanah Melayu dengan gelar Panglima Angin. Rupanya hal tersebut kelamaan membuat penyakitnya kambuh lagi. la mulai membuat kekacauan lagi.

Pada suatu ketika, Panglima Angin kembali ke kampungnya. Mengetahui hal tersebut, Tumenggung Mentok memanggil Pek Long Guan. la memerintahkan guru itu menangkap muridnya tersebut.

Namun, hal itu sudah diketahui oleh Abang Daud. la pun menyusun strategi untuk mengalahkan gurunya itu. Suatu hari mereka berjalan bersama. Di tengah perjalanan, Abu Daud menendang gurunya hingga terpental dan berguling-guling di tanah.

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Apek Long Guan melayangkan sebuah tendangan keras pada tengkuk Abang Daud. Seketika muridnya yang durhaka itu terpental masuk ke dalam sungai dan tenggelam.

4. Asal Usul Nama Kota Palembang (Sumatera Selatan)

Dikutip dari buku Rangkuman 100 Cerita Rakyat Indonesia: Dari Sabang Sampai Merauke, Irwan Rouf & Shenia Ananda, (2017:30).

Dahulu kala, daerah Sumatera Selatan dan sebagian Provinsi Jambi berupa hamparan hutan belantara yang unik dan indah. Puluhan sungai besar dan kecil yang berasal dari Bukit Barisan, pegunungan sekitar Gunung Dempo, dan Danau Ranau mengalir di wilayah itu.

Sungai besar yang mengalir di wilayah itu di antaranya Sungai Komering, Sungai Lematang, Sungai Ogan, Sungai Rawas, dan beberapa sungai yang bermuara di Sungai Musi. Ada dua Sungai Musi yang bermuara di laut di daerah yang berdekatan, yaitu Sungai Musi yang melalui Palembang dan Sungai Musi Banyuasin agak di sebelah utara.

Daerah Sumatra Selatan dan sebagian Provinsi Jambi dikenal dengan nama Batanghari Sembilan. Sedangkan kota Palembang yang dikenal sekarang menurut sejarah adalah sebuah pulau di Sungai Melayu.

Pulau kecil itu berupa bukit yang diberi nama Bukit Seguntang Mahameru. Bukit Seguntang Mahameru menjadi terkenal karena tanahnya yang subur. Oleh karena itu, orang yang telah bermukim di Sungai Melayu, menamakan diri sebagai penduduk Melayu.

Wilayah itu dihuni oleh seorang dewi yang bernama Putri Ayu Sundari. Dewi ditemani dayang-dayangnya mendiami hutan rimba raya, lereng, dan puncak Bukit Barisan yang sekarang dikenal dengan Malaysia.

Suatu ketika ada sebuah kapal yang berisi tiga orang kakak beradik mengalami kecelakaan di pantai Sumatra Selatan. Mereka adalah putra raja Iskandar Zulkarnain. Mereka selamat dari kecelakaan dan terdampar di Bukit Seguntang Mahameru.

Mereka disambut oleh Putri Ayu Sundari. Tidak lama kemudian Putra tertua Raja Iskandar Zulkarnain, Sang Sapurba menikah dengan Putri Ayu Sundari dan kedua saudaranya menikah dengan keluarga putri itu.

Karena Bukit Seguntang Mahameru berdiam di Sungai Melayu, maka Sang Sapurba dan istrinya mengaku sebagai orang Melayu. Anak cucu mereka kemudian berkembang dan ikut kegiatan di daerah Lembang.

Nama Lembang semakin terkenal. Kemudian ketika orang hendak ke Lembang selalu mengatakan akan ke Palembang. Kata 'pa' dalam bahasa Melayu tua menunjukkan daerah atau Iokasi. Nama Lembang pun berubah menjadi Palembang.

Baca juga: 6 Contoh Teks Cerita Sejarah Fiksi sebagai Referensi

Berbagai contoh cerita rakyat pendek di atas dapat dibaca ketika memiliki waktu luang. Tidak hanya menghadirkan kisah yang seru, membaca cerita rakyat juga bisa menambah wawasan akan budaya dan sejarah daerah di Indonesia yang beraneka ragam. (PRI)