Bagaimana Cara Menghitung Daya Listrik yang Digunakan di Rumah?

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap bulan sebagai pengguna jasa listrik dari PLN, penghuni rumah akan dikenakan biaya listrik. Energi listrik yang digunakan untuk keperluan rumah diukur dengan kilowatt hour meter, disingkat kWh meter.
Agar bisa mendapatkan gambaran seberapa besarnya rekening listrik bulanan setiap rumah tangga, perlu dipahami bagaimana cara menghitung besarnya rekening listrik rumah tersebut.
Ketika telah mengetahui jumlah total dari rekening, diharapkan akan menimbulkan kesadaran penghuni rumah agar lebih menghemat pemakaian listrik. Jika begitu, tagihan listrik yang harus dibayarkan pun menjadi lebih murah.
Bagaimana cara menghitung daya listrik yang digunakan di rumah? Simak cara-cara berikut agar mampu mendeteksi besaran penggunaan alat-alat rumah tangga, yang dirangkum berdasarkan buku Kiat Hemat Bayar Listrik karangan Gatut Susanta (2008: 65).
Cara Menghitung Daya Listrik yang Digunakan di Rumah
Daya listrik adalah besar energi listrik yang dihasilkan setiap detik. Setiap alat-alat listrik dalam rumah tangga akan tercantum besaran daya listrik alat tersebut.
Misalkan pada sebuah lampu pijar tertulis 60W/220V. Artinya bila lampu tersebut dipasang pada tegangan listrik 220v, akan dihasilkan daya listrik sebesar 60 W.
Berdasarkan definisi di atas, daya listrik dapat dinyatakan secara sistematis sebagai berikut.
P = W/t
P= daya listrik (watt,W)
W= energy listrik (joule, J)
T= selang waktu (detik atau sekon, s)
Pada dasarnya, sumber listrik yang tersedia harus seimbang dengan daya listrik yang beroperasi. Sebagai contoh, jika sumber listrik yang memiliki daya 900 VA, daya listrik yang beroperasi seharusnya tidak melebihi daya 900 VA tersebut.
Jika terjadi ketidakseimbangan, akan mengakibatkan sering terputusnya aliran listrik atau dikenal dengan istilah “sekring meteran turun." Atas dasar inilah, diperlukan perhitungan daya listrik yang harus disediakan agar terhindar dari ketidakseimbangan daya.
Hal-Hal Penting dalam Penggunaan Daya Listrik Peralatan Rumah
Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan daya listrik pada peralatan rumah tangga.
Hal yang dapat dilakukan terlebih dahulu adalah mendata peralatan listrik yang ada pada bangunan. Data yang perlu diperhatikan adalah besarnya daya, tegangan, dan frekuensi.
Sebagai contoh, sebuah setrika memiliki data 350W/220v/50Hz, artinya setrika tersebut membutuhkan daya sebesar 350 Watt pada tegangan 220 Volt dan frekuensi kerja mencapai 50 Hertz.
Umumnya, suplai listrik PLN yang beroperasi untuk golongan rumah tangga memiliki tegangan 220 V dan frekuensi 50 Hz. Artinya, dengan daya 350 W, pada tegangan 220 V, dan frekuensi 50 Hz, maka panas yang dihasilkan akan sesuai dengan kapasitas setrika tersebut.
Peralatan listrik harus bekerja pada tegangan dan frekuensi yang sudah diatur untuk peralatan tersebut.
Pada beberapa kasus, sering terjadi keluhan dari pelanggan listrik dengan daya 900 VA yang aliran listriknya langsung terputus/MCB turun ketika dipasang alat listrik yang hanya berdaya 800 W.
Listrik dapat terputus akibat daya dari alat listrik yang melebihi daya normal. Peralatan listrik berupa motor listrik seperti pompa air atau lemari es juga sangat berpotensi menaikkan daya listrik, terutama pada saat start. Sebab, dalam sepersekian detik daya yang dibutuhkan bisa mencapai dua hingga tiga kali daya normal.
Berdasarkan Teori dan Aplikasi Fisika karya Budi Prasodjo (2007: 103), sebagai pengaman daya yang tersambung jika terjadi aliran listrik yang berlebih (korslet), diperlukan alat pengaman atau sekring.
Selain menghindari terjadinya korslet, penggunaan sekring juga berfungsi membatasi daya dari sumber listrik yang disediakan PLN.
(VIO)
