Konten dari Pengguna

50 Contoh Cerpen Singkat dengan Berbagai Tema dan Syarat Makna

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 20 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi contoh cerpen singkat. Foto: pexels.com.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi contoh cerpen singkat. Foto: pexels.com.

Daftar isi

Mencari contoh cerpen singkat dapat menjadi salah satu tugas sekolah Bahasa Indonesia. Cerpen merupakan karya fiksi yang sudah dipelajari saat sekolah dasar maupun sekolah tingkat menengah.

Mengutip buku Mengenali dan Menuliskan Ide Menjadi Cerpen oleh I Wayan Kerti, cerpen adalah singkatan dari cerita pendek. Cerpen merupakan hasil sastra yang menceritakan suatu kejadian dalam kehidupan pelakunya.

Panjang pendeknya sebuah cerpen adalah hal yang relatif, sesuai keinginan penulis. Sebagai pedoman umum, cerpen umumnya ditulis dari 250 kata sampai 10.000 kata. Cerpen yang sangat pendek umumnya terdiri dari 250 kata sampai 750 kata.

Cerpen yang sangat pendek itu lazimnya disebut cerita mini atau cermin. Sementara itu, cerpen yang ditulis sampai 10.000 kata disebut cerpan atau cerita panjang. Cerpen yang ideal mempunyai isi 3.000 sampai 4.000 kata dengan bahasa dan isi yang mudah dipahami.

Kumpulan Contoh Cerpen Singkat

Ilustrasi contoh cerpen singkat. Foto: pexels.com.

Ada banyak contoh cerpen singkat dengan berbagai tema dan penggambaran berbagai watak dari tokoh yang ditulis. Melalui cerita tersebut, setiap penulis juga menyelipkan berbagai pesan moral yang dapat dipelajari.

Dikutip dari buku Kumpulan Cerita Pendek Cerita di Balik Lirik Lagu oleh Suprihadi, buku Bahasa Indonesia oleh Agus Supriatna dan beberapa sumber lainnya, berikut contoh cerpen singkat dengan berbagai tema yang bisa dipelajari.

1. Diskusi Menyusun Strategi - Suprihadi

Ilustrasi contoh cerpen singkat. Foto: pexels.com.

Pertemuan outdoor membawa konsekuensi molor. Lokasi pertemuan yang jarang dikunjungi, membuat akses ke sana kurang dikenal. Namun, kesepakatan sudah bulan tentang lokasi pertemuan. Dosen sastra dan para mahasiswa sepakat.

“Terlambat lima belas menit itu masih wajar,” ucap pak dosen. “Toleransi keterlamabatan memang segitu, ya, pak?” tanya Faisal dengan serius. “Sebenarnya tidak ada toleransi, kita harus menepati waktu. Namun, halangan dalam perjalanan menuju tempat kegiatan tak dapat diprediksi.

Misalnya kendaraan mogok. Ada kecelakaan di jalan sehingga kita terlibat untuk membantu atau hal-hal yang diluar kemampuan kita untuk menghindari”.

“Kalau terlambat bangun sehingga terlambat berangkat termasuk yang mana, Pak?”

“Itu termasuk kesalahan manajemen waktu. Jika kita usdah membuat jadwal dan berusaha mengelola dengan baik, alasan bangun terlambat tidak dapat diterima. Bukankah ada alarma dari HP atau jam meja? Hanya orang malaslah yang suka bangun terlambat.”

“Maaf, Pak. Teman-teman yang hadir sudah tujuh pula lima persen. Apakah diskusi bisa dimulai? Tutur Kurniawan yang sering diapanggil Iwan.

Ucapan ketua kelas itu, ditanggapi pak dosen dengan senyum. Para mahasiswa yang sudah duduk mengelilinginya sangat antusias mendengarkan. Apapun kalimat yang dilontarkan dosen favorit mereka akan menjadi bahan diskusi yang seru.

“Silahkah dipimpin berdoa terlebih dahulu!” ucap pak dosen. Iwan pun dengan sungguh-singguh mengajak teman-temannya untuk berdoa bersama. Pertemuan diluar kampus seperti itu jarang mereka lakukan. Meskipun begitu, antuasiasme mahasiswa sangat besar. Pasti akan ada sesuatu yang baru dari hasil pertemun outdoor.

“Langsung saja saya sampaikan bahwa untuk pertemuan di kelas mulai besok,kalian akan tampil satu per satu untuk melakukan presentasi. Ya seperti saya kalau sedang memberi kuliah. Ada bahan tayangan yang harus ditampilkan. Ada pula materi audio yang diperdengarkan.”

“Maksudnya gimana, to , Pak?” tanya Siska yang masih belum paham. “Saya ulangi ya, untuk mata kulih sastra dari saya, mulai besok kalian satu per satu. Maksudnya satu pertemuan satu mahasiswa tampil seperti saya. Istilahnya melakukan presentasi”.

“Terus, apa yang dibahas, pak? Apakah mengulang materi yang pernah Bapak sampaikan atau gimana?” tanya Ansori dengan mimik yang kurang sedap dipandang.

“Pertanyaan yang cerdas. Begini, mulai hari ini sehabis pertemuan di sini, kalian harus berselancar di dunia maya, buka internet. Apa yang dicari? Ya. Kalian cari lirik lagu atau syair lagu.

Ada dua ketentuan tentang ciri-ciri lirik lagu yang harus dicari. Pertama, dalam lirik lagu ada nama tempat, nama wilayah, nama kota, atau nama negara yang disebut-sebut.

“Contohnya, Pak!” ucap Udin yang duduk di belakang pak dosen. “Misalnya ada di antara kalian yang pernah ke Pulau Bal. Ada kesan khusus terhadap pulau itu. Cari saja dalam kotak pencarian web dengan Pulau bali’.Nanti yang akan muncul banyak pilihan. Silakan pilih lirik lagu yang kalian suka untuk dijadikan bahan presentasi”.

“Begini, Pak. Misalnya kami sudah tahu judul lagunya, Denpasar Moon, berati kami tinggal menari lirik lagi itu ya, pak!”. “Betu sekali. Jika judul lagunya suah tahu, ya tinggal cari liriknya, dikopi dan dibuat tayangan power point-nya.”.

“Ayo buka memori kalian. Judul lagu apa lagi yang sudah memakai nama kota atau nama tempat?”

“Halo-halo Bandung, Pak.”

“Bagus!”

“Antara Anyer dan Jakarta, Pak!”

“Ya”

“Dari Sabang sampai Merauke, Pak.”

“Ya, berjajar pulau-pulau khan?”

Tawa pun terdengar serempak. Antusiasme para mahasiswa membuat diskusi semakin hidup. Masing-masing ingin ikut berperan aktif dalam diskusi untuk persiapan kegiatan perkualian di kelas pada pertemuan mulai besok.

“ Baik. Baik. Saya lanjutkan . Itu tadi ciri lirik lagu yang pertama yang harus kalian dapatkan. Apa tadi?”.

“Ada nama tempat atau nama kota, Pak!” jawab Cici Cepat.

“Selanjutnya akan saya sampaikan ciri lirik lagu yang kedua. Untuk ciri yang kedua ini terkait dengan pemilihan lirik yang baik, sopan, santun, dan tidak bertentangan dengan sara. Paham, kan?”

Paham, pak!” jawab sebagian besar mahasiswa serempak.

“Langkah berikutnya setelah menemukan satu lirik lagu, kalian harus menelaah lagu itu. Dicari nama tempat dalam lirik lagu itu. Kemudian dicari pelaku atau tokoh dalam lirik lagu. Selanjutnya, dicari inti sari atau rangkuman dari lirik lagu itu.”

“Semacam sinopsis, gitu, ya, pak!”. “Kurang lebih seperti itu. Bisa dimengerti?” tanya pak dosen lagi. “mengerti, Pak!”.

Tidak sampai di situ saja. Kalian harus mencari minimal satu lirik lagu lagi untuk pembanding. Maksudnya, kalian harus dapat menemukan lirik lagu berbeda yang isinya mirip dengan lirik lagu pertama yang kalian temukan. Dengan begitu, ada pembanding. Uraikan, apa perbedaan dan persamaan kedua lirik lagu tersebut.”

“Jika ada dua, tiga, empat, bahkan lima lirik lagu yang mirip atau cocok dijadikan bahan pembanding, semua harus kalian salin atau dikumpulkan.”

“Misalnya kalian menemukan lirik lagu bertema kasih sayang seorang ibu, cari lirik lagu lain yang mirip. Bisa sama isinya, bisa bertolak belakang isinya. Misalnya, lirik lagu pertama bercerita tentang perhatian yang sangat besar terhadap anaknya. Kemudian kalian menemukan lirik lagu lain bercerita tentang kejamnya ibu tiri, itu akan menarik untuk dibahas.”

“Waktu presentasi sangat singat. Untuk itu, kalian harus pandai mengelola waktu. Ingat, untuk memutar sebuah lagu perlu waktu berapa menit, padahal kalian harus memutar minimal dua lagi.”

Setiap mahasiswa mencatat penjelasan pak dosen. Sebagian lagi merekam di hpnya. Ada pula yang mengetik laptop. Mahasiwa zaman sekarang memang banyak pilihan untuk membuat dokumen atau catatan.

Pak dosen melihat arloji di tangannya. Sebelum berbicara lagi, ia tersenyum kepada semua mahasiwa yang sedang berpikir untuk persiapan presentasi. Kedua kakinya diluruskan kemudian badannya ditegakkan.

“Saya ada jadwal, di tempat lain lima belas menit lagi. Saya permisi dulu. Silakan kalian mulai berselancar di dunia maya. Oh, yan anti sore kita pukul setengah lima akan saya adakan undian live di akun media sosial saya. Undian untuk menentukan siapa yang harus tampil presentasi perdana besok."

“ Cara mengundinya bagaimana pak?” tanya Udin penasaran. “Lihat saja nanti, ya!”.

Perlahan-lahan pak dosen berjalan meninggalkan tempat pertemuan itu menuju mobil pribadinya yang terparkir tidak jauh dari gazebo di sana.

Sang sopir sudah berdiri di dekat pintu mobil. Udara yang sejuk di tempat itu membuat nyaman dan tenang. Begitu mobil pak dosen berlalu, Kurniawan, sang ketua, sekarang yang menjadi pusat diskusi. Maksudnya Iwan dikerumuni teman-temannya untuk diskusi lanjutan.

“Beberapa mahasiswa yang tadi kurang paham, berkesempatan untuk menanyakan kepada sang ketua kelas. Dengan sabar Iwan yang cukup cerdas di kelasnya itu menjawab satu per satu permasalahan yang masih dihadapi temannya.

“Untuk buat tayangan power point, nanti saya minta dibantu, ya!” tutur Ita manja. “Ah, gampang itu. Setengah jam juga selesai,”. Jawab Dirman.

Baca Juga: Struktur Cerpen Lengkap dengan Pengertian dan Ciri-cirinya

2. Hutan Merah - Fauzia. A

Ilustrasi contoh cerpen singkat. Foto: pexels.com.

Matahari bersinar terik di Lampung. Sinarnya terhalang rimbunnya pepohonan, sehingga hanya menyisakan berkas tipis. Burung-burung berkicau seolah sedang menyanyikan lagu untuk alam.

Bunyi riak jernih sungai beradu dengan batu kali berpadu dengan sahutan dari beberapa penghuni hutan yang lainnya. Ya, inilah tempat tinggal Bora, si anak gajah Lampung yang sekarang tengah asyik bermain bersama teman-temannya di sebuah sungai.

Ketika Bora menyemprotkan air ke arah Dodo—anak gajah lainnya—dengan belalainya, ia pun memekik nyaring. Sampai akhirnya, kegembiraan mereka terpecah oleh bunyi bising dari sebelah utara hutan. Bunyi bising itu bercampur dengan deru sesuatu yang sama sekali tidak Bora kenal.

“Hei, lihat itu!”

Semua serentak menghentikan kegiatan mereka dan menengok ke langit yang ditunjuk Dodo. Asap hitam tebal yang membumbung tinggi dari sana. Asap itu semakin tebal dan terus menebal. Itu merupakan fenomena aneh yang baru pertama kali mereka saksikan. Selama ini yang mereka tahu, langit selalu berwarna biru cerah dengan awan putih berarakan.

Keheningan hutan itu kemudian pecah saat Teo tiba-tiba saja datang sambil memekik nyaring, “Hutan terbakar! Hutan terbakar!”

Semua ikut memekik ketakutan. Hutan terbakar! Tempat tinggal mereka terbakar!

“Bora! Apa yang kau lakukan!? Cepat pergi!” Pipin berteriak sambil menarik belalai Bora dengan belalainya..

Suasana hutan yang tadinya damai tenteram, seketika menjadi neraka bagi semua hewan. Asap hitam pekat yang mulai menyelimuti seluruh hutan ini. Suhu udara mulai panas, membuat para hewan makin berteriak nyaring.

Bora panik bukan main. Sambil mengikuti langkah Pipin, matanya bergerak ke sana-ke mari, mencari sosok ibunya.

“Pipin! Di mana ibuku?” tanya Bora.

“I-ibu … ibumu ….” Pipin tidak bisa menjawab karena sama-sama tidak tahu di mana ibu Bora berada.

“Aku harus kembali ke sarang!” Bora melepaskan belalainya dari belalai Pipin, lalu berbalik untuk kembali ke sarangnya.

Namun, sebelum Bora melancarkan niatnya itu, Pipin sudah menarik kembali belalainya. “Ibumu pasti sudah berada di depan. Bersama gajah dewasa lainnya.”

Bora menghiraukan ucapan Pipin, lalu kembali meloloskan belalainya dan berlari sekuat mungkin menuju sarangnya.

“Bora!” Pipin berteriak di belakangnya.

Bora sampai di dekat sarangnya berada dengan napas terengah. Ia langsung membelalakkan mata begitu melihat sosok ibunya sedang bersusah payah keluar dari sarang. Api sudah menjalar di setiap pohon di dekat sarangnya itu.

“Ibu!” teriak Bora sekuat tenaga.

“Sedang apa kamu?! Cepat pergi dari sini!” teriak ibu Bora sambil menggerakkan belalainya, menyuruh Bora menjauh dari tempat ini.

“Tidak! Aku tidak mau!” balas Bora keras kepala. Kenapa ibunya masih bisa berkata seperti itu? Padahal jelas-jelas ia dalam keadaan terjebak api?

“Cepat pergi, Bora!”

“Bora! Ayo pergi!” Tiba-tiba saja Pipin datang ke tempatnya dan langsung menarik belalai Bora.

“Tidak mau!” Bora menyentak belalai Pipin keras. “Ibu! Aku akan menyelamatkanmu!”

“Jangan, Bora!” bentak Pipin

Kraaak! Braaak!

“IBU!! IBU!!” Bora terus meraung memanggil ibunya. Pohon yang sedang terbakar itu jatuh dan kemudian menimpa tubuh payah ibu Bora.

“Ayo, Bora, kita harus pergi,” lirih Pipin sambil menarik Bora.

Sekali lagi Bora menoleh ke belakang saat dirinya sudah cukup jauh dari sarangnya. Tidak ada lagi hutan hijau dengan tumbuhan rindang di sekitarnya. Hutan hijau yang selalu ia kagumi sudah berubah menjadi hutan merah yang sangat panas.

3. Wanita Berwajah Penyok - Ratih Kumala

Ilustrasi contoh cerpen singkat. Foto: pexels.com.

Seperti apakah rasanya hidup menjadi orang yang tak dimaui? Tanyakan pertanyaan ini padanya. Jika dia bisa berkata-kata, maka yakinlah dia akan melancarkan jawabnya. Konon dia lahir tanpa diminta. Korban gagal gugur kandungan dari seorang perempuan. Hasil sebuah hubungan gelap yang dilaknat warga dan Tuhan.

Perempuan yang saat ini disebut “ibunya” bukanlah ibu yang sebenarnya. Dia hanya inang yang berkasihan lalu bergantian menyusui lapar mulut dua orang bayi; bayi berwajah penyok yang dibuang orang di pinggir kampung.

Suatu hari yang biasa; siang terang dan wanita berwajah penyok tengah keliling kampung sendiri saat anak-anak kecil sepulang sekolah itu mulai mengekori dan menyambut punggungnya di belakang.

Maka, wanita berwajah penyok mengambil sebongkah batu. Tangannya yang dekil melemparkan batu itu ke arah anak-anak. Seorang anak bengal berkepala peyang terkena timpukannya. Membuat jidatnya terluka. Darah segar mengucur dari situ, mengubah seragam putihnya menjadi merah. Dia pulang ke rumah mengadu kepada ibunya, sementara anak-anak lain menjadi takut dan bubar satu-satu.

Dengan terpaksa, keluarga wanita berwajah penyok akhirnya memutuskan untuk memasung dirinya pada sebuah ruangan kecil yang tak bisa disebut manusiawi dekat tanah pekuburan. Sejak itu wanita berwajah penyok tinggal di dalamnya. Bulan berganti tahun, tanpa tahu itu malam atau siang.

Seperti apakah rasanya hidup dalam sepi? Tanyakan pertanyaan ini kepadanya. Maka, yakinlah jika dia bisa berkata-kata, dia akan melancarkan jawabannya. Tak ada yang benar benar tahu apa yang dia kerjakan di dalam sana walau kadang terdengar suaranya berteriak untuk berontak. Ini hanya menambah ngeri tanah pekuburan.

Orang-orang mengira itu suara kuntilanak jejadian penghuni kuburan. Tak pernah ada orang yang benar-benar mendekat. Wanita berwajah penyok telah lupa bahasa tanpa ia pernah benar-benar menguasainya.

Andai kata suatu saat dia bisa terbebas dari pasungnya, orang akan bertanya bagaimana ia bisa bertahan hidup? Sebab ia telah menjadi sendiri.

Pada malam yang biasanya kelam nan pekat, kini wanita berwajah penyok bisa mendapat segaris cahaya dari celah lubang tadi. Kepalanya didongakkan ke atas, dia bisa melihat rembulan. Bertahun dia tidak melihat rembulan hingga ia lupa bahwa yang dilihatnya adalah rembulan.

Untuk pertama kalinya dalam periode tahunan pasungnya, ia merasa bahwa dirinya punya teman. Dia mulai berkenalan. Dengan bahasa yang hanya ia mengerti, ia bercakap-cakap dengan bulan. Dia selalu menunggu teman barunya untuk berkunjung dan bercakap-cakap dengannya setiap malam.

Namun, semakin hari bentuk wajah rembulan semakin sempit dan cekung. Mengecil dan terus mengecil hingga hanya menjadi sabit. Air muka rembulan juga semakin pasi.

Semakin hari sabit rembulan jadi kembali membulat walaupun wajahnya masih pasi. Saat bulan bulat penuh, wanita berwajah penyok girang sekali sebab ini berarti dirinya berhasil menghibur teman baiknya. Tapi suatu hari rembulan kembali menyabit dan seperti yang sudah-sudah, wanita berwajah penyok tak pernah bosan menghiburnya dengan bahasanya sendiri hingga rembulan bulat penuh. Terus seperti itu.

Hingga suatu malam, sehari setelah bulan benar-benar sabit, rembulan tidak datang mengunjunginya. Ia sedih sekali dan mengira rembulan tak mau menemuinya. Malam itu hujan turun deras. Wanita berwajah penyok berpikir bahwa rembulan sedang menangis. Maka dia ikut menangis pula, kesedihan mendalam sahabatnya, dan sekali lagi, dengan bahasa yang hanya bisa dia mengerti, dirinya berusaha membujuk bulan dan menghiburnya.

Dia tak pernah bosan. Tetapi, langit tetap hujan, rembulan terus menangis. Tetesan air masuk dari celah atap ruang pasung yang menjadi bocor. Menimpa kepala wanita berwajah penyok dan membuat dirinya kebasahan.

Lelah, wanita berwajah penyok tertidur. Ia menggigil hebat tanpa ada orang yang tahu keadaannya. Paginya ia terbangun oleh segaris sinar yang masuk dari celah atap. Sinar kecil itu jatuh ke kubangan air yang menggenang. Dirasakannya tubuhnya demam. Tetapi, begitu dia terbangun yang diingatnya hanyalah rembulan.

Siang telah menjelang, ini berarti rembulan telah pulang ke rumahnya setelah semalam bersembunyi di balik awan sambil menangis. Ia menyesal tak bisa melihat wajah rembulan malam tadi.

Didekatinya genangan air tadi. Genangan yang tak jernih. Ia berwarna coklat karena bercampur debu. Sebuah bayangan ada di sana. la tersenyum dan menemukan wajah rembulan di sana. Lalu dia tertidur tanpa merasa perlu bangun lagi sebab bersama sahabat di dekatnya.

4. Dilema Nara - Alya Khalisah

Ilustrasi contoh cerpen singkat. Foto: pexels.com.

Nara terbangun karena sinar matahari menembus jendela kamarnya yang entah sejak kapan terbuka. Sejenak, ia hanya menatap langit-langit kamar. Matanya masih terasa sembab, sisa tangisan tadi malam.

Kemudian, Nara bangun dan duduk di sisi ranjang kecilnya. Gadis itu memandang sekeliling kamar, dan tiba-tiba, suara pecahan kaca terdengar dari luar.

Nara menutup kedua telinganya kuat-kuat, enggan mendengar apa pun. Setetes bening air matanya bergulir di pipi. Wajahnya dibenamkan dalam kedua telapak tangan yang lemah. Rasanya ia sudah tak sanggup lagi hidup dalam situasi seperti ini. Ia tak kuat hidup dalam lingkaran kesedihan yang menggiringnya menuju kegilaan.

Nara berjalan perlahan ke luar rumah, di antara jalanan sepi sambil menundukkan kepala seolah malu dunia melihatnya. Ia menatap siluet hitamnya di antara bayang-bayang pepohonan dan rumah. Nara berhenti melangkah saat seseorang menghalangi bayangannya.

“Ada yang ingin kukatakan padamu.” Orang itu mulai berbicara kepadanya.

Nara mendongak. Wajahnya terasa familiar.

“Kenapa?” Gadis itu bertanya dengan wajah datar, tapi Nara hanya diam. “KENAPA KAMU HARUS LAHIR DI DUNIA INI?!” Ia mulai membentak.

Gadis itu melayangkan telapak tangannya ke pipi Nara. “PERGI!”

Nara tak sanggup menatap lawan bicaranya. Ia hanya memegang pipinya yang terasa nyeri karena tamparan barusan. Hilanglah dari dunia ini, dasar penghancur keluarga orang! hardik gadis itu. Nara terisak diiringi suara teriakan gadis itu di telinganya. Tetesan bening meleleh, merayapi sudut wajahnya.

Nara adalah anak perempuan biasa yang hidup dengan kasih sayang utuh dari orang tua. Ia hidup berkecukupan, bahkan lebih. Semula, ia mengira hidup dalam zona kesempurnaan. Tetapi ternyata, semua itu hanya bualan. Ayahnya, ternyata, seorang pria yang telah berkeluarga. Saat itulah ia menyadari, ibunya adalah istri kedua ayahnya.

Keluarganya tidak diinginkan oleh semua orang. Ibunya dianggap wanita yang tak punya harga diri. Tidak ada yang sudi berbagi nafas dan tempat dengan keluarga Nara. Mereka tidak pernah mau tahu separah apakah kerusakan jiwa yang mendera orang yang mereka cemooh.

Istri pertama ayah Nara adalah sahabat dekat ibu Nara. Sahabat dekat yang saling mengaitkan janji satu sama lain sejak duduk di bangku sekolah untuk tidak mengkhianati. Begitu istri pertama ayahnya mengetahui apa yang telah terjadi, ia tentu syok berat. Suami yang ia cintai, berpaling darinya. Sahabat yang paling ia percaya, mengkhianatinya dalam waktu yang sama.

Nina, anak istri pertama ayahnya, pun tak percaya. Ia nyaris pingsan saat ayahnya mengungkapkan hal itu sendiri. Selanjutnya, teror mulai berdatangan sebagai tanda balas dendam. Mulai dari pecahnya kaca jendela di rumah, hingga lemparan api untuk rumahnya.

“Na?” Lamunan Nara terhenti. Gadis itu tetap diam, memandang kosong.

“Nara? Sayang, kamu ada di dalam, kan?” Panggilan itu tak membuat Nara beranjak dari posisi yang nyaman bagi dirinya. Kemudian ketukan demi ketukan tak bernada mulai terdengar dari balik pintu.

“Nara, buka pintunya, Sayang. Ibu mau bicara mengenai kepindahan kita,”

Memang, keluarganya berencana untuk pindah. Pindah ke wilayah yang cukup jauh untuk mengubur kelamnya masa lalu dan melanjutkan hidup. Tapi baginya, pindah rumah hanyalah bentuk pelarian diri. Raganya takkan teraniaya lagi. Namun, jiwa dan pikirannya telah menyatu dengan frustasi berkepanjangan yang diderita Nara selama ini. Ia tetap tidak akan hidup dalam damai seperti sebelumnya.

Nara bergeming. Dalam pikirannya yang kalut, ia mengingat Nina. Gadis itu ingi ia lenyap dari dunia ini. Ia ingin Nara musnah. Nara tahu apa artinya itu.

Nara memandangi tubuh kakunya yang ditumpahi tangisan dan penyesalan yang terlontar dari ayah dan ibunya. Ia tertegun dan mengingat kejadian yang terasa begitu cepat.

Awalnya, ia berniat memutuskan urat nadi tangan kirinya dengan gunting hijau kesukaannya. Awalnya, ia tidak mau melihat orangtuanya menangis hebat sambil memeluknya. Awalnya, ia ingin merasakan rasa sakit yang mendera jiwanya lebih lama lagi. Namun, saat ia menutup mata dan menguatkan diri atas segala risiko perbuatannya nanti, seberkas cahaya putih menyinari dirinya. Sesaat, ia pikir cahaya itu hanya datang dari luapan fantasinya ketika ia sudah berhasil mati. Kemudian Nara tahu, kematiannya akan membawa segala keadaan berubah menjadi baik. Inilah yang diinginkan semua orang.

Nara tersenyum. Sedikit pun, ia tak merasakan kesedihan. Ia hanya merasakan gema bebas dan damai berdengung dalam pikirannya. Sekarang, ia tak perlu lagi menerima berbagai bentuk kekerasan mental dari orang-orang di sekitarnya. Ia sudah bebas dan hidup dalam kedamaian yang dirindukan.

Nara menutup matanya, merasakan seluruh sensasi dan kenikmatan damai yang mengalir di sekujur tubuhnya. Berkas-berkas cahaya itu kembali datang dan menyinari tubuhnya, menuntun gadis kecil itu menuju dimensi lain. Dimensi yang akan membawanya menuju keabadian.

5. Ketika Laut Marah - Widya Suwarna

Ilustrasi contoh cerpen singkat. Foto: pexels.com.

Sudah empat hari nelayan-nelayan tak bisa turun ke laut. Pada malam hari, hujan lebat turun. Gemuruh gelombang, tiupan angin kencang di kegelapan malam seolah-olah memberi tanda bahwa alam sedang murka, laut sedang marah. Bahkan, bintang-bintang pun seolah tak berani menampakkan diri.

Nelayan-nelayan miskin yang menggantungkan rezekinya pada laut setiap hari bersusah hati. Ibu-ibu nelayan terpaksa merelakan menjual emas simpanannya yang hanya satu dua gram untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Mereka yang tak punya benda berharga terpaksa meminjam pada lintah darat.

Namun, selama hari-hari sulit itu, ada pesta di rumah Pak Yus. Tak ada yang menikah, tak ada yang ulang tahun, dan Pak Yus juga bukan orang kaya. Pak Yus hanyalah nelayan biasa, seperti para tetangganya.

Pada hari-hari sulit itu, Pak Yus menyuruh istrinya memasak nasi dan beberapa macam lauk-pauk banyak-banyak. Lalu, ia mengundang anak-anak tetangga yang berkekurangan untuk makan di rumahnya. Dengan demikian rengek tangis anak yang lapar tak terdengar lagi, diganti dengan perut kenyang dan wajah berseri-seri.

Kini tibalah hari kelima. Pagi-pagi Ibu Yus memberi laporan, “Pak, uang kita tinggal 20.000. Kalau hari ini kita menyediakan makanan lagi untuk anak-anak tetangga, besok kita sudah tak punya uang. Belum tentu nanti sore Bapak bisa melaut!”

Pak Yus terdiam sejenak. Sosok tubuhnya yang hitam kukuh melangkah ke luar rumah, memandang ke arah pantai dan memandang ke langit. Nun jauh di sana segumpal awan hitam menjanjikan cuaca buruk nanti petang.

Kemudian, ia masuk ke rumah dan berkata mantap, “Ibu pergi saja ke pasar dan berbelanja. Seperti kemarin, ajak anak-anak tetangga makan. Urusan besok jangan dirisaukan.”

Ibu Yus pergi ke dapur dan mengambil keranjang pasar. Seperti biasa, ia patuh pada perintah suaminya. Selama ini Pak Yus sanggup mengatasi kesulitan apa pun. Sementara itu Pak Yus masuk ke kamar dan berdoa. la mohon agar Tuhan memberikan cuaca yang baik nanti petang dan malam. Dengan demikian para nelayan bisa pergi ke laut menangkap ikan dan besok ada cukup makanan untuk seisi desa.

Siang harinya, anak-anak makan di rumah Pak Yus. Mereka bergembira. Setelah selesai, mereka menyalami Pak dan Bu Yus lalu mengucapkan terima kasih.

“Pak Yus, apakah besok kami boleh makan di sini lagi?” seorang gadis kecil yang menggendong adiknya bertanya. Matanya yang besar hitam memandang penuh harap.

Ibu Yus tersenyum sedih. la tak tahu harus menjawab apa. Tapi dengan mantap, dengan suaranya yang besar dan berat Pak Yus berkata, “Tidak Titi, besok kamu makan di rumahmu dan semua anak ini akan makan enak di rumahnya masing-masing.”

Titi dan adiknya tersenyum. Mereka percaya pada perkataan Pak Yus. Pak Yus nelayan berpengalaman. Mungkin ia tahu bahwa nanti malam cuaca akan cerah dan para nelayan akan panen ikan.

Kira-kira jam empat petang Pak Yus ke luar rumah dan memandang ke pantai. Laut tenang, angin bertiup sepoi-sepoi dan daun pohon kelapa gemerisik ringan. Segumpal awan hitam yang menjanjikan cuaca buruk sirna entah ke mana. la pergi tanpa pamit.

Malam itu, Pak Yus dan para tetangganya pergi melaut. Perahu meluncur tenang. Para nelayan berhasil menangkap banyak ikan. Ketika fajar merekah perahu-perahu mereka menuju pantai dan disambut oleh para anggota keluarga dengan gembira.

Pak Yus teringat pada anak-anak tetangga. Tuhan telah menjawab doanya. Semua nelayan itu mendapat rezeki. Hari itu tak ada pesta di rumah Pak Yus. Semua anak makan di rumah ibunya masing-masing. Sekali lagi di atas perahunya, Pak Yus memanjatkan doa syukur.

6. Cintanya pada Kota - Ajip Rosidi

Ilustrasi contoh cerpen singkat. Foto: unsplash.com.

Pagi, Kota yang tidak berdosa ini bangun sebagaimana mestinya menggeliat pelan-pelan tapi pasti. Jalanan basah dan daun-daun basah. Bersama matahari yang semakin tinggi, daun yang basah lebih cepat kering, dan oleh sentuhan angin yang Bagai mengantuk, dia menggetar tanpa bunyi.

Buah kersen berserakan di bawah pohonnya, daunnya yang kering bergoyang-goyang di ari yang menggenang, bagikan perahu bugis dilihat dari jarak yang amat jauh.

Tapi kemana tangan-tangan yang kecil yang biasa memungut buahnya? Kemana wanita pedagang sayur, berkebaya warna biru manggis, yang biasanya menyapa embeli dengan riuhnya? Ke mana biasanya menyapa pembeli dengan riuhnya? Ke mana bunyi dentang pedate, dengan rodanya yang besar ditarik sapi yang selalu basah lubang hidungnyaa.

Tak ada semuanya itu. Pagi ini kota sudah berubah tabita. Dia tak lagi luwes lagim melainkan lingling. Terdengar kabar dari Yogya, tiada harapan lagi perundingan lagi. Di hari kesembilan bulan Desember 48, Belanda sudah memutuskan begitu.

Komisi tiga negara sudah tak berdaya lagi karena Belanda hanya mendengarkan suaranya sendiri. Hari berjalan dengan lambat, tak tahu ke mana pergi. Yang kelihatan tergesar-gesa hanya terntara.

Mereka mengusung barang-barangnya keluar, tapi menggotong benda lain masuk. Benda bulat panjang sebesar 7 atau 8 kali buah cempedak. Kata orang itulah namanya bom tarik. Bom tarik atau bukan, tarik bom adalah bom.

Di tempat lain, kaleng-kaleng bensin ditumpuk di pojok-pojok sehingga gedung dan kantor berubah seperti warung. Dikantor balai kota bahkan lebih runyam lagi. Ayah mengumpulkan kami di ruang tengah dan berkata, “Semua mesti tawakal. Kota ini nanti malam akan dibakar.” Apa yang harus kita lakukan nanti kuberitahu”.

Tak ada yang bertanya, apa yang harus ditanyakan dalam keadaan seperti itu? Kami tahu kampung yang terbakar, tapi kota yang dibakar sama sekali baru dan tak bisa dibayangkan. Ayah seperti nahkoda duduk diujung sana. Nahkoda sebuah kapal yang tak bergerak sama sekali dan tak tahu ke mana mesti pergi.

(IPT)