Konten dari Pengguna

Ada Peristiwa Apa pada Tanggal 17 November?

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kalender. Foto: furustic/Shutterstock.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kalender. Foto: furustic/Shutterstock.

Dalam kalender Gregorian, tanggal 17 November adalah hari ke-321. Pada tanggal ini terjadi serangkaian peristiwa penting di dalam negeri. Berikut ini beberapa peristiwa penting di Indonesia dan dunia pada tanggal 17 November.

Kelahiran Yoga Uki Kasah

Yoga Uki Kasah (lahir 17 November 1985) adalah pemain bulu tangkis Ganda Putra Indonesia yang berpasangan dengan Joko Riyadi.

Meninggalnya Urip Sumoharjo

Jenderal TNI (Anumerta) Raden Oerip Soemohardjo (EYD: Urip Sumoharjo; 22 Februari 1893 – 17 November 1948) adalah seorang jenderal dan kepala staf umum Tentara Nasional Indonesia pertama pada masa Revolusi Nasional Indonesia.

Lahir di Purworejo, Hindia Belanda, Oerip kecil yang sudah menunjukkan kemampuan kepemimpinan sejak usia dini. Orang tua ingin dia mengikuti jejak kakeknya sebagai bupati, sehingga setelah menyelesaikan sekolah dasar, dia dikirim ke Sekolah Pendidikan Pegawai Pribumi (OSVIA) di Magelang.

Oerip meninggalkan sekolah untuk mengikuti pelatihan militer di Meester Cornelis, Batavia (sekarang Jatinegara, Jakarta). Setelah lulus pada tahun 1914, ia menjadi letnan di Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), tentara kolonial Belanda. Dia ditempatkan di tiga pulau yang berbeda dan dipromosikan beberapa kali, dan akhirnya menjadi perwira pribumi berpangkat tertinggi di KNIL.

Sekitar tahun 1938, Oerip menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya setelah terjadi perselisihan dengan Bupati Purworejo, tempat ia ditugaskan. Oerip dan istrinya, Rohmah, kemudian pindah ke sebuah desa dekat Yogyakarta. Mereka mendirikan sebuah vila dan taman bunga luas di daerah itu. Oerip dipanggil kembali untuk bertugas setelah Jerman Nazi menginvasi Belanda pada Mei 1940.

Oerip ditangkap dan ditahan di kamp tawanan perang selama tiga setengah bulan saat setelah Jepang menduduki Hindia Belanda dua tahun kemudian. Di vilanya, ia melalui sebagian besar pendudukan Jepang. Oerip diangkat menjadi kepala staf dan pemimpin sementara angkatan perang yang baru dibentuk pada 14 Oktober 1945, beberapa bulan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.

Oerip berusaha untuk menyatukan kekuatan militer Indonesia yang terpecah-pecah. Setelah melalui dua tahap pemungutan suara yang menemui jalan buntu, Jenderal Soedirman terpilih menjadi panglima angkatan perang pada 12 November 1945.

Selama Revolusi Nasional Indonesia, Oerip tetap menjadi kepala staf, dan mereka berdua mengawasi pembentukan angkatan perang. Oerip mengundurkan diri pada awal 1948, setelah muak dengan ketidakpercayaan pemerintah terhadap militer dan manuver politik yang terjadi di dalam militer.

Menderita lemah jantung, kondisi kesehatannya memburuk dan meninggal karena serangan jantung beberapa bulan kemudian. Pada saat kematiannya Oerip berpangkat letnan jenderal, Oerip secara anumerta dipromosikan menjadi jenderal penuh. Beberapa penghargaan dari pemerintah Indonesia, termasuk gelar Pahlawan Nasional Indonesia tahun 1964, diberikan kepadanya.