Konten dari Pengguna

Ada Peristiwa Apa pada Tanggal 28 Desember?

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kalender. Foto: Africa Studio/Shutterstock.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kalender. Foto: Africa Studio/Shutterstock.

Dalam kalender Gregorian, tanggal 28 Desember adalah hari ke-362. Pada tanggal ini terjadi serangkaian peristiwa penting di dalam negeri. Berikut ini beberapa peristiwa penting di Indonesia dan dunia pada tanggal 28 Desember.

Serentetan Peristiwa 28 Desember

  • 1949 - Presiden pindah dari Kraton Yogyakarta ke Istana Merdeka sehari setelah Belanda mengakui kemerdekaan Republik Indonesia.

  • 1954 - Persidangan Bogor diadakan.

  • 1992 - Pecahan Rp100,00, Rp5000,00, dan Rp1000,00 resmi dibagikan oleh Bank Indonesia.

  • 2014 - Di Selat Karimata, pesawat AirAsia Indonesia Penerbangan 8501 jatuh. Sebanyak 162 penumpang dan awak tewas.

Kelahiran Defri Juliant

Arif Defri Arianto (lahir 28 Desember 2002), juga dikenal sebagai penyanyi dangdut pop pria Melayu dari Indonesia. Sejak terlibat dalam kompetisi Liga Dangdut Indonesia 2020 mewakili Provinsi Riau, ia mulai dikenal.

Meninggalnya Samanhudi

Samanhudi atau lebih dikenal dengan Kyai Haji Samanhudi (lahir di Laweyan, Jawa Tengah, 1868; meninggal di Klaten, Jawa Tengah, 28 Desember 1956), adalah pendiri Sarekat Dagang Islam, sebuah forum nasional para pengusaha batik di Surakarta.

Pondok Pesantren yang pernah ia datangi untuk menimba ilmu didalamnya adalah:

  1. Pontren KM Sayuthy (Ciawigebang),

  2. Pontren KH Abdur Rozak (Cipancur),paman ia,

  3. Pontren Sarajaya (Kab Cirebon),

  4. Pontren (di Kab Tegal, Jateng),

  5. Pontren Ciwaringin (Kab. Cirebon) dan

  6. Pontren KH Zaenal Musthofa (Tasikmalaya)

Dalam dunia perdagangan, Samanhudi merasakan perbedaan perlakuan oleh penguasa Hindia Belanda antara pedagang pribumi yang mayoritas beragama Islam dengan pedagang Tionghoa pada tahun 1905. Oleh sebab itu Samanhudi merasa pedagang pribumi harus mempunyai organisasi sendiri untuk membela kepentingan mereka. Pada tahun 1905, ia mendirikan Sarekat Dagang Islam untuk mewujudkan cita-citanya. Ia dimakamkan di Banaran, Grogol, Sukoharjo.