Iklim: Pengertian, Faktor Penentu, dan Klasifikasinya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Iklim adalah keadaan udara rata-rata pada wilayah yang relatif luas dan dalam waktu yang lama serta sifatnya relatif tetap.
Iklim juga didefinisikan sebagai kebiasaan dan karakter cuaca yang terjadi di suatu tempat atau daerah. Kurun waktu yang menjadi acuan penentuan iklim rata-rata berdurasi 30 tahun.
Terdapat beberapa faktor yang menentukan dan memengaruhi iklim, di antaranya:
Suhu
Matahari
Tekanan Udara
Topografi
Badan Air
Angin
Curah Hujan
Iklim dapat diklasifikasikan berdasarkan letak garis lintang, ketinggian tempat, dan berdasarkan perhitungan data curah hujan. Lebih jelasnya, simak pembahasan di bawah ini.
Klasifikasi Iklim
Dikutip dari Explore Geografi Jilid 1 untuk SMA/MA Kelas X oleh Sri Wiyanti dkk., klasifikasi iklim dibagi menjadi empat, yaitu:
1. Klasifikasi Iklim Menurut Garis Lintang
Iklim garis lintang disebut juga iklim matahari, yaitu klasifikasi iklim yang penentuannya didasarkan pada letak lintang suatu wilayah di permukaan bumi.
Iklim ini dibedakan menjadi empat macam, yaitu iklim tropis, subtropis, sedang, dan dingin (kutub).
a. Iklim Tropis
Iklim tropis menempati suatu wilayah yang terletak antara 23,5ᵒ Lintang Utara (LU) sampai 23,5ᵒ Lintang Selatan (LS).
Daerah iklim tropis memiliki suhu harian, kelembapan udara, dan curah hujan yang tinggi.
b. Iklim Subtropis
Iklim subtropis menempati suatu wilayah yang terletak antara 23,5ᵒLU-40ᵒLU dan 23,5ᵒLS-40ᵒLS.
Daerah iklim subtropis memiliki tekanan udara yang tinggi sehingga daerah ini banyak dijumpai gurun pasir dan sabana.
c. Iklim Sedang
Iklim sedang menempati wilayah yang terletak antara 40ᵒLU-66,5ᵒLU dan 40ᵒLS-66,5ᵒLS.
Daerah iklim sedang memiliki empat musim, yaitu musim panas, musim gugur, musim dingin, dan musim semi.
d. Iklim Dingin
Iklim dingin menempati daerah yang terletak antara 66,5ᵒLU-90ᵒLU dan 66,5ᵒLS-90ᵒLS.
Daerah dingin memiliki suhu udara yang sangat rendah.
2. Klasifikasi Iklim Menurut Junghuhn
Junghuhn membuat klasifikasi iklim berdasarkan ketinggian tempat dan tanaman budidaya yang dapat tumbuh di daerah tersebut.
Seperti diketahui, semakin tinggi tempat, maka suhu semakin dingin. Oleh karena itu, tanaman budidaya yang dapat tumbuh akan berbeda-beda.
Junghuhn membagi iklim sebagai berikut.
Zona panas, yaitu daerah yang terletak pada ketinggian 0-650 meter dengan jenis vegetasi padi, tebu, kelapa, dan jagung.
Zona sedang, yaitu daerah yang terletak pada ketinggian 650-1.500 meter dengan jenis vegetasi kopi, teh, buah-buahan, dan sayur-sayuran.
Zona sejuk, yaitu daerah yang terletak pada ketinggian 1.500-2.500 meter dengan jenis vegetasi pinus, kopi, dan kina.
Zona dingin, yaitu daerah yang terletak pada ketinggian lebih dari 2.500 meter dengan jenis vegetasi lumut.
3. Klasifikasi Iklim Menurut Koppen
Koppen membagi bumi menjadi lima kelompok iklim utama. Dasar klasifikasi iklim Koppen adalah curah hujan dan suhu udara. Klasifikasi iklim ini adalah sebagai berikut.
Iklim A (Iklim Hujan Tropis), cirinya adalah mempunyai suhu bulan terdingin lebih dari 18 derajat Celsius, curah hujan tahuan tinggi. Tipe iklim A dibagi menjadi 3 subtipe, yang ditandai huru kecil f, w, dan m, sehingga terbentuk tipe iklim Af, Aw, dan Am.
Iklim B (Iklim Kering/Gurun), cirinya adalah mempunyai jumlah curah hujan lebih kecil daripada penguapan.
Iklim C (Iklim Sedang Basah), cirinya adalah mempunyai suhu bulan terdingin -3ᵒC sampai dengan -18ᵒC.
Iklim D (Iklim Dingin), cirinya adalah mempunyai suhu bulan terdingin kurang dari -3ᵒC dan suhu bulan terpanas lebih dari 10ᵒC.
Iklim E (Iklim Kutub), cirinya adalah mempunyai suhu bulan terpanas kurang dari 10ᵒC.
4. Klasifikasi Iklim Menurut Schmidt-Fergusson
Menurut Schmidt-Fergusson. curah hujan sampai ke permukaan bumi dapat dibedakan sebagai berikut.
Bulan kering, yaitu daerah yang dalam satu tahun mempunyai curah hujan kurang dari 60 mm/bulan.
Bulan lembap, yaitu daerah yang dalam satu tahun mempunyai curah hujan 60-100 mm/bulan.
Bulan basah, yaitu daerah yang dalam satu tahun mempunyai curah hujan lebih dari 100 mm/bulan.
Iklim Schmidt-Fergusson didasarkan pada perbandingan rata-rata bulan kering dengan rata-rata bulan basah. Penentuan iklim menurut Schmidt-Fergusson dapat dirumuskan sebagai berikut.
Q = (rata-rata bulan kering) : (rata-rata bulan basah) x 100%
Schmidt-Fergusson membagi iklim menjadi delapan tipe iklim, yaitu:
Iklim A (sangat basah), dengan nilai Q = 0%-14,3%
Iklim B (basah), dengan nilai Q = 14,3%-33,3%
Iklim C (agak basah), dengan nilai Q = 33,3%-60%
Iklim D (sedang), dengan nilai Q = 60%-100%
Iklim E (agak kering), dengan nilai Q = 100%-167%
Iklim F (kering), dengan nilai Q = 167%-300%
Iklim G (sangat kering), dengan nilai Q = 300%-700%
Iklim H (luar biasa kering), dengan nilai Q lebih dari 700%
(SFR)
