Contoh Budaya Organisasi dan Pengertiannya Menurut Ahli

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Setiap organisasi memiliki budaya yang diterapkan setiap anggotanya. Budaya tersebut bisa saja berbeda-beda, tergantung kebijakan dan nilai-nilai yang dianut organisasi.
Ada banyak contoh budaya organisasi yang dapat ditemukan di organisasi-organisasi, termasuk perusahaan. Untuk penjelasan selengkapnya, simak di bawah ini.
Pengertian Budaya Organisasi Menurut Ahli
Sejumlah ahli mengemukakan pendapatnya mengenai budaya organisasi, berikut beberapa di antaranya dikutip dari jurnal Pengaruh Kepemimpinan, Lingkungan Kerja, Budaya Organisasi dan Motivasi terhadap Kepuasan Kerja yang Berimplikasi terhadap Kinerja Dosen oleh Dr. H. Moh. Saiful Bahri, S.E., M.M.
1. Carthwright
Budaya organisasi dalam pandangan Carthwright adalah penentu yang kuat dari keyakinan, sikap dan perilaku orang dan pengaruhnya dapat diukur melalui bagaimana orang termotivasi untuk merespon pada lingkungan budaya.
Atas dasar itulah, Carthwright mendefinisikan budaya sebagai sebuah kumpulan orang yang terorganisasi, berbagai tujuan, keyakinan dan nilai-nilai yang sama, dan dapat diukur dalam bentuk pengaruhnya pada motivasi.
2. Vecchio
Menurut Vecchio, budaya organisasi merupakan nilai-nilai dan norma-norma bersama yang terdapat dalam suatu organisasi dan mengajarkan pada pekerja yang datang.
Definisi ini menganjurkan bahwa budaya organisasi menyangkut keyakinan dan perasaan bersama, keteraturan dalam perilaku dan proses historis untuk meneruskan nilai-nilai dan norma-norma.
3. Victor SL
Victor SL mendefinisikan budaya korporasi sebagai cara orang melakukan sesuatu dalam organisasi.
4. Wahjono
Wahjono mengemukakan bahwa budaya organisasi yang kuat mampu mempengaruhi perilaku para anggota-anggotanya.
Budaya organisasi yang dikatakan baik bisa dicirikan dari nilai-nilai dari organisasi yang dianut, dan diatur dengan baik secara bersama-sama guna menciptakan kepuasan kerja yang tinggi.
Baca Juga: Arti LDK: Pilar Pembentukan Kepemimpinan dalam Keseharian
Karakteristik Budaya Organisasi
Budaya organisasi dalam masing-masing organisasi bisa saja berbeda-beda. Namun, budaya organisasi menunjukkan ciri-ciri atau karakteristik tertentu.
Robbins dalam Perilaku Organisasi: Konsep Kontroversi Aplikasi (2003) membagi karakteristik budaya dalam lima dimensi sebagai berikut.
1. Jarak Kekuasaan (Power Distance)
Suatu tingkatan di mana pembagian kekuasaan yang tidak sama, diterima orang dalam budaya (hight power distance) atau ditolak oleh mereka (low power distance).
2. Individualisme vs. Kolektivisme
Individualisme adalah suatu karakteristik budaya dimana orang lebih memerhatikan dirinya dan anggota keluarga dekatnya.
Adapun pada kolektivisme menunjukkan suatu karakteristik budaya yang berorientasi pada orang dan demi kebaikan kelompok.
3. Kuantitas Hidup (Quantity of Life) vs. Kualitas Hidup (Quality of Life)
Quantity of life merupakan atribut budaya nasional yang menjelaskan tingkatan di mana nilai sosial ditandai oleh ketegasan dan materialism.
Pada quality of life lebih menekankan pada hubungan dan mempunyai perhatian kepada orang lain.
4. Penghindaran Ketidakpastian (Uncertainty Avoidance)
Uncertainty avoidance merupakan suatu tingkatan di mana orang dalam suatu budaya merasa diperlakukan ambigu dan berusaha menghindari dari situasi membingungkan.
5. Orientasi Jangka Panjang vs. Jangka Pendek (Long Term vs. Short Term Orientation)
Orientasi jangka panjang merupakan atribut budaya nasional yang menekankan pada masa depan, sifat hemat dan ketekunan.
Adapun orientasi jangka pendek menekankan pada masa lalu dan sekarang, menghormati tradisi dan memenuhi kewajiban sosial.
Sementara itu, mengutip Greenberg dalam jurnal Pengaruh Kepemimpinan, Lingkungan Kerja, Budaya Organisasi dan Motivasi terhadap Kepuasan Kerja yang Berimplikasi terhadap Kinerja Dosen, terdapat 7 elemen yang menunjukkan karakteristik budaya.
Inovasi (Innovation), suatu tingkatan di mana orang diharapkan kreatif dan membangkitkan gagasan baru.
Stabilitas (Stability), bersifat menghargai lingkungan yang stabil, dapat diperkirakan dan berorientasi pada peraturan.
Orientasi pada orang (Orientation toward people), merupakan orientasi untuk menjadi jujur, mendukung, dan menunjukkan penghargaan pada hak individual.
Orientasi pada hasil (Result orientation), meletakkan kekuatannya pada kepeduliannya untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Bersikap tenang (Easygoingness), suatu keadaan di mana tercipta iklim kerja yang bersifat santai.
Perhatian pada hal detail (Attention to detail), dimaksudkan dengan berkepentingan untuk menjadi analitis dan saksama.
Orientasi pada kolaborasi (Collaboratibe orientation), merupakan orientasi yang menekankan pada bekerja dalam tim sebagai lawan dari bekerja secara individual.
Contoh Budaya Organisasi
Berikut adalah beberapa contoh budaya organisasi yang bisa dijadikan inspirasi.
1. Budaya Kepemimpinan Terbuka
Organisasi dengan budaya kepemimpinan terbuka mendorong komunikasi terbuka antara pemimpin dan anggota tim. Pemimpin bersedia mendengarkan masukan dan ide-ide dari semua tingkatan organisasi.
2. Budaya Inovasi
Budaya inovasi mendorong karyawan berpikir kreatif, mencoba hal baru, dan mengembangkan ide-ide inovatif. Organisasi dengan budaya ini memberikan ruang bagi eksperimen dan gagal merupakan bagian dari proses pembelajaran.
3. Budaya Kolaborasi
Organisasi dengan budaya kolaboratif menekankan kerjasama tim dan kerjasama lintas departemen. Tim bekerja bersama untuk mencapai tujuan bersama dan saling berbagi pengetahuan dan sumber daya.
4. Budaya Berorientasi pada Kualitas
Budaya ini menekankan pentingnya standar kualitas tinggi dalam setiap aspek pekerjaan. Organisasi dengan budaya ini fokus pada kepuasan pelanggan dan kualitas produk atau layanan yang diberikan.
5. Budaya Berorientasi Pada Pelayanan
Organisasi dengan budaya ini menempatkan kepuasan pelanggan sebagai prioritas utama. Setiap anggota tim diarahkan untuk memberikan pelayanan yang berkualitas dan memenuhi kebutuhan pelanggan.
6. Budaya Fleksibilitas
Budaya fleksibel menghargai adaptabilitas dan responsivitas terhadap perubahan. Organisasi dengan budaya ini mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan pasar, teknologi, atau kebutuhan pelanggan.
7. Budaya Kerja Keseimbangan Hidup
Budaya ini mendorong keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi anggota tim. Organisasi memberikan dukungan dan kebijakan yang memungkinkan anggota menjaga keseimbangan yang sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
8. Budaya Pembelajaran
Organisasi dengan budaya pembelajaran menghargai pendekatan belajar sepanjang hayat. Karyawan didorong untuk terus mengembangkan keterampilan dan pengetahuan mereka melalui pelatihan, pengembangan diri, dan berbagi pengetahuan.
(DEL)
