Konten dari Pengguna

7 Dosa Pokok dalam Katolik dan Pengampunannya

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi umat katolik berdoa. Foto: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi umat katolik berdoa. Foto: pixabay

Pemahaman mengenai 7 dosa pokok dalam Katolik mengajarkan umat untuk selalu berpegang teguh pada ajaran Tuhan. Dengan ini, mereka akan senantiasa introspeksi diri apabila berbuat kesalahan saat berpikir, bertindak, dan berperasaan.

Dengan memahami 7 dosa pokok Katolik ini, umat Katolik juga dapat mengupayakan nilai-nilai kebajikan yang diperintahkan oleh Tuhan. Mereka bisa menjalani hidup sesuai dengan ajaran dan kehendak-Nya.

Jika tergoda untuk melakukannya, umat Katolik justru akan terpacu untuk melakukan dosa-dosa lainnya. Mengutip laman Britannica, perbuatan ini akan mengarah pada kecenderungan terhadap dosa dan keterpisahan dari Tuhan.

Oleh sebab itu, umat Katolik diperintahkan untuk menjauhi dosa-dosa dan perbuatan tidak baik. Berikut ini penjelasan mengenai 7 dosa pokok dalam Katolik selengkapnya untuk Anda.

7 Dosa Pokok dalam Katolik

Ilustrasi dosa pokok katolik. Foto: unsplash

Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengategorikan 7 dosa pokok dalam Katolik sebagai tindakan manusia melawan hukum Allah. Ini juga bisa diartikan sebagai sikap mengabaikan dan menolak cinta kasih-Nya.

Menurut ajaran Santo Yohanes Kasianus dan Santo Gregorius Agung, 7 dosa pokok ini menjadi kebiasaan buruk yang berlawanan dengan keutamaan atau kebajikan. Kebiasaan tersebut bisa membuat seseorang melakukan hal buruk yang bertentangan dengan nuraninya.

Adapun ke-7 dosa pokok tersebut meliputi kesombongan, ketamakan, kedengkian, kemurkaan, pencabulan, kerakusan, dan kelambanan atau kejemuan. Kumpulan dosa ini dapat mengundang dosa dan kebiasaan buruk lainnya.

Apabila dilakukan dengan sengaja, perbuatan dosa tersebut akan berdampak pada perbuatan lainnya. Ini menggambarkan sifat kelemahan manusia yang berlawanan dengan nilai-nilai keutamaan atau kebajikan. Berikut penjelasannya:

  • Kesombongan berlawanan dengan kerendahan hati;

  • Ketamakan berlawanan dengan kemurahan hati;

  • Kedengkian/ iri hati berlawanan dengan kasih;

  • Kemurkaan/kemarahan berlawanan dengan kebaikan dan kesabaran;

  • Percabulan/nafsu berlawanan dengan pengendalian diri;

  • Kerakusan berlawanan dengan kesederhanaan/ kebersahajaan;

  • Kelambanan/kemalasan berlawanan dengan kerajinan/ ketekunan/kesetiaan.

Umat katolik membaca Alkitab. Foto: pixabay

Dalam ajaran Katolik, apabila ada umat yang melakukan dosa, ia akan memperoleh dua akibat yakni kesalahan dan hukuman atau siksaan. Kesalahan dihapus jika dosa diampuni, namun hukuman untuk dosa yang diampuni tetap ada.

Jika umat mati dalam keadaan berahmat, tapi masih menyimpan hukuman akibat dosa, ia harus menebus hukuman itu di api penyucian. Dengan kata lain, ia memerlukan proses pemurnian lanjutan setelah kematian.

Mengutip buku Membaca Kitab Suci Diri dan Dunia: Lensa Kehidupan susunan Carmia Margaret (2021), pemurnian di dalam api penyucian sangat berlainan dengan siksa neraka. Umat Katolik bisa membantu jiwa-jiwa yang berada di api penyucian dengan mengirimkan doa-doa dan mempersembahkan Misa Kudus bagi mereka.

Selain itu, untuk membantu menghilangkan semua hukuman sementara di dunia, Gereja juga akan memberikan indulgensi, yaitu penghapusan siksa-siksa temporal di depan Allah untuk dosa-dosa yang sudah diampuni.

Baca juga: 12 Kata Motivasi Rohani Katolik yang Menguatkan Hati

(MSD)