Konten dari Pengguna

4 Doa Meminta Hujan dan Tata Cara Salat Istiqa'

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi membaca doa meminta hujan. Foto: unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi membaca doa meminta hujan. Foto: unsplash

Doa meminta hujan dapat dipanjatkan saat kemarau berlangsung cukup lama hingga menyebabkan kekeringan. Sebagai salah satu anugerah dari Allah SWT, hujan dapat mengatasi kekeringan di suatu wilayah. Hujan juga dapat mengurangi cuaca panas dan mengatasi gagal panen.

Selain menunggu turunnya hujan saat terjadi kekeringan, umat Islam dapat berikhtiar dengan berdoa kepada Allah SWT. Sebagaimana dilakukan Nabi Muhammad SAW saat meminta hujan turun.

Umat Islam juga dianjurkan melakukan salat sunah istiqa' untuk memohon hujan turun. Dalam artikel ini akan dijelaskan apa saja bacaan doa meminta hujan dan tata cara salat istiqa.

Doa Meminta Hujan

Ilustrasi membaca doa meminta hujan. Foto: unsplash.com/LharCapili.

Ada beberapa doa meminta hujan yang dapat dilafalkan umat Islam. Berikut teks arab, latin, dan artinya yang dirangkum dari situs NU Online:

Doa 1

Doa pertama berisi permintaan hujan yang tak membahayakan tetapi bermanfaat dan menyuburkan tanah.

اللهمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا مَرِيْئًا مَرِيْعًا, نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ أٰجِلٍ

Allahummasqinna ghaitsam mughiitsam marii-am marii'an naafi'an ghaira dharrin 'aajilan ghaira aajil

Artinya: "Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, hujan yang lebat merata, mengairi, menyuburkan, bermanfaat tanpa mencelakakan, segera tanpa ditunda." (HR Imam Abu Dawud)

Doa 2

Doa kedua awal mulanya dipanjatkan atas permintaan seorang Badui yang mengunjungi Nabi Muhammad SAW dan bercerita binatang ternaknya banyak yang mati serta anak-anaknya kelaparan karena kelangkaan susu.

Nabi Muhammad SAW pun berdiri di atas mimbar, kemudian bertahmid dan memuji Allah. Dengan mengangkat kedua tangannya, Nabi membaca doa berikut untuk meminta hujan:

اللهمّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا سَرِيْعًا مَرِيْعًا غَدَقًا طَبَقًا، عَاجِلًا غَيْرَ رَائِفٍ، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ تَمْلَأُ بِهِ الضَّرْعُ، وَيَنْبُتُ بِهِ الزَّرْعُ وَتُحْيِي بِهِ الْأَرْضُ بَعْدَ مَوْتِهَا وَكَذَلِكَ تُخْرِجُوْنَ

Allahummasqinaa ghaytsan mughithan sarii'an mariyaan ghadaqan tabaqan, 'aajila ghayara raaifin, naafi'an ghayara dhaarin tamla'u bihi al-dhadru, wa yanbuthu bihi al-zara'u wa tuhyii bihi al-ardhu ba'da mautihaa wa kathalika tukhrijuun.

Artinya: "Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, hujan yang merata, segera, menyuburkan, lebat, merata, segera tanpa kelambatan, bermanfaat tanpa bahaya. Hujan yang dapat memenuhkan ambing (kantong kelenjar) susu binatang ternak, yang menumbuhkan tanaman, yang menghidupkan tanah setelah mati (karena kekeringan)."

Doa 3

Doa ketiga berisi permintaan diturunkan hujan untuk hamba Allah SWT dan binatang-binatang. Selain itu, meminta agar suatu daerah yang mati karena kekeringan agar dihidupkan kembali.

اللهمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ

Allahummasqi 'abaadaka wabahaa amika wansyur rahmataka wa ahyi baladakalmayyita

Artinya: "Ya Allah, turunkanlah hujan kepada hamba-hamba-Mu dan binatang-binatang (ciptaan)-Mu, sebarkanlah rahmat-Mu dan hidupkanlah negeri-Mu yang sebelumnya mati." (HR Imam Malik bin Anas)

Doa 4

Doa ini umumnya dipanjatkan setelah banyak orang mengeluh karena tanah-tanah mereka tandus akibat musim penghujan.

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهمَّ أَنْتَ اللهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ الْغَنِيُّ, وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ أَنْزِلْ عَلْيْنَا الْغَيْثَ وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ لَنَا قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَي حِيْنٍ

Alhamdulillahirobbil'alaminarrohmaani'rrohiimi malikiyaumiddiin. Allahumma anta allahulaa ilaahailla anta'lghaniy, wanahnu'fuqaraa u anzal 'alyna;ghaitsa waj'almaa anzalta lanaa quuwatan wa balaa ghan ilaihain.

Artinya: "Segala puji milik Allah, Tuhan seluruh semesta, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Tuhan yang menguasai hari pembalasan. Ya Allah, Engkau adalah Allah, tiada Tuhan kecuali Engkau yang Maha Kaya, sedangkan kami makhluk yang membutuhkan, turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan kepada kami sebagai kekuatan dan pencapaian hingga akhir masa."

Baca Juga: 4 Doa Pengantin Baru yang Bisa Diamalkan Setelah Ijab Kabul

Tata Cara Salat Istiqa'

Ilustrasi salat Istiqa' untuk meminta hujan. Foto: Pexels.com/Francesco Ungaro

Menyadur buku Fiqih Praktis Shalat Istiqa oleh Buya Yahya, salat istiqa merupakan salat yang dianjurkan ketika lama tidak turun hujan atau sumber mata air telah lama mengering. Salat ini hukumnya sunah serta tidak dianjurkan dilakukaan saat hujan mulai turun serta air telah mengalir dari sumbernya.

Adapun, tata caranya hampir sama dengan salat pada umumnya. Berikut petunjuknya:

  1. Salat istiqa' terdiri dari dua rakaat yang dilakukan tanpa adzan dan iqamah. Disunahkan untuk mengeraskan bacaan.

  2. Membaca niat salat istiqa', yakni:

أصلي سنة الاستسقاء ركعتين مستقبل القبلة اماما/ماموما لله تعالى

Ushallii sunnatal istisqaa'i rak'ataini ma'muuman lillaahi ta'aalaa.

Artinya: "Aku menyengaja salat sunah meminta hujan dua rakaat sebagai makmum karena Allah SWT."

  1. Pada rakaat pertama, lakukan takbir sebanyak tujuh kali setelah takbiratul ihram. Pada rakaat dua, lakukan takbir sebanyak lima kali selain takbir ketika bangun dari sujud.

  2. Kedua tangan diangkat setiap takbir sembari memuji Allah SWT dan bersalawat kepada Rasulullah SAW antara setiap akhir takbir.

  3. Rakaat pertama disunahkan membaca surat Al-'Ala, sementara rakaat kedua disunahkan membaca surat Al-Ghaisayah.

  4. Setelah salat, imam disunahkan untuk menyampaikan khutbah di depan jamaah yang hadir, membaca istigfar, membaca Al-Quran, dan doa usai salat istiqa'. Saat membaca doa, dianjurkan untuk mengangkat tangan setinggi-tingginya.

  5. Imam juga dianjurkan untuk menghadap ke kiblat lalu membalik selendangnya. Jika awalnya selendang tersebut berada di sebelah kanan, maka imam dianjurkan membalik posisinya ke sebelah kiri, begitu pun sebaliknya. Proses ini dilakukan sambil melantunkan doa kepada Allah SWT.

Adapun, salat istiqa' dilakukan saat matahari mulai beranjak naik setinggi satu anak panah, yakni sepertiga jam usai terbitnya matahari atau sama seperti waktu pelaksanaan salat id. Hal tersebut dijelaskan dalam hadis berikut:

"Rasulullah pergi menunaikan salat istiqa' ketika tampak penghalang matahari (berupa bulatannya)." (HR Abu Dawud)

(NSF)