Konten dari Pengguna

Contoh Jurnal Pembelajaran Modul 2 untuk PPG 2024

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 14 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi contoh jurnal pembelajaran modul 2. Foto: Pexels/Jessica Lewis 🦋 thepaintedsquare
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi contoh jurnal pembelajaran modul 2. Foto: Pexels/Jessica Lewis 🦋 thepaintedsquare

Bagi peserta PPG 2024, terdapat beberapa contoh jurnal pembelajaran modul 2 yang dapat dijadikan sebagai referensi. Contoh jurnal ini bisa menjadi pembelajaran sekaligus dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi masing-masing kelas.

Jurnal pembelajaran modul 2 atau disebut Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) ini dilaksanakan di Platform Merdeka Mengajar (PMM) sebagai dokumen wajib bagi peserta PPG (Pendidikan Profesi Guru).

Pada dasarnya, setiap jurnal memiliki syarat dan ketentuan yang bervariasi. Untuk jurnal pembelajaran modul 2, harus memuat refleksi pengalaman yang bermakna, menyertakan umpan balik dari rekan atau mitra, serta menyertakan dokumentasi berupa foto. Selain itu, semua dokumen harus digabungkan menjadi satu file dengan format PDF dan ukuran maksimal 10 MB.

Daftar isi

Apa itu Jurnal Pembelajaran Modul 2?

Ilustrasi contoh jurnal pembelajaran modul 2. Foto: Pexels/Dom J

Jurnal Pembelajaran PPG di PMM (Platform Merdeka Mengajar) merupakan salah satu dokumen yang wajib dilengkapi oleh peserta PPG. Dokumen tersebut juga diperuntukkan bagi mereka yang terlibat dalam program piloting.

Dalam praktiknya, jurnal pembelajaran bisa digunakan untuk mendokumentasikan implementasi prinsip-prinsip pengajaran dan penilaian yang diterapkan dalam aktivitas pembelajaran.

Mengutip dari laman bbgpjateng.kemdikbud.go.id, jurnal pembelajaran modul 2 adalah panduan bagi guru untuk merangkum proses pembelajaran dengan siswa di sekolah yang dilakukan secara kolaboratif.

Hal ini berguna bagi guru untuk melihat perkembangan sosial emosional siswa beserta hambatan apa saja yang dialami saat proses belajar-mengajar.

Bukan semata untuk proses pengajaran biasa, jurnal pembelajaran modul 2 ini digunakan untuk membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan dasar dengan baik.

Dalam kegiatan belajar mengajar, guru tidak hanya berupaya untuk menyalurkan ilmu pengetahuan saja, tetapi juga memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan pengembangan diri termasuk dari segi sosial dan emosional.

Maka dari itu, dibutuhkan model pembelajaran yang dapat membantu mengembangkan kedua keterampilan tersebut. Dengan adanya jurnal pembelajaran modul 2, siswa diharapkan bisa fokus tidak pada dirinya sendiri, tetapi juga memiliki relasi baik dengan orang lain.

Metode PSE dalam jurnal pembelajaran modul 2 menerapkan pengetahuan, keterampilan dalam berbagai sikap sosial dan emosinal secara positif.

PSE sendiri merupakan proses bagi siswa untuk mengembangkan sikap, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk mendapatkan kompetensi sosial dan emosional sebagai modal siswa dalam berinteraksi dengan diri dan lingkungan sekitarnya.

Kriteria Kelulusan Jurnal Pembelajaran Modul 2

Ilustrasi contoh jurnal pembelajaran modul 2. Foto: Pexels/Alina Vilchenko

Berikut adalah beberapa kriteria kelulusan yang harus diketahui oleh peserta PPF terkait pembuatan jurnal pembelajaran untuk menghindari kegagalan validasi, antara lain:

  1. Memenuhi minimal 300 kata

  2. Tidak mengandung unsur plagiasi

  3. Disarankan menggunakan aplikasi pengolahan kata seperti Ms. Word atau Google Docs dan tidak terlalu banyak unsur visual agar dapat terbaca oleh sistem

  4. Unggah jurnal pembelajaran dalam format PDF.

Item Penting dalam Jurnal Pembelajaran Modul 2

Ilustrasi contoh jurnal pembelajaran modul 2. Foto: Pexels/Foto oleh Judit Peter

Selanjutnya, berikut adalah beberapa item penting yang perlu diperhatikan ketika membuat jurnal pembelajaran modul 2, di antaranya:

  • Penjelasan tentang Pembelajaran Sosial Emosional

  • Modul Ajar

  • Umpan Balik

  • Dokumentasi saat melakukan aktivitas pembelajaran

Cara Mengerjakan Jurnal Pembelajaran Modul 2

Ilustrasi contoh jurnal pembelajaran modul 2. Foto: Pexels/Jessica Lewis 🦋 thepaintedsquare

Mengutip dari laman resmi Merdeka Mengajar, berikut ini adalah cara untuk mengerjakan jurnal pembelajaran.

  1. Pilih Jurnal Pembelajaran yang akan dikerjakan

  2. Klik Selanjutnya

  3. Baca petunjuk pengerjaan Jurnal Pembelajaran, klik Mulai untuk melanjutkan

  4. Unggah Jurnal Pembelajaran, beri judul dan masukkan deskripsi

  5. Masih di dalam halaman yang sama, tuliskan Refleksi pembelajaran dan centang konfirmasi yang dibutuhkan. Klik Simpan untuk menyimpan sebagai draft, klik Kumpulkan untuk melanjutkan

  6. Klik Kumpulkan setelah merasa yakin dengan Jurnal Pembelajaran.

Contoh Jurnal Pembelajaran Modul 2

Ilustrasi contoh jurnal pembelajaran modul 2. Foto: Pexels/cottonbro studio

Bagi guru atau calon guru yang akan mengikuti PPG dan sedang mencari contoh tugas jurnal pembelajaran modul 2 terkait pembelajaran sosial emosional, berikut adalah beberapa contoh yang dapat menjadi referensi, antara lain:

Contoh 1

JURNAL PEMBELAJARANKU

PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL (PSE)

MOH. EFENDI, S.Pd

MAHASISWA PPG UNIVERSITAS NAHDLOTUL ULAMA SURABAYA 2024

Tujuan Pembelajaran Sosial Emosional

  1. Memberikan pemahaman tentang pentingnya keterampilan sosial-emosional terhadap pengembangan diri peserta didik.

  2. Memberikan pemahaman tentang pentingnya pembelajaran sosial-emosional dalam proses pembelajaran.

  3. Mendeskripsikan hubungan antara pembelajaran sosial emosional dengan penguatan karakter profil pelajar Pancasila.

Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)

PSE adalah proses dimana anak dan orang dewasa memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk mengembangkan identitas yang sehat, mengelola emosi dan mencapai tujuan pribadi dan kolektif, merasakan dan menunjukkan empati terhadap orang lain, membangun dan memelihara hubungan yang mendukung, dan membuat keputusan yang bertanggung jawab dan penuh rasa kepedulian.

Pembelajaran sosial emosional atau dikenal juga dengan nama Social Emotional Learning (SEL) adalah metode yang membantu siswa dalam mengembangkan kesadaran diri, pengendalian diri dan keterampilan interpersoal.

Lima kompetensi Sosial Emosional menurut CASEL:

  1. Self-awareness (Kesadaran diri), yaitu kemampuan untuk memahami emosi, pemikiran, dan nilai-nilai yang mempengaruhi perilaku dalam berbagai konteks situasi.

  2. Self-management (Manajemen diri), yaitu kemampuan untuk mengelola emosi, pikiran, dan perilaku secara efektif dalam berbagai situasi dan untuk mencapai tujuan dan aspirasi.

  3. Social awareness (Kesadaran sosial), yaitu kemampuan untuk memahami perspektif dan berempati dengan orang lain, termasuk mereka yang berasal dari latar belakang, budaya, dan konteks yang berbeda.

  4. Relationship skills (Keterampilan sosial), yaitu kemampuan untuk membangun dan memelihara hubungan yang sehat dan mendukung serta menavigasi situasi dengan individu dan kelompok yang beragam secara efektif.

  5. Responsible decision making (Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab), yaitu kemampuan membuat pilihan yang tepat dan konstruktif tentang perilaku pribadi dan interaksi sosial dalam berbagai situasi.

Penerapan Pembelajaran Sosial Emosional dalam Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Profil pelajar Pancasila merupakan bentuk penerjemahan tujuan pendidikan nasional. Profil pelajar Pancasila berperan sebagai referensi utama yang mengarahkan kebijakan-kebijakan pendidikan termasuk menjadi acuan untuk para pendidik dalam membangun karakter serta kompetensi peserta didik.

Profil pelajar Pancasila harus dapat dipahami oleh seluruh pemangku kepentingan karena perannya yang penting. Profil ini perlu dijalankan baik oleh pendidik maupun oleh pelajar agar dapat dihidupkan dalam kegiatan sehari-hari. Profil Pelajar Pancasila terdiri dari enam dimensi, yaitu:

  1. Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia

  2. Mandiri

  3. Bergotong-royong

  4. Berkebinekaan global

  5. Bernalar kritis

  6. Kreatif.

Contoh konkret adalah dimensi gotong royong. Pelajar Indonesia memiliki kemampuan bergotong-royong, yaitu kemampuan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan suka rela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar, mudah dan ringan.

Elemen-elemen dari bergotong royong adalah kolaborasi, kepedulian, dan berbagi, dari ketiga elemen tersebut semua itu bagian dari pembelajaran sosial emosional serta penguatan dari profil pelajar Pancasila.

Kesimpulan

Pembelajaran keterampilan sosial emosinal sangat penting untuk dipelajari dalam konteks pengutan karakter profil pelajar pancasila melalui kesadaran diri peserta didik, mengelolah emosi, penegendalian diri, memahami perasaan yang sedang di alami, mengetahui kekuatan dan kelemahan diri serta tujuan yang jelas, sama, berkolaborasi dengan sesama, mempunyai rasa empati, berbagi, kepedulian sosial, bertanggung jawab atas tindakan dan keputusannya, mampu menyelesaikan masalah dan membuat keputusan yang tepat dalam situasi sosial yang komplek.

Pengalaman Bermakna

Karena kini saya sudah memahami dan percaya akan pentingnya pembelajaran sosial emosional untuk peserta didik dan saya sendiri, kedepannya, sebagai seorang guru saya akan membagi pengalaman dan pemahaman dan menerapkan pengetahun tersebut di mulai dari diri sendiri, bagaimana seorang pendidik harus mempunyai kesadaran penuh bahwa pendidikan tidak hanya mengembangkan nilai akademik akan tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial emosional yang sangat berdampak positif dalam keberhasilan seorang peserta secara akademik dan kehidupan sosial kemasyarakatan serta memberi contoh/suri teladan yang baik kepada peserta didik.

Selain itu juga saya sebagai guru harus mampu mengelola emosi, perasaan, pikiran dan perilaku dengan baik dalam berbagai situasi, membangun hubungan baik denga para peserta didik dengan menanamkan nilai nilai karakter dimensi profil pelajar pancasila kepada peserta didik.

Umpan Balik Peserta Didik

Nama :

Tanda Tangan :

Umpan Balik Rekan Sejawat

Nama :

Jabatan :

DOKUMENTASI

Contoh 2

JURNAL PEMBELAJARANKU

PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL

Refleksi Pengalaman Sosial Emosinal di Kelas 4 SD Negeri Gebyog

Oleh:

Ningsih Handayani (NIM. 24530802)

PENDIDIKAN PROFESI GURU

UNIVERSITAS PGRI SEMARANG 2024

Jurnal Pengalaman Pembelajaran Sosial Emosional di Kelas 4 SDN Gebyog

A. Pendahuluan

Pembelajaran sosial emosional (PSE) di tingkat sekolah dasar, terutama di kelas 4, sangat penting karena di kelas 4 anak merasa sudah besar, di masa ini anak-anak mulai belajar mengenal diri mereka sendiri dan bagaimana berinteraksi dengan orang lain.

Di kelas 4, SD Negeri Gebyog, PSE menjadi bagian dari upaya untuk membentuk siswa yang tidak hanya cerdas secara akademis tapi juga memiliki keterampilan sosial dan emosional yang baik.

Refleksi ini akan menguraikan pengalaman paling bermakna dalam mengimplementasikan PSE di kelas 4.

B. Pengalaman Bermakna dalam Pembelajaran Sosial Emosional

1. Mengajarkan Empati melalui Kegiatan Cerita

Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah saat saya menggunakan cerita sebagai alat untuk mengajarkan empati kepada siswa kelas 4. Saya memilih cerita yang sederhana namun kaya akan pesan moral, seperti kisah persahabatan dan tolong-menolong.

Setelah mendengarkan cerita, siswa diajak untuk merenungkan perasaan tokoh-tokoh dalam cerita tersebut dan bagaimana mereka akan merasa jika berada dalam situasi yang sama.

Pengalaman ini sangat bermakna karena saya melihat siswa mulai belajar mengenali dan memahami perasaan orang lain. Mereka mulai menunjukkan sikap lebih peduli terhadap teman sekelas, misalnya dengan membantu teman yang kesulitan atau bersikap lebih sabar.

2. Pengenalan Emosi melalui Permainan Ekspresi Wajah

Pada tahap awal, saya mengajarkan siswa tentang bagaimana jenis emosi seperti senang, sedih, marah, dan takut, melalui permainan ekspresi wajah.

Dalam permainan ini, Saya mau minta siswa untuk meniru ekspresi wajah yang menunjukkan emosi tertentu dan kemudian menebak emosi apa yang sedang diperagakan teman mereka.

Pengalaman ini sangat bermakna karena siswa tidak hanya belajar mengenali emosi mereka sendiri tetapi juga menjadi lebih peka terhadap emosi orang lain. Siswa menjadi lebih terbuka dalam mengekspresikan perasaan mereka, yang membantu dalam menciptakan lingkungan kelas yang lebih harmonis.

3. Pengenalan Teknik Mengelola Emosi melalui Aktifitas Fisik

Mengelola emosi adalah keterampilan penting yang mulai diajarkan sejak dini. Salah 1 metode yang saya gunakan adalah melalui aktivitas fisik sederhana seperti bermain nafas.

Dalam kegiatan, ini siswa diajarkan untuk menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan saat mereka merasa marah atau cemas. Ini menunjukkan bahwa mereka mulai memahami cara untuk menenangkan diri dan mengelola emosi mereka secara positif.

4. Pengembangan Keterampilan Sosial melalui Kegiatan Berbagi

Pembelajaran sosial juga difokuskan pada pengembangan keterampilan sosial seperti berbagi dan bekerja sama. Salah satu pengalaman yang sangat bermakna adalah saat saya mengadakan kegiatan Jumat Berkah MASAMA atau makan sayur bersama di kelas.

Terkadang ada siswa yang tidak membawa bekal, dari situasi ini siswa dilatih untuk berbagi dengan teman-teman mereka. Siswa belajar tentang pentingnya berbagi dan bagaimana perasaan mereka ketika saling berbagi.

Pengalaman ini sangat efektif dalam meningkatkan perasaan rasa kebersamaan dan solidaritas di antara siswa, yang sangat penting dalam membangun hubungan sosial yang positif di dalam kelas.

C. Pembelajaran dan Implikasi

Dari pengalaman-pengalaman tersebut, ada pembelajaran penting yang dapat diambil:

  • Pentingnya Pengenalan Emosi Sejak Dini: Mengenalkan berbagai jenis emosi dan cara mengekspresikannya secara sehat sangat penting dilakukan sejak dini. Ini membantu siswa memahami perasaan mereka sendiri dan orang lain, yang merupakan dasar dari empati.

  • Ketertiban Aktivitas Siswa dalam PSE: Siswa lebih mudah belajar dan memahami PSE ketika mereka terlibat secara aktif dalam kegiatan yang menyenangkan dan interaktif. Permainan dan cerita adalah alat yang sangat efektif dalam hal ini.

  • Lingkungan Kelas yang Aman dan Mendukung: Menciptakan lingkungan kelas yang aman dan mendukung sangat penting dalam PSE. Siswa harus merasa nyaman untuk mengekspresikan diri mereka tanpa rasa takut dihakimi atau dikritik.

  • Pentingnya Konsisten di dalam Pengajaran PSE: Pengajaran PSE harus dilakukan secara konsisten dan terintegrasi dalam kegiatan sehari-hari di sekolah. Hal ini memastikan bahwa siswa mendapatkan pembelajaran yang berkelanjutan dan dapat menginternalisasi keterampilan sosial emosional dengan baik.

D. Kesimpulan

Pengalaman dalam mengerjakan pembelajaran sosial emosional di kelas 4 SD Negeri Gebyog memberikan banyak wawasan berharga tentang bagaimana pendekatan ini dapat berdampak positif pada perkembangan siswa.

Melalui berbagai kegiatan yang dirancang untuk mengajarkan empati, pengelolaan emosi, dan keterampilan sosial, siswa tidak hanya menjadi lebih peka dan peduli terhadap perasaan orang lain tetapi juga lebih mampu mengelola emosi mereka sendiri dan berinteraksi secara positif dengan teman-teman mereka.

Refleksi ini menegaskan pentingnya PSE dalam membentuk karakter dan kepribadian siswa secara dini, yang akan menjadi fondasi penting bagi perkembangan mereka di masa depan.

Contoh 3

JURNAL PEMBELAJARANKU

MODUL 2

PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL

NAMA: BUDI, S.Pd

SEKOLAH: SMPN SATAP 3 CIPATUJAH

LPTK: UNIVERSITAS MATARAM

Mengapa Pembelajaran Sosial Emosional itu penting?

PSE sangat penting diterapkan di sekolah karena baik peserta didik atau pun guru perlu mempelajari dan mengembangankan Keterampilan sosial emosional.

Peserta didik di sekolah tidak hanya diberi pemahaman dari segi akademik akan tetapi perlu diberikan pemahaman tentang Keterampilan Sosial Emosional untuk bekal kedepannya mereka bagaimana mengelola emosi,bersosialisasi di sekolah dan masyarakat.

A. Keterampilan Sosial Emosional sangat penting bagi setiap individu, di antaranya:

  • Beradaptasi dengan lingkungan: KSE membantu individu menghadapi berbagai situasi sosial dan emosional.

  • Membangun hubungan yang sehat: KSE membantu individu membangun hubungan yang kuat dengan keluarga, teman, dan komunitas.

  • Mencapai kesuksesan: KSE membantu individu mencapai tujuan akademik, karier, dan pribadi.

  • Menjadi warga negara yang baik: KSE membantu individu berkontribusi positif pada masyarakat.

B. Ketrampilan Sosial Emosional dapat dikembangkan melalui berbagai cara, seperti:

  • Pendidikan: Sekolah dapat mengintegrasikan pembelajaran sosial emosional ke dalam kurikulum.

  • Keluarga: Orang tua dapat menjadi model peran yang baik dan menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan KSE anak.

  • Komunitas: Program-program komunitas dapat memberikan kesempatan bagi individu untuk mengembangkan KSE.

Contoh Penerapan Keterampilan Emosional di Sekolah:

  1. Peserta didik bekerja sama dengan kelompok

  2. Menyampaikan pendapat dengan sopan

  3. Menyelesaikan konflik dengan teman

  4. Ikut dalam organisasi OSIS atau Pramuka

C. Ada 5 Kompetensi Inti dalam Keterampilan Emosional Menurut Casel:

  • Kesadaran Diri (Self-awareness): Memahami emosi, kekuatan, kelemahan diri, dan bagaimana perasaan mempengaruhi tindakan.

  • Manajemen Diri (Self-management): Mengelola emosi, pikiran, dan perilaku untuk mencapai tujuan.

  • Kesadaran Sosial (Social awareness): Memahami perspektif orang lain, empati, dan menghargai keberagaman.

  • Keterampilan Sosial (Relationship skills): Membangun dan memelihara hubungan yang positif, berkomunikasi secara efektif, dan bekerja sama dengan orang lain.

  • Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab (Responsible decision-making): Membuat pilihan yang sehat dan etis, mempertimbangkan.

Jadi Keterampilan Sosial Emosional adalah aset berharga yang dapat membantu setiap individu baik peserta didik maupun guru menjalani kehidupan yang lebih bahagia dan sukses.

Dengan mengembangkan KSE, kita dapat membangun masyarakat yang lebih baik dan harmonis dengan tidak membeda-bedakan RAS ataupun golongan.

Refleksi: Memberikan Momen AHA yang besar

Setiap Guru pasti pasti akan menghadapi tantangan yang berbeda beda dengan peserta didiknya di dalam kelas.

Namun pengalaman yang paling bermakna bagi saya ketika saya berhasil memberikan momen AHA Kepada salah satu peserta didik saya yang mengalami keterlambatan dalam hal membaca di bandingkan dengan teman lainnya di dalam kelas.

Siswa ini sebut saja Namanya Adi. Adi Merupakan anak yang rajin, dia tidak pernah absen atau malas ke sekolah kecuali sakit.

Adi juga merupakan siswa yang berprestasi dalam bidang olahraga khususnya bola voli. Tetapi kelemahan dia adalah kesulitan membaca secara cepat di bandingkan dengan teman-temannya sehingga dia kesulitan dalam belajar.

Dari sini saya harus memahami akar permasalahannya. Langkah pertama yang saya lakukan adalah berkomunikasi dengan Kepala sekolah dan Teman sejawat. Langkah selanjutnya saya melakukan pendekatan secara personal. Mencari latar belakang keluarganya.

Setelah itu saya mencoba berbicara secara personal dengan melalui pendekatan emosional. Adi Merupakan anak yang paling besar di keluarganya. Dia sangat rajin membantu orang tua nya.

Sepulang dari sekolah dia selalu mengambil rumput untuk pakan ternak. Selain itu dia juga selalu mengasuh menjaga adik adiknya ketika orang tua nya bekerja.

Setelah saya memahami permasalahannya Saya melakukan bimbingan khusus atau tambahan diakhir pembelajaran dengan memberikan tugas membaca sebuah cerita yang sederhana.

Kemudian hari esoknya cerita tersebut dibaca ulang untuk mengecek tingkat kemampuannya. Setelah beberapa kali diberikan tugas dengan tingkat yang berbeda-beda dan bimbingan secara personal tingkat kemampuan membaca Adi ada peningkatan. Sikap Percaya dirinya sudah mulai terlihat ketika Proses Pembelajaran.

Perubahan pada diri adi pun terlihat ketika dia aktif di dalam proses pembelajaran dan prestasinya perlahan membaik. Berani bertanya ketika menemukan sesuatu yang tidak dimengerti. Sayapun selalu memberikan apresiasi sekecil apapun terhadap yang dia lakukan.

Momen AHA ini tidak hanya berdampak positif bagi Adi tetapi juga sangat penting bagi saya untuk memahami setiap indivdu lebih mendalam dan memberikan dukungan sesuai kebutuhan mereka.

Refleksi ini mengingatkan saya bahwa setiap Anak itu unik. Tidak ada anak yang bodoh. Karena setiap Anak memiliki kelebihan minat dan bakat yang berbeda-beda.Tugas kita sebagai guru bukan hanya sebatas mengajar tetapi juga sebagai Motivator, sahabat, Pelindung bagi mereka.

Umpan Balik

ADI: Terima kasih pak atas semua yang bapak lakukan untuk saya. Awalnya saya merasa minder ketika belajar karena kemampuan membaca saya kurang. Berkat bantuan dan motivasi dari bapak saya akhirnya bisa membaca seperti teman-teman saya yang lainnya. Saya lebih percaya diri dan siap menghadapi pelajaran.

DOKUMENTASI

Demikian, itulah contoh jurnal pembelajaran modul 2 yang dapat dijadikan sebagai referensi bagi peserta PPG 2024. (SUCI)

Baca Juga: 4 Contoh Cara Melatih Karakter Wirausaha beserta Penjelasannya