Bagaimana Cara Menghitung Payback Period dan NPV?

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagaimana cara menghitung payback period dan NPV dalam bidang ekonomi dan berbisnis.
Sebelumnya, payback period adalah istilah yang merujuk pada pengembalian suatu modal investasi yang sudah diberikan melalui keuntungan dalam kisaran waktu tertentu.
Hasil dari perhitungan payback period ini yang nantinya menentukan investor dalam menentukan suatu keputusan.
Lebih jelasnya, berikut beberapa pengertian payback period yang diartikan oleh beberapa ahli, yakni:
Bambang Riyanto mendefinisikan rumus payback period sebagai teknik menutupi kembali modal yang dikeluarkan pada investasi dalam periode tertentu dengan menggunakan aliran kas netto.
Kasmir dan Jakfar menyampaikan bahwa PP atau payback period adalah cara mengetahui jangka waktu pengembalian investasi dalam suatu proyek.
Abdul Choliq mengartikan payback period sebagai perkiraan jangka waktu investasi akan kembali melalui profit yang didapatkan.
Mengutip buku Analisis Kuantitatif Pembiayaan Perusahaan Pertanian karya Ayub M. Padangaran, NPV (Net Present Value) adalah nilai sekarang dari selisih antara nilai sekarang total benefit dan nilai sekarang total cost pada discount rate tertentu selama jangka waktu umur investasi.
Rumus dari Payback Period dan NPV
Setelah mengetahui pengertian dari payback period dan juga NPV, berikut adalah kedua rumus yang biasanya digunakan, seperti yang dikutip dari buku Konsep Dasar Investasi dan Pasar Modal karya Dr. Wastam Wahyu Hidayat, SE., MM.
Rumus Payback Period
PP (Payback Period) = Total dana investasi : Kas Netto
Apabila melihat dari rumus di atas, menghitung payback period melibatkan kas netto perusahaan yang ditujukan.
Hal ini berarti, uang yang termasuk dalam kas tersebut sudah terbebas dari kewajiban pembiayaan perusahaan lainnya seperti pajak, kompensasi, utang, bunga, dan sebagainya.
Rumus NPV
Net Present Value = (C1/1+r) + (C2/(1+r)2) + (C3/(1+r)3) + … + (Ct/(1+r)t) – C0
Keterangan dari rumus di atas, yakni:
NPV = Net Present Value (dalam Rupiah)
Ct = Arus Kas per Tahun pada Periode t
C0 = Nilai Investasi awal pada tahun ke 0 (dalam Rupiah)
r = Suku Bunga atau discount rate (dalam %)
Cara Menghitung Payback Period dan NPV Serta Contoh Soal
Setelah mengetahui pengertian dan rumus dari payback period dan juga NPV, berikut beberapa contoh soal untuk mengetahui cara menghitungnya.
Contoh soal payback period
Sebuah manajemen pada perusahaan PT Makmur Jaya sedang melakukan pertimbangan untuk membeli alat produksi pada komponen elektronika.
Dengan adanya pembelian mesin produksi berharga Rp 250 jt, makan keuntungan bersih yang bisa diperoleh dari adanya tambahan mesin tersebut adalah Rp 70 per tahunnya. Lantas, berapakah payback period time untuk mesin tersebut?
Jawaban:
Nilai Investasi: Rp. 250.000.000,-
Kas Masuk Bersih: Rp. 70.000.000,-
Payback period: ?
Payback period: Nilai Investasi : Kas Masuk Bersih
PP: Rp. 250.000.000,- : Rp. 70.000.000,-
Maka, payback period yang dibutuhkan adalah 3,57 tahun
Contoh soal NPV
Sebuah Perusahaan X ingin membeli sebuah mesin produksi untuk meningkatkan jumlah produksi produk. Diperkirakan untuk harga mesin tersebut adalah Rp. 150 juta dengan mengikuti aturan suku bunga pinjaman yakni sebesar 12% per tahun.
Untuk Arus Kas yang masuk pada perusahaan itu diestimasikan sekitar Rp. 50 juta per tahun selama 5 tahun. Apakah rencana investasi pada pembelian mesin produksi di atas dapat dilanjutkan?
Jawaban:
Ct: 50 juta.
C0: 150 juta.
r: 12% (0,12)
NPV = (C1/1+r) + (C2/(1+r)2) + (C3/(1+r)3) + (C3/(1+r)4) + (Ct/(1+r)t) – C0
NPV = ((50/1+0,12) + (50/1+0,12)2 + (50/1+0,12)3 + (50/1+0,12)4 + (50/1+0,12)5) – 150
NPV = (44,64 + 39,86 + 35,59 + 31,78 + 28,37) – 150
NPV = 180,24 – 150
Maka, nilai untuk NPV adalah 30,24
(JA)
