Hipotesis yang Menjelaskan Proses Terjadinya Bumi dan Tata Surya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terdapat beberapa hipotesis yang menjelaskan proses terjadinya bumi dan tata surya. Hipotesis tersebut dikemukakan oleh banyak ilmuwan yang berusaha menyampaikan pendapat tentang proses terjadinya bumi dan tata surya.
Berikut ini beberapa hipotesis yang mencoba mengungkap awal mula terbentuknya bumi dan tata surya.
Hipotesis yang Menjelaskan Proses Terjadinya Bumi dan Tata Surya
Dikutip dari Siap Menghadapi Ujian Nasional SMA/MA 2009 Geografi oleh Rogers Pakpahan dkk., hipotesis yang sampai kini masih diterima tentang proses terjadinya planet Bumi dan sistem tata surya adalah sebagai berikut.
1. Hipotesis Kabut Kant-Laplace
Hipotesis kabut (nebula) dikemukakan oleh Immanuel Kant (1755) dan Pierre de Laplace (1796). Hipotesis ini mengemukakan bahwa di jagat raya telah terdapat gas yang kemudian berkumpul menjadi kabut (nebula).
Adanya gaya tarik-menarik antargas membentuk kumpulan kabut yang sangat besar ini berputar semakin cepat.
Dalam proses perputaran yang kencang, materi kabut bagian khatulistiwa terlempar memisah dan memadat (karena pendinginan). Fragmen yang terlempar inilah yang kemudian menjadi planet-planet dalam tata surya.
2. Hipotesis Planetesimal
Hipotesis ini dikemukakan oleh Chamberlin dan Moulton, yang mengungkapkan bahwa pada mulanya telah terdapat "matahari asal".
Pada suatu ketika, matahari asal didekati oleh sebuah bintang besar, yang menyebabkan terjadinya penarikan pada bagian matahari.
Oleh tenaga penarikan pada matahari asal tadi, maka terjadilah ledakan-ledakan yang hebat.
Gas yang meledak keluar dari atmosfer matahari, kemudian mengembun dan membeku sebagai benda-benda yang padat, yang disebut Planetesimal.
Benda padat yang disebut Planetesimal ini dalam perkembangan selanjutnya menjadi planet-planet yang salah satunya adalah Bumi.
3. Hipotesis Pasang Surut Gas
Hipotesis ini dikemukakan oleh James Jeans dan Jeffreys, yang menyebutkan bahwa sebuah bintang besar mendekati matahari dalam jarak pendek.
Gaya tarik antara bintang besar dengan matahari menyebabkan terbentuknya semacam gunung-gunung gelombang raksasa pada tubuh matahari.
Hal ini mirip dengan terjadinya pasang surut air laut di Bumi yang disebabkan oleh gaya tarik Bumi dan bulan.
Gunung-gunung yang terbentuk mencapai tinggi yang luar biasa dan membentuk lidah. Dalam lida yang panas terjadi perapatan gas, membentuk kolom-kolom, yang akhirnya pecah menjadi benda-benda tersendiri membentuk planet.
4. Hipotesis Kondensasi
Hipotesis ini dikemukakan oleh astronom Belanda bersama Gerard P. Kulper pada tahun 1950.
Hipotesis kondensasi menjelaskan bahwa tata surya terbentuk dari gumpalan awan gas atau bola kabut besar yang membentuk cakram raksasa.
Gumpalan-gumpalan itu kemudian membeku menjadi bahan planet dan satelitnya.
5. Hipotesis Bintang Kembar
Hipotesis ini dikemukakan oleh Fred Hoyle pada tahun 1956. Menurutnya, galaksi berasal dari kombinasi bintang kembar.
Salah satu bintang meledak sehingga banyak material yang terlempar. Bintang yang tidak meledak adalah matahari, sedangkan pecahan bintang lain adalah planet-planet yang mengelilinginya.
(SFR)
Frequently Asked Question Section
Siapa yang mengemukakan hipotesis planetesimal?

Siapa yang mengemukakan hipotesis planetesimal?
Hipotesis ini dikemukakan oleh Chamberlin dan Moulton.
Siapa yang mengemukakan hipotesis kabut?

Siapa yang mengemukakan hipotesis kabut?
Hipotesis kabut (nebula) dikemukakan oleh Immanuel Kant (1755) dan Pierre de Laplace (1796).
Apa isi hipotesis kabut Kant-Laplace?

Apa isi hipotesis kabut Kant-Laplace?
Hipotesis ini mengemukakan bahwa di jagat raya telah terdapat gas yang kemudian berkumpul menjadi kabut (nebula).
