Konten dari Pengguna

7 Perbedaan Cerpen dan Novel dari Kuantitas hingga Perwatakannya

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perbedaan cerpen dan novel. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perbedaan cerpen dan novel. Foto: Unsplash

Daftar isi

Perbedaan cerpen dan novel dapat cukup menonjol adalah panjangnya cerita. Cerpen dan novel adalah jenis karya sastra yang banyak diminati sebab menghadirkan beragam cerita menarik.

Sesuai dengan namanya, cerpen atau cerita pendek adalah karya sastra dengan narasi yang singkat. Sementara novel adalah karya sastra yang menceritakan kisah suatu tokoh dengan alur cukup panjang.

Adapun penjelasan lengkap tentang perbedaan cerpen dan novel dapat disimak di artikel ini.

Perbedaan Cerpen dan Novel

Ilustrasi perbedaan cerpen dan novel. Foto: Pexels/Amanda Linn

Cerpen dan novel adalah karya sastra yang dapat dinikmati berbagai kalangan, baik orang tua maupun anak muda. Baik cerpen atau novel, keduanya berisi karangan penulis dengan alur yang dibuat berbeda. Selain dari alurnya, perbedaan cerpen dan novel yang cukup signifikan adalah dari jumlah katanya.

Sebagaimana dijelaskan dalam buku berjudul Tiga Jurus Mudah Menulis (Panduan Praktis Menulis Artikel, KTI dan Cerpen) oleh Andy, Dyah, dan Siska, cerpen adalah fiksi singkat dengan jumlah kata terbatas. Sementara, novel adalah karya sastra dengan jumlah kata dapat mencapai lebih dari 40 ribu kata.

Sedangkan, mengutip buku Mengenali dan Menuliskan Ide Menjadi Cerpen oleh I Wayan Kerti, waktu yang dibutuhkan saat membaca cerpen dan novel pun berbeda.

Cerpen dapat diselesaikan dalam waktu singkat, berbeda dengan novel yang terkadang membutuhkan beberapa hari. Hal tersebut tentunya dipengaruhi karena panjangnya kata dari dua karya sastra tersebut.

Tak hanya itu saja, berikut ini perbedaan cerpen dan novel yang dijabarkan lebih rinci, dikutip dari buku Pembelajaran Cerpen oleh Saifur Rahman.

1. Kuantitas

Segi kuantitas yang dimaksud adalah panjangnya kata dalam karya sastra. Seperti yang disebutkan di atas, cerpen adalah karya sastra pendek, sedangkan novel memiliki jumlah kata yang lebih banyak.

Panjang pendeknya cerpen cukup relatif, tetapi berdasarkan patokan yang berlaku, cerpen terdiri dari 2.000 hingga 10.000 kata. Sementara novel adalah karya sastra yang terdiri dari lebih dari 100 halaman dengan jumlah kata kurang lebih 35 ribu kata. Beberapa novel bahkan memiliki beberapa jilid.

2. Gaya Bahasa

Apabila dilihat dari segi gaya bahasa, cerpen memiliki gaya bahasa yang lebih efisien dibandingkan novel. Hal tersebut karena novel membutuhkan detail, mulai dari penjelasan tokoh, alur, dan latar ceritanya.

Berbeda dengan gaya bahasa cerpen yang lebih mudah dipahami pembaca dalam sekali baca saja, gaya bahasa yang dipilih dalam novel bergantung pada tema cerita yang diangkat, sehingga tak semua pembaca langsung mengerti saat membaca novel.

3. Tema

Perbedaan selanjutnya adalah dari segi tema. Mengutip buku Be Smart Bahasa Indonesia untuk Kelas VII SMP/MTs oleh Kusmayadi, dkk, tema merupakan pokok permasalahan dalam sebuah cerita.

Tema dalam cerita fiksi umumnya disampaikan secara tersirat. Beberapa contoh tema adalah jasmaniah, organik, sosial, egoik, dan ketuhanan.

Tema dalam cerpen lebih jelas dan sifatnya situasional. Karena temanya yang sederhana, cerita dalam cerpen mudah ditebak. Pemilihan temanya pun terbilang lebih umum.

Sementara, tema yang diangkat dalam novel lebih beragam dan mengerucut. Beberapa novel memiliki tema yang cukup kompleks.

3. Alur Cerita

Alur cerita adalah susunan peristiwa dalam sebuah karya sastra yang mengarah pada sebuah penyelesaian. Baik cerpen maupun novel memiliki alur cerita, tetapi keduanya memiliki perbedaan dari cara penyampaiannya.

Alur cerita pada cerpen lebih singkat, mengingat jumlah kata yang digunakan dalam cerpen pun lebih sedikit. Alur cerita dalam karya sastra ini lebih sederhana dan mudah dimengerti.

Sedangkan, alur cerita pada novel lebih lama dan berkembang secara berkelanjutan. Setiap kejadian dalam novel akan dihubungkan dan memiliki sebab akibat. Selain itu, alur pada novel dijelaskan lebih detail.

4. Jenis Peristiwa

Jenis peristiwa yang diceritakan dalam cerpen lebih terpilih dibandingkan novel, sebab pada novel umumnya berisi beberapa peristiwa yang tercampur.

Penjelasan peristiwa yang terjadi dalam novel atau cerpen menghadirkan konflik, yakni ketegangan antara dua pihak atau pertentangan yang dialami tokoh utama. Konflik dalam cerpen memiliki perbedaan yang cukup signifikan.

Di dalam cerpen, konflik dihadirkan dengan cara tak bertel-tele dan hanya disuguhkan satu atau dua kali saja. Sementara di novel, konflik lebih rumit, bahkan terjadi berkali-kali.

5. Latar

Latar atau setting dalam karya sastra berupa latar tempat dan waktu kejadian. Latar juga dapat menjelaskan suasana yang terjadi dalam cerita tersebut.

Latar dapat menjadi pembeda antara cerpen dan novel. Latar yang digunakan dalam cerpen umumnya tak terlalu banyak, paling banyak 10 latar saja. Sementara novel yang memiliki alur cerita lebih kompleks akan menghadirkan latar yang lebih banyak dan luas.

6. Penokohan

Banyaknya tokoh dalam cerpen dan novel dapat menjadi pembeda dua karya sastra tersebut. Terdapat beberapa klasifikasi tokoh dalam karya sastra fiksi, yaitu tokoh utama, tambahan, protagonis, antagonis, sederhana, dan lainnya.

Cerpen hanya menampilkan beberapa tokoh saja, jumlahnya tak terlalu banyak. Selain itu, tokoh utama paling banyak ditonjolkan dibandingkan tokoh-tokoh lainnya.

Berbeda dengan cerpen yang jumlah tokohnya lebih banyak. Setiap tokoh dalam cerpen memiliki perannya masing-masing, meskipun hanya tokoh pendamping.

7. Perwatakan

Perbedaan selanjutnya adalah perwatakan. Dalam cerpen, perwatakan yang paling sering ditonjolkan adalah pemeran utama saja.

Beberapa tokoh pendukung hanya dijelaskan secara singkat. Kemudian, penjabaran perwatakan dalam cerpen juga hanya dijelaskan baik dan buruk.

Berbeda dengan novel yang lebih kompleks, di mana perwatakan tokohnya dijelaskan secara lebih detail. Biasanya, perwatakan dalam novel muncul melalui kejadian-kejadian yang dialami tokoh tersebut.

Setiap tokoh dalam novel pun akan dijelaskan wataknya satu per satu, meskipun jumlah tokohnya cukup banyak. Perwatakan pada karya sastra ini juga tak hanya berkaitan baik dan buruk, melainkan lebih rumit.

Baca Juga: 10 Cerita Pendek tentang Puasa Ramadan Penuh Makna

Unsur-Unsur Cerpen dan Novel

Ilustrasi novel. Foto: Pixabay/ MabelAmber

Cerpen dan novel adalah dua jenis karya sastra fiksi. Keduanya memiliki struktur yang merupakan susunan kelengkapan atau bagian penting dari penyusunan.

Dikutip dari buku Panduan Menulis Cerpen oleh A Wan Bong, dalam penulisannya, struktur cerpen bersifat fleksibel, begitu pula pada novel. Berikut ini uraiannya:

  • Abstrak: berisi ringkasan awal dari cerita yang ingin disampaikan.

  • Orientasi: menampilkan keterangan waktu, tempat, suasana, dan tokoh-tokohnya yang akan digunakan pada alur cerita.

  • Komplikasi: menunjukkan bahwa adanya urutan kausalitas atau sebab akibat dari terjadinya sebuah peristiwa.

  • Evaluasi: klimaks atau puncak konflik dalam sebuah cerita fiksi. Pada bagian ini, umumnya pembaca akan merasakan emosi yang dialami tokoh dalam cerita.

  • Resolusi: cara penyelesaian konflik, biasanya disajikan dengan memberikan gambaran terakhir dari kisah tokoh dalam cerita. Resolusi tak harus berakhir bahagia, dapat berakhir sedih.

  • Koda: bagian terakhir pada cerita yang memuat pesan moral, dapat disampaikan dengan jelas atau secara tersirat.

(NSF)