7 Contoh Cerita Pendek tentang Keluarga Bahagia

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cerita pendek atau cerpen, seringkali menjadi wadah bagi penulis untuk mengeksplorasi berbagai tema kehidupan, termasuk keluarga. Contoh cerita pendek tentang keluarga bahagia menjadi salah satu tema populer yang tak lekang oleh waktu.
Mengutip dari Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Eny Tarsinih, cerita pendek adalah karangan pendek yang berbentuk prosa. Dalam cerpen dipisahkan sepenggal kehidupan tokoh, yang penuh pertikaian, dan peristiwa yang mengharukan.
Tema keluarga dalam cerpen sangat menarik karena mampu menggugah emosi pembaca dan menciptakan rasa empati terhadap karakter-karakter yang ada di dalamnya. Cerita ini menyuguhkan kisah-kisah hangat yang mampu menyentuh hati pembaca.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Cerita Pendek tentang Keluarga Bahagia
Dibandingkan dengan novel, cerpen memiliki ruang yang lebih terbatas untuk mengembangkan plot dan karakter. Mengutip dari laman man3bwi.sch.id, berikut deretan contoh cerita pendek tentang keluarga bahagia.
1. Wanita Hebat
Suatu hari hiduplah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di tengah perdesaan, ia memiliki seorang anak perempuan yang Bernama Sofia, anak nya berumur 2 tahun, gadis kecil itu memiliki paras yang cantik dan lucu.
Keadaan ekonomi ibu tersebut kurang memenuhi kebutuhan anaknya dan diri nya. Bagaimana keberadaan ayahnya? Ayah nya sudah hidup Bersama keluarga barunya. Seorang ibu banting tulang mencari nafkah untuk kehidupannya dan anaknya.
Kemudian seorang ibu itu memiliki ide untuk bekerja di luar negri karena gaji yang bisa lebih dari mencukupi kebutuhannya. Saat sofia sekolah taman kanak-kanak ia selalu di tunggu oleh sang nenek di luar pintu gerbang bersama orang tua murid lainnya.
Setelah pulang sekolah sofia biasanya ikut nenek bekerja sebagai tukang Kasur keliling. Saat Sofia berusia 10 tahun ia duduk di kelas 4 SD. Setelah sekian lama ia tidak berjumpa dengan sang ibu, ibu pun memutuskan mengambil cuti kerja untuk bertemu dengan sang anak.
Sofia merasa sangat senang karena bertemu sang ibu tercinta. Pada usia 17 tahun Sofia merayakan ulang tahunnya Bersama nenek, saudara, dan sahabatnya. Sayangnya sang ibu tidak bisa menemani Sofia pada ulang tahun ke 17 itu.
Setelah selang beberapa tahun sofia berusia 20 tahun, lalu melanjutkan kuliah di universitas ternama di daerah Jakarta. Berkat ibunya yang sangat Tangguh menafkahi seorang anak, sofia memiliki gelar sarjana dan menjadi dokter di rumah sakit besar saat umur 25 tahun.
Perjuangan seorang ibu untuk anaknya tiada setara dengan apapun dan kasih sayang seorang ibu tak terhingga sampai kapanpun. Setelah Sofia besar kini saat nya sofia yang menggantikan posisi ibunya dan harus mencari nafkah, karena kini kehidupan mereka Makmur kini mereka menikmati hasil jeri payah yang sudah mereka perjuangkan.
2. Kehangatan Keluarga Dara
Dara, seorang gadis kecil yang sangat mencintai keluarganya. Suatu pagi yang cerah, Dara terbangun dan melihat adik kecilnya, Dimas, masih terlelap. Hari itu adalah hari Minggu, waktu yang paling ditunggu-tunggu oleh Dara karena ayah dan ibunya akan berada di rumah seharian.
Mereka sarapan bersama dengan penuh kebahagiaan, dan setelah itu menghabiskan waktu bermain monopoli. Tawa riang Dimas mengisi rumah mereka, membuat Dara merasa bahwa keluarganya adalah harta paling berharga.
Keluarga Dara meskipun sederhana, selalu merasakan kehangatan dan cinta satu sama lain. Setiap momen yang mereka habiskan bersama menjadi obat bagi segala ujian hidup yang mereka hadapi. Momen-momen kecil seperti berkumpul bersama di meja makan atau bermain game sederhana menjadi sangat berarti bagi Dara.
Mereka saling mendukung dan mencintai satu sama lain tanpa syarat, menjadikan keluarga mereka kuat meskipun dalam situasi sulit. Di malam hari, Dara terlelap dengan perasaan bahagia, menyadari bahwa cinta keluarganya adalah kekuatan yang akan selalu ia jaga.
3. Kejutan Ulang Tahun Ayah
Hari itu adalah ulang tahun ayah, tetapi ia tampak tidak menyadarinya karena sibuk bekerja. Ibu, Rina, dan Adi memutuskan untuk memberikan kejutan. Mereka mulai menyiapkan kue kecil di dapur. Meski tidak terlalu pandai memasak, anak-anak membantu mengocok adonan dengan penuh semangat.
Malam harinya, saat ayah pulang, lampu ruang tamu sengaja dimatikan. Begitu ia membuka pintu, mereka menyanyikan lagu "Selamat Ulang Tahun" sambil membawa kue dengan lilin menyala. Ayah tersenyum lebar, tampak terkejut dan bahagia melihat usaha keluarganya.
Setelah meniup lilin, ayah berkata, "Ini adalah kejutan terbaik yang pernah aku dapatkan." Mereka menghabiskan malam itu dengan berbincang, berbagi cerita, dan menikmati kue bersama. Tawa dan kehangatan memenuhi rumah.
Momen sederhana itu menjadi kenangan indah bagi keluarga mereka. Ayah merasa sangat dihargai, sementara anak-anak belajar bahwa kebahagiaan sering datang dari tindakan kecil yang penuh cinta.
4. Sarapan Bersama
Setiap pagi, aroma kopi dan roti panggang memenuhi rumah kecil mereka. Suara tawa anak-anak yang sedang bercanda menjadi musik pengiring yang indah. Ibu, dengan cekatan menyiapkan sarapan di dapur, sesekali melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 6 pagi.
Ayah, yang sudah lebih dulu bangun, kini tengah duduk di meja makan, membaca koran sambil sesekali tersenyum melihat gelagat anak-anaknya.
Hari ini, Minggu. Hari di mana seluruh anggota keluarga bisa berkumpul lengkap. Setelah sarapan, mereka biasanya akan pergi ke taman belakang rumah untuk berkebun atau sekadar bersantai di bawah pohon mangga.
Adakalanya, ayah mengajak anak-anaknya bermain sepak bola di halaman depan. Sore hari, mereka akan berkumpul di ruang keluarga, menonton film bersama sambil menikmati cemilan ringan.
Meskipun kehidupan mereka sederhana, namun kebahagiaan selalu terpancar dari wajah mereka. Mereka saling menyayangi dan menghormati satu sama lain. Setiap masalah yang muncul selalu dihadapi bersama dengan penuh kasih sayang. Bagi mereka, keluarga adalah segalanya.
Dalam kesederhanaan inilah mereka menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Mereka menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari materi, tetapi dari kasih sayang, kebersamaan, dan keharmonisan dalam keluarga.
5. Piknik di Tepi Danau
Pada hari Minggu pagi, keluarga Ali memutuskan untuk pergi piknik di tepi danau. Mereka membawa tikar, bekal makanan, dan mainan. Setibanya di sana, udara segar dan pemandangan air yang tenang membuat semua orang merasa rileks.
Anak-anak berlarian sambil bermain bola, sementara ayah memancing di pinggir danau. Ibu duduk di tikar, menyiapkan makanan sambil sesekali tertawa melihat tingkah lucu anak-anak. Semua menikmati waktu tanpa gangguan gadget atau pekerjaan.
Saat makan siang, mereka duduk bersama dan menyantap nasi bungkus yang dibuat ibu. "Ini rasanya lebih enak dari makan di restoran," ujar si bungsu, membuat ibu tersenyum bangga. Setelah itu, mereka bermain perahu kecil dan menikmati keindahan danau.
Hari itu berakhir dengan kebahagiaan yang sederhana. Piknik tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga mempererat hubungan mereka sebagai keluarga. Mereka pulang dengan hati yang penuh kebahagiaan.
6. Keluarga Kecil Rani
Rani adalah seorang gadis yang sangat menghargai waktu bersama keluarganya. Pagi itu, ia bangun dengan semangat karena hari Minggu adalah waktu di mana ayah dan ibunya tidak bekerja. Rani membantu ibunya menyiapkan sarapan sederhana untuk keluarga mereka.
Setelah sarapan, Rani dan adiknya, Dodi, bermain bersama di halaman rumah sambil bercanda tawa. Kehangatan suasana membuat Rani merasa sangat beruntung memiliki keluarga seperti ini.
Setiap hari Minggu menjadi momen spesial bagi Rani karena ia bisa merasakan kebersamaan yang hangat dalam keluarganya. Malam harinya, saat terlelap, Rani bersyukur atas kehadiran keluarganya yang selalu mendukungnya dalam setiap langkah hidupnya.
Keluarga kecilnya adalah sumber kebahagiaan yang tidak ternilai. Kehangatan dalam keluarga ini membuat Rani merasa bahagia meskipun hidup dalam kesederhanaan.
7. Keluarga Pelaut
Seorang anak bernama Arif, yang harus menghadapi kenyataan bahwa ayahnya adalah seorang pelaut. Ayah Arif menghabiskan sebagian besar waktunya di tengah lautan, sehingga Arif hanya bisa bertemu dengan ayahnya sekali saja.
Ketika kecil, Arif tidak sepenuhnya memahami mengapa ayahnya tidak bisa pulang setiap hari seperti ayah teman-temannya. Namun, seiring bertambahnya usia, ia mulai mengerti bahwa pekerjaan ayahnya memaksa mereka untuk hidup terpisah dalam waktu yang lama.
Setiap kali ayah pulang, Arif merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Mereka menghabiskan waktu bersama dengan bermain dan mengelilingi kompleks perumahan. Namun, saat mendekati waktu keberangkatan ayah kembali melaut, Arif merasa sedih dan marah.
Seiring berjalannya waktu, Arif mulai memahami betapa pengorbanan yang dilakukan oleh ayah demi keluarga. Ia menyadari bahwa meskipun mereka terpisah oleh jarak, cinta dan kasih sayang antara mereka tetap kuat. Hal ini membuat Arif semakin bangga akan profesi ayahnya sebagai pelaut.
Demikian deretan contoh cerita pendek tentang keluarga bahagia yang dapat dijadikan referensi. (HEN)
Baca Juga: 3 Cerita Pendek Bahasa Indonesia dalam Berbagai Tema yang Menarik
