Konten dari Pengguna

Filariasis, Penyakit yang Diakibatkan Oleh Cacing

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penyakit filariasis merupakan penyakit yang diakibatkan oleh cacing. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Penyakit filariasis merupakan penyakit yang diakibatkan oleh cacing. Foto: kumparan

Filariasis atau sebutan medis untuk penyakit kaki gajah hingga kini masih menjadi masalah serius yang harus ditangani.

Pasalnya, penyakit ini bisa menyerang siapa pun, mulai dari kalangan remaja hingga lanjut usia. Sebelumnya, penyakit filariasis merupakan penyakit yang diakibatkan oleh cacing filaria dan dapat menular dengan perantara nyamuk.

Oleh karena itu, penyakit kaki gajah ini diberi nama penyakit filariasis. Lebih lanjut, penyakit ini merupakan salah satu kondisi kronis yang jika tidak ditangani lebih serius bisa menyebabkan seseorang mengalami disabilitas.

Di Indonesia sendiri, kasus penyakit filariasis mencapai 14.392 dan tersebar di seluruh 34 provinsi. Karena banyaknya kasus tersebut, banyak masyarakat yang berharap agar pemerintah bisa lebih peduli dengan penyakit ini.

Cacing Penyebab Penyakit Filariasis

Cacing jadi penyebab penyakit filariasis. Foto: Unsplash

Mengutip Infodatin: Penyakit Filariasis yang disusun oleh Kementerian Kesehatan RI, penyakit filariasis merupakan penyakit yang diakibatkan oleh filaria. Namun, ternyata tidak hanya cacing filaria yang bisa menyebabkan penyakit kaki gajah muncul.

Ada beberapa cacing yang menjadi pemicu, penasaran apa saja? Simak penjelasannya di bawah ini!

1. Wuchereria bancrofti

Jenis cacing ini ditemukan di daerah perkotaan seperti Jakarta, Bekasi, Pekalongan dan sekitarnya. Cacing ini biasanya ditularkan melalui nyamuk bernama Culex, yang bisa ditemui di malam hari.

Pada Wuchereria bancrofti, mikrofilarianya berukuran ±250µ, cacing betina dewasa berukuran panjang 65-100 mm dan cacing jantan dewasa berukuran panjang ±40 mm. Bentuknya pun menyerupai benang karena giling memanjang.

2. Brugia malayi

Cacing ini umumnya mirip dengan Wuchereria bancrofti, hanya saja cacing Brugia malayi lebih kecil. Panjang cacing betina berkisar 43 hingga 55 mm, sedangkan panjang cacing jantan berkisar 13 hingga 23 mm. Cacing dewasa dapat memproduksi mikrofilaria di dalam tubuh manusia.

Mikrofilaria tersebut memiliki lebar berkisar 5 hingga 7 um dan panjang berkisar 130 hingga 170 um. Selain itu, penyebaran Brugia malayi ini dimulai dari nyamuk genus Mansonia dan Aedes.

Alurnya, nyamuk menghisap darah manusia, nyamuk yang terinfeksi Brugia malayi menyelipkan larva ke dalam inang manusia. Dalam tubuh manusia, larva Brugia malayi berkembang menjadi cacing dewasa yang biasanya menetap di dalam pembuluh limfa.

Itulah yang menjadi penyebab seseorang bisa mengalami penyakit kaki gajah atau filarisis.

3. Brugia timori

Cacing ini memiliki ujung anteriornya melebar pada kepalanya yang membulat ekornya berbentuk seperti pita dan agak bundar.

Kemudian di tiap sisinya, terdapat 4 papil sirkum oral yang teratur pada bagian luar dan bagian dalam membentuk lingkaran. Cacing ini biasanya hidup di dalam saluran dan pembuluh limfe.

Bentuknya memang mirip dengan cacing Wuchereria bancrofti, sehingga beberapa orang sulit untuk membedakannya. Lebih lanjut, rugia timori betina panjang badannya sekitar 39 mm dan yang jantan panjangnya dapat mencapai 23 mm.

(JA)