Konten dari Pengguna

Analisa atau Analisis, Mana Penulisan yang Baku dan Benar?

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kamus sebagai pedoman berbahasa yang memuat daftar kata baku dan tidak baku. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kamus sebagai pedoman berbahasa yang memuat daftar kata baku dan tidak baku. Foto: Pixabay

Dalam sebuah bacaan, tak jarang ditemui kata analisa atau analisis. Keduanya merupakan kata yang memiliki arti berhubungan dengan penelitian. Orang yang cukup awam mungkin akan menganggap kedua kata tersebut memiliki arti yang sama.

Sekilas, analisa dan analisis memang terdengar sama, bahkan maknanya pun demikian. Namun, jika ditelusuri lebih mendalam, keduanya ternyata memiliki perbedaan yang cukup berarti.

Perbedaannya terletak pada kesesuaiannya dengan standarisasi bahasa atau dikenal dengan istilah kata baku. Kaidah kata baku ini bersifat tetap dan tidak bisa diganggu gugat apa pun alasannya.

Atas dasar inilah, kata baku digunakan sebagai acuan resmi dalam kaidah kebahasaan, agar masyarakat memiliki rujukan ragam bahasa yang sama.

Jadi, mana penulisan kata baku dan benar, analisa atau analisis? Simak pembahasan lengkapnya berikut ini.

Kamus memuat kata baku dan artinya yang berguna dalam penulisan. Foto: Pixabay

Analisa atau Analisis, Mana Penulisan yang Tepat?

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, bentuk kata yang benar dan baku dari analisa atau analisis adalah analisis. Kata ini diserap dari Bahasa Belanda analyse sekaligus Bahasa Inggris analysis.

Unsur -lyse dalam bahasa Belanda dan -lysis dalam bahasa Inggris, diserap, sehingga menjadi lisis dalam Bahasa Indonesia.

Menurut KBBI pengertian analisis dapat diartikan menjadi beberapa hal, di antaranya meliputi:

  • Penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dan lain sebagainya), untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab-musabab, duduk perkaranya, dan lain sebagainya).

  • Penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri, serta hubungan antarbagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti secara keseluruhan.

  • Penyelidikan kimia dengan menguraikan sesuatu untuk mengetahui zat bagiannya.

  • Penjabaran sesudah dikaji sebaik-baiknya.

  • Pemecahan persoalan yang dimulai dengan dugaan akan kebenarannya.

Bentuk analisa yang sering digunakan dalam konteks penelitian sehari-hari, adalah “menganalisa“, “hasil analisa“, atau “analisa data”. Padahal penggunaan kata ini merujuk pada kata tidak baku. Sesuai dengan pedoman KBBI, seharusnya ditulis dengan “menganalisis”, “hasil analisis“, atau “analisis data”.

Ragam pemakaian bahasa seperti kata baku seperti analisis ini tercipta, karena dalam konteks komunikasi penutur akan mempertimbangkan lawan bicara, isi pembicaraan, dan kondisi pembicaraan.

Ilustrasi kamus yang digunakan sebagai pedoman dalam berbahasa baik dan benar. Foto: Pixabay

Lantas, bagaimana ciri-ciri kata baku yang sesuai dengan pedoman dan kaidah kebahasaan? Dikutip melalui buku Be Smart Bahasa Indonesia oleh Ismail Kusmayadi dkk (2008: 69), berikut ini ciri-cirinya.

Ciri-Ciri Kata Baku

1. Tidak dipengaruhi bahasa daerah tertentu.

2. Tidak dipengaruhi bahasa asing.

3. Bukan bahasa percakapan.

4. Pemakaian imbuhan pada kata bersifat eksplisit.

5. Pemakaian kata sesuai dengan konteks kalimat.

6. Kata baku bukan kata rancu

7. Kata baku tidak mengandung hiperkorek.

8. Tidak mengandung pleonasme (majas yang bermakna sama untuk menegaskan suatu hal).

(VIO)