Konten dari Pengguna

Bacaan Ta'awudz dalam Bahasa Arab, Teks Latin, dan Artinya

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

 Ilustrasi Bacaan Ta'awudz, Foto Pixabay/Afshad
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bacaan Ta'awudz, Foto Pixabay/Afshad

Bacaan ta’awudz merupakan salah satu bacaan yang bertujuan untuk memohon perlindungan kepada Allah Swt. Dengan bacaan tersebut, seorang muslim bisa terlindungi dari segala bentuk ancaman dan bahaya.

Bacaan tersebut juga menjadi pengingat umat Islam akan keberadaan setan serta pengaruh negatifnya dalam kehidupan. Dengan mengamalkannya secara rutin, umat Islam diharapkan agar berhati-hati dan selalu waspada terhadap godaan setan.

Ta'awaudz menjadi bagian penting ketika melakukan ibadah. Bacaan tersebut bukan sekadar kata-kata saja, melainkan juga sebagai simbol kepatuhan, keimanan, dan perlindungan Allah Swt.

Daftar isi

Bacaan Ta'awudz

Ilustrasi Bacaan Ta'awudz, Foto Pixabay/cahiwak

Berikut merupakan bacaan ta'awudz dalam bahasa Arab, teks latin, dan artinya untuk umat Islam.

1. Ta'awudz dalam Bahasa Arab

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

2. Ta'awudz dalam Teks Latin

A'udzu billa hi minasy syaitho nir rajim

3. Arti Bacaan Ta'awudz

Artinya: Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.

Perintah Membaca Ta’awudz

Ilustrasi Bacaan Ta'awudz, Foto Pixabay/Joko_Narimo

Berdasarkan buku Menyingkap Samudera Al-Fatihah: Konteksualisasi Kandungan, Hukum, dan Hikmat Ayat dalam Kehidupan Sehari-hari, Abdul Aziz, (2023:20), umat Islam dianjurkan untuk membaca ta'awudz atau isti'adzah, terutama sebelum membaca Al-Quran.

Ulama mengemukakan sejumlah dalil baik Al-Quran maupun hadis mengenai perintah untuk membaca ta'awudz atau isti'adzah, perlindungan dari gangguan setan. Berikut ini adalah perintah Ta'awudz atau isti'adzah dalam Surat Al-Araf ayat 199-200.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ * وَإِمَّا يَنزِغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نزغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya, "Jadilah pemaaf dan mintalah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh. Jika kamu ditimpa godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui."

Adapun berikut ini adalah perintah Ta'awudz atau isti'adzah pada Surat Al-Mukminun ayat 96-98.

ادفع بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ * وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ * وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ

Artinya, "Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Katakan, 'Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Aku berlindung (pula) kepada-Mu ya Tuhanku, dari kehadiran mereka padaku," (Surat Al-Mukminun ayat 96-98).

Pada Surat Fushshilat ayat 36, juga ditemukan perintah Ta'awudz atau isti'adzah sebagai berikut:

وقال تعالى وَإِمَّا يَنزِغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نزغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya, "Danjikasyetan mengganggumudengansuatugangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Surat Fushshilat ayat 36).

Keutamaan Pelafalan Ta’awudz

Ilustrasi Bacaan Ta'awudz, Foto Pixabay/Joko_Narimo

Berdasarkan buku Menyingkap Samudera Al-Fatihah: Konteksualisasi Kandungan, Hukum, dan Hikmat Ayat dalam Kehidupan Sehari-hari, Abdul Aziz, (2023:24), Ibnu Katsir (1301 M-1372 M) berpendapat, Allah memerintahkan ta'awudz dari setan jin (karena ada setan dari kalangan manusia) karena tidak dapat disuap untuk terhindar dari kejahatannya dan tidak terpengaruh oleh kebaikan (berbeda dari setan manusia yang menerima suap).

Secara tabiat, setan jin sangat buruk. Yang dapat menahan kejahatan setan jin terhadap manusia tidak lain hanya Penciptanya sendiri. Setan dalam kosakata Arab merupakan turunan dari kata "syathana," yaitu jauh. Maksudnya, setan jauh dari tabiat manusia dan dengan kefasikannya menjadi jauh dari kebaikan.

والمشهور الذي عليه الجمهور أن الاستعاذة لدفع الوسواس فيها، إنما تكون قبل التلاوة، ومعنى الآية عندهم: { فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ } [النحل: ۹۸] أي: إذا أردت القراءة كقوله: { إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ } الآية [المائدة: [٦] أي: إذا أردتم القيام

Artinya, "Yang masyhur di kalangan mayoritas ulama, ta'awudz bertujuan untuk menolak was-was dalam bacaan dan itu dilakukan sebelum membaca Al-Quran. Ini berangkat dari pengertian ayat berikut menurut mayoritas ulama, 'Jika Anda membaca Al-Quran, berlindunglah kepada Allah dari setan terkutuk,' (An-Nahl ayat 98). Maksudnya tidak lain, 'Jika ingin membaca' sebagaimana pengertian pada 'Jika kalian melakukan salat, basuhlah wajah dan tangan,' (Al-Maidah ayat 6), maksudnya 'Jika ingin salat," (Ibnu Katsir, Tafsirul

Menurut Ibnu Katsir, pelafalan ta'awudz berfaidah untuk membersihkan mulut dari ucapan sia-sia dan kotor. Pelafalan ta'awudz merupakan persiapan mulut untuk membaca Kalam Ilahi.

Ta'awudz adalah bentuk pengakuan atas kuasa Allah dan kelemahan manusia dalam melawan gangguan musuh yang bersifat batin. Setan dapat melihat manusia. Sedangkan sebaliknya, manusia tidak dapat melihat setan.

Namun secara umum, ta'awudz adalah bentuk permohonan kepada Allah untuk melindungi umat Islam dari segala bentuk kejahatan dan keburukan.

Ibnu Katsir mengatakan bahwa salah satu manfaat pelafalan ta'awudz adalah dapat meredakan kemarahan di dalam hati yang sedang dialami seseorang. Ibnu Katsir membawa riwayat hadits Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan An-Nasai.

قال البخاري: حدثنا عثمان بن أبي شيبة، حدثنا جرير، عن الأعمش عن عدي بن ثابت، قال: قال سليمان بن صرد استب رجلان عند النبي صلى الله عليه وسلم، ونحن عنده جلوس، فأحدهما يسب صاحبه مغضبًا قد احمر وجهه، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: «

إني لأعلم كلمة لو قالها لذهب عنه ما يجد،

و قال: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم « فقالوا للرجل: ألا تسمع ما يقول رسول الله (۱) صلى الله عليه وسلم قال: إني لست بمجنون (۲) . وقد رواه أيضا مع مسلم، وأبي داود والنسائي، من طرق متعددة، عن الأعمش، به

Artinya, "Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadis dari Sulaiman bin Shurad bahwa dua orang saling mencaci di hadapan Rasulullah. Sementara kami duduk di dekatnya. Salah seorang dari keduanya mencaci yang lain dan tampak marah dengan wajah memerah.

Rasulullah bersabda, 'Sungguh, aku mengetahui kalimat yang bila diucapkan, niscaya kemarahan di hatinya akan reda. Rasulullah lalu membaca, 'A'udzu billahi minas syaythanir rajim.

Para sahabat lalu berkata kepada orang tersebut, 'Apakah kau mendengar ucapan Rasulullah tadi?' ia menjawab, 'Aku tidak gila.' Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, dan An-Nasai dari banyak jalan, dari A'masy.

Waktu Bacaan Ta’awudz

Ilustrasi Bacaan Ta'awudz, Foto Pixabay/cahiwak

Berdasarkan buku Menyingkap Samudera Al-Fatihah: Konteksualisasi Kandungan, Hukum, dan Hikmat Ayat dalam Kehidupan Sehari-hari, Abdul Aziz, (2023:26), ulama berbeda pendapat perihal waktu bacaan ta'awudz atau isti'adzah.

Sebagian ulama mengatakan bahwa ta'awudz dibaca sebelum membaca Al-Quran. Sebagian lagi mengatakan bahwa ta'awudz dibaca setelah selesai membaca Al-Quran.

Dalil atas pembacaan ta'awudz sebelum membaca Al-Quran adalah riwayat Ahmad bin Hanbal bahwa Nabi Muhammad saw bila melakukan salat malam mengawali salatnya dan bertakbir, lalu membaca, "Subhānakallahumma wa bi hamdika, wa tabaraksmuka, wa ta'ala jadduka, wa la ilaha ghayruka," lalu membaca tahlil 3 kali, lalu membaca, "A'ūdzu billahis sami'il 'alim, minas syaythanir rajim min hamazihi, wa nafkhihi, wa nafatsihi.

Al-Qurthubi meriwayatkan dari Abu Bakr Ibnul Arabi, dari Imam Malik bahwa ta'awudz dibaca setelah selesai Surat Al-Fatihah. Sedangkan pendapat lain menggabungkan dua dalil dengan mengatakan bahwa ta'awudz dibaca sebelum dan setelah selesai Surat Al-Fatihah.

Hukum Pelafalan Ta’awudz

Ilustrasi Bacaan Ta'awudz, Foto Pixabay/Joko_Narimo

Berdasarkan buku Menyingkap Samudera Al-Fatihah: Konteksualisasi Kandungan, Hukum, dan Hikmat Ayat dalam Kehidupan Sehari-hari, Abdul Aziz, (2023:26), mayoritas ulama mengatakan bahwa bacaan ta'awudz bersifat sunnah, bukan wajib yang membuat seseorang berdosa ketika tidak membacanya.

Fakhruddin Ar-Razi menghikayatkan kewajiban membaca ta'awudz di dalam dan di luar salat ketika hendak salat dari Atha bin Abi Rabah. Ibnu Sirin mengatakan, membaca ta'awudz cukup dibaca sekali seumur hidup untuk menggugurkan kewajiban.

Fakhruddin mengemukakan argumentasi kewajiban Atha dari perintah "fasta'idz" secara tekstual. Menurutnya, ini perintah untuk kewajiban dan juga mempertimbangkan kebiasaan Nabi Muhammad saw atas bacaan ta'awudz. Di samping itu, ta'awudz dapat menolak godaan setan. Membaca ta'awudz lebih diutamakan sebagai satu jalan wajib.

Ulama lain mengatakan, kewajiban membaca ta'awudz hanya berlaku bagi Nabi Muhammad saw, bukan umatnya. Dari Imam Malik dihikayatkan bahwa, Nabi Muhammad saw tidak membaca ta'awudz pada salat wajib, tetapi membacanya pada salat malam pertama bulan Ramadan.

Menurut Imam As-Syafi'i dalam Al-Imla, lafal ta'awudz dibaca lantang atau jahar. Tetapi jika dibaca perlahan atau sirr, itu tidak masalah. Dalam Al-Umm, dikatakan bahwa umat Islam boleh memilih untuk membaca jahar atau sir. Ibnu Umar membaca ta'awudz dengan perlahan. Sedangkan Abu Hurairah membacanya secara lantang.

Demikianlah ulasan tentang bacaan ta'awudz mulai dari lafal, keutamaan, waktu, hingga hukumnya yang perlu diketahui umat Islam. (Adm)

Baca juga: Keutamaan Bacaan Tahmid, Takbir, Tahlil Lengkap dengan Artinya