Kisah Raja Jungjong yang Menggulingkan Tirani Saudara Tiri

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kisah Raja Jungjong sebagai Raja ke-11 Dinasti Joseon di Korea, terbilang unik dan berbeda dengan para pendahulunya. Ia tidak mendapatkan posisinya melalui cara yang umum, namun melalui kudeta dari pemerintahan tirani saudara tirinya, Raja Yeonsangun.
Hal yang ironi, Raja Yeonsangun adalah putra dari Raja Seongjong yang disebut-sebut sebagai salah satu Raja terbaik dinasti Joseon. Selama masa pemerintahana Raja Seongjong , Korea menunjukkan perkembangan ekonomi nasional dan kemakmuran yang meningkat.
Raja Jungjong Membangun Kembali Setelah Reformasi
Mengutip Joseon's Royal Heritage: 500 Years of Splendor, Robert Koehler (2011:1), Dinasti Joseon di Korea selama lima abad, mulai dari tahun 1392-1910 merupakan masa paling berpengaruh pada kebudayaan Korea. Sebagian Raja Joseon yang berkuasa, dinilai lebih baik dari yang lain.
Raja Jungjong yang lahir dengan nama Yi Yeok memerintah pada abad ke-16 di Korea. Ia memerintah selama 38 tahun, mulai dari tahun 1506 hingga tahun 1544. Perpindahan kekuasannya berasal dari kudeta akibat perilaku kakak tirinya, Raja Yeosangun yang tirani dan kejam.
Tindakan sewenang-wenang Raja Yeonsangun, mulai dari membunuh salah satu guru, melakukan pembunuhan bangsawan Seonbi, hingga menahan seribu wanita sebagai penghibur. Ia juga menghancurkan wilayah pemukiman rakyat dan menjadikan Seonggyungwan, institusi pendidikan menjadi tempat hiburan Raja.
Berbagai tindakannya tersebut, melahirkan pemberontakan dari berbagai kalangan. Hingga akhirnya kudeta berhasil menggulingkan Raja Yeonsangun, kemudian meresmikan Raja Jungjong sebagai Raja ke-11.
Untuk memulihkan kepercayaan rakyat dari pemerintahan sebelumnya, Raja Jungjong membuka kembali Seonggyungwan sebagai universitas kerajaan, sekaligus berfungsi sebagai pengawas tindakan Raja. Dengan bantuan pejabat, ia mulai menegaskan kekuasaannya dan menjalankan skala besar reformasi pemerintahan.
Raja Jungjon sebagai seorang reformis memperkuat otonomi lokal dengan mendirikan sistem pemerintahan sendiri. Ia juga memulihkan dan meningkatkan kondisi negara Joseon melalui kebijakan-kebijakan yang didasarkan pada ajaran Neo-Konfusianisme dan menyebarkan tulisan-tulisan ajaran tersebut dalam bahasa Hangul.
Meski demikian, masa akhir pemerintahan Raja Jungjong ditandai oleh pergelutan politik dan penindasan terhadap fraksi reformis yang berperan pada masa kudeta. Hingga akhirnya kematian Raja Jungjong pada 29 November 1544 mengakhiri masa pemerintahannya, kemudian digantikan dengan putranya, Raja Injong. (RRS)
Baca Juga: Mengenal Yeonsangun, Raja Tiran Joseon yang Dikenal Kejam
