60 Contoh Kalimat Konotasi dalam Bahasa Indonesia

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Contoh kalimat konotasi merupakan gambaran dari salah satu jenis kalimat dalam bahasa Indonesia yang perlu dipelajari. Pembelajaran mengenai materi terkait yang disertai dengan contohnya cenderung lebih mempermudah pemahaman.
Secara umum, pelajaran bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran wajib pada berbagai tingkat sekolah di negara ini. Mata pelajaran tersebut meliputi berbagai materi, salah satunya yaitu kaidah dalam menyusun kalimat.
Penyusunan kalimat merupakan salah satu teknik berbahasa. Teknik tersebut memiliki berbagai fungsi, seperti menyampaikan makna dalam kalimat. Terdapat dua jenis kalimat yang memuat penyampaian makna, di antaranya yaitu kalimat konotasi.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Contoh Kalimat Konotasi
Untuk memahami cara penyusunan kalimat konotasi, selain melihat pada contohnya, pembaca juga harus terlebih dahulu mempelajari mengenai pengertian dan ciri-cirinya. Simak pengertian, ciri-ciri dan contoh kalimat konotasi berikut:
Pengertian Kalimat Konotasi
Kalimat konotasi merupakan kalimat yang memiliki komponen kata dengan makna konotatif. Menurut Chaer (2013: 65), suatu kata disebut mempunyai makna konotatif apabila kata tersebut mempunyai ‘nilai rasa’, baik positif maupun negatif.
Pengertian makna konotatif lainnya, yaitu makna tambahan terhadap makna dasarnya yang berupa nilai rasa atau gambaran tertentu (Prihantini, 2015: 53). Makna konotatif disebut juga dengan makna emotif (Agustina, 2016).
Kata-kata yang bermakna konotatif umumnya dipakai dalam karya sastra. Di mana perasaan yang termuat dalam karya sastra akan dinyatakan secara tersirat, tidak secara jelas, serta secara tidak langsung, sehingga menimbulkan kesan lain.
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kalimat konotasi merupakan kalimat yang mengandung kata dengan makna tambahan atau kiasan dari suatu kata tidak langsung dan mengacu pada makna kalimat sesungguhnya.
Ciri-Ciri Kalimat Konotasi
Berdasar pada definisi dari para ahli di beberapa sumber, berikut beberapa ciri kalimat konotasi:
Kalimat konotasi umumnya memuat kata yang memiliki nilai rasa. Jika tidak memiliki nilai rasa, maka kalimat tersebut dapat disebut dengan kalimat berkonotasi netral.
Kata dengan makna konotatif bersifat konseptual. Makna dari sebuah kata bisa saja berbeda dalam pandangan masyarakat satu dengan masyarakat lainnya, karena tergantung pada pandangan hidup dan norma yang berlaku.
Makna konotasi pada suatu kata sebagai penyusun kalimat dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Hal tersebut kembali lagi pada perubahan pandangan masyarakat dalam menangkap atau memaknai kata di zamannya masing-masing.
Kalimat konotasi mengandung kata dengan makna kiasan atau bukan sebenarnya. Ciri tersebut bisa saja berisi nilai rasa, sikap sosial, maupun perspektif tertentu dari suatu zaman (Murtiani, dkk., 2018: 170).
Contoh Kalimat beserta Maknanya
Berikut merupakan deretan contoh kalimat konotasi berdasarkan pada kata dengan makna konotatifnya:
(Tangan kanan: orang kepercayaan) “Mahen sudah menjadi tangan kanan Pak Suryo di kantor pusatnya sejak 10 tahun lalu.”
(Akar: asal mula) “Jika ditinjau kembali secara seksama, akar dari pencemaran air di kota Bandung adalah pembuangan sisa rumah tangga.”
(Benalu: orang yang kehadirannya kurang memberi manfaat, cenderung merugikan) “Aku memilih tidak ikut acara touring yang diadakan sahabatku, karena aku takut menjadi benalu bagi mereka ketika uang saku pun aku tak punya.”
(Ganjil: aneh/tidak biasa) “Pemberhentian penyelidikan terhadap kasus pembunuhan yang terjadi di Mandala Town terasa sangat ganjil, karena bersamaan dengan ramainya pemberitaan kepindahan salah satu aktor ke negara lain.”
(Jalan buntu: belum ada pemecahan) “Pada akhirnya Jean harus menghadapi jalan buntu terkait keputusannya mengambil beasiswa ke luar negeri.”
(Jauh: hubungannya kurang dekat/akrab) “Tidak selayaknya ayah dan anak, di acara tersebut Mario nampak jauh sekali dengan ayahnya.”
(Kandas: gagal; terhenti) “Tinggal beberapa hari menuju waktu dilaksanakannya pernikahan mereka, namun naas hubungannya justru kandas begitu saja, akibat adanya orang ketiga.”
(Lapuk: ketinggalan zaman) “Pola pikirnya begitu lapuk dalam menanggapi keadaan yang sudah biasa terjadi di masa sekarang.”
(Mangsa: sasaran perbuatan jahat) “Perempuan seringkali dijadikan mangsa empuk dalam kasus kekerasan seksual.”
(Miring: kurang waras) “Rasa-rasanya semakin kesini otakmu semakin miring saja.”
(Ringan: mudah) “Jika hanya menyelesaikan buku bacaan 500 lembar dalam sehari, tampaknya sudah menjadi perkara ringan bagi Riani.”
(Tiang: sesuatu yang menjadi pokok kehidupan) “Sholat adalah tiang agama.”
(Fondasi: bernilai paling penting) “Uang adalah fondasi kehidupan.”
(Ringan tangan: rajin dan suka menolong) “Mawar terkenal sebagai anak yang ringan tangan di desanya.”
(Anak emas: yang paling disayang/dibanggakan) “Rino adalah anak emas di SMA Garuda karena sering mendapatkan piala kejuaraan.”
(Besar kepala: sombong) “Bagas menjadi besar kepala setelah mendapatkan juara satu di kelasnya.”
(Kambing hitam: orang yang disalahkan) “Politikus seringkali mencari kambing hitam untuk mengalihkan isu permasalahannya.”
(Hati dingin: sabar) “Diah mencoba meladeni emosi Bambang dengan hati dingin.”
(Gugur: meninggal dunia) “Banyak pahlawan yang gugur di medan perang.”
(Kuli tinta: wartawan) “Sudah dua tahun lamanya Arno menjadi kuli tinta di salah satu media.”
(Lupa daratan: sombong/lupa diri) “Miska menjadi lupa daratan ketika namanya tenar di sosial media.”
(Sapi perah: orang yang dimanfaatkan oleh orang lain untuk mendapatkan keuntungan) “Handra menjadi sapi perah bagi keluarganya sendiri karena ayah dan ibunya enggan bekerja.”
(Buah bibir: bahan pembicaraan) “Milano menjadi buah bibir di sekitar perumahannya setelah dilamar oleh pengusaha kaya raya.”
(Berat hati: tidak tega) “Dengan berat hati Giyas pergi meninggalkan anaknya untuk mencari penghasilan yang lebih layak.”
(Jeruji besi: penjara) “Esok adalah hari di mana pelaku begal itu resmi dimasukkan ke dalam jeruji besi.”
(Lapang dada: menerima dengan tabah) “Meski sangat disayangkan, Riko mencoba berlapang dada atas hilangnya uang sebesar Rp50.000 miliknya.”
(Sebatang kara: tidak memiliki keluarga) "Mau bagaimana pun dia hanyalah sebatang kara yang tak tau harus pergi ke mana saat kehilangan pekerjaannya."
(Buah tangan: oleh-oleh) “Rindi membeli banyak buah tangan saat liburan ke Jogja kemarin.”
(Membeku: bergeming/tidak dapat berkata-kata/kaget) “Acha membeku di tempatnya saat harus melihat langsung tragedi tabrak lari di depan gerbang sekolahnya.”
(Kutu buku: orang yang suka belajar atau membaca buku) “Miran berubah menjadi kutu buku ketika ia sudah berada di kelas tiga SMA.”
(Tikus kantor: koruptor) “Perusahaan Juan mengalami rugi yang sangat besar akibat tikus kantor yang membawa sebagian besar uang perusahaan.”
(Gulung tikar: bangkrut) “Café temanku terpaksa harus gulung tikar karena sering sepi pelanggan.”
(Gantung raket: pensiun dalam olahraga bulu tangkis) “Gabriel memutuskan untung gantung raket di usianya yang menginjak 50 tahun.”
(Banting tulang: bekerja keras) “Ayahku berusaha banting tulang setiap hari demi membeli kebutuhan keluarga.”
(Jalan pintas: menggunakan cara yang tidak baik/melakukan kecurangan) “Dibanding melakukan tes seleksi, Brian lebih memilih jalan pintas agar cepat diterima dan masuk ke universitas yang dia inginkan.”
(Memanas: ramai/genting) “Suasana rapat mulai memanas semenjak salah satu anggota rapat meninggalkan ruangan.”
(Bunga desa: perempuan yang paling cantik di desa itu) “Kirana dikenal sebagai bunga desa oleh penduduk setempat.”
(Merah: marah) “Wajahnya berubah merah kala mengetahui jika selama ini adiknya sering berjudi.”
(Hitam: gelap) “Langit hitam senantiasa mengingatkanku pada pertemuan pertama kita.”
(Angin: segar/ketenangan) “Jamal berangkat dari rumahnya untuk mencari angin di malam hari.”
(Hujan: kenangan) “Menikmati cuaca di pagi hari akan jauh lebih menyenangkan bila bersamamu, selayaknya hujan di waktu lalu.”
(Bulat: sempurna/final) “Tekad Joni sudah bulat untuk membangun perusahaan sendiri dan tidak meneruskan perusahaan ayahnya.”
(Semata wayang: anak tunggal) “Regina merupakan anak semata wayang dari pasangan ibu Darmi dan bapak Tanto.”
(Besar: kuat, penting) “Dimas memutuskan perkara besar yang sedang dihadapi keluarganya.”
(Muda: enerjik) “Dengan jiwa muda yang ia miliki, Rio pantang takut untuk senantiasa mencoba hal baru.”
(Dingin: tak acuh) “Arkana terlihat sangat dingin, meskipun sudah begitu jelas dinda mencoba mendekatinya.”
(Panas: cemburu) “Marko merasakan panas di hatinya saat melihat Acha tersenyum kepada Jean.”
(Asam: menyakitkan) “Brilian sudah terbiasa mencecap asamnya kehidupan sejak ia masih kecil.”
(Pahit: memilukan) “Diandra harus menerima kenyataan pahit saat dirinya didiagnosis mengidap kanker.”
(Manis: menyenangkan, baik) “Wanita itu sangat manis dalam memberikan pelayanan di cafenya.”
(Kotor: buruk/kasar) “Aku bahkan sering mendengar dia mengucapkan kata-kata kotor setiap dia melakukan siaran langsung di sosial media.”
(Bersih: jujur, tulus) “Anak kecil memiliki hati yang bersih, sehingga ucapannya dapat dipercaya.”
(Tua: using) “Lemari itu nampak tua dilihat dari pudaran warna dan kekokohan komponennya.”
(Gelap: tidak wajar/menakutkan/menyedihkan) “Candaan Tio bersama teman-temannya terkesan sangat gelap.”
(Terang: banyak harapan/ harapan baik) “Demi masa depan yang terang, Pamungkas bersungguh-sungguh dalam belajar.”
(Keluar: meninggalkan, menolak) “Priyo memilih keluar dari ruangan itu saat ditawarkan perjanjian yang memberatkannya.”
(Menyala: mencolok/ warna yang cerah) “Chita menggunakan baju yang menyala saat pergi ke bandara.”
(Membentang: lebar) “Punggungnya tampak membentang dari kejauhan.”
(Dalam: serius/benar-benar) “Winda mempelajari materi fisika begitu dalam.”
(Tertampar: menyadari/disadarkan) “Nining tertampar kenyataan saat mengetahui harga gelang yang dipakai idolanya.”
Itulah ulasan mengenai pengertian, ciri-ciri, serta contoh kalimat konotasi yang dapat pembaca pahami dan terapkan. Pelajari lebih banyak sumber mengenai materi terkait untuk mencapai pemahaman yang lebih maksimal.(NF)
Baca juga: 250 Contoh Kalimat Majemuk dan Penjelasannya
