5 Oktober Memperingati Hari Tentara Nasional Indonesia (TNI)

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam kalender Gregorian, tanggal 5 Oktober adalah hari ke-278. Pada tanggal ini terjadi serangkaian peristiwa penting di dalam negeri. Berikut ini beberapa peristiwa penting pada tanggal 5 Oktober.
Tanggal 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Tentara Nasional Indonesia (TNI)
Tentara Nasional Indonesia (disingkat TNI) adalah nama untuk angkatan bersenjata dari negara Indonesia.
Lembaga ini bernama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada awal pembentukannya dan kemudian berubah menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) sebelum berganti nama menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). TNI terdiri dari tiga angkatan bersenjata, yaitu Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara. TNI dipimpin oleh seorang Panglima TNI, sedangkan setiap angkatan dipimpin oleh seorang Kepala Staf Angkatan.
TNI pernah berintegrasi dengan POLRI pada masa Demokrasi Terpimpin hingga era Orde Baru. ABRI Singkatan (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) digunakan secara kolektif untuk menggambarkan penggabungan ini.
RUU TNI disahkan oleh DPR pada 30 September 2004 yang kemudian ditandatangani oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 19 Oktober 2004.
Serentetan Peristiwa 5 Oktober
901 - Prasasti Kayu Ara Hiwang ditemukan di Desa Boro Wetan, Banyuurip, Purworejo dan kemudian menjadi hari jadi Kabupaten Purworejo.
1991 - Pesawat C-130 Hercules milik TNI AU jatuh di Jakarta Timur, menewaskan 137 orang di dalamnya.
1999 - Meyer Ardiansyah, mahasiswa Universitas IBA Palembang, tewas ditikam saat memprotes RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya di depan Markas Besar Kodam II Sriwijaya.
Meninggalnya Radin Intan II
Radin Intan II (lahir 1 Januari 1834 – 5 Oktober 1858) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Namanya telah diabadikan sebagai nama bandara, kampus, dan halte busway.
Radin Intan II masih keturunan Fatahillah dari pernikahannya dengan Putri Sinar Alam, putri dari Minak Jalan Ratu, cikal bakal pemegang di kekuasaan kebandakhan keratuan, menurut penelitian. Radin Intan II putra tunggal Radin Imba II. Radin Imba II, putra sulung Radin Intan I, diberi gelar dalam Kesuma Ratu IV. Oleh karena itu Radin Intan II adalah cucu dari Radin Intan I.
Radin Intan II tidak pernah mengenal ayah kandungnya, namun ibunya selalu menceritakan perjuangan ayahnya, sehingga ketika dinobatkan sebagai Ratu Negara, Radin Intan II terus berjuang untuk memimpin masyarakat di wilayah Lampung Selatan untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayahnya.
