Kisah Nabi Yunus Ditelan Ikan Paus Lengkap sebagai Pembelajaran Kehidupan

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nabi Yunus a.s. merupakan salah satu dari 25 Nabi yang diberikan mukjizat istimewa oleh Allah Swt atas keagungan-Nya. Salah satunya adalah kisah Nabi Yunus ditelan ikan paus lengkap sebagai pembelajaran kehidupan yang akan kita jalani.
Mengutip dari buku Seri Kisah Nabi & Rasul – Nabi Yunus, Albi Kustaman (2018), Nabi Yunus a.s. adalah utusan Allah yang mulia. Beliau menempuh perjalanan jauh guna memenuhi perintah Allah untuk berdakwah kepada Kaum Ninawa.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Kisah Nabi Yunus Ditelan Ikan Paus
Awal mula kisah Nabi Yunus ditelan ikan paus adalah ketika beliau memutuskan pergi untuk meninggalkan Kaum Ninawa yang keras kepala. Nabi Yunus menyampaikan ancaman turunnya azab kepada kaumnya, kemudian berjalan hingga di sebuah pesisir.
Mengutip dari laman banten.nu.or.id, rupanya, kepergian Nabi Yunus a.s. tanpa seizin Allah. Makanya, Dia menggambarkan sang nabi dengan “melarikan diri”, sebagaimana dilansir dalam Al-Qur’an,
وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ (139) إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ(140)
Wa'inn yunus lamin almursalin 'iidh 'abaq 'iilaa alfulk almashhun
“Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingatlah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan.” (QS Ash-Shaffat [37]: 139-140).
Meskipun begitu, Nabi Yunus a.s. tetap bersedia terhadap segala ketentuan Allah Swt. Ia menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Ini artinya, seorang hamba tidak boleh marah atau kesal atas ketentuan Tuhannya.
Karena itu, ia pergi meninggalkan kaumnya tanpa seizin Tuhannya. Atas dasar itu pula, Allah melarang Rasulullah saw menjadi seperti Nabi Yunus ‘a.s., sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an,
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوْتِۘ اِذْ نَادٰى وَهُوَ مَكْظُوْمٌۗ
Fasbir lihukm rabbik wala takun kasahib alhutiۘ aidh nada wahu makzumunۗ
“Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).” (QS Al-Qalam [68]: 48).
Setiba di pantai, Nabi Yunus a.s. bertemu sekelompok orang yang berada di kapal. Karena mengenali sang nabi, mereka pun membawanya. Tetapi, setelah beberapa saat berlayar, kapal yang ditumpangi mendadak berhenti dan tak bisa melanjutkan perjalanan.
Hal itu sangat mencurigakan, sebab kapal-kapal yang ada di kiri dan kanannya tetap berlayar seperti biasa. Sementara kapal yang ditumpangi Nabi Yunus a.s. bersama penumpangnya hanya terombang-ambing di atas air. Tak berjalan sedikit pun.
Sebagian riwayat mengatakan, kapal diterpa guncangan hebat, sehingga mereka takut bila kapal tenggelam. Tetapi, Nabi Yunus a.s. menyadari jika diamnya kapal akibat keberadaan dirinya.
Disampaikanlah kepada para awak kapal bahwa kapal tersebut tak mau bergerak karena ditumpangi seorang hamba yang lari dari tuhannya,
إِذْ أَبَقَ إِلَى ٱلْفُلْكِ ٱلْمَشْحُونِ
Iż abaqa ilal-fulkil-masy-ḥụn
“(Ingatlah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan.” (QS Ash-Shâffât [37]: 140).
Karenanya, kapal tidak akan berjalan selama hamba tersebut berada di atasnya. Sehingga ia harus dilemparkan ke tengah lautan agar kapal bisa kembali berlayar. Namun, mereka menolak melemparkan Nabi Yunus a.s., karena tahu bagaimana kemuliaannya di hadapan Allah.
Akhirnya, Nabi Yunus a.s. menawarkan jalan keluar, “Coba adakanlah undian di tengah kalian. Siapa nama yang keluar dari undian, dialah yang harus terlempar ke lautan.” Dilaksanakanlah undian, dan hasilnya adalah nama Nabi Yunus a.s.
Namun, mereka enggan melemparkannya. Mereka kembali mencoba untuk kedua kalinya. Hingga ketiga kalinya, hasilnya tetap sama. Undian jatuh kepada Nabi Yunus a.s. Sungguh kehendak Allah, sebagaimana firman-Nya,
فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِيْنَۚ
Fasaham fakan min almudhadinaۚ
"Kemudian Yunus ikut undian dan dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian itu.” (QS Ash-Shâffât [37]: 141).
Begitu mengetahui hasil undian, Nabi Yunus a.s. tak ragu menghempaskan diri ke lautan. Tetapi, belum juga menyentuh air, tubuh Nabi Yunus a.s. sudah lebih dulu disambar ikan besar.
Sehingga, para penumpang lain pun yakin bahwa Sang Nabi tidak akan selamat dari kematian, sebagaimana dilansir dalam Al-Qur’an,
فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِيْنَۚ
fasaham fakan min almudhadinaۚ
"Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela." (QS Ash-Shâffât [37]: 141).
Arti dalam keadaan tercela di sana adalah Nabi Yunus a.s. meninggalkan kaumnya dalam keadaan kesal karena azab tak kunjung datang menimpa mereka. Yang akhirnya, ia lari dari mereka tanpa seizin Tuhannya.
Begitu ikan menyambar tubuh Nabi Yunus a.s., Allah memerintah ikan tersebut untuk tidak membinasakan hamba-Nya. Tak heran bila ikan itu hanya membawa Sang Nabi ke dasar lautan, sehingga diliputi kegelapan, yakni kegelapan laut, kegelapan perut ikan, dan malam.
Dalam perut ikan tersebut, Nabi Yunus a.s. mendengar tasbih kerikil dan hewan-hewan laut. Maka, ia pun menyeru dan bertasbih kepada-Nya seraya mengakui dan menyesali segala kesalahannya,
وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَۚ ٨٧
Wa dzan-nûni idz dzahaba mughâdliban fa dhanna al lan naqdira ‘alaihi fa nâdâ fidh-dhulumâti al lâ ilâha illâ anta sub-ḫânaka innî kuntu minadh-dhâlimîn
Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (QS al-Anbiyâ [21]: 87).
Maka terdengarlah seruan itu oleh Dzat Yang Maha Mengetahui segala rahasia, Dzat Yang Maha Mengangkat madarat dan ujian, Dzat Yang Maha Mendengar suara selemah apa pun, Dzat Yang Maha Mengetahui perkara samar walau sekecil apa pun, Dzat Yang Maha Mengabulkan permohonan meskipun besar,
فَاسْتَجَبْنَا لَهٗۙ وَنَجَّيْنٰهُ مِنَ الْغَمِّۗ وَكَذٰلِكَ نُـْۨجِى الْمُؤْمِنِيْنَ
Fastajabna lahٗۙ wanajjaynh min alghammiۗ wakadhlik nuۨjia almuminin
Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kesdihan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (QS al-Anbiyâ [21]: 88).
Andai bukan karena tasbih dan taubatnya kepada Allah Swt., niscaya ia sudah hancur dalam perut ikan, dan tinggal menunggu hari kebangkitan,
فَلَوْلَآ أَنَّهُ ۥ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَلَلَبِثَ فِى بَطْنِهِۦٓ إِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
Falawla 'annah ۥ kan min almusabbihinalalabith fia batnihiۦ̂ 'iila yawm yubeathun
Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. (QS Ash-Shaffat [37]: 143-144).
Setelah Nabi Yunus a.s. berdoa, Allah Swt. memerintahkan ikan tersebut untuk memuntahkannya di tempat yang diperintahkan-Nya. Namun, begitu dimuntahkan, ia dalam keadaan sakit, lemah, dan kulitnya mengelupas,
فَنَبَذۡنٰهُ بِالۡعَرَآءِ وَهُوَ سَقِيۡمٌۚ
Fanabaznaahu bil'araaa'i wa huwa saqiim
Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit, (QS Al-Shâffât [37]: 145).
Rasulullah saw menyerupakan kulit Nabi Yunus a.s. yang mengelupas akibat gesekan yang dialaminya selama dalam perncernaan ikan seperti tubuh burung yang baru dicabuti bulunya. Di tempat Yunus a.s. dimuntahkan, Allah Swt menumbuhkan sebuah pohon seperti pohon labu,
وَاَنۡۢبَتۡنَا عَلَيۡهِ شَجَرَةً مِّنۡ يَّقۡطِيۡنٍۚ
Wa ambatnaa 'alaihi shajaratam mai yaqtiin
Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu, (QS Ash-Shaffat [37]: 146).
Dikabarkan oleh Rasulullah saw bahwa Nabi Yunus a.s. berlindung di bawah pohon labu tersebut. Ia memakan buahnya. Namun, selang beberapa lama, tumbuhan itu pun kering. Ia pun menangis, hingga Allah menurunkan wahyu sekaligus memberikan teguran kepadanya,
“Engkau menangis karena pohon itu, bukan menangisi seratus ribu orang yang hendak engkau binasakan.”
Pelajaran dari Kisah Nabi Yunus
Mengutip dari laman banten.nu.or.id, berikut beberapa pelajaran yang dapat dipetik dalam kisah Nabi Yunus ditelan ikan paus di atas.
Seorang mukmin hendaknya tetap berpegang pada perintah Allah dan bersabar menghadapi hukum-hukum-Nya. Tidak boleh tergesa-gesa dalam memutuskan perkara yang sudah menjadi urusan-Nya.
Allah Swt. terkadang menguji para hamba-Nya yang saleh saat melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah-Nya. Namun, berkat keimanan, kesalehan, dan doa, mereka diselamatkan oleh Allah Swt.
Doa dan pengakuan terhadap dosa juga memiliki pengaruh besar terhadap keselamatan dari berbagai malapetaka.
Dalam kisah di atas ada beberapa perkara yang menunjukkan kekuasan Allah. Dia berkuasa menghentikan kapal yang ditumpangi Nabi Yunus a.s., sedangkan kapal-kapal yang lain berlayar di sekitarnya.
Dia juga berkuasa untuk menyelamatkan Nabi Yunus a.s. saat berada di dalam perut ikan. Dia kemudian memerintah ikan tersebut untuk memuntahkannya di pinggir lautan. Bahkan, Dia memperdengarkan tasbih batu-batu kerikil di dasar lautan.
Pelanggaran yang dilakukan Nabi Yunus a.s. tidak sampai mencederai atau menurunkan kedudukannya sebagai seorang nabi. Ia adalah salah seorang nabi dan rasul Allah yang dipilih dan diunggulkan-Nya.
Rasulullah saw mengingatkan agar seorang tidak mengira atau mengatakan bahwa dirinya lebih baik dari Nabi Yunus hanya karena pelanggaran yang pernah dilakukannya.
Doa QS Al-Anbiyâ’ [21]: 87 di atas dijadikan doa khusus oleh orang-orang yang tengan dilanda kesulitan, oleh orang-orang yang sedang dirundum kesedihan, atau diliputi masalah dan kebingungan.
Seluruh makhluk taat kepada Allah Swt. Termasuk ikan besar yang memakan Nabi Yunus a.s., dan atas perintah-Nya, ia tidak sampai membinasakannya. Begitu pula saat ada perintah untuk memuntahkan Nabi Yunus a.s., ikan itu memenuhinya.
Demikian kisah Nabi Yunus ditelan ikan paus lengkap sebagai pembelajaran kehidupan umat muslim yang disarikan dari hadits Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah. (HEN)
Baca Juga: Kisah Nuaiman Sahabat Nabi yang Jenaka
