Konten dari Pengguna

7 Materi yang Menimbulkan Miskonsepsi/Salah Mengerti dari Topik 1 s.d. Topik 8

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Materi/konsep apa saja dalam topik tersebut yang menurut anda menimbulkan miskonsepsi/salah mengerti dari topik 1 s.d. topik 8.. Foto hanya ilustrasi. Sumber foto: Unsplash/Annika
zoom-in-whitePerbesar
Materi/konsep apa saja dalam topik tersebut yang menurut anda menimbulkan miskonsepsi/salah mengerti dari topik 1 s.d. topik 8.. Foto hanya ilustrasi. Sumber foto: Unsplash/Annika

Materi/konsep apa saja dalam topik tesebut yang menurut Anda menimbulkan miskonsepsi/salah mengerti topik 1 s.d. topik 8.? Pertanyaan ini sering muncul ketika siswa mencoba memahami pelajaran secara mendalam, tetapi justru merasa bingung dengan istilah atau penjelasan tertentu.

Tidak jarang, hal itu membuat pemahamannya menjadi setengah-setengah atau bahkan keliru. Untuk itu, penting melihat kembali bagian mana yang paling sering menimbulkan salah pengertian agar belajar bisa lebih terarah.

Materi/Konsep Apa Saja Dalam Topik Tersebut yang Menurut Anda Menimbulkan Miskonsepsi/Salah Mengerti Topik 1 s.d. Topik 8.?

Materi/konsep apa saja dalam topik tersebut yang menurut anda menimbulkan miskonsepsi/salah mengerti dari topik 1 s.d. topik 8.. Foto hanya ilustrasi. Sumber foto: Unsplash/ThisisEngineering

Dikutip dari buku Profesi Keguruan, Teguh dkk (2018: 121), fungsi pendidikan profesi guru (PPG) adalah untuk menyiapkan guru yang menguasai bidang studi dan memiliki kompetensi sesuai dengan standar guru.

Salah satu pertanyaan yang muncul di modul pedagogik PPG PAI 2025 adalah materi/konsep apa saja dalam topik tersebut yang menurut Anda menimbulkan miskonsepsi/salah mengerti dari topik 1 s.d. topik 8.? Berikut penjelasannya.

1. Problem Based Learning (PBL) vs Project Based Learning (PJBL)

Banyak yang mengira PBL dan PJBL adalah metode yang sama, padahal keduanya memiliki fokus berbeda. PBL menekankan pada kemampuan berpikir kritis melalui pemecahan masalah terbuka.

Sementara itu, PJBL lebih diarahkan pada pembuatan produk akhir melalui proses pengerjaan proyek. Jika salah dipahami, perencanaan pembelajaran bisa melenceng dari tujuan yang sebenarnya.

2. Differentiation Based Learning (DBL)

Pembelajaran berdiferensiasi sering dianggap berarti membuat banyak RPP atau memberi perlakuan berbeda untuk setiap siswa secara terus-menerus.

Padahal, inti DBL adalah memberikan pilihan dan fleksibilitas sesuai kebutuhan belajar siswa. Guru cukup mengatur variasi dalam konten, proses, produk, atau lingkungan belajar dengan cara yang strategis.

3. Pendekatan TPACK

Ada anggapan bahwa TPACK hanya sebatas penggunaan teknologi di kelas. Sebenarnya, TPACK merupakan kerangka yang memadukan pengetahuan materi, pedagogik, dan teknologi agar saling mendukung. Jika hanya fokus pada alat digital, guru bisa kehilangan arah bagaimana teknologi tersebut membantu pemahaman siswa.

4. Deep Learning (Mindful, Meaningful, Joyful)

Joyful learning sering disalahartikan sebagai belajar sambil bermain tanpa tujuan. Padahal, konsep ini harus bermakna, penuh kesadaran, dan terarah agar benar-benar membantu siswa memahami materi secara mendalam. Tanpa landasan itu, pembelajaran hanya terasa menyenangkan tetapi kurang memberi substansi.

5. Supervisi Klinis dalam Bimbingan Konseling

Supervisi klinis kerap dianggap sekadar menilai kinerja guru. Nyatanya, pendekatan ini lebih menekankan dialog reflektif yang bersifat suportif antara supervisor dan guru. Jika dipahami keliru, guru bisa merasa diawasi secara menghakimi dan menolak proses supervisi.

6. Pendidikan Inklusi untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Pendidikan inklusi sering dipahami sebagai usaha "menyamakan" atau bahkan "menyembuhkan" anak berkebutuhan khusus. Padahal, tujuannya adalah memberi akses, dukungan, dan penerimaan sesuai kebutuhan serta kemampuan setiap anak.

Inklusi bukan tentang menyeragamkan hasil, melainkan memastikan setiap anak mendapat kesempatan belajar yang layak.

7. Gaya Belajar Generasi Z dan Alpha

Generasi Z dan Alpha sering dilabeli hanya suka teknologi dan sulit fokus. Kenyataannya, anak bisa berkembang pesat jika difasilitasi dengan pendekatan visual, kolaboratif, dan digital yang sesuai. Salah memahami hal ini bisa membuat guru menyalahkan siswa ketika cara belajar lama tidak lagi efektif.

Itulh jawaban dari pertanyaan, "Materi/konsep apa saja dalam topik tersebut yang menurut Anda menimbulkan miskonsepsi/salah mengerti dari topik 1 s.d. topik 8.?". Semoga membantu! (Yun)

Baca juga: Refleksi In 1.2.5 Kegiatan Pelatihan Luring 4