Arti Peribahasa Buah Jatuh Tidak Jauh dari Pohonnya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Arti peribahasa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya serupa dengan karena buah dikenal pohonnya. Peribahasa ini kerap digunakan untuk menggambarkan sifat dan kebiasaan seseorang.
Peribahasa merupakan sastra lisan yang berkembang di tengah masyarakat. Bentuknya berupa kalimat ringkas berisi nasihat, sindiran, atau perumpamaan yang diungkapkan menggunakan bahasa kiasan.
Astuti Rahayu dalam buku Blak-blakan Bahas Mapel Bahasa Indonesia SD (2012) menjelaskan bahwa kata kiasan dalam peribahasa banyak menggunakan gambaran alam, salah satunya buah.
Arti Buah Jatuh Tidak Jauh dari Pohonnya
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya termasuk salah satu peribahasa yang masih banyak digunakan dalam sebuah percakapan. Peribahasa ini digunakan untuk menggambarkan kemiripan antara orang tua dan anaknya.
Peribahasa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya artinya sifat, tingkah laku, dan kebiasaan orang tua akan diikuti oleh anaknya. Itu karena faktor genetik dapat mempengaruhi kepribadian anak.
Mengutip laman Family Education, ahli genetika molekuler, Dana Brassete menjelaskan bahwa ciri-ciri kepribadian yang dapat diwariskan ada lima sifat, yakni keterbukaan, keramahan, ekstraversi, neurotisme, dan kehati-hatian.
Misalnya, orang tua memiliki sifat yang sangat dermawan dan sering bersedekah. Nantinya, anak akan tumbuh dengan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Hal ini juga berlaku untuk sifat buruk.
Selain faktor genetik, lingkungan juga sangat mempengaruhi kepribadian seseorang. Pendidikan, pola asuh, serta nutrisi akan menentukan sifat, tingkah laku, dan kebiasaan seseorang.
Peribahasa Lain yang Menggunakan Buah
Ada banyak peribahasa yang menggunakan kata buah sebagai kiasan. Berikut kumpulan peribahasa yang menggunakan kata buah seperti yang dirangkum dari buku Kumpulan Peribahasa Bahasa Indonesia tulisan Dipo Udi T dan Kamus Peribahasa oleh S.B.S Abbas.
Buah manis berulat di dalamnya: Di balik pujian dan kata-kata manis biasanya ada maksud tersembunyi.
Karena buah dikenal pohonnya: Dari sikap dan tata krama dapat diketahui asal usul seseorang.
Bagai makan buah simalakama, dimakan mati ibu tak dimakan mati bapak: Keadaan serba susah atau dihadapkan dengan dua pilihan yang dua-duanya mendatangkan celaka.
Buah tangisan beruk: anak gadis yang disukai banyak laki-laki.
Ingin buah manggis hutan, masak ranum tergantung tinggi: menginginkan sesuatu yang susah untuk dicapai.
Singkap daun ambil buah: Berbicara terus terang.
Seperti batang mengkudu, buah dahulu daripada bunga: Orang yang cepat marah tanpa mau tahu alasan di balik suatu kesalahan.
Langkas buah pepaya: suatu hal yang mustahil terjadi.
Buah hati cahaya mata: anak kesayangan.
Seperti buah kedempung di luar berisi di dalam kosong: Orang kaya yang sombong padahal tidak berpengetahuan atau bodoh.
(GLW)
