Konten dari Pengguna

Ciri Masyarakat Beternak dan Bercocok Tanam di Zaman Pra-Aksara

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi manusia pra-aksara. Foto: Pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi manusia pra-aksara. Foto: Pixabay.com

Corak kehidupan manusia di masa pra-aksara secara umum digolongkan menjadi tiga tahap. Salah satunya masyarakat yang hidup di masa bercocok tanam dan beternak. Ciri masyarakat beternak telah dijumpai pada masa bercocok tanam tingkat awal.

Mengutip dari Modul Pembelajaran SMA Sejarah Indonesia Kelas X yang disusun oleh Veni Rosfenti, selain bercocok tanam, manusia di masa tersebut memenuhi kebutuhan hidupnya dari beternak hewan dari hasil berburu.

Di zaman ini, telah terjadi perubahan besar dalam pola kehidupan masyarakat purba, yakni cara mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup. Dari yang semula berburu dan mengumpulkan makanan (food gathering) menjadi menghasilkan bahan makanan (food producing).

Selain cara pemenuhan kebutuhan hidup, pola hunian mereka di masa itu juga mengalami perubahan. Pada mulanya pola hunian mereka berpindah tempat (nomaden) lalu menjadi menetap (sedenter).

Berbagai perubahan tersebut secara tidak langsung memengaruhi bagaimana ciri-ciri masyarakat di masa tersebut.

Pola Kehidupan Ekonomi dan Hunian

Irma Samrotul Fuadah dalam Modul Sejarah Kelas X, menyebutkan bahwa pada masa bercocok tanam, manusia tak lagi sepenuhnya bergantung pada alam. Mereka telah memiliki kemampuan dalam mengolah alam untuk bertahan hidup.

Kebutuhan makanan mereka diperoleh dengan cara membabat hutan dan semak belukar untuk ditanami berbagai jenis tanaman. Selain membentuk ladang dengan berbagai jenis tanaman, manusia di zaman ini memanfaatkan berbagai jenis hewan ternak, mulai dari kerbau dan hewan ternak lainnya.

Meski telah mengenal sistem bercocok tanam dan beternak, manusia di zaman itu masih melakukan kegiatan berburu dan mengumpulkan hasil hutan.

Menurut sumber yang sama di atas, manusia di zaman bercocok tanam dan beternak diperkirakan telah melakukan kegiatan perdagangan dengan sistem barter. Barang yang dipertukarkan di zaman itu berupa hasil bercocok tanam, hasil kerajinan seperti gerabah dan sebagainya.

Rosfenti dalam Modul Pembelajaran SMA Sejarah Indonesia Kelas X, mencatat bahwa pola kehidupan berladang dan beternak juga memengaruhi pola hunian mereka. Proses bercocok tanam yang memerlukan waktu yang lebih lama, menjadikan mereka mulai menerapkan pola kehidupan yang menetap.

Selain itu, kegiatan beternak juga memperkecil mobilitas mereka. Hal ini karena mereka tak mungkin membawa hewan ternak untuk berpindah-pindah tempat tinggal.

Ilustrasi Ciri Masyarakat Beternak dan Bercocok Tanam. Foto: Pixabay.com

Ciri Masyarakat Beternak dan Bercocok Tanam

Merujuk pada sumber yang sama di atas, ciri masyarakat beternak dan bercocok tanam antara lain sebagai berikut:

  1. Teknologi dalam menghasilkan perkakas guna memenuhi kebutuhan hidup mengalami perkembangan. Hal ini ditandai dengan adanya kapak lonjong dan kapak persegi yang terbuat dari batu asahan.

  2. Di masa itu, manusia telah menetap di sebuah wilayah secara berkelompok. Hal tersebut dipengaruhi oleh kehidupan ekonomi mereka berupa kegiatan berladang dan beternak, sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan perpindahan tempat tinggal.

  3. Masyarakat di zaman ini telah mengenal sistem pembagian kerja mulai dari petani hingga perajin alat pertanian.

  4. Sistem perdagangan berupa barter telah diterapkan di masa ini.

  5. Masyarakat di zaman ini telah menguasai ilmu astronomi yang mereka gunakan untuk berpindah tempat tinggal.

(ANM)