60 Contoh Tembung Kriya Bahasa Jawa dalam Kehidupan Sehari-hari

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tembung adalah bahasa Jawa yang artinya kata. Tembung atau kata ini punya berbagai jenis, salah satu jenisnya adalah tembung kriya. Bagi yang ingin mempelajari bahasa Jawa, beberapa contoh tembung kriya perlu diketahui.
Mengutip dari Analisis Kosakata Baru Berbahasa Jawa pada Percakapan Mahasiswa dalam Hubungannya dengan Berbagai Kegiatan Akademik di Prodi Pendidikan Bahasa Jawa UNS, oleh Astiana Ajeng Rahadini, dalam situs journal.stkippacitan.ac.id,
Kelas kata dalam bahasa Jawa ada 10, salah satunya adalah tembung kriya (kata kerja) ini. Kelas lainnya yaitu ada tembung aran (kata benda), tembung kahanan (kata sifat), tembung katrangan (kata keterangan), dan lain sebagainya.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
60 Contoh Tembung Kriya Bahasa Jawa dalam Kehidupan Sehari-hari
Tembung kriya biasanya digunakan setiap hari oleh masyarakat Jawa untuk berkomunikasi. Berikut adalah beberapa contoh tembung kriya bahasa Jawa yang sering ditemui di kehidupan sehari-hari:
Mangan, artinya makan.
Turu, artinya tidur.
Adus, artinya mandi.
Maca, artinya membaca.
Maos, artinya membaca.
Mlayu, artinya berlari.
Mlaku, artinya berjalan.
Nembang, artinya bernyanyi.
Ngombe, artinya minum.
Tuku, artinya membeli.
Lungguh, artinya duduk.
Maguru, artinya berguru.
Dakgawa, artinya kubawa.
Ndulang, artinya menyuapi.
Macul, artinya mencangkul.
Nyapu, artinya menyapu.
Nandur, artinya menanam.
Mulang, artinya ngajar.
Mlaku-mlaku, artinya jalan-jalan.
Tetulis, artinya menulis.
Mulang, artinya minum.
Nggambar, artinya menggambar.
Mangarep, artinya kedepan.
Kokjupuk, artinya kamu ambil.
Dituku, artinya dibeli.
Lunga, artinya pergi.
Kramas, artinya keramas.
Guyon, artinya bercanda.
Mulang, artinya mengajar.
Nabrak, artinya menabrak.
Muntun, artinya bagus.
Ngoyak, artinya mengejar.
Mbayar, artinya membayar.
Numpak, artinya naik.
Nggawe, artinya mengerjakan.
Dandan, artinya membenahi/hias.
Nimba, artinya mengambil air dengan timba.
Sinau, artinya belajar.
Dolan, artinya bertandang/menasihati.
Ngguyu, artinya ketawa.
Nangis, artinya menangis
Mlethek, artinya terkelupas/merekah/terbuka
Nyawang, artinya melihat.
Nyusul, artinya jemput.
Ngopeni, artinya merawat.
Ngasta, artinya membawa.
Mancing, artinya memancing.
Mbayar, artinya bayar.
Nulung, artinya membantu.
Nodhong, artinya meminta.
Nggoreng, artinya menggoreng.
Nyebrang, artinya menyebrang.
Ngumbahi, artinya mencuci.
Ngaji, artinya mengaji.
Ngetan, artinya berjalan ke arah timur.
Nggampleng, artinya menampar.
Ndeleh, artinya menaruh.
Ngagem, artinya memakai.
Mblongsong/nyumbat, artinya menutup.
Ngleleng, artinya menatap.
Jenis-jenis Tembung Kriya
Tembung kriya ini terbagi lagi menjadi dua jenis, yaitu tembung kriya lingga dan tembung kriya andhahan. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
1. Tembung Kriya Andhahan
Tembung kriya andhahan adalah tembung kriya atau kata kerja yang sudah diubah kata-kata dasarnya dan juga telah diberi imbuhan berupa seselan atau sisipan, ater-ater atau awalan, dan panambang atau akhiran.
Contoh kalimat dari tembung kriya andhahan ini, yaitu:
Chimon gemuyu karo Jejy.
Buku kuwi diwaca Galih.
Nanon kesandhung godong pring.
2. Tembung Kriya Lingga
Tembung kriya lingga ini kebalikan dari tembung kriya andhahan. Tembung kriya Lingga ini adalah suatu tembung kriya atau kata kerja yang belum diubah dari kata-kata dasarnya. Contohnya yaitu sebagai berikut:
Tui mangan tahu
William menek wit kelapa.
Chayatorn gawe kurungan pitik.
Bahasa Jawa dan Tembung
Belajar bahasa Jawa memanglah tidak mudah. Bagi yang ingin belajar bahasa Jawa, beberapa contoh tembung kriya yang telah disebutkan di atas penting untuk diketahui, sebab tembung kriya merupakan tembung yang sering ditemui di kehidupan sehari-hari.
Mengutip dari Pedoman Pelestarian dan Pengembangan Bahasa dan Sastra Jawa, oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan), 10 Maret 2014, dalam situs budaya.jogjaprov.go.id, bahasa Jawa pada realitanya sampai saat ini masih sangat intensif dipergunakan.
Khususnya di wilayah-wilayah bersuku Jawa. Baik dalam rangka komunikasi formal maupun nonformal. Di wilayah Jawa seperti Jawa Tengah, salah satunya adalah Yogyakarta, hampir pada setiap pertemuan selalu diwarnai dengan komunikasi berbahasa Jawa.
Secara intensif bahasa Jawa masih dipergunakan sebagai bahasa sehari-hari di Yogyakarta dan kawasan suku Jawa lainnya, atau setidaknya bila menggunakan bahasa Indonesia, tetap juga diwarnai dengan selingan kosa kata dan idiom-idiom berbahasa Jawa.
Di berbagai lingkungan kemasyarakatan, baik lingkungan internal instansional pemerintah, lembaga-lembaga swasta, maupun eksternal antar lembaga yang ada di Yogyakarta khususnya,
Demikian juga keluarga dan perorangan, bahasa Jawa menjadi bahasa pengantar komunikasi yang paling efektif dalam menyampaikan berbagai ide. Mulai dari permasalahan sehari-hari, hingga permasalahan perekonomian secara umum.
Permasalahan-permasalahan di pasar, di kantor-kantor, hingga permasalahan-permasalahan tradisi budaya Jawa, dari pembicaraan verbal yang wantah hingga berbagai komunikasi yang sifatnya simbolik (semu), bahasa Jawa tidak pernah ditinggalkan.
Bahasa Jawa juga masih dipraktikkan dalam berbagai perhelatan budaya tradisional Jawa, baik dalam rangka verbal maupun simbolik. Setiap acara budaya tradisional Jawa, para wakil tuan rumah selalu mempergunakan bahasa Jawa sebagai pengantarnya.
Pemakaian bahasa Jawa, baik dalam komunikasi sehari-hari maupun dalam penciptaan sebuah karya selalu mempertimbangkan segi kesopanan dalam bertutur.
Hal ini disebabkan seorang yang menguasai bahasa Jawa dengan baik akan mengerti dan mengetahui kapan sebuah kata digunakan dan ketepatan pemilihan kata yang tergambar dalam unggah-ungguh bahasa Jawa.
Mengutip dari Penerapan Unggah-Ungguh Bahasa Jawa Sesuai dengan Konteks Tingkat Tutur Budaya Jawa, oleh Puji Arfianingrum, dalam situs jurnal.umk.ac.id, bahasa Jawa memiliki unggah-ungguh atau tingkat tutur sebagai ciri khas.
Hal inilah yang membedakan bahasa Jawa dengan bahasa daerah lain. Unggah-ungguh bahasa Jawa merupakan kaidah yang ada pada masyarakat Jawa dalam bertutur kata atau bertingkah laku.
Yang mana dengan memperhatikan penutur dan lawan tutur serta melihat situasi dengan tujuan menjaga kesopansantunan untuk saling menghormati serta menghargai orang lain.
Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam susunan tata bahasa Jawa yang dikenal dengan strata penggunaan bahasa atau unggah-ungguh basa. Secara garis besar susunan tata bahasa Jawa terbagi menjadi dua, yaitu ngoko dan krama.
Ngoko terbagi menjadi dua yaitu Ngoko Lugu dan Ngoko Alus, sedangkan Krama juga terbagi menjadi dua yaitu Krama Lugu dan Krama Alus. Tingkatan bahasa yang paling tinggi dari unggah ungguh bahasa tersebut adalah Krama Alus.
Krama alus adalah bahasa dimana susunan katanya semua menggunakan bahasa Krama, utamanya krama alus.
Orang yang lebih muda seharusnya menggunakan krama alus jika berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, orang yang terhormat atau punya jabatan.
Termasuk siswa seharusnya juga menggunakan krama inggil jika berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, utamanya guru. Namun, melihat budaya Jawa di abad 21 semakin berkurang.
Dibandingkan dengan budaya barat atau budaya K-Pop dari korea. Hal ini dipengaruhi oleh kemajuan teknologi komunikasi terutama tayangan televisi yang lebih banyak menayangkan budaya metropolitan dan juga budaya global.
Dikhawatirkan, budaya yang dikenal adiluhung akan hilang diterjang zaman. Orang Jawa sebagai pendukungnya tidak lagi peduli pada budaya warisan leluhurnya. Akibatnya banyak anak muda yang mulai kehilangan pengetahuannya tentang budaya Jawa.
Hal ini menyebabkan keberadaan budaya Jawa semakin terancam dan semakin jauh dari anak muda sebagai generasi penerus bangsa. Budaya Jawa perlu diterapkan dan dikenalkan kepada anak-anak sejak dini.
Terutama anak zaman sekarang, untuk menghindari hilangnya budaya yang semakin terkikis dengan adanya globalisasi. Tindak laku berbahasa dalam budaya Jawa disebut sebagai unggah-ungguh basa.
7 Keunikan yang Dimiliki oleh Bahasa Jawa
Bahasa Jawa memiliki berbagai ciri khas dan keunikannya sendiri. Berikut adalah beberapa keunikan yang dimiliki oleh bahasa Jawa:
1. Memilik Kesamaan Kata, Namun Berbeda Arti
Dalam bahasa Jawa ada kata 'ketoprak'. Mungkin, dalam bahasa Indonesia pada umumnya, ketoprak ini adalah makanan khas Indonesia. Namun, kenyataannya orang Jawa (Timur), mengartikan 'ketoprak' ini adalah seni pertunjukan khas Jawa Timur.
2. Bahasa Jawa Mempunyai Huruf Tersendiri
Keunikan bahasa Jawa yang kedua ini adalah bahasa Jawa memiliki hurufnya tersendiri. Selain bisa ditulis menggunakan huruf alphabet biasa, bahasa Jawa dapat ditulis dengan huruf khusus lainnya.
Contohnya saja bahasa Jawa bisa ditulis menggunakan aksara Jawa. Aksara ini adalah turunan dari aksara Brahmi. Yang mana seiring berjalannya waktu telah berkembang, tepatnya pada zaman Hindu-Budha. Aksara Jawa tersebut kini biasa disebut Hanacaraka.
3. Bahasa Jawa Memiliki Kata-kata yang Padat
Keunikan lainnya dari bahasa Jawa yang mungkin sering dibilang sepele. Namun, hal ini sangat bermanfaat untuk seseorang yang ingin belajar bahasa Jawa. Lebih tepatnya untuk mempermudah seseorang dalam memahami pembicaraan yang lebih spesifik.
Yaitu, bahasa Jawa memiliki kata-kata yang padat. Bahasa Jawa kata-katanya sedikit lebih hemat kata dari kata bahasa Indonesia pada umumnya. Hal inilah yang bisa memudahkan dalam mempelajarinya.
Itulah dia beberapa contoh tembung kriya bahasa Jawa yang sering ditemui di kehidupan sehari-hari. Dan juga informasi lainnya, mulai dari jenis tembung kriya, hingga keunikan bahasa Jawa yang perlu diketahui bagi yang ingin mempelajari bahasa ini lebih dalam. (IF)
Baca juga: 200 Kosakata Halus dan Kasar dalam Bahasa Jawa beserta Artinya
