Kapan Nilai Religius Dikenal oleh Bangsa Indonesia?

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Salah satu materi sejarah yang perlu dipelajari adalah kapan nilai religius dikenal oleh bangsa Indonesia. Nilai religius sendiri sudah masuk sejak masa praaksara. Kemudian, mulai masuknya agama-agama seperti Hindu, Budha, hingga Islam.
Artikel ini akan membahas tuntas sejarah kapan nilai religius dikenal oleh bangsa Indonesia, jadi simak hingga habis!
Kapan Nilai Religius Dikenal oleh Bangsa Indonesia?
Nilai religius adalah nilai keagamaan atau keutuhan yang mutlak pada keyakinan dan kepercayaan manusia. Sementara itu, mengutip dari Sejarah Agama-agama terbitan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara pada 2020, definisi agama adalah keyakinan atau pemujaan terhadap Tuhan atau dewa.
Selain itu, ada yang mendefinisikan bahwa agama adalah pemujaan terhadap Tuhan atau sesuatu yang dianggap supernatural. Lantas, sejak kapan nilai religius dikenal oleh bangsa Indonesia?
Jauh sebelum masuknya agama-agama di Indonesia, nilai religius sudah dikenal dalam beberapa jenis, yaitu animisme, dinamisme, dan totemisme.
Berdasarkan buku Hasil Pemugaran dan Temuan Benda Cagar Budaya PJP I, terbitan Dirjen Kebudayaan, pada 1996, nilai religius sendiri adalah salah satu budaya yang diciptakan usai manusia mengenal sistem kepercayaan. Nilai religius berfungsi sebagai pengingat dan pengiring kehidupan manusia di zaman praaksara.
Nilai religius pertama kali diyakini manusia sejak zaman Neolithikum. Kemudian, berkembang kebudayaan Megalitikum di mana manusia sudah mulai membuat benda-benda besar untuk kebutuhan religiusnya.
Manusia praaksara selalu berpegang teguh pada nilai spiritual yang dianut dalam menjalankan hidup. Pada zaman itu, nilai religius terwujud dalam bentuk punden berundak, kubur batu, menhir, dan benda-benda purba lainnya.
Macam-Macam Agama pada Masa Praaksara
Adapun beberapa agama pada masa praaksara akan dijelaskan lebih lanjut di bawah ini yang dirangkum dari Sejarah Agama-agama terbitan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara pada 2020.
1. Animisme
Animisme berasal dari kata "anima" yang berarti "nyawa". Animisme adalah doktrin atau jajaran mengenai realitas jiwa.
Manusia primitif mempercayai bahwa nyawa orang yang sudah meninggal akan terus hidup dalam sebuah sukma atau ruh. Namun, sukma atau ruh tersebut tak lagi menjadi bagian dari manusia.
Kepercayaan manusia primitif terhadap orang yang sudah meninggal tersebut cukup ambivalen, di satu sisi ditakuti. Namun, di sisi lainnya justru memelihara hubungan dengan ruh atau sukma dengan mengadakan upacara-upacara tertentu, bahkan tak mau melepas hubungan dengan orang yang telah meninggal.
2. Dinamisme
Kemudian, dinamisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu dinamos, dan bahasa Inggris, yaitu dynamis, yang berarti kekuatan, kekuasaan, atau daya.
Bagi manusia primitif yang mengikuti ajaran dinamisme, setiap benda yang berada di sekelilingnya dapat memiliki kekuatan batin yang misterius.
Dapat disimpulkan, dinamisme adalah kepercayaan kepada sebuah daya kekuatan yang keramat, dianggap halus atau berjasad, yang dimiliki atau tak dimiliki oleh benda, binatang, atau manusia.
3. Totemisme
Kata totem diambil kata tototeman yang berarti kekeluargaan dan kekerabatan seperti saudara. Hal ini sering digunakan untuk mengungkapkan adanya hubungan bersifat kekeluargaan antara manusia dan hewan.
Totemisme masih memiliki hubungan yang erat dengan animisme. Dalam totemisme, binatang tertentu dianggap sebagai nenek moyang mereka. Misalnya pada mite penduduk Australia Utara di Amhem Land yang menggambarkan semacam persekutuan jiwa antara nenek moyang berjenis binatang tertentu.
Baca Juga: Zaman Praaksara: Sejarah dan Periodisasinya di Indonesia
Sejarah Agama Pertama Masuk ke Indonesia
Mengutip buku Agama dan Pembentukan Struktur Sosial: Pertautan Agama, Budaya, dan Tradisi Sosial oleh Wahyuni, S.Sos.,M.Si pada 2018, Hindu adalah agama pertama yang dikenal di Nusantara, yaitu pada awal abad keempat.
Penyebaran agama Hindu melalui perdagangan oleh para pedagang India yang bermukim di Indonesia. Sementara itu, berdasarkan Pengayaan Pembelajaran Sejarah Indonesia: Masa Hindu-Buddha oleh Muhammad Muchlis pada 2019, ada beberapa teori yang menjelaskan tentang sejarah agama pertama ini masuk ke Indonesia.
1. Teori Sudra
Von van Feber menyebutkan bahwa agama Hindu masuk ke Indonesia tak lepas dari kelompok masyarakat Sudra. Penyebaran agama Hindu dilakukan usai kelompok Sudra bermigrasi ke Indonesia karena menginginkan kehidupan lebih baik, karena di India mereka dijadikan budak.
2. Teori Waisya
N.J. Krom menyebutkan bahwa agama Hindu dibawa ke Indonesia oleh kelompok Wiasya. Menurutnya, para pedagang India melakukan perdagangan hingga di Indonesia. Melalui perdagangan tersebut, agama Hindu mulai diterima masyarakat Nusantara.
Para pedagang India tersebut mulai mendirikan pemukiman di Indonesia. Meraka berinteraksi dengan penduduk sekitar untuk menyebarkan agama.
3. Teori Ksatria
Teori ksatria menyebutkan bahwa agama Hindu-Budha dibawa golongan Ksatria. Teori ini dikemukakan oleh beberapa tokoh, yaitu .L. Moens, F.D.K. Bosch, C.C. Berg, R.C. Majundar, dan Mookerji. Menurut F.D.K. Bosch.
Disebutkan bahwa raja, bangsawan, dan ksatria dari India yang kalah perang melarikan diri ke daerah lain, termasuk ke Indonesia. Para raja, bangsawan, dan ksatria pun mulai bermukim dan membentuk pemerintah baru. Seiring berjalannya waktu, mereka menyebarkan agama Hindu pada penduduk sekitar.
4. Teori Brahmana
Van Leur adalah yang mengemukakan teori brahmana, di mana menyebutkan bahwa agama Hindu masuk ke Indonesia melalui kaum brahmana, yaitu pendeta agama yang mempelajari isi kita Weda. Para brahmana diundang ke Indonesia untuk memimpin pelaksanaan upacara keagamaan.
5. Teori Arus Balik
Teori terakhir yang membahas tentang masuknya agama Hindu ke Indonesia adalah teori arus balik. F.D.K. Bosch menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia sendiri yang berperan akan masuknya agama Hindu ke Nusantara.
Agama Hindu tak lepas dari peranan kaum terdidik yang belajar dari orang India. Mereka mempelajari bahasa Sansekerta, sastra, kitab suci, dan kebudayaan Hindu, kemudian mengajarkan pada penduduk setempat.
(NSF)
