Ciri-Ciri Filum Porifera, Pengertian, dan Klasifikasinya untuk Dipelajari

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Filum Porifera adalah salah satu jenis hewan berpori yang ada di dunia. Untuk bisa tahu lebih dalam tentang hewan ini, maka wajib tahu ciri-ciri Filum Porifera beserta pengertian dan klasifikasinya terlebih dahulu.
Filum Porifera disebut dengan hewan berpori karena memiliki lubang-lubang kecil pada tubuhnya. Lubang-lubang kecil ini berfungsi sebagai jalan masuknya air ke dalam tubuh.
Air yang masuk ke dalam tubuh Filum Porifera biasanya mengandung plankton dan bahan organik. Kandungan tersebutlah yang menjadi makanan dari filum Porifera yang biasanya hidup di lautan dengan air tenang dan jernih.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Pengertian Filum Porifera
Porifera berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata porus yang berarti lubang kecil dan kata ferre yang berarti mempunyai sesuai informasi dari buku Biologi Interaktif Kelas X IPA, Wijaya Jati, (2007:126).
Jadi, Porifera merupakan hewan berpori yang memiliki lubang di tubuhnya.
Porifera termasuk ke dalam filum dari kingdom animalia, yakni kelompok invertebrata. Porifera merupakan hewan multiseluler yang paling sederhana, karena tidak memiliki kepala atau anggota badan lain layaknya hewan pada umumnya.
Oleh karena itu, banyak orang yang keliru mengidentifikasi Porifera sebagai tanaman laut. Apalagi bentuknya yang menyerupai spons, sehingga disebut dengan hewan spons. Umumnya, bentuk tubuh Porifera berbentuk seperti vas bunga yang menempel di perairan.
Pada tubuh Porifera terdapat saluran-saluran yang saling terhubung. Berbagai saluran tersebut terbuka di bagian ujung dan membentuk pori-pori. Pori-pori inilah yang membuat filum satu ini dinamakan filum Porifera.
Tubuh Porifera memiliki tekstur yang lunak dengan permukaan berpori (ostium). Terdapat pula rongga tubuh (spongocoel) dari lubang keluar (oskulum). Air yang mengalir dari ostium nantinya akan masuk ke spongocoel dan mengalir ke luar melalui oskulum.
Terdapat sekitar 10.000 spesies Porifera yang hidup di air laut. Hewan ini termasuk ke dalam hewan sessile, yakni hewan yang hidup melekat. Porifera juga mampu menyaring bakteri yang ada di sekitarnya dan dimanfaatkan untuk makanannya.
Biasanya Porifera hidup di lautan dengan air tenang, jernih, dan tidak memiliki arus yang kuat. Selain itu, ada juga Porifera yang hidup di laut dangkal dan ada juga yang hidup di laut dalam.
Tidak hanya itu, Porifera juga bisa ditemukan di perairan air tawar seperti danau dan aliran sungai yang jernih tergantung sesuai jenisnya. Di Indonesia, hewan ini bisa ditemukan di perairan laut Sulawesi, NTB, dan NTT.
Ciri-Ciri Filum Porifera
Agar bisa membedakan Porifera dengan jenis filum lainnya, maka penting untuk tahu ciri-cirinya terlebih dahulu. Inilah ciri-ciri filum Porifera yang dikutip dari jurnal yang dimuat dalam situs repositori.unsil.ac.id.
Hewan dengan banyak sel (merazoa) yang paling sederhana.
Sebagian besar hidup di laut dangkal dengan kedalaman sekitar 3,5 meter.
Bentuk tubuh Porifera mirip dengan vas bunga atau piala dan melekat pada dasar perairan.
Tubuhnya terdiri dari dua lapisan sel yang disebut diploblastik dengan lapisan luarnya, yakni: epidermis, yang tersusun atas sel-sel yang memiliki bentuk pipih, disebut dengan pinakosit.
Pada epidermis, ada lubang kecil atau porus yang disebut dengan ostia, yang dihubungkan oleh saluran ke rongga tubuh (spongocoel).
Lapisan dalamnya tersusun dari sel-sel dengan leher dan flagel yang disebut koanosit untuk mencerna makanan.
Di dalam mesoglea ada juga berbagai jenis sel, yaitu sel amubosit, sel skleroblas, sel arkheosit.
Di antara epidermis dan koanosit, ada lapisan tengah berupa bahan kental yang disebut mesoglea atau masenkin.
Sel amubosit atau amuboid untuk mengambil makanan yang telah dicerna di dalam koanosit.
Sel skleroblas yang membentuk duri (Spikula) atau spongin. Spikula sendiri terbuat dari kalsium karbonat atau silikat.
Spongin tersusun dari serabut-serabut spongin lunak berongga yang menyerupai spon.
Sel arkheosit sebagai sel reproduktif, misalnya pembentuk tunas, pembentukan gamet, pembentukan bagian yang rusak, dan regenerasi.
Klasifikasi Filum Porifera
Filum Porifera terbagi ke dalam 4 kelas, yakni: Calcarea, Hexactinellida, Demospongiae, dan Sclerospongiae. Bentuk tubuh Porifera ini berbeda antara setiap kelas dan memiliki ciri masing-masing. Berikut adalah informasi selengkapnya.
1. Kelas Calcarea
Kelas Calcarea memiliki sekitar 500 jenis yang terdiri dari 75 genera, 22 famili, dan 5 ordo. Pada kelas ini sistem saluran airnya dapat berupa asconoid, syconoid, sylleibid, atau leuconoid.
Bentuknya pun bervariasi, dari yang menyerupai vas dengan simetri radial hingga bentuk koloni yang berupa bangunan serupa anyaman dari pembuluh kecil hingga lembaran. Kelas ini memiliki sejumlah karakteristik, yaitu:
Memiliki spikula yang berbentuk seperti kapur.
Memiliki tipe monaxon, triaxon, atau tetraxon.
Memiliki bagian permukaan tubuh yang berbulu.
Kerap mempunyai warna yang gelap.
Mempunyai tinggi sekitar kurang dari 15 cm.
Kelas Calcarea adalah Porifera berkapur yang spikulanya. Sebab terdapat kandungan mineral karbonat kalsium yang membentuk diactines, triactines, tetractines, dan spikula multiradiote.
2. Kelas Hexactinellida
Selanjutnya adalah kelas Hexactinellida. Pada kelas ini Porifera memiliki sejumlah ciri-ciri tertentu, yakni sebagai berikut:
Memiliki bentuk spons seperti kaca.
Memiliki spikula dengan bentuk k silikat, hexaticnal, dan sebagian berbentuk seperti pada pagar dan lainnya seperti kaca.
Memiliki tipe seperti syconoid.
Bentuk tubuh yang silindris, datar, atau bertangkai.
Memiliki tinggi mencapai 90 cm.
Dapat ditemukan di laut dengan kedalaman sekitar 90 cm sampai 5.000 m.
Porifera dalam kelas ini memanfaatkan mineral dari air laut untuk bisa membuat dan membentuk spikulanya. Spikulanya berbentuk bidang triaxon, yang pada masing-masing bidang terdapat 2 jari-jari (hexactinal).
Porifera Hexactinellida memiliki spikula triaxial silikat atau turunannya. Biasanya spikula diwakili oleh hexactins dengan tiga sumbu memotong pada sudut tegak.
3. Kelas Demospongiae
Kelas Demospongiae merupakan kelompok Porifera yang paling dominan saat ini dan tersebar luas di alam dengan jumlah yang sangat banyak. Porifera jenis ini berbentuk masif dengan warna cerah, serta memiliki sistem saluran air yang rumit.
Spikula pada Porifera kelas ini hanya terdiri dari silikat dan beberapa spikula-nya hanya terdiri dari serat kolagen, bahkan tidak ada. Porifera dari kelas ini tidak memiliki spikula triaxon, tetapi spikulanya berbentuk monoaxon dan tetraxon yang mengandung silikat.
Terdapat sekitar 6.000 spesies dari kelas ini, yakni sebesar 85% dari semua Porifera yang ada. Pada kelas Demospongiae, Porifera-nya memiliki sejumlah karakteristik, yakni sebagai berikut:
Terdapat Spikula dengan bentuk silikat.
Memiliki serat seperti spons atau tidak ada sama sekali.
Apabila terdapat spikul, maka spikulnya berbentuk monoaxon atau tetraxon dengan memiliki tipe leuconoid.
Biasanya jenis Porifera dalam kelas ini bisa dijumpai di laut, tetapi ada juga beberapa famili yang hidup di air tawar pada semua benua, kecuali Antartika. Saat ini kelas Demospongiae terdiri dari 14 ordo.
4. Kelas Sclerospongiae
Kelas Porifera lainnya adalah kelas Sclerospongiae. Berbeda dari jenis kelas lainnya, kelas ini memiliki beberapa ciri khusus. Ciri tersebut antara lain sebagai berikut:
Mempunyai ciri silikat, yaitu monoxan.
Merupakan jaringan yang hidup dan berbentuk lapisan tipis mengelilingi rangka kapur.
Ukurannya berdiameter sekitar 1 meter.
Banyak ditemukan di sekitar daerah terumbu karang yang memiliki continental slope.
Dari empat kelas Porifera yang ada, kelas Sclerospongiae memiliki 90% dari 4.500 hingga 5.000 spesies pada jumlah keseluruhan yang ada di dunia. Kelas ini terbagi menjadi 3 subkelas, 13 ordo, 71 famili, serta 1005 genera.
Kelas Demospongiae ini adalah sejenis Porifera yang paling banyak dijumpai serta tersebar secara luas. Biasanya mudah ditemukan dalam perairan laut serta air tawar.
Faktor yang Memengaruhi Pertumbuhan Porifera
Agar Porifera bisa hidup, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhannya. Umumnya, faktor terbesar dari keberlangsungan hidup Porifera adalah kualitas air dan banyaknya sedimen yang mengendap pada tubuhnya.
Porifera termasuk plankton feeder, sehingga memerlukan kualitas dan kesuburan perairan yang ideal untuk menunjang kehidupannya. Selain itu, ada faktor lain yang turut mempengaruhi pertumbuhan Porifera.
1. Suhu
Suhu yang optimal agar Porifera bisa tumbuh adalah >18 derajat celsius. Sementara, untuk suhu rata-rata tahunan berkisar antara 23-25 derajat celsius, dengan suhu maksimal berkisar antara 36 hingga 40 derajat celsius.
2. Intensitas Cahaya
Kecerahan perairan dipengaruhi oleh sinar matahari yang masuk. Semakin tinggi intensitas cahaya, maka semakin tinggi nilai kecerahan perairan tersebut. Oleh karena itu, Porifera sangat menyukai perairan yang jernih.
3. Salinitas
Salinitas yang memenuhi standar baku mutu adalah 33 – 34 %. Sementara, untuk salinitas yang optimal untuk pertumbuhan Porifera adalah berkisar di 30 hingga 36%.
4. pH (Power of Hidrogen)
Derajat keasaman suatu perairan sangat berpengaruh terhadap kehidupan biota air, termasuk Porifera. Kisaran pH yang baik untuk pertumbuhan Porifera antara 7 hingga 8,5.
5. Kecepatan Arus
Kecepatan arus menjadi faktor lainnya yang mempengaruhi pertumbuhan Porifera. Porifera dapat tumbuh dengan normal pada kecepatan arus kurang dari 0,6 m/detik.
6. DO (Disolve Oxygen)
Faktor lainnya yang mempengaruhi adalah DO atau Disolve Oxygen. Nilai oksigen terlarut yang baik bagi organisme perairan adalah >5 mg/L. Hampir semua organisme, termasuk Porifera menyukai kondisi oksigen terlarut tersebut.
Baca juga: 30 Contoh Senyawa Organik dan Anorganik dalam Dunia Kimia
Itu dia ciri-ciri filum Porifera dan informasi lainnya yang menarik untuk diketahui. Dengan mengetahui informasi tersebut, maka wawasan dan pengetahuan seputar biologi akan bertambah. (PRI)
