Ciri-Ciri Adaptasi Hewan yang Hidup dalam Kelompok di Lingkungannya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hewan adalah makhluk hidup yang memiliki kemampuan untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Lingkungan tempat tinggal hewan disebut dengan habitat, yang dapat berada di perairan, daratan, bahkan keduanya.
Adaptasi hewan dilakukan agar dapat menghadapi perubahan lingkungan dan terhindar dari serangan musuh, yang membahayakan proses perkembangbiakannya. Adaptasi juga disebut dengan sistem pertahanan diri hewan di lingkungannya.
Hewan yang mampu beradaptasi akan mendapatkan banyak manfaat. Dikutip dari buku IPA Terpadu SMP/MTs Kls IX A oleh Agung Wijaya, beberapa manfaat adaptasi bagi hewan, yaitu:
Dapat memperoleh sumber energi bagi kehidupannya, seperti air, udara, dan nutrisi makanan.
Dapat menghadapi kondisi fisik lingkungan yang berubah-ubah, misalnya temperatur, cahaya, dan panas.
Dapat bertahan hidup dan terhindar dari musuh alaminya, sehingga memungkinkan untuk melakukan reproduksi
Sementara itu, hewan yang tidak mampu beradaptasi akan dimangsa oleh para pemangsanya. Hal tersebut menyebabkan hewan tidak bisa melakukan reproduksi dan menimbulkan kelangkaan serta kepunahan.
Semua jenis hewan dapat melakukan adaptasi, sesuai dengan kemampuan dan lingkungan tempat tinggalnya. Baik hewan yang suka hidup kelompok maupun individu, adaptasi menjadi hal paling utama yang dilakukan saat menempati habitatnya.
Lalu, apa ciri-ciri adaptasi hewan yang hidup dalam kelompok? Apa saja hewan yang suka hidup dalam berkelompok? Untuk mengetahui jawabannya, simak penjelasannya berikut ini.
Ciri-Ciri Adaptasi Hewan yang Hidup dalam Kelompok
Secara umum, ciri-ciri adaptasi hewan yang hidup dalam kelompok di lingkungan mempunyai tugasnya masing-masing, dengan tujuan yang sama, yaitu menjaga kelangsungan hidupnya.
Seperti yang dilakukan oleh hewan kelompok, seperti lebah, semut, dan rayap, yang hidup dalam satu koloni dengan sistem pembagian kerja berdasarkan kastanya. Dalam satu koloni tersebut biasanya terdiri dari pekerja reproduksi dan pekerja pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Selain memiliki ciri umum, yaitu hidup dengan pembagian tugas dalam kelompok, dalam buku yang sama karya Agung Wijaya tersebut juga menyebutkan bahwa hewan sosial seperti lebah dan semut berkomunikasi melalui antena khasnya.
Antena lebah dan semut berasal dari feromone (hormon dan dijadikan alat komunikasi) yang dikeluarkannya. Melalui feromone, lebah dan semut juga dapat menarik lawan jenis, kemudian reproduksi untuk memperbanyak keturunannya.
Selain lebah, semut, dan rayap, hewan lain yang dapat hidup berkelompok adalah lumba-lumba, yang merupakan hewan sosial dan memiliki ciri khusus dalam sistem adaptasinya.
Mengutip dari buku IPA Terpadu (Biologi, Kimia, Fisika) terbitan PT Grafindo Media Pratama, lumba-lumba melakukan adaptasi tingkah laku untuk menyesuaikan dengan lingkungannya. Tingkah laku ini dapat menghindari lumba-lumba musuh yang mengancam.
Lumba-lumba merupakan hewan mamalia air yang mempunyai kelenjar susu dan bernapas menggunakan paru-paru. Saat lumba-lumba ingin mengambil oksigen, bagian atas kepalanya akan menyemburkan air melalui lubang tiup.
Sebagai makhluk sosial, lumba-lumba hidup berkelompok dan tidak menyukai kesendirian. Meskipun tidak memiliki sistem pembagian kerja dalam satu kelompoknya, mamalia air ini dapat hidup bersama 1.000 lumba-lumba lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
(HDP)
